
...35...
Dion mengusap wajah nya kasar. Menjauh selangkah dari Raehan yang menatap nya penuh amarah.
Denyut nadi nya seakan terhenti, saat mendengar bibir mungil itu mengatakan semua perasaan nya.
Hati nya terasa hancur berkeping- keping, persis seperti kaca yang tak akan pernah bisa di satu kan lagi.
Tubuh nya membeku, seolah malaikat maut telah mengambil separuh nyawa nya.
Apa diri nya tidak penting di mata gadis ini?
Kenapa hati nya begitu terluka dan tidak terima jika gadis ini mencintai pria lain dan bukan diri nya?
Jangan menyesal jika Raehan di miliki oleh pria lain, dan jika saat itu terjadi kau akan menangis meringkuk di sudut.
Butuh bukti apa lagi, kau sudah jatuh cinta pada gadis pendek itu.
Tanya lah pada hati mu...
Lintasan perkataan Niel , berputar dalam memori Dion.
Seolah semua pertanyaan nya, semua yang membuat diri nya bingung. Terjawab oleh perkataan Niel, yang selalu ia bantah dan sangkal.
"Apa aku menyukai gadis ini??" Tanya Dion dalam hati, melempar kan pandangan nya ke arah Raehan yang masih berdiri, kini dengan kepala tertunduk.
Raehan, mengatur nafas nya. Rahang nya seperti nya lebam karna ulah Dion.
Ia sungguh tidak menyangka akan mendapat perlakuan kasar dari ketua osis yang begitu di sanjung oleh seluruh penjuru sekolah.
Belum lagi, hati nya masih terluka bersamaan dengan kepercayaan diri nya yang di hancurkan Dion dengan perkataan pahit nya.
Ia mungkin pernah menerima hinaan dan kenyataan akan kekurangan nya.
Tapi Pria ini, menganggap nya seorang gadis murahan.
Bayang kan bagaimana terluka nya diri mu?.
Diri nya bahkan belum selesai dengan keterkejutan serta rasa takut atas insident Mika. Tapi sekarang ia malah di perlakukan seperti ini.
Bahu Raehan semakin bergetar, ia sudah berusaha menahan tangis nya.
Ia ingin Dion tahu jika ia adalah gadis yang tidak mudah di tindas.
Tapi, diri nya bukan supergirl. Ego nya dan harga diri nya begitu terluka.
Ia ingin menangis... Teriak Raehan
Bersamaan dengan luruh nya suara isakan tangis kecil dari bibir nya.
"Hiks... Hiks... Hiks..."
Raehan menarik tubuh nya untuk keluar dari ruangan Dion yang terasa mencekik nya.
Ia ingin menangis, meluap kan amarah dan kesedihan yang menumpuk di hati nya.
Bugh...
__ADS_1
Tapi, belum sampai tubuh mungil nya keluar dari ruangan Dion.
Ujung jari kaki nya tidak sengaja membentur meja, membuat rasa sakit menjalar hingga ke seluruh tubuh nya.
"Aaaassssshhhhh" Desis Raehan, berusaha menahan rasa sakit di ujung kaki nya.
Lagi- lagi darah merembes dari luka yang sama, karna tadi ia sempat terjatuh di danau.
Dion langsung membalik kan tubuh nya ke arah Raehan.
Dengan cepat ia menghampiri Raehan, dan berusaha menyentuh tubuh mungil itu.
"Jangan sentuh aku...!!" Ketus Raehan menepis tangan Dion.
Dion melihat ujung kaki Raehan yang berdarah.
Aisss,,, bodoh nya ia. diri nya menarik Raehan dari danau tanpa membiarkan nya memakai sepatu dulu.
Dion menaikkan pandangan nya, melihat penampilan Raehan yang begitu berantakan.
Mulai dari seragam yang kotor, lalu rok yang sobek dengan almamater yang terikat di pinggang nya, menutupi bagian paha mulus yang terlihat.
"Aisshhhh bodoh... kenapa kau menekan nya di saat kondisi nya sangat kacau... Bodoh. Bodoh.. Bodoh..." Rutuk Dion menyesal dalam hati, atas apa yang ia lakukan pada Raehan.
Raehan menyeret kaki nya dengan perlahan, menuju pintu. Ia sudah tidak bisa lagi di sini.
Ia ingin segera pulang ke kontrakan kecil nya yang nyaman.
Ia tidak ingin bersama pria gila yang menyerang nya dengan membabi buta.
Dion mengunci cepat pintu, dan langsung memasuk kan kunci nya ke dalam saku.
Tatapan mereka beradu, amarah dan kekesalan begitu jelas terlihat di ke dua mata Raehan.
Sementara Dion menatap Raehan dengan penuh penyesalan. Tidak seharus nya ia melakukan hal ini pada gadis yang ia suka.
Iya, diri nya mengakui. Semua rasa aneh yang ia rasakan belakangan ini adalah karna ia menyukai gadis berbandana ini.
Rasa cemburu karna melihat rubah betina nya bersama pria lain, membuat ia tanpa sadar menyakiti Raehan.
Jangan kan Raehan , bahkan diri nya sendiri sangat marah pada diri nya sendiri. Karna telah melakukan hal itu.
"Apa yang sebenar nya kau ingin kan..?" Ujar Raehan dengan wajah pias.
Apa pria ini belum puas untuk menyakiti dan menghina diri nya ?. Pikir Raehan.
"Maaf kan aku..." Lirih Dion dengan nada menyesal. Apa yang bisa ia katakan selain kata maaf.
"Sungguh aku kelepasan tadi... Seharus nya aku tidak kasar pada mu..." Lanjut Dion.
"Kau tidak perlu minta maaf kak.. Semua yang kau katakan memang benar... Untuk apa kau merasa bersalah.." Timpal Raehan yang semakin membuat hati Dion tertohok.
Raehan sangat tersakiti karna diri nya , tapi ia tidak hisa membiarkan gadis ini pergi dengan kaki terluka.
"Kemari lah...!!" Dion menggiring tubuh Raehan, namun dengan marah Raehan menepis nya.
"Hentikan kak... Aku tahu kau hanya menganggap ku sebagai pelayan... Yang bisa kau suruh- suruh semau mu... Tapi setidak nya biarkan aku keluar... Jangan buat juga aku menjadi seorang tahanan..."
__ADS_1
Glek...
Dion menelan saliva nya paksa. Lagi- lagi hati nya terasa teriris sembilu. Mendengar ucapan Raehan yang syarat akan derita.
Dan itu semua karna diri nya.
Dion menghela nafas nya panjang. Menatap ke dua bola mata jernih yang terlihat begitu terluka.
Tangan nya terangkat menangkup pipi chuby Raehan.
"Maaf kan aku.. Aku mohon... Tapi setidak nya kau memberi ku kesempatan untuk membayar apa yang sudah ku lakukan untuk mu... Aku tahu hati mu bukan lah hati pendendam... Tapi hati yang akan memberi kesempatan untuk orang lain untuk bertanggung jawab atas perbuatan nya..." Pinta Dion dengan menatap sendu Raehan.
"Aku akan melepas kan mu... Tapi biarkan aku mengobati luka mu..." Lanjut nya dengan menatap sekilas kaki Raehan yang terluka.
Raehan menatap ke dua bola mata Dion, mencari kebohongan dan tatapan penghinaan di sana, seperti cara pria ini menatap nya beberapa menit yang lalu.
Tapi ia tidak menemukan hal itu. Yang terlihat hanya tatapan penuh penyesalan.
Tapi yang masih menjadi pertanyaan bagi nya, kenapa Dion semarah itu hanya karna melihat nya bersama Agara?
Buliran bening yang terus mengucur dari ke dua mata Raehan mereda, bersamaan dengan tatapan nya yang kembali melembut.
Dion merasa lega, saat tatapan itu kembali.
Sungguh hati gadis ini sangat baik. Pikir nya.
Dengan sekali tarikan, Dion memeluk Raehan. Mendekap tubuh mungil itu dalam pelukan nya.
"Aku janji tidak akan pernah marah lagi pada mu... Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti mu... Termasuk diri ku Rubah betina..." Batin Dion dengan mengeratkan pelukan nya.
Sementara Raehan tertegun dengan sikap Dion yang langsung memeluk nya.
Tubuh nya membatu di tempat, diri nya tidak bisa bergerak.
Dion benar- benar semakin aneh. Pikir nya bingung.
...----------------...
...****************...
Terus pantangin cerita nya ya...
Like
koment.
Vote
gift.
Rak favorit.
Yuk dukung terus karya ini....!!!
kalo ngak koment atau like atau kasi gift..
Kalian benar- benar kejam ama thorðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜??
__ADS_1