Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Skiater


__ADS_3

...121 ❣...


Agara memberhentikan mobil berwarna hitam tepat di sebuah parkiran rumah sakit.


Sekali lagi ia melirik ke arah pintu masuk rumah sakit yang langsung membuat tenggorokan nya terasa kering. Dengan buliran keringat yang mulai merembes di dahi nya.


Pasal nya sekarang ia tengah berada di depan Rumah Sakit Jiwa kota Milver.


Apa keputusan nya adalah benar dengan mengunjungi rumah sakit jiwa, di mana ada banyak orang dengan gangguan mental yang tinggal di tempat ini.?


Tapi, ia harus menemui seorang skiater untuk menyingkir kan bayang- bayang Raehan dari otak nya.


Deg...


Deg..


Deg...


Jantung nya kembali berdetak dengan cepat, saat bayangan wajah seorang gadis kembali terlihat di kepala nya.


"Huhhhh... Gadis sial itu sangat merepot kan. Bayangan nya saja sudah membunuh ku..." Ringgis Agara sambil mengacak rambut nya asal.


Ia tidak bisa lagi di hantui oleh bayangan Raehan.


Rasa nya ia hampir gila karna otak nya terus saja menayang kan slide wajah imut gadis pendek itu.


Seandai nya kepala nya bisa di buka, pasti ia akan mengeluar kan isi kepala nya lalu mencuci nya hingga bersih, jika perlu ia akan merendam isi kepala nya sendiri.


Agara kembali mendengus kasar, saat lagi- lagi kepala nya berpikir hal yang bodoh.


Seperti nya ia memang harus mengunjungi tempat ini. Pikir nya, lalu segera membuka pintu mobil dan turun.


Sebelum turun, Agara memasang masker dan juga topi yang akan menyembunyi kan wajah nya.


Ia tidak ingin orang mengetahui jika seorang Agara mengunjungi sebuah rumah sakit jiwa.


Memikir kan hal itu saja membuat Agara sedikit bergidik ngeri dengan pikiran orang lain yang akan mengatakan jika seorang pria tampan seperti diri nya ternyata gila.


Agara menatap sekali lagi huruf- huruf besar yang menempel dengan kuat di tembok gedung yang menjulang tinggi di hadapan nya.


Harus kah ia kembali, dan mengurung kan niat nya untuk masuk.?


Tapi diri nya tidak tahan dengan gangguan gadis pendek yang selalu melintas dalam kepala nya.


Sungguh sangat merepotkan diri nya.


Agara menekan topi pet yang kini diri nya pakai, lalu melangkah masuk memasuki rumah sakit.


Kepala Agara terus menunduk, ia sama sekali tidak memperhati kan sekeliling nya, begitu pula dengan orang- orang di sekeliling nya yang bersikap acuh dan memilih untuk mengurus urusan mereka masing- masing.


Hingga akhir nya Agara sampai di sebuah ruangan dengan seorang resepsionis di depan pintu.

__ADS_1


"Selamat datang pak... Ada yang bisa di bantu?" Tanya sang resepsionis dengan ramah, sembari membuka lembaran- lembaran di hadapan nya.


"Saya sudah ada janji dengan dokter..." Jawab Agara singkat dengan mengecek masker yang diri nya pakai. Ia juga tidak ingin resepsionis ini sampai melihat wajah nya.


"Atas nama siapa?"


Agara terdiam sejenak, ia ragu menyebut kan nama nya yang begitu indah dan harus bergabung dengan nama pasien - pasien yang terkena gangguan mental lain nya.


Namun apa lah daya, dari pada diri nya tidak bisa tidur atau berpikir dengan tenang. Lebih baik diri nya cepat lalu segera pergi dari tempat ini.


"Agara Vandeerze."


Sang resepsionis kembali memilah lembaran- lembaran di hadapan nya, lalu kembali tersenyum pada pasien di depan nya yang bahkan ia tidak bisa melihat wajah sang pasien.


Aneh.


Itu lah satu kata yang terpikir dalam benak sang resepsionis.


Tapi di sini tugas nya bukan untuk mengetahui kehidupan pribadi pasien.


"Baik lah pak. Silah kan tunggu di sini sebentar. Saya akan mengantar berkas bapak pada dokter.." Titah sang resepsionis sembari merentang kan tangan nya pada kursi tunggu di sebelah nya, yang juga sedang di duduki oleh pria paruh baya dengan kumis putih.


Agara menurut, ia duduk di samping pasien lain nya. Jika di lihat dari umur pasien di samping nya kira- kira umur pria tersebut sekitar lima puluh tahunan.


Tapi ya sudah, diri nya tidak peduli. Yang terpenting sekarang adalah bertemu dengan dokter, lalu pulang dengan cepat dengan pikiran bersih. Pikir Agara.


"Nak.. Kamu sakit apa?" Tanya pria paruh baya di samping nya yang menepuk pundak Agara dengan tiba- tiba, sehingga membuat Agara tersentak kaget.


Apa kakek- kakek ini tahu jika diri nya masih muda?


Astaga bagaimana bisa?.


Padahal diri nya sudah memakai masker dan topi untuk menutupi wajah nya, bahkan sang resepsionis pun tidak bisa menebak jika diri nya masih muda, bahkan diri nya di panggil bapak tadi.


Tapi pria di samping ini, bagaimana bisa?


Apa pria ini mempunyai indra ke enam, atau sejenis nya?


"Nak..!" Panggil sang pria paruh baya tersebut, kini dengan nada yang lebih tinggi, di iringi tepukan di pundak yang sama.


"Saya hanya ingin konsultasi pak.." Sahut Agara dengan sesopan mungkin, sembari menunduk kan wajah nya.


Lagi- lagi bayangan Raehan yang mengomeli diri nya untuk selalu sopan terhadap orang yang lebih tua kembali terbayang.


"Astaga lagi- lagi wajah gadis sial itu... Ada apa dengan kepala ku..." Ringgis Agara dengan sebal.


Pria paruh baya di samping Agara, memperhatikan tingkah anak muda di samping nya.


Bahkan ia mencium aroma benih- benih cinta yang mulai menguap dari Agara.


"Ini bukan tempat yang tepat untuk remaja yang sedang jatuh cinta seperti mu nak.." Celetuk pria tersebut terdengar seperti nada menggoda.

__ADS_1


"Aaahhhh kakek- kakek ini kenapa sok tahu sekali... Jatuh cinta apa,? Aku hanya di hantui oleh bayangan gadis sial .. Ck.. Tidak hanya kepo dia juga sok tahu..." Batin Agara yang tidak setuju dengan perkataan pria di samping nya.


Pria tersebut lagi- lagi tersenyum geli, melihat tingkah diam Agara yang malu- malu. Apa lagi saat ia melihat telinga Agara memerah. Dapat ia tebak jika wajah Agara pasti sudah memerah seperti senja yang indah.


"Nak.. Kenapa kamu diam saja..--"


"Pak Agara silah kan masuk, dokter sudah menunggu anda..." Panggil sang Resepsionis yang langsung memotong ucapan pria paruh baya tersebut.


Agara menghela nafas lega, saat mendengar panggilan itu. Setidak nya ia bisa menjauh dari pria tua sok tahu itu, yang hampir membuat nya semakin gila. Dengan semua kata- kata ajaib yang merusak kinerja otak dan jantung nya.


Agara segera beranjak dari duduk nya, lalu masuk ke dalam ruangan dengan seorang wanita berumuran tiga puluh tahunan yang terlihat begitu ramah dengan senyum bulan sabit , yang terbit dari bibir nya.


"Silah kan duduk..." Ujar sang dokter merentang kan tangan nya mempersilah kan.


Agara merebah kan bokong nya pada kursi tepat di hadapan sang dokter, di mana sebuah meja menjadi sekat di antara mereka.


...----------------...


...****************...



Nih Agara lagi kesel karna ucapan si kakek😥


Ganteng bet meski lagi kesel😚❤


...----------------...


Hello semua nih. Aku grazy up..


Yok donk kaalian dukung author dengan grazy up koment biar othor makin semangat 😭


Jangan bosan terus ya dengan karya othor😍😍😍


Terus pantangin cerita nya ya...


Like


koment.


Vote


gift.


Rak favorit.


Yuk dukung terus karya ini....!!!


kalo ngak koment atau like atau kasi gift..


Kalian benar- benar kejam ama thor😭😭😭???

__ADS_1


__ADS_2