
...161โฃ...
Raehan menatap nanar pada Agara yang kini bersimbuh di hadapan nya.
Tubuh nya bergetar dengan cukup hebat, dengan wajah yang di tutupi oleh ke dua tangan nya. Menyembunyi kan air mata yang tak bisa di bendung lagi.
Hati nya terenyuh melihat Agara yang begitu rapuh di hadapan nya.
Rasa nya sebuah luka mengalir di seluruh tubuh nya saat melihat pria yang sudah membuat nya jatuh cinta menangis. Seakan luka yang kini Agara rasa kan juga ia rasakan.
Ia sungguh iba dengan kisah menyayat yang Agara kata kan.
Luka yang begitu besar hingga menjerat pria tampan ini.
Ia hanya menginginkan kasih sayang masa kecil nya di mana ke dua tangan nya di pegang erat oleh dua malaikat tak bersayap.
Harapan yang sederhana namun mampu membuat seluruh hidup Agara terjebak dalam masa lalu kelam.
Air mata Raehan mengalir begitu saja, lidah nya kelu, ia tak bisa mengatakan apa pun.
Otak cerdas nya rasa nya menjadi bodoh seketika, ia tak berani mengata kan apa pun. Karna takut semakin membuka lama itu.
Tapi ia tidak mungkin hanya melihat dan menonton kesedihan pria di hadapan. Membiar kan luka itu semakin menggerogoti dan membuat Agara jatuh dalam lubang kesedihan.
Dengan perlahan Raehan menunduk, mengelus lembut pundak Agara yang terasa bergetar karna menangis. Hingga tubuh Raehan kini berjongkok sejajar dengan Agara.
Kasih sayang.
Ketulusan, dan cinta.
Hanya hal itu yang Agara butuh kan saat ini. Jika sedih nya melampui lautan maka penawar nya adalah kasih sayang dan cinta yang tulus. Pikir Raehan mengusap dengan kasar air mata nakal yang juga ikut mengalir di pipi nya.
Ia harus menetralisir rasa pedih dan sedih di hati nya.
Ia tidak mungkin menjadi suport sistem bagi Agara di mana ia pun turut bersedih akan hal itu.
Ia harus tegar, menyembunyi kan rasa iba dan kasihan sedalam mungkin.
Karna diri nya tahu, Agara adalah tipe manusia yang pantang di tatap dengan rasa kasihan.
Raehan menarik nafas nya dalam, menipis kan bibir nya meski hal itu terkesan memaksa.
Lalu tangan nya meraih tangan Agara, memaksa pria tampan itu untuk memperlihat kan wajah nya.
"Maaf,,, aku tidak tahu jika luka mu sangat besar..." Pinta Raehan sebagai senjata pertama nya.
Agara masih menunduk kan wajah nya, bibir nya masih bergetar dengan wajah memerah serta ke dua mata yang sudah basah dengan air mata.
__ADS_1
Raehan meremas hangat ke dua tangan kekar itu, menyalur kan energi positif agar Agara menjadi tenang. Menumpu ke dua tangan Agara pada tangan nya.
Agara mengangkat pandangan nya sekilas pada Raehan, mencuri- curi pandang pada gadis yang kini menggenggam tangan nya dengan erat.
Malu.
Itu lah satu kata yang tepat untuk mengekspresikan perasaan nya kini, ia sedikit menyesal karna mengatakan semua nya pada Raehan.
Mulut nya tadi benar- benar tidak bisa di kontrol, ia terlalu terbawa rasa kesal dan amarah hingga mencerita kan luka yang seharus nya ia pendam sendiri.
Tapi kini wajah nya semakin memerah, dengan rasa hangat yang tersalur kan dari ke dua tangan nya yang di genggam erat oleh gadis mungil di hadapan nya.
Rasa hangat yang sedikit mampu membuat diri nya merasa tenang meski luka nya masih menganga dengan lebar.
Raehan melepas kan tangan Agara, menyungging kan sebuah senyum yang paling indah yang ia punya.
Mengulur kan ke dua tangan mungil nya untuk menangkup wajah yang kini di banjiri oleh air mata.
Raehan mengangkat wajah Agara hingga menatap diri nya.
"Jika mereka tak ingin bersama mu, jadi kan aku tempat pulang dan tempat terhangat untuk memberi mu kasih sayang.. Mungkin kasih sayang nya tak akan sama.. Tapi aku janji, aku akan menjadi tempat mu berteduh dalam luka, menjadi tempat bahagia mu, menjadi tempat pelampiasan amarah mu, dan menjadi tempat yang akan selalu ada untuk mu... Jadi kan lah aku tempat untuk segala nya...." Ujar Raehan dengan lembut dan tulus.
Agara menatap lekat ke dua mata coklat yang kini menatap nya dengan penuh arti.
Seolah mengata kan jika diri nya adalah hal penting dan sangat berharga.
Agara mencoba mencari kebohongan di setiap kata- kata yang terlontar dari bibir pich yang tengah tersenyum indah pada nya.
Jadi kan aku tempat segala nya...
Jadi kan aku tempat segala nya..
Jadi kan aku tempat segala nya...
Kata- kata Raehan terus tergiang- giang di telinga nya, seolah menjadi mantra penyembuh untuk membalut luka nya.
Setitik rasa bahagia terasa menjatuhi hati nya yang dingin, sehingga ia bisa merasakan rasa cinta yang benar- benar tulus.
Harus kah ia membuka hati nya?
Memberi kan kunci kebahagian nya pada gadis mungil di hadapan nya.
Harus kah ia meraih tangan gadis mungil ini, yang dengan tulus ingin membebas kan diri nya dari penjara kepedihan?
Tapi, apa ia bisa mempercayai gadis ini?
Apa gadis ini serius dengan apa yang ia kata kan?
__ADS_1
Agara masih berperang dengan pikiran nya, bergelut dengan opini- opini yang sungguh membuat nya bimbang.
Antara percaya dan tidak, namun ia masih menelisik kesungguhan pada ke dua mata coklat Raehan.
Karna luka itu, bahkan ia tak mampu untuk melihat kesungguhan atau kebohongan.
Raehan mengangguk mengerti dengan kebisuan Agara.
Ia mengusap sisa air mata pada ke dua pipi Agara.
Ia sangat mengerti akan apa yang kini Agara rasa kan, memberikan kepercayaan pada orang lain tidak lah mudah, setelah mengalami insident yang menghancur kan setiap kepercayaan.
Raehan mengerti, dan kali ini ia tidak akan memaksa Agara untuk menerima diri nya.
Ia tidak ingin membuat Agara semakin tertekan, meski ia sudah mengata kan hal itu dengan bahasa terindah.
Kebahagian Agara jauh lebih penting, jika memang Agara tidak mengingin kan diri nya dan merasa terganggu dengan kehadiran nya , maka detik ini ia akan pergi dari kehidupan pria tampan ini.
Naluri nya tak sejahat itu, untuk terus memaksa seorang korban rumah tangga yang hancur.
Mungkin ia tak mengalami nya, namun ia bisa mengerti rasa kesepian Agara yang sudah ia jalani selama bertahun- tahun.
"Jika hari ini kau menolak ku, maka aku akan berhenti untuk mengejar mu.. Cinta tak selama nya harus memiliki, cinta adalah ketulusan bukan sebuah paksaan.. Kehadiran ku mungkin membuat mu semakin tertekan dan membuat mu merasa terganggu.. Maaf kan keegoisan ku, aku terlalu egois untuk memiliki mu. Tanpa aku tahu luka yang kamu tanggung jauh lebih besar dan dalam... Aku tidak akan memaksa ..." Batin Raehan kini dengan kepala menunduk kecewa, sembari menarik ke dua tangan nya.
Perjuangan nya sudah usai, dan sekarang ia harus berhenti.
Meski cinta yang di harap kan, hanya bertepuk sebelah tangan.
...----------------...
...****************...
Jangan bosan terus ya dengan karya othor๐๐๐
Terus pantangin cerita nya ya...
Like
koment.
Vote
gift.
Rak favorit.
Yuk dukung terus karya ini....!!!
__ADS_1
kalo ngak koment atau like atau kasi gift..
Kalian benar- benar kejam ama thor๐ญ๐ญ๐ญ???