
...259π...
Swoossshhhh....
Satu tinju lepas melayang ke arah Raehan. Namun dengan cepat Raehan menyamping kan tubuh nya ke samping.
Hingga pukulan penculik itu hanya mengenai udara kosong.
Demi apa pun ia sedikit gugup. Karna di saat yang bersamaan lima orang penculik mengepung nya dari segala arah.
Ia tidak mungkin menyerang dengan asal, itu akan membuat konsentrasi nya pecah untuk bertahan.
Apa lagi lima penculik yang sedang di hadapi cukup kuat untuk masalah bela diri.
Dengan bodoh nya ia meminta Dion untuk mengurus yang lemah, sementara diri nya sekarang terperangkap di tengah- tengah ke lima penjahat dengan tubuh kekar dan cukup berotot.
Tapi bagaimana lagi, ia sama sekali tidak ingin mengorban kan orang lain di sini.
Ia lebih memilih terluka dari pada harus melihat orang lain yang tidak bersalah terluka saat dalam masalah nya.
Swosssshhh...
Satu bogem mentah kembali melayang tepat di wajah Raehan.
Dengan waspada Raehan menghindar di mana posisi nya saat ini kayang ke belakang.
Raehan mengedar kan pandangan nya yang terlihat waspada.
Menelisik setiap celah untuk menghancur kan formasi para penjahat.
"Seperti nya mereka sangat mengingin kan kematian ku... Astaga..." Dumel Raehan.
Raehan kembali menelisik musuh- musuh nya hingga ia menemukan satu kunci musuh yang terlemah.
Penculik yang ada di belakang nya. Sejak tadi penculik itu sama sekali tidak menyerang dapat Raehan dengar deru nafas nya yang tidak beraturan menandakan jika dia takut mendapat pukulan.
Sangat berbeda dengan ke empat kawan nya yang terus menyerang Raehan satu persatu namun untung Raehan masih di lindungi oleh tuhan sehingga ia bisa mengelak dengan cepat.
Raehan memundur kan langkah nya secara perlahan, menimalisir musuh nya untuk menjaga pergerakan nya.
Raehan menatap nyalang penculik yang tepat berada di depan nya.
Dengan gerakan kilat Raehan melayang kan bogem mentah nya pada wajah penculik di depan nya yang langsung menghindar.
Bugh...
"Aaakhhhh...." Pekik penculik yang ada di belakang Raehan saat ulu hati nya mendapat bogem mentah yang tiba- tiba dari gadis di hadapan nya.
Ya, Raehan memain kan tipuan di mana ia seolah- olah ingin memukul penculik yang ada di hadapan nya sehingga para penculik berpikir ia memang menyerang satu titik.
Namun tangan Raehan melewati wajah penculik di depan nya dan lansung memutar tubuh nya hingga bogeman nya mendarat tepat di ulu hati penculik yang ada di belakang nya.
Para penculik itu terlihat begitu kaget, saat merasa kan serangan Raehan yang berhasil mengecoh mereka.
Tidak ingin pikir panjang, Raehan menarik tengkuk salah satu penculik itu dan membentur kan nya tepat di tulang lutut nya.
Bugh...
Bamm...
__ADS_1
Namun naas refleks yang kurang sempurna membuat tubuh Raehan terpental dua meter dan punggung nya membentur tembok karna mendapat kan pukulan tepat di pinggang samping nya.
"Dia.... Dia yang terkuat... Aku harus melumpuh kan nya terlebih dulu... Ck.. Sial rasa nya pinggang ku encok..." Rutuk Raehan sembali meringgis memegangi pinggang nya.
Tanpa menunggu apa pun, Raehan menerjang ke arah penculik yang baru saja memukul nya.
"Hiya....!!" Teriak Raehan yang langsung menendang **** ***** pusaka penculik itu dengan keras.
Pasti rasa nya sangat sakit.
Tubuh penculik itu langsung meringkuk terduduk, di mana tangan nya memegang area pusaka nya yang terasa di pecah kan.
"Kak Dion sekarang...!!" Teriak Raehan memberi kan aba- aba pada Dion yang masih melawan satu penculik yang belum berhasil di buat tumbang.
Dugh...
Dion melayang kan tendangan pada perut penculik itu lalu berlari dengan cepat, dengan tangan menyabet sebuat kayu runcing yang mirip dengan tombak.
Ia tidak boleh menyia- nyia kan kesempatan untuk melumpuh kan penculik yang paling kuat.
Chapp...
Dion menancap kan tongkat runcing itu tepat di kepala penculik yang sedang mengadu kesakitan.
Srassshh..
Di mana wajah Dion langsung terciprat oleh darah penculik itu.
Bau amis langsung menyapa lubang hidung Dion.
Di mana tatapan Dion membatu pada tubuh penculik yang ambruk ke lantai dan melemas seketika.
Ia tidak percaya jika diri nya membunuh seseorang.
Dion menatap ke dua tangan nya yang terciprat noda darah.
"Aku sudah membunuh seseorang..." Lirih Dion dengan ke dua tatapan tidak percaya sekaligus ketakutan.
Bagaimana bisa ia membunuh orang dengan ke dua tangan nya.
Raehan terus melawan para penculik dengan sengit.
Di mana ia berhasil menumbang kan dua orang hingga tersisa hanya dua orang lagi.
Raehan terus melawan, meski ia sudah berapa kali mendapat pukulan keras yang pasti nya akan meninggal kan lebam di tubuh nya.
Belum lagi tubuh nya sudah beberapa kali di banting hingga rasa nya seluruh tubuh nya terasa remuk redam.
Namun bagi Raehan tidak ada kata menyerah, meski lengan nya yang putih sudah membiru karna terus menangklis serangan penculik.
Bugh...
Raehan meninju dengan sisa tenaga nya, di mana ia melayang kan pukulan nya tepat di bagian pelipis penculik itu.
Tubuh penculik itu langsung limbung dan terjatuh di lantai. Sementara rekan nya masih tersungkur di atas beberapa benda yang tidak terpakai.
Raehan menatap ke arah Dion yang masih mematung dengan tatapan kosong dan shok pada ke dua tangan nya yang terciprat oleh noda darah.
Sedetik kemudian, Ke dua bola mata Raehan membulat dengan sempurna saat melihat seorang penculik hendak memukul kepala Dion dengan balok besar.
__ADS_1
"Kak Dion awas...!!" Teriak Raehan yang langsung berlari dengan kencang.
Sementara Dion masih mematung di tempat, teriakan Raehan tidak mampu menyadar kan diri nya.
Bukk...
Brak ...
Raehan mendorong tubuh Dion untuk menyingkir, di mana di saat yang bersamaan ia menendang tangan penculik itu hingga balok tersebut terjatuh ke lantai.
"Aahhh" Ringgis Dion saat tubuh nya merosot jatuh ke lantai.
Ia melihat ke arah Raehan yang sedang menghajar penculik yang hendak memukul kepala nya.
Raehan melayang kan satu tendangan terakhir tepat di leher penculik tersebut sebagai akhir dari pergulatan nya.
"Hahhh" Deru nafas Raehan yang masih tersenggal- senggal karna ia cukup lelah menghadapi penculik yang tidak ada habis nya.
Raehan berjalan terseok- seok menghampir Dion.
Mengulur kan tangan nya untuk membantu Dion bangun.
Dion meraih tangan Raehan dengan cepat. Di mana tangan Raehan ikut ternoda dengan noda darah yang ada di tangan Dion.
Dion menatap Raehan dengan khawatir, di mana terlihat banyak luka dan lebam yang ada di tubuh Dion.
Sementara diri nya hampir saja mati di pukul jika saja Raehan tidak menyelamat kan diri nya.
"Kamu baik- baik saja Rae..?"
Sluup..
"Akhhh..."
...----------------...
...****************...
Jangan bosan terus ya dengan karya othorπππ
Terus pantangin cerita nya ya...
Like
koment.
Vote
gift.
Rak favorit.
Yuk dukung terus karya ini....!!!
kalo ngak koment atau like atau kasi gift..
Kalian benar- benar kejam ama thorπππ???
.
__ADS_1