
...29...
"Lalu kenapa?? Kamu marah?? Apa yang bisa kamu lakukan pada ku??" Tantang Felix dengan senyum mengejek.
Raehan menggeram melihat tingkah menyebalkan Felix. Pria ini selalu mengganggu nya. Menatap nya dengan penuh kebencian.
Raehan tidak habis pikir, alasan apa dan apa yang telah ia lakukan, sampai- sampai Felix membenci nya.
Kemarahan Raehan semakin memuncak, saat melihat senyum mengejek penuh penghinaan dari Felix.
Tangan Raehan mengepal erat, hingga buku- buku tangan nya memutih.
"Kamu harus mendapat pelajaran..." Batin Raehan menatap sangar Felix.
Dengan mantap, Raehan mengangkat lutut nya cepat. Mengarahkan lutut nya tepat di selangkaan Felix.
"Auuuuuuuu... Agggrhhhh... Gadis bajingan...!!!" Teriak Felix keras, hingga urat- urat leher nya tercetak jelas.
Menandakan betapa sakit nya, area inti karna mendapat tendangan keras dari Raehan.
Rasa nya tubuh nya terbelah menjadi dua. Rasa sakit yang menjalar sampai ke ujung rambut nya.
Felix memegang area inti nya, wajah nya merah menahan rasa sakit. Bahkan ke dua mata nya sampai mengeluarkan air mata.
"Berani menganggu ku lagi... Akan ku cabut pusaka mu itu dari gantungan nya... Lalu Memotong nya seperti potongan sosis...." Ancam Raehan, dengan setiap tekanan pada ucapan nya.
Raehan mengusap hidung nya kasar. Ia di lawan, bisa- bisa pusaka mu tidak bangkit lagi karna ku. Batin Raehan dengan penuh rasa kemenangan.
Melihat pria yang sudah berani menganggu nya meringgis kesakitan.
Diri nya bukan lah gadis lemah, jika di bully atau di ganggu akan selalu diam. Seperti adegan dalam sebuah sinetron.
Yang di mana tokoh wanita nya, selalu menerima setiap kejahatan orang lain. Sampai datang uluran tangan seorang pangeran yang akan menyelamat kan nya.
Tapi diri nya tidak sebodoh itu. Ia adalah gadis yang mandiri. Mengurus lalat penganggu seperti Felix adalah mudah bagi nya.
"Brengsek...." Umpat Felix, terduduk di lantai karna meredam rasa sakit di area pangkal paha nya.
Beberapa siswa yang berlalu, menatap heran tingkah Felix yang memegang **** ***** nya.
Membuat mereka yang melihat tersebut mengendik kan bahu bingung.
"Lagi datang bulan kali si Felix, sampe kesakitan gitu pegang pusaka nya.. He.. he.."
"Ada kelainan kali dia..."
"Gejala impoten kali ya... Ha... Ha..."
Ungkap para siswa yang melewati Felix dan Raehan.
Ohh.. Tuhan Gadis Gila... Pekik Felix dalam hati.
Niat nya ingin mengerjai gadis pendek ini, malah sekarang ia yang harus menelan malu.
Di katakan datang bulan, impoten, memiliki kelainan. Sungguh menjatuhkan harga diri nya sebagai laki- laki sejati.
Dan itu semua karna Raehan. Jika saja selangkaan nya tidak sesakit ini.
__ADS_1
Pasti ia sudah melempar gadis kurang ajar ini hingga keluar bumi.
Raehan membuang wajah nya, dengan ujung mata penuh kilatan kesal.
Lalu menyeret langkah nya, meninggalkan Felix yang masih kesakitan.
"Coba- coba cari masalah dengan ku... Hhhh aku bukan gadis lemah..." Dumel Raehan kesal.
Baru saja mendapat rizki nomplok dengan mendapat nomer Agara.
Ehhh,, malah ada lalat yang mencoba menganggu nya.
Sementara di sudut jendela, sepasang bola mata indah melihat pertengkaran antara Raehan dan Felix dengan bibir tersenyum.
Yah, Agara tersenyum melihat pertengkaran antara Raehan dan Felix.
Hati nya terasa tergelitik melihat aksi polos Raehan.
Semenjak bertemu dengan gadis itu, senyum nya terlalu terlukis tanpa ia sadari.
Entah mantra apa yang di bawa gadis kecil itu. Hingga bisa membuat wajah kaku nya yang tak pernah tersenyum, kini bisa tersenyum.
"Gadis tangguh..." Lirih Agara tanpa luput memandangi punggung Raehan yang terus menjauh dan menghilang dari hadapan nya.
"Aku tidak menyangka ternyata kamu juga bisa tersenyum..." Heran Niel yang baru saja melewati jendela tempat Agara mengintip.
Diri nya dan Agara satu kelas. Sejak menginjak kelas terendah ia tidak pernah melihat Agara tersenyum apa lagi tertawa.
Rekan kelas nya yang satu ini benar- benar jelmaan patung. Tidak memiliki ekspresi sama sekali.
Wajah Agara langsung berubah datar, tanpa ekspresi seperti biasa.
Bisakah sehari saja tidak ada yang menganggu nya? Kesal Agara dalam hati.
Melihat senyum Niel, seperti senyum kuda nil. Sungguh menyebalkan.
Lebih baik ia melihat senyum gadis pendek itu dari pada melihat senyum Niel.
Setidak nya senyum gadis itu lebih manis dan tidak menusuk mata nya.
Ke dua mata Agara melebar, saat pikiran nya memikirkan Raehan.
"Astaga,, Ada apa dengan ku?? Kenapa aku membandingkan senyum gadis sial itu dengan Niel... Apa yang sudah ia lakukan pada ku?..." Pekik Agara dalam hati. Dengan rahang yang mengetat.
"Ini tidak bisa di biarkan....." Agara meninju tembok di samping jendela. Yang langsung membuat Niel tersentak kaget.
"He... he... Baiklah... Aku pergi..." Ujar Niel dengan tawa paksa nya.
Lebih baik ia segera pergi dari hadapan Agara. Sebelum bogem mentah itu malah mengenai wajah nya yang pas pas an ini.
...----------------...
Raehan terus berjalan, melewati lorong- lorong kelas menuju kelas nya.
Sebelum sebuah tangan dengan kekuatan kilat menarik tangan nya.
Hingga tubuh nya tertarik masuk ke dalam toilet.
__ADS_1
Raehan hendak mengeluarkan sumpah serapah nya. Karna jantung nya rasa nya ikut melayang bersama tarikan kasar itu.
Tapi dengan cepat, tubuh nya di dorong hingga membentur tembok, dan sebuah tangan membekap mulut nya.
Membuat Raehan semakin terkaget- kaget, atas serangan tiba- tiba.
Ia belum saja menghembuskan nafas nya dengan sempurna, tapi malah mendapatkan gerakan yang mengunci tubuh nya.
"Sssssttttt..." Titah seorang gadis yang mengunci tubuh nya, meletakkan tangan nya di depan bibir. Memerintah Raehan untuk tidak bersuara.
Pupil mata Raehan membesar, dengan pudar nya ketegangan dalam diri nya.
Saat mengetahui siapa yang menarik paksa diri nya. Yang tak bukan dan tak lain adalah teman nya sendiri Miya.
Raehan menurun naikkan alis nya, dengan menatap miya penasaran.
Sementara di mulut nya masih menempel tangan Miya.
Miya menghela nafas nya, menarik tangan nya dari bibir Raehan, membiarkan sahabat nya ia bernafas dengan teratur.
Melepas cengkraman pada tangan Raehan. Sementara di kening nya, sudah terbentuk butir- butiran bening yang siap meluncur bebas melewati wajah cantik nya.
"Ada apa??" Tanya Raehan dengan berbisik. Ia mengerti jika Miya tidak ingin ia bersuara. Karna pasti ada sesuatu yang terjadi, sehingga membuat sahabat nya terlihat takut dengan wajah yang sudah pucat pasi.
Glek...
Miya menelan saliva paksa. Bibir nya sudah memutih dengan buliran keringat di kening nya.
Belum lagi tangan nya yang gemetaran. Membuat Raehan semakin penasaran dengan apa yang menimpa teman nya ini.
"Ada apa dengan mu?? Kenapa pucat sekali?" Kini Raehan berubah khawatir dengan kondisi Miya.
Dengan gemetar, Miya menunjuk salah satu kamar toilet yang tertutup rapat.
"Di... San... Sana..." Ujar Miya terbata- bata dengan suara rendah hampir tidak terdengar.
...----------------...
...****************...
Terus pantangin cerita nya ya...
Like
koment.
Vote
gift.
Rak favorit.
Yuk dukung terus karya ini....!!!
kalo ngak koment atau like atau kasi gift..
Kalian benar- benar kejam ama thorðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜?
__ADS_1