Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Pertengkaran part 3


__ADS_3

...336...


Agara menoleh ke arah Raehan sehingga hidung mereka saling bergesekan dengan tatapan dalam yang saling bertaut. Keduanya menatap jauh ke dalam bola mata masing-masing, mencari cinta dan keseriusan. Tatapan yang selalu berhasil menarik mereka untuk sama-sama menyelami perasaan satu sama lainnya. Tatapan yang selalu membuat mereka begitu terhipnotis dengan perbedaan warna kedua bola mata. Mereka seakan merasakan alunan mantra dan melodi yang berbunyi bersamaan, mengunci dan membekukan pandangan mereka hingga tak bisa lepas satu sama lain.


Byur!


Agara terlonjak kaget saat bagian perutnya terasa sangat dingin. Hal itu berhasil memutus kontak mata antara dirinya dan Raehan. Agara menatap ke arah perutnya yang sudah basah dengan air es. Kulit perutnya terasa kebas. Sedangkan Raehan melirik ke arah Dion yang baru saja datang dengan seteko air es yang masih tersisa di tangannya.


Awalnya Dion masuk ke dalam Bis dengan membawa seteko air es pesanan salah satu teman Anggota Osis. Namun, saat ia masuk dan melirik ke arah kursi belakang di mana Agara dan Raehan sedang bertatapan denga hidung bersentuhan, niatnya untuk memberikan air es kepada temannya di urungkan dan kini malah mendarat di perut Agara.


Agara menatap marah dan kesal dengan kepala yang sudah mengeluarkan kepulan asap. Ia tahu, jika Dion pasti sengaja melakukan ini padanya. Mulut Agara hendak mengeluarkan cacian dan makian. Namun, didahului dengan cepat oleh Dion.


"Maaf, Aga aku tidak sengaja. Kakiku tadi tersandung sesuatu. Jadi tidak sengaja menumpahkan air es ini di badanmu. Pasti sangat dingin kan?" ujar Dion dengan nada sedikit mengejek dan merendahkan. Ia tersenyum puas melihat amarah Agara yang harus ditahan karena ada Raehan di sampingnya.


"Tersandung? Alasan yang tidak masuk akal, di sini tidak ada batu yang bisa membuat kakimu tersandung," ketus Agara dengan kedua tangan mengepal.


"Aku juga tidak tahu, tapi aku benar-benar minta maaf."


"Kau---"


"Kak Aga." Raehan lansung menarik lengan tangan Agara yang hendak berdiri, tentu saja untuk menghajar Dion.


Agara menoleh ke arah Raehan dengan tatapan kesal, tetapi Raehan menggelengkan kepalanya kecil agar dia tidak tersulut emosi. Agara semakin mengeratkan kepalan tangannya hingga telapak tangannya memutih dengan sempurna. Ia berusaha meredam kemarahannya dengan menutup mata dan menarik nafas panjang.


Dion segera mengambil posisi di samping Raehan. Lalu, memberikan handsheet dan juga ponsel Raehan.

__ADS_1


"Rae, ini ponselmu!" seru Dion dengan mendekatkan wajahnya pada Raehan.


"Terimakasih, sudah membawakan barang-barangku," balas Raehan dengan senyum tulus. Senyum yang selalu berhasil membuat Dion tertular dan ikut tersenyum, meski hatinya sedang terbakar api cemburu. Namun, api tersebut sedikit tersirami dan padam oleh senyum Raehan.


"Sama-sama, jangankan barang-barang aku bersedia membawakan apapun untukmu," goda Dion, yang semakin membuat nafas Agara menderu dengan kencang. Ingin sekali rasanya, Agara menyumpal mulut Dion karena berani menggoda kekasihnya tapi sialnya, ia harus menyembunyikan hubungannya sesuai dengan permintaan Raehan.


"Dih, gombal," seru Raehan diiringi dengan tawa ringan. Ia menoleh ke arah Agara, ia sangat khawatir dengan pria yang ada di sampingnya itu.


"Perutmu masih dingin?" tanya Raehan pada Agara sehingga ia membelakangi Dion yang ada di sisi sampingnya yang lain.


Agara menghembuskan nafasnya dengan pelan. Ia memang wajah tidak baik-baik saja. Dion ingin sekali mengerjainya bukan? Dan membuat ia cemburu. Lihatlah, sekarang apa yang akan ia lakukan untuk membalas Dion.


"Perutku menjadi kram karena dingin, Rae. Bajuku juga basah jadi aku kedinginan," terang Agara dengan wajah memelas.


Raehan semakin dibuat panik, ia segera mengangkat kaos yang dikenakan oleh Agara dan menempelkan tangannya pada perut kotak-kotak milik Agara. Sentuhan tangan Raehan membuat Agara menahan nafas karena rasa hangat yang membuat darahnya berdesir.


Dion yang memperhatikan Raehan yang begitu perhatian pada Agara menelan salivanya dengan paksa, menekan perasaan sakit dan luka yang semakin melebar. Ia tidak buta sehingga tidak bisa melihat tatapan Raehan yang masih mencintai Agara. Sekuat apapun ia mencoba untuk merebut hati gadis itu, tetapi tetap saja Agara yang menang.


Dion mengepalkan tangannya dengan sangat erat, meredam emosi dan rasa sakit yang menyatu menjadi sebuah rasa sesak yang memenuhi rongga dadanya, melihat gadis yang dicintai begitu mengkhawatirkan pria lain. Kenapa bukan dirinya yang ada di posisi Agara? Kenapa ia yang harus berada pada posisi cinta yang tak terbalas? Dan merasakan rasanya dipatahkan dan dihancurkan berulang kali.


Agara yang mencuri-curi pandang ke arah Dion tersenyum miring melihat ekspresi sedih rivalnya itu, di mana Dion memilih untuk memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


Lihatlah, Raehan sangat mengkhawatirkan aku. Seharusnya kamu sadar diri jika Raehan hanya mencintai diriku. Kamu terlalu bodoh hingga membiarkan hatimu terluka berulang kali. Aku tahu, kamu bukan pria yang pantang menyerah. Namun, dalam urusan Raehan, kamu memang harus menyerah dan mundur karena Raehan hanya milikku. Batin Agara menatap tajam penuh arti ke arah Dion.


"Apa sudah baikan? Aku akan mengambil baju ganti untuk Kak Aga!" tanya Raehan yang lansung berdiri hendak mengambil baju dalam ransel Agara yang berada di kursi depan, yang hanya terhalang dua kursi.

__ADS_1


Agara menggeser bokongnga mendekat ke arah Dion yang masih membuang wajah ke arah luar.


"Apa terasa sakit? Seharusnya kamu mengerti jika Raehan hanya milikku," bisik Agara tepat di telinga Dion, sementara tatapannya menatap lurus ke arah Raehan yang sedang mengambil baju ganti untuknya.


Rahang Dion mengetat semakin keras hingga gigi-giginya saling bergesekan. Ia meremas dengan kuat teko yang terbuat dari besi ringan hingga penyok. Agara yang melihat hal itu bersorak senang di dalam hati.


"Sampai kapanpun kamu mencoba Raehan hanya ditakdirkan untukku. Jadi, mengertilah dan jangan menjadi orang ketiga dalam hubungan kami," lanjut Agara dengan nada serius, yang berhasil membuat luka di hati Dion semakin perih. Seperti menabur garam pada luka baru.


Agara kembali menggeser tubuhnya untuk kembali ke tempat duduknya. Namun, tubuh Agara lansung berhenti saat lengannya ditarik dan dicengkram dengan kuat oleh Dion. Kedua pria itu kini saling bertatapan, tentu saja dengan tatapan penuh amarah dan permusuhan.


"Aku tahu akan hal itu, tetapi apa yang kamu katakan tidak akan membuatku jauh dari Raehan. Pernahkah kamu bertanya pada Raehan di mana posisiku? Posisiku ada di hidup Raehan sebagai pria yang tidak akan pernah bisa ia lupakan. Kamu tidak perlu terus mengatakan jika Raehan adalah milikmu karena rasa yang kumiliki pada Raehan tidak akan pudar dengan cepat," tekan Dion. Lalu melepaskan cekalan tangan pada lengan Agara.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


koment


gift


vote

__ADS_1


tips


__ADS_2