Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Sosok jubah hitam


__ADS_3

...327...


"Ahhhh, tidak aku tidak boleh mati. Auuu!" jerit Raehan dengan meraih segala sesuatu yang bisa di raih tangannya. Ia tidak ingin mati konyol di tempat yang mengerikan dan gelap ini.


Kilasan wajah Tuan Levi terbayang saat pria paruh baya itu berpesan agar dirinya pulang dengan selamat. Ia tidak boleh mengingkari janji pada sang ayah. Telapak tangan Raehan yang tergores mengeluarkan darah segar. Namun, gadis itu terus meraih apapun yang bisa ia raih meski ranting pohon dan semak belukar terus menggores tubuhnya.


Hingga akhirnya, tangan Raehan berpegangan dengan erat pada akar pohon yang menjuntai ke bawah. Nafas gadis itu tersenggal-senggal dengan tubuh yang kotor dan penuh dengan goresan. Raehan memegang erat akar pohon tersebut, mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang ia miliki untuk mengangkat tubuhnya sendiri meskipun kedua tangannya terasa lemas, dan tidak sanggup mengangkat bobot tubuhnya.


"Hiks ... Astaga nasibku sial sekali. Lihat saja, Kiara, aku tidak akan mati semudah itu. Dasar kriminal," oceh Raehan mengumpat mengeluarkan kekesalan dan kemarahannya pada Kiara.


Raehan menaikkan kaki kanannya pada gundukan tanah. Namun, gundukan itu langsung hancur sehingga membuat tubuh Raehan kembali merosot jatuh lebih dalam lagi.


"Aaaa," pekik Raehan, yang lansung mengeratkan pegangannya pada akar pohon walaupun ia merasakan kulit telapak tangannya sudah terkelupas. Akan tetapi, ia tidak akan menyerah semudah itu.


Tanpa Raehan sadari, sosok dengan jubah serba hitam melompat dengan lihai mendekat ke arahnya, kemudian meraih kedua tangannya dengan sangat cepat.


Raehan yang merasakan tubuhnya ditarik dengan sangat kuat hingga terangkat, mendongakkan kepalanya pada sosok yang sedang memeluk tubuhnya. Namun, belum sempat Raehan melihat pria itu, sosok itu langsung menekan bagian leher Raehan sehingga kesadaran Raehan menghilang dalam sekejap.


...----------------...


"Rae!" teriak Agara memanggil nama Raehan sembari mengedarkan pandangannya pada seluruh penjuru hutan yang cukup gelap.


Agara benar-benar sangat khawatir dan ketakutan karena sejak tadi ia tidak menemukan gadisnya. Jejak seretan yang ia ikuti berhenti pada dua pohon besar yang bercabang. Ia tidak tahu kemana Kiara membawa Raehan, bahkan sampai detik ini ia pun belum melihat Kiara.


Perasaan Agara semakin kalut dan tidak karuan. Kegelisahan melanda dengan ketakutan yang sangat besar. Ia tidak ingin Raehan kenapa-kenapa, ia tidak ingin Raehan terluka sama seperti saat ia dipaksa bertunangan dengan Lessia.


"Aku mohon, kamu harus baik-baik saja Rae. Aku tidak akan pernah memaafkan diriku jika kamu sampai-sampai kenapa-kenapa." Agara menjambak rambutnya frustasi dengan urat-urat yang mulai menonjol, dan tercetak jelas di pelipisnya.


Agara terus menyusuri hutan dengan pandangan yang dipertajam. Ia tidak ingin sampai melewatkan sesuatu yang bisa membawanya bertemu dengan Raehan.


"Rae!" teriak Agara lagi.


"Jika kamu mendengarku, berteriaklah!" Agara berlari dengan cepat saat melihat sebercak darah yang sedikit mengering pada ranting pohon.


Ia mengusap bercak darah tersebut dan menciumnya. Bisa Agara simpulkan jika bercak darah ini baru mengering 20 menit yang lalu. Agara menundukkan pandangannya, terlihat beberapa jejak sepatu di tanah yang menunjukkan jika ada kejar-kejaran menuju ke dalam hutan lebih jauh lagi.


Agara berjongkok dan menyentuh jejak kaki yang paling kecil dari yang lain. Ia yakin jika ini adalah jejak kaki Raehan. Seperti mendapatkan harta karun yang sangat berharga, semangat dan keyakinan Agara semakin besar.


Ia mengikuti jejak kaki tersebut dengan cepat. Ia berharap ia bisa menemukan Raehan dengan bantuan jejak kaki ini, yang semakin menjurus masuk lebih dalam lagi ke hutan.


...----------------...

__ADS_1


Di sisi lain, tubuh Raehan tergeletak begitu saja di atas tanah yang lembab. Pakaian gadis itu terlihat sangat kotor. Di bagian pipi kanannya terlihat luka gores yang mengeluarkan darah segar.


Sinar matahari yang masuk dari sela-sela dedaunan yang cukup rimbun menerpa wajah Raehan. Perlahan, kedua kelopak mata indah yang sedang terpejam mulai bergerak terbuka.


Raehan mengangkat tangannya yang terasa pegal dan kram di depan matanya, saat sinar matahari menyilaukan pupil mata coklatnya.


"Ssshhhh, uhuk ...," desis Raehan kesakitan disertai dengan batuk ringan. Raehan bangun dengan perlahan dan mendundukkan dirinya. Ia memijit kepalanya yang terasa sedikit pusing.


Raehan mengedarkan pandanganya, memperhatikan sekelilingnya dan ternyata ia berada di tempat semula, di mana tadi Kiara mendorong dirinya. Ia mengerutkan keningnya dalam karena merasa aneh. Bukankah tadi ia jatuh ke dalam jurang dan hampir mati? Lalu, kenapa sekarang ia berada di atas jurang kembali?


"Apa, aku terdampar di bawah jurang lainnya?" tanya Raehan dengan memandang ke atas. Namun, ia melihat langit yang di tutup oleh pohon-pohon lebat. Tidak ada bukit atau jurang.


"Atau aku sudah mati?" gumam Raehan lagi yang masih tidak habis pikir kenapa ia bisa kembali naik ke atas.


"Raehan!" teriak suara bass dari belakang Raehan yang lansung menghambur memeluk tubuh gadis itu.


Raehan masih terdiam bingung karena ia belum bisa mencerna apa yang terjadi. Namun, sekarang Agara malah ada di depannya dan memeluknya dengan sangat erat. Bahkan, pria itu menangis sesenggukan.


"Rae, astaga maafkan aku, hiks ... Aku tidak bisa melindungimu, aku benar-benar pecundang. Hiks," tangis Agara menenggelamkan kelapa Raehan di dada bidangnya. Akhirnya ia menemukan sang pujaan hati, meski dalam keadaan terluka. Ia bersumpah, ia tidak akan melepaskan Kiara. Entah apa yang dilakukan oleh gadis sialan itu. Namun, ia akan pastikan gadis itu tidak akan lolos darinya.


"Bagaimana bisa aku kembali ke atas?" celetuk Raehan yang masih bingung.


Agara mengurai pelukannya dan menangkup wajah mungil Raehan yang terlihat bingung. Ia tidak mengerti dengan pertanyaan Raehan.


"Aku tadi jatuh ke dalam jurang karena di dorong oleh Kiara. Lalu, kenapa aku bisa kembali lagi ke atas? Apa aku sudah mati?"


"Apa? Kiara mendorongmu masuk ke dalam jurang?" Agara sangat terkejut dengan pernyataan Raehan.


"Hmmm," dehem Raehan yang langsung memeluk tubuh Agara. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana ia jatuh ke dalam jurang yang sangat gelap dan juga dalam. Tubuhnya digores oleh ribuan duri dan ranting tajam. Bahkan untuk sejenak, ia merasa dirinya akan mati. Raehan mengeratkan pelukannya pada Agara di mana rasa takut dan emosi tiba-tiba membuncah di dadanya. Ia menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Agara, mencari kedamaian dan perlindungan.


Agara membalas pelukan Raehan. Ia bisa merasakan tubuh Raehan yang sedikit bergetar. Kedua bola mata Agara memerah dengan linangan sisa-sisa air mata, yang membuat mata Agara terlihat sangat mengerikan dan menyeramkan. Rahangnya yang tegas mengetat dengan sempurna dengan tonjolan-tonjolan urat yang tercetak dengan jelas. Sementara tangannya mengepal dengan sangat erat.


Kiara aku tidak akan melepaskanmu, batin Agara dengan kemarahan yang besar. Darahnya terasa mendidih hingga ke ubun-ubun. Tidak ada yang boleh menyakiti gadisnya, apalagi membuat nyawa gadisnya dala bahaya. Ia tidak akan mengampuni siapapun termasuk Kiara.


Agara memejamkan kedua matanya sejenak, mengontrol kemarahan yang bergejolak di dalam dirinya. Kedua kelopak mata Agara kembali terbuka dengan tatapan yang melembut dan menyendu.


Ia menarik tubuh Raehan agar semakin masuk ke dalam pelukannya. Agara mencium dengan rakus puncak kepala Raehan dengan penuh cinta dan kasih sayang. Ia benar-benar sangat takut kehilangan Raehan. Ia benar-benar merasa tidak berguna menjadi seorang pria karena tidak bisa melindungi Raehan. Ini adalah yang terakhir, untuk ke depannya ia tidak akan membiarkan bahaya mendekati Raehan.


"Tenanglah, apa pun yang terjadi yang lebih penting kamu selamat, Rae," ucap Agara menenangkan Raehan.


Raehan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Agara, menghirup dalam aroma maskulin yang sangat menenangkan dirinya. Setelah memeluk Agara rasa takut dan kekalutan dalam dirinya mulai menghilang. Ia merasa aman dalam pelukan dan dekapan Agara.

__ADS_1


Keduanya berpelukan cukup lama, membagi rasa dan saling menguatkan serta menenangkan satu sama lain. Saling mengisi kehangatan dan menghapus ketegangan serta ketakutan dalam diri masing-masing.


Kedua mata Raehan terbuka dengan cepat dan melebar dengan sempurna, saat ingatannya mengingat sosok dengan jubah hitam yang menarik tubuhnya dengan cepat. Lalu, setelah itu ia tidak tahu apa yang terjadi. Namun, satu yang pasti sosok itu bukan malaikat maut tapi sosok yang menyelamatkan dirinya. Ia sangat yakin jika sosok itulah yang membawa dirinya naik ke atas.


Raehan mendorong tubuh Agara hingga pelukan mereka terlepas. Raehan mengedarkan pandanganya mencari sosok hitam yang sudah menyelamatkan dirinya. Agara yang melihat Raehan celingak-celinguk seperti mencari seseorang segera meraih wajah gadis itu. Agara mengangkat ke dua alisnya ke atas, memberi isyarat apa yang sedang di cari oleh Raehan.


"Sosok berjubah hitam, apa kau melihatnya?" tanya Raehan menatap bola mata merah Agara.


"Sosok berubah hitam?"


"Ya, dia yang menyelamatkan aku, aku yakin."


"Tapi, tidak ada sosok berjubah yang kamu katakan, Rae. Dengar, jangan pikirkan hal itu dulu, lihat dirimu! Kamu terluka sekarang. Banyak luka gores di tubuhmu. Kita harus segera kembali ke Camp sekarang," ucap Agara dengan nada perintah.


Raehan mengedarkan pandanganya sekali lagi. Namun, memang benar sosok itu tidak terlihat ada di sekitar mereka, yang ada hanya ratusan pepohonan dan semak belukar.


Raehan kembali menatap Agara. Air matanya kembali meleleh melihat wajah Agara yang begitu khawatir dan cemas. Akan tetapi, ia bersyukur jika yang menemukan dirinya adalah Agara, pria yang sangat ia cintai.


Raehan mengangkat tangannya dan mengusap pipi Agara dengan lembut, yang membuat Agara memejamkan kedua matanya menikmati sensasi lembut dari sentuhan tangan Raehan.


"Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Raehan dengan menahan tangisnya.


"Aku sangat takut, saat melihatmu berlari ke arah Kiara. Apa kamu tahu, aku sangat takut dan hampir mati, ketika aku tidak menemukan dirimu. Kenapa kamu selalu membahayakan hidupmu?" cecar Agara.


"Tapi, aku baik-baik saja."


Agara kembali menarik tubuh Raehan ke dalam pelukannya, mengobati rasa takut dan kalut yang masih bersarang di dalam dirinya.


...----------------...


...****************...


Trimakasih sosok hitam sudah menyelamatkan Raehan


jangan lupa


like


koment


gift

__ADS_1


vote


tips


__ADS_2