
...326...
"Stop, aku tidak ingin berkelahi di sini. Ini tidak aman untuk kita. Kita juga sudah terlalu jauh meninggalkan tempat camping. Jadi, ayo kita kembali saja, kita bisa bertengkar lagi di camp tapi tidak di sini," ujar Raehan dengan mengangkat tangannya ke depan.
"Kenapa? Apa kamu takut dengan jurang itu?" Kiara mendekat ke arah Raehan.
Raehan mengerutkan dahinya, ia bisa menebak apa yang akan dilakukan Kiara dari ekspresi wajah gadis itu yang tersenyum menyeringgai.
"Jangan berani melakukan ini, Kiara!"
Bugh!
Kiara menendang dada Raehan dengan dorongan ringan yang langsung membuat tubuh Raehan terdorong ke belakang dan melayang jatuh di bibir jurang.
"Tidak!" teriak Raehan, saat tubuhnya terdorong ke belakang.
Hap!
Raehan meraih pinggiran tanah jurang dengan tangannya sehingga tubuhnya tertahan, dan tidak langsung jatuh merosot ke dasar jurang. Raehan menengok ke belakang. Ia lansung menelan salivanya dengan kasar saat melihat dasar jurang yang sangat dalam dan gelap. Raehan tidak bisa membayangkan jika tubuhnya yang mungil jatuh, maka sudah dipastikan ia akan mati seketika.
Raehan mengeratkan peganggannya pada pinggiran tanah jurang yang terus terkikis dan jatuh. Raehan mendongak pada Kiara yang tersenyum penuh kepuasaan. Sungguh, ia tidak menduga jika Kiara adalah gadis yang bisa melakukan hal ini.
"Kiara, cepat angkat aku!" pekik Raehan dengan buliran keringat yang mulai terbentuk di keningnya. Sementara tangannya semakin pegal karena terus menahan bobot tubuhnya yang menggelantung bebas.
Kiara tersenyum miring, ia berjongkok di tepi jurang tepat di depan Raehan. Lalu, mengulurkan tangannya pada Raehan. Dengan cepat Raehan meraih tangan Kiara, tetapi Kiara malah menarik tangannya kembali sehingga Raehan hanya meraih udara kosong.
"Ahhh!" pekik Raehan saat tubuhnya tidak seimbang karena gagal meraih tangan Kiara.
"Kamu pikir aku akan mengulurkan tanganku dan memgangkatmu naik?" ujar Kiara dengan tatapan jahat.
"Tidak, kamu tidak bisa melakukan ini, Kiara," tekan Raehan dengan nafas yang mulai tersenggal-senggal.
"Kenapa tidak bisa? Memangnya kamu siapa?"
"Kiara, jika aku sampai jatuh kamu pasti akan masuk penjara. Ini adalah tindakan kriminal, sekarang cepat bantu aku untuk naik."
__ADS_1
"Ha ... Ha ..., bukankah kamu sangat pintar? Lalu kenapa tiba-tiba sekarang menjadi bodoh. Aku tidak akan masuk penjara karena hal ini. Tidak akan ada yang tahu. Kau akan jatuh ke dasar jurang dan jasadmu akan hilang. Lalu, aku tidak akan masuk penjara karena seperti yang kamu lihat di sini sepi, tidak ada siapa pun." Kiara menghembuskan nafasnya kasar, kemudian bangkit dengan seringgai misterius.
"Aku sangat membencimu, Raehan. Kamu gadis yang penuh dengan kekurangan, tetapi kamu berhasil membuat semua orang menatapmu termasuk Agara. Bahkan, Dion dan Felix pun tergila-gila padamu. Seharusnya aku, aku yang digilai para pria bukan dirimu!" teriak Kiara dengan amarah dan kebencian yang menggebu-gebu. Tanpa rasa takut dan bersalah, Kiara menginjak kedua tangan Raehan yang berpegangan pada tanah pinggiran jurang dengan keras.
Bugh!
"Aaauuuuu, hentikan Kiara. Demi apapun, aku tidak akan mengampunimu. Aauuuu!" teriak Raehan kesakitan. Namun, ia terus berpegangan erat pada pinggir tanah meski tangannya terasa dihancurkan.
Kiara semakin kesal karena sepertinya Raehan tidak ingin menyerah untuk melepaskan pegangannya. Dengan jahat, Kiara kembali menginjak tangan mungil Raehan dengan beruntun.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
"Aaaa ... Hentikan aku mohon, ini sakit!" jerit Raehan dengan tangis yang pecah. Kedua tangannya sudah sangat pegal untuk menopang tubuhnya. Sementara Kiara dengan jahatnya terus menginjak jari-jari tanganya dengan keras.
Astaga, aku sudah tidak tahan lagi. Mungkin, memang aku akan mati di sini. Lihat saja, ketika aku menjadi hantu, aku akan menghantuimu Kiara. Batin Raehan dengan memejamkan kedua matanya.
Sedangkan Kiara tersenyum puas saat melihat tubuh Raehan jatuh dan menghilang dalam gelapnya dasar jurang. Akhirnya, ia berhasil menyingkirkan Raehan. Akan tetapi, di lubuk hatinya ia sedikit takut jika sampai perkataan Raehan benar. Namun, ia segera menepis pikiran itu. Di sini, tidak ada siapapun. Itu artinya tidak ada saksi dan ia tidak akan masuk penjara.
Teman Kiara yang berdiri di belakang gadis itu terlihat gemetar dengan tangan membekap mulutnya sendiri. Wajah gadis itu terlihat sangat pucat. Ia tidak percaya dengan apa yang tadi ia lihat, kalau Kiara menghabisi Raehan. Sialnya, ia yang melihat itu semua.
Kiara berbalik menatap temannya yang menatap dirinya dengan tatapan tidak percaya. Kiara menghapus buliran keringat ketakutan di pelipisnya. Lalu, berjalan mendekat ke arah temannya.
"Ja-- jangan mendekat!" pekik gadis tersebut dengan mengangkat tangannya menghentikan Kiara.
"Dengar, kamu harus tutup mulut akan hal ini," ujar Kiara dengan nada serius.
"Ka-- kamu melenyapkan Raehan."
"Tidak, aku tidak melenyapkannya. Dia jatuh sendiri." Kiara memasang wajah tanpa bersalah, seolah-olah apa yang terjadi barusan tidak pernah terjadi.
"Kau yang mendorongnya!" teriak gadis tersebut dengan melangkah mundur penuh ketakutan.
__ADS_1
"Jangan katakan itu, jangan berteriak. Bagaimana jika ada orang yang mendengar hal itu? Dengar, kau harus tutup mulut. Jangan sampai kamu membeberkan masalah ini. Jika tidak, bukan aku saja yang akan masuk penjara tapi juga kamu. Kamu tidak lupa kan, jika kita berdua yang menyeret dan mengejar Raehan," ancam Kiara menakut-nakuti temannya agar gadis itu tutup mulut akan kejadian barusan.
Glek!
Gadis itu menelan ludahnya bulat-bulat. Keringat dingin mengalir begitu deras dari pelipisnya. Tubuh gadis itu bergetar dengan sangat hebat, seolah-olah sedang di setrum oleh aliran listrik.
Ia tidak bisa berpikir dengan jernih, tetapi apa yang dikatakan oleh Kiara memang benar. Ia juga terlibat saat menarik dan menyeret Raehan masuk ke dalam hutan. Ia benar-benar menyesal sudah melakukan hal itu. Seharusnya, ia tidak melakukan hal itu.
"Apa kau mendengar perkataanku!" hardik Kiara saat melihat temannya yang hanya diam membisu dengan wajah ketakutan.
"A--aku---"
"Jangan sampai kamu menolak!" bentak Kiara lagi, kini dengan mata melotot.
"I--iya, aku tidak akan mengatakan hal ini pada siapapun. Aku janji," ucap gadis itu dengan terbata-bata.
"Bagus, sekarang ayo pergi!" titah Kiara yang langsung melenggang pergi lebih dulu. Sementara, teman Kiara menatap nanar jurang di depannya. Di mana Raehan jatuh dari sana. Entah, bagaimana nasib gadis malang itu. Namun, ia benar-benar menyesal dan merasa bersalah.
Teman Kiara menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya dengan kasar. Ia menyugar rambutnya lalu segera berlari mengejar Kiara yang sudah meninggalkan dirinya.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
komen
gift
vote
tips
__ADS_1