Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Bukan Mimpi


__ADS_3

...43...


Raehan memarkikan vespa nya, kini ia telah berada di kontrakan sederhana milik nya.


Tubuh nya terlihat lemah tidak bersemangat. Sungguh miris nasib nya di skors pihak sekolah.


Jika sampai ke dua orang tua nya tahu, pasti mereka akan marah panjang lebar, seperti kereta api yang sangat panjang.


Tapi untung saja, popsy dan momsy nya ada di desa, jadi tidak mungkin mereka tahu masalah ini.


Ia harap semoga Mika cepat sembuh, dan masalah ini selesai dengan cepat. Harap Raehan dengan berjalan masuk tanpa bersemangat.


Tangan nya terulur mengeluarkan kunci pintu dari saku seragam nya, lalu memutar knok pintu setelah terdengar suara,


Klek..


"Anak Momsy tersayang... Sudah pulang...!!!" Teriak suara cempreng yang langsung menggetarkan gendang telinga Raehan.


"Apa aku berhalusinasi mendengar suara Momsy di sini?" Batin Raehan memejam kan mata nya.


Sebuah tubuh menubruk tubuh Raehan, yang semakin membuat Raehan kalang kabut.


"Siapa pun tolong aku... Sadar kan aku dari mimpi ini..." Teriak Raehan semakin memejam kan mata nya dalam.


Ini bukan waktu yang tepat untuk bertemu orang tua nya. Apa yang akan ia katakan jika Momsy dan Popsy nya sampai tahu kalau dia di skors sekolah.


Bisa- bisa dunia melebur karna omelan ibu nya, yang tidak akan berhenti sampai tujuh hari tujuh malam.


Ny. Marisa melepas pelukan nya. Rindu nya benar- benar terobati setelah beberapa minggu jauh dari putri semata wayang nya.


"Kenapa kamu menutup mata mu sayang?? seperti sedang melihat hantu saja..." Celetuk Ny. Marisa dengan mencubit keras pipi Raehan.


"Auuuu..." Teriak Raehan kesakitan, saat pipi gembul nya di cubit.


Ke dua mata nya yang sempat tertutup karna berharap kehadiran sang ibu adalah mimpi kini terbuka lebar.


Bahkan ke dua mata Raehan hampir melorot dari kelopak mata nya.


"Ini bukan mimpi Hisk... Hiks..." Ringgis Raehan kecewa, menekuk wajah nya dalam.


Kenapa nasib nya selalu seperti ini, di saat ia mendapat masalah kenapa ibu nya ini malah datang ke kota.


Uhhh seperti nya tuhan ingin memberikan ujian doubel untuk nya, Pikir Raehan.


"Momsy kok momsy bisa ada di sini?" Raehan mengusap pipi nya yang masih terasa perih.


Sorot mata Ny. Marisa langsung berkilat, menatap Raehan dengan tajam, lebih tajam dari silet. Yang langsung membuat Raehan menelan saliva nya paksa.

__ADS_1


"Ohhhh... Jadi begitu ya setelah tinggal di kota kau tidak merindukan momsy lagi..?" Selidik Ny. Marisa.


"Ahhh He.. he... tidak seperti itu... Aku sangat merindukan Momsy..." Sosor Raehan sebelum tatapan Ny. Marisa membelah tubuh kecil nya ini.


Raehan langsung berhambur memeluk tubuh parih baya itu. Meski di hati nya ia berharap ibu nya akan cepat pulang ke desa.


Jika tidak alasan apa yang akan ia berikan, selama tiga hari ke depan saat diri nya tidak masuk sekolah.


Ke dua sudut bibir Ny. Marisa tersenyum lebar, tangan nya melebar memeluk tubuh putri nya.


"Setelah bertemu dan menukar rindu, sekarang kalian melupakan popsy...!!" Pekik suara pria dari ambang pintu. Yang langsung membuat ibu dan putri itu mengurai pelukan nya.


Pupil mata Raehan membesar, saat melihat pria paruh baya yang sangat di sayangi nya juga hadir di sini.


Ohh tidak, semakin terkejut saja diri nya, dan semakin rumit saja masalah nya.


Tanpa sadar Raehan menepuk jidat nya.


Pak Levi langsung menghambur mendekat, memeluk putri nya sekilas dan menatap penuh selidik pada putri nya.


Raehan langsung melempar wajah nya ke sembarang arah, Ia tidak ingin pak Levi sampai tahu jika ia menyembunyikan sesuatu.


Kara sejak dulu sang ayah lah yang paling mengerti diri nya. Dan paling tahu jika ia menyembunyi kan sesuatu.


Setelah sekian jam bercengkrama, menukar cerita dan melepas rindu.


Raehan memilih untuk masuk ke kamar, mengistirahat kan tubuh dan pikiran nya.


"Kenapa mereka harus datang sekarang sih... Tuhan seperti nya ingin aku mati karna serangan jantung.." Rutuk Raehan melempar ransel nya asal.


Lalu merebah kan dirinya di atas kasur.


"Auuuuu sakit...." Teriak seseorang yang langsung membuat Raehan melompat dari atas kasur.


Jantung nya rasa nya lepas dari gantungan nya karna teriakan entah dari mana asal nya.


Untung nya ucapan nya tadi tidak di kabul kan tuhan, karna merutuk meninggal karna serangan jantung.


Seorang anak laki- laki berusia 12 tahun langsung keluar dari dalam selimut.


"Lion..." Lirih Raehan, saat melihat adik nya juga ada di sini.


Oh tidak, seperti nya keluarga nya akan pindah rumah hingga membawa seluruh anggota rumah ke sini.


"Anak nakal kenapa berteriak seperti itu... Mau membuat ku berubah menjadi mayat,, biar kamu menjadi satu- satu pemilik warisan..." Gusar Raehan kesal karna keterkejutan nya.


Yang langsung melayang kan pukulan- pukulan ke arah Lion.

__ADS_1


"Aduh... Kakak... Padahal sudah tinggal di kota masih saja bertingkah seperti gadis desa.. Bar- bar.." Timpal Lion sambil menangkis serangan Raehan.


"Bar- Bar katamu.. Dasar anak mamy..."


"Momsy....!!" Teriak Lion kencang, yang langsung membuat pintu kamar terbuka.


Tampak di ambang pintu, Ny. Marisa berdiri dengan tangan memegang spatula di udara.


Raehan langsung menghentikan serangan nya, yang langsung membuat Lion menyeringai penuh kemenangan.


"Kalian ini selalu saja bertengkar... Bukan nya saling peluk dan melepas rindu, malah bertengkar seperti musuh yang bertemu..." Marah Ny. Marisa dengan mengebu- gebu.


Gara- gara ke dua bocah ingusan ini, ia harus menunda masakan nya untuk tamu yang datang.


"Mom kak Rae duluan... Masak dia menindih ku.. Tubuh ku jadi sakit Mom..." Adu Lion dengan mata yang siap menumpah kan lahar bening. Yang siapa pun melihat nya pasti akan iba, melihat mata bulat indah itu menangis.


"Siapa suruh kau tidur di kamar ku...!!" Timpal Raehan menoyor kepala Lion.


"HENTIKAN.........!!!" Teriak Ny. Marisa dengan kencang, yang langsung membuat perabotan menjadi bergetar , karna volume teriakan yang besar.


"Lion keluar dari kamar kakak mu... Dan Rae cepat ganti baju.. Ada tamu untuk mu..." Ujar Ny. Marisa sambil mengayun kan spatula nya.


Raehan menurun kan ke dua tangan nya dari telinga nya, untung saja ia menutup telinga tadi saat Momsy nya berteriak. Bisa- bisa telinga nya jadi tuli seketika tadi.


Mengerikan... Bayang Raehan ngeri.


Tapi, tunggu tamu? Untuk nya.?


Siapa yang datang ke kontrakan nya sih? Pekik Raehan frustasi, yang langsung menyabet handuk dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


...----------------...


...****************...


Terus pantangin cerita nya ya...


Like


koment.


Vote


gift.


Rak favorit.


Yuk dukung terus karya ini....!!!

__ADS_1


kalo ngak koment atau like atau kasi gift..


Kalian benar- benar kejam ama thor😭😭😭??


__ADS_2