Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Keras kepala


__ADS_3

...297...


Klep!


Agara menjetikkan jarinya di depan wajah Raehan, yang berhasil membuyarkan lamuan Raehan.


"Kenapa malah diam? Apa itu artinya kamu mau mandi bersama?" goda Agara, yang berhasil membuat wajah Raehan memerah malu.


"Aku tidak sudi!" sentak Raehan yang langsung berlari masuk kedalam kamar mandi, dan menutup pintu dengan keras.


Brak!


Agara tertawa sambil mengusap wajahnya. Sungguh ia benar-benar gemas melihat wajah merona Raehan. Sangat lucu dan manis.


"Kamu bisa mengusirku untuk pergi Rae. Tapi lihatlah, kamu tidak bisa menolak kedekatan diantara kita. Kamu hanya sedang marah, sepertinya aku harus berusaha sangat keras untuk menaklukkan kekeras kepalaanmu itu," gumam Agara, lalu meraih handuk lainnya dan merebahkan tubuhnya disofa.


Agara mengerjitkan dahinya, saat rasa sakit dan perih ia rasakan di punggungnya. Dengan cepat Agara membuka seragamnya yang kotor dan bau. Lalu berjalan menuju cermin besar.


Ia membalikkan tubuhnya, dapat ia lihat luka memar sebesar telapak tangan di kulit punggungnya. Tapi ia tidak keberatan dengan luka memar ini. Karna luka ini menjadi bukti, jika ia sudah melindungi gadis yang sangat dicintainya.


"Astaga, punggung kak Aga terluka!" seru Raehan dengan wajah cemas, saat melihat memar yang ada di punggung Agara.


Agara langsung berbalik menatap Raehan yang baru saja keluar dari kamar mandi, bahkan terlihat rambut pendek gadis itu masih basah.


Raehan segera berlari menuju meja nakas, membuka laci dan mengambil kotak P3k. Ia tidak sadar dengan apa yang kini telah ia lakukan. Hatinya menuntunnya untuk mengobati luka Agara, yang terasa menjadi lukanya.


Agara tersenyum simpul dengan perasaan yang begitu senang. Melihat Raehan yang cemas dan langsung mengambil kotak P3K.


Raehan langsung memalingkan wajahnya, saat melihat tubuh putih Agara dengan roti sobek di perutnya. Sungguh pemandangan yang begitu eksotis.


Raehan memegang kotak p3k tersebut dengan erat, saat melihat langkah kaki Agara semakin mendekat ke arahnya.

__ADS_1


"Astaga apa yang akan dia lakukan?" batin Raehan yang mulai gugup dan sedikit gemetar. Pasalnya ini adalah kali kedua Raehan melihat tubuh bagian atas polos Agara. Pertama saat kejadian di danau, tapi itu berbeda dengan sekarang.


Setidaknya saat di danau, Agara menjauh dari dirinya. tapi, sekarang Agara malah mendekat kearahnya.


"Lihat, kamu langsung cemas saat melihat aku terluka," bisik Agara tersenyum miring.


Menyadari akan tindakannya, yang seharusnya tidak ia lakukan. Membuat Raehan menatap Agara dengan tatapan kesal.


"Jangan percaya diri dulu kak Aga, aku juga akan melakukannya jika melihat orang lain terluka," sanggah Raehan tidak terima, meski sebenarnya dugaan Agara memang benar. Ia langsung khawatir dan berlari pada Agara saat melihat pria itu terluka.


"Dasar bodoh, kenapa aku bisa kelepasan," rutuk Raehan mengumpat dirinya sendiri.


"Oh ya, tapi aku suka dengan itu." Agara berjalan ke arah sofa dan duduk menyamping. Sehingga Raehan bisa mengobati lukanya dengan mudah.


"Sekarang kamu bisa mengobati lukaku!" seru Agara lagi.


Raehan menatap kesal ke arah Agara. Sungguh Agara semakin menyebalkan. Pria itu berubah menjadi pemaksa dan suka memerintah dirinya. Dan sialnya ia selalu patuh dan menurut. Tapi tidak untuk kali ini.


Rasanya jutaan kupu-kupu sedang menggerayani perutnya. Menggelitik dan membuat hati nya berbunga-bunga.


Trak!


Raehan melempar kotak p3k yang ada ditanganya pada Agara, dan mendarat tepat di pangkuan pria itu. Agara cukup terkejut, lalu memandang ke arah Raehan.


"Kau punya tangankan? Obati lukamu sendiri," ketus Raehan.


"Aku tidak bisa, aku tidak terluka di bagian depan atau tangan. Aku terluka di punggung Rae, jadi mana bisa aku mengobati lukaku," terang Agara menatap Raehan dengan tatapan sedikit memelas.


"Jika begitu, minta saja tunanganmu tersayang yang melakukannya." Raehan segera melangkah hendak keluar dari ruangan Agara. Namun lagi-lagi tangannya ditarik oleh Agara, hingga membuat langkahnya terhenti.


"Aku sudah memutuskan pertunanganku dengan Lessia," ujar Agara dengan lantang. Ia tidak terima dengan perkataan Raehan yang selalu menyudutkannya dengan dalih tunangan Lessia. Hal itu membuatnya tidak terima.

__ADS_1


"Apa? Kak Aga sudah memutuskan pertunangannya dengan Lessia?" batin Raehan menautkan kedua alisnya.


"Lessia dikirim oleh ayahnya ke London. Karna ayahnya tahu semua yang sudah di perbuat Lessia kepadamu. Pertunangan kami juga sudah berakhir. Aku tidak pernah menyukai ataupun mencintai Lessia Rae. Sampai kapan kamu akan terus marah seperti ini padaku?"


Raehan menghempaskan tangan Agara dengan keras, sehingga cekalan tangan Agara terlepas.


"Andai kamu membatalkan pertunangan itu sebelum kamu melangkah untuk bertunangan dengan Lessia. Mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Hubungan kita pasti masih sama, tapi sekarang semuanya sudah terlambat. Aku tidak peduli pertunanganmu dengan Lessia sudah putus atau tidak. Itu semua tidak ada hubungannya denganku," sarkas Raehan lalu melenggang pergi begitu saja keluar dari ruangan pribadi Agara.


Prak!


Agara melempar kotak p3k, hingga membentur tembok. Nafasnya terlihat berat, dengan dada yang naik turun menahan emosi yang rasanya ingin meledak.


Kenapa Raehan begitu keras? Bahkan kata-kata yang keluar dari bibir pich itu begitu menyakitkan dan menikam hatinya dengan sangat brutal.


Agara mengepalkan tangannya dengan erat, bahkan tonjolan urat-urat di sepanjang tangan dan lehernya tercetak dengan jelas. Melunakkan hati Raehan benar-benar tidak mudah. Setiap kali berhadapan dengan gadis mungil itu, dia selalu berhasil memporak-porandakan hati Agara dengan mulut pedasnya.


Sangat menyakitkan, terus mendapatkan penolakan. Namun, ini memang salah dirinya yang sudah membuat Raehan sakit hati dan kini bersikap seperti ini.


Agara menghembuskan nafasnya kasar, lalu menatap kearah p3k yang kini sudah berserakan.


"Bahkan, kini kamu tidak ingin mengobati lukaku. Kata terimakasih pun tidak kamu katakan. Baiklah, jika kamu tidak mau mengobati lukaku. Maka biarkan saja luka ini tidak terobati. Anggap sebagai hukuman karna aku telah menyakiti hatimu," gumam Agara yang langsung beranjak masuk ke kamar mandi dengan tatapan penuh kekecewaan.


Sedangkan Raehan terus berlari tanpa menengok ke belakang. Jantungnya terpompa dengan cepat ditambah dengan debaran jantungnya karna kedekatannya dengan Agara.


Pikiran Raehan masih memikirkan perkataan Agara tentang pertunangan yang suda di putuskan. Raehan menggeleng dengan cepat. Ia tidak boleh terpengaruh dengan apa yang dikatakan oleh Agara. Mau Agara dan Lessia masih bertunangan ataupun tidak. Ia tidak boleh luluh dan melunak. Raehan menarik nafas dalam.


"Aku sudah berjanji akan fokus dengan pendidikanku, aku tidak boleh terhasut. Apalagi terbawa perasaan, aku tidak boleh melanggar janji yang sudah kubuat sendiri," gumam Raehan lalu menyetabilkan ekspresi wajahnya, sebelum melangkah kembali menuju kelas.


...----------------...


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa like, koment, gift anda vote ya😘


__ADS_2