
...301...
Raehan menundukkan wajahnya. Menyelami perasaannya sendiri yang begitu tergila-gila dengan Agara. Setiap berada di dekat Agara, jantungnya selalu berdetak dengan tidak normal. Aliran darahnya berdesir dengan hebat dan ia selalu merasa nyaman dan bahagia saat berada di sekitar Agara. Hal yang tidak bisa ia rasakan saat berada di samping Dion.
Jika saja ia bisa memilih kepada siapa hatinya berlabuh, mungkin Dion adalah pria yang ia pilih karna pria itu selalu ada untuknya.
"Aku boleh jujur?" cicit Raehan dengan suara rendah. Pembicaraannya dengan Dion memang sudah terlalu jauh. Ia tahu jika Dion akan merasa terluka dan sakit hati. Namun, Raehan hanya ingin Dion berhenti berharap padanya karna ada gadis yang lebih pantas untuk menerima perasaan tulus Dion.
"Katakan!" jawab Dion dengan tangan meremas stir mobil. Ia tahu hatinya akan semakin hancur mendengar kejujuran Raehan. Akan tetapi, ia ingin tahu semuanya.
Raehan menautkan ke dua tangannya satu sama lain. Lalu mulai menyuarakan isi hatinya.
"Aku masih sangat mencintai Kak Aga. Seluruh hatiku berhasil dia miliki. Setiap berada di dekatnya, rasanya aku menjadi gadis yang paling bahagia di muka bumi ini. Aku tahu dia telah mengkhianatiku dan aku tidak menerima alasan apapun darinya. Hatiku sangat sakit dan terluka, bahkan luka itu masih basah. Namun, aku sama sekali tidak bisa menyingkirkan perasaan cintaku padanya. Semakin aku berusaha semakin aku tersiksa." Buliran bening mengalir begitu saja dari sudut mata Raehan.
Sementara Dion berusaha menahan perasaannya yang hancur berkeping-keping, bahkan mungkin menjadi debu yang siap diterbangkan oleh angin. Rahang Dion mengetat dengan sempurna, ingin rasanya ia berteriak sekeras mungkin, agar dadanya tidak merasakan sesak yang begitu sakit.
"Lalu, kenapa kamu menjauhi Agara? Jika kamu sangat mencintainya maka kembalilah padanya." Suara Dion terdengar bergetar dan dipaksakan.
Raehan melirik ke arah Dion. Wajahnya menyendu dan merasa tidak enak. Dapat ia tebak jika Dion sangat sakit hati, itu terlihat dari wajah Dion yang tegang. Raehan tahu Dion berusaha mengontrol rasa sakit di dadanya, hanya untuk terlihat baik-baik saja.
Apakah ia terlalu kejam? Dengan mengatakan semua isi hatinya yang hanya mencintai Agara di depan pria yang juga menaruh rasa padanya.
"Cinta yang tulus ketika terluka akan sangat menyakitkan. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa menjauh dari Kak Aga. Maaf Kak Dion tapi Kak Dion berhak mendapatkan gadis yang lebih baik dari pada aku. Gadis yang akan mencintaimu dengan tulus." Hibur Raehan sambil mengusap bahu Dion dengan lembut. Menyalurkan sedikit kekuatan, meski ia tidak yakin jika usahanya mampu mengurangi rasa sakit di hati Dion.
Ciiitttt
__ADS_1
Dion menghentikan mobilnya secara mendadak. Rasa sakit di hatinya benar-benar menggerogoti jiwanya. Rasanya sangat sakit bahkan lebih sakit dari luka yang ia alami saat penculikan Raehan.
"Maaf, Hiks ... Hiks .... " Tangis Raehan luruh seketika, ia merasa bersalah karna telah menyakiti pria yang sangat baik seperti Dion.
Dion menatap Raehan dengan kedua mata berkaca-kaca. Dalam satu kali gerakan, Dion memeluk Raehan dengan erat. Meluapkan rasa yang sedang menyiksa dirinya, mencari kedamaian dalam pelukan gadis yang sangat di cintainya. Kisah cintanya memang sangat tragis, ia bersumpah tidak akan jatuh cinta lagi. Cinta hanya bisa membuat hatinya hancur tak tersisa.
Raehan tidak menolak pelukan Dion, ia malah membalas pelukan itu dengan menepuk pelan punggung Dion.
"Aku akan berusaha menyingkirkan perasaan ini Rae, tetapi aku tidak yakin bisa melakukannya. Aku mohon biarkan aku di sisimu hingga waktu kelulusan. Setelah itu, aku janji akan ku kubur perasaan ini dalam-dalam," ujar Dion dengan suara serak bercampur tangis. Meminta pada Raehan dengan memelas. Ia hanya ingin menghabiskan waktu bersama gadis yang dicintainya, sebelum ia pergi ke luar negri untuk membabat habis perasaan yang sangat menyakitkan.
"Iya," jawab Raehan mengabulkan permintaan Dion. Raehan mengurai pelukannya, menangkup wajah Dion yang bersimbah air mata. Ini adalah pertama kalinya ia melihat pria jutek seperti Dion menangis dan terlihat begitu memprihatinkan.
Raehan mengusap sisa-sisa air mata di wajah Dion dengan lembut. Hal itu membuat Dion memejamkan ke dua matanya, menikmati setiap perlakuan Raehan.
"Ck, kau!" Kekeh Dion kecil karna Raehan masih bisa mengejeknya di saat kondisinya seperti ini.
"Ha .... Ha ...."
"Rae!" Dion kembali menyeruak memeluk Raehan. Untuk sebentar saja ia ingin berada dipelukan Raehan.
Raehan semakin tertawa dengan keras. Membiarkan Dion memeluk dirinya. Ia tidak ingin menolak dan mendorong Dion menjauh karna ia tahu Dion membutuhkan sebuah pelukan.
...----------------...
Setelah melewati cukup banyak drama. Akhirnya mobil Dion sampai di rumah mewah milik Dion. Raehan menatap takjub rumah Dion yang terdiri dari dua lantai dan dominan dengan warna creme.
__ADS_1
Lampu besar yang tergantung di balkon, benar-benar menambah keindahan bangunan kokoh itu. Pantas saja Dion merasa kesepian tinggal sendiri di rumah sebesar ini, sehingga pria itu memperbolehkan Kazuya untuk tinggal di rumahnya.
Dion segera turun dari mobil dan berlari memutar. Ia tidak ingin Raehan mendahului dirinya untuk membuka pintu mobil, dan kali ini ia berhasil melakukan hal itu untuk gadis yang ia cintai. Raehan tersenyum lebar lalu turun dari mobil.
"Terimakasih," ucap Raehan tulus. Ia sengaja ikut ke rumah Dion. Tentu saja untuk menyampaikan kabar baik kepada Kazuya tentang beasiswa.
"Boleh aku menggengam tanganmu?" tanya Dion dengan canggung. Raehan terkekeh geli melihat ekspresi wajah Dion yang terlihat kaku.
Tanpa basa-basi, Raehan meraih tangan Dion dan menggengamnya. Ia melakukan hal ini bukan karna ada perasaan. Hatinya hanya untuk Agara. Ia hanya menganggap Dion seperti teman laki-laki sekaligus kakak baginya.
Dion tersenyum bahagia, lalu berjalan beriringan dengan tangan bergandengan masuk ke dalam rumah. Setidaknya untuk satu bulan ke depan, ia bisa merasakan momen indah bersama Raehan. Walaupun ia tidak bisa memiliki gadis itu.
Kazuya yang sedang berada di dapur dan bergelut dengan kompor serta wajan, tidak menyadari jika Raehan dan Dion sudah pulang. Hidup sendiri tanpa sandaran membuat Kazuya menjadi pria mandiri. Ia tidak terlalu bisa memasak makanan, tapi bukan berarti ia tidak bisa. Hidupnya yang sulit menuntut dirinya untuk bisa melakukan apapun, termasuk memasak.
"Hmmmm, wangi banget!" seru Raehan kegirangan dan langsung berlari ke arah Kazuya.
Kazuya yang mendengar suara cempreng melengking yang sangat familiar baginya, langsung menoleh ke belakang dan mendapati gadis yang sangat berjasa dalam hidupnya.
"Rae, kamu di sini?" Kazuya sedikit tidak percaya, lalu melirik ke arah Dion yang merebahkan tubuhnya di sofa.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa like koment gifr and vote
__ADS_1