Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Aku akan pergi ke Inggris


__ADS_3

...284💛...


Raehan membuang pandangannya keluar jendela, menikmati pemandangan pinggir jalan yang semakin mengingatkan dirinya akan masa indahnya bersama Agara.


Senja sore, yang menampilkan sinar keemasannya, mampu membuat Raehan tenggelam dalam momen manis yang dirinya dan Agara lewati. Memang sangat singkat, tapi waktu itu sangat berharga bagi Raehan.


Tapi, kini semuanya telah berbeda. Hubungannya dengan Agara begitu berantakan. Pria yang mengaku sebagai kekasihnya, kini sudah menjadi tunangan gadis lain.


Ia mungkin masih bisa berjuang untuk mendapatkan Agara dan merampasnya dari Lessia. Tapi hatinya hancur karna Agara yang menghianati cintanya. Meski Agara sudah menjelaskan alasannya menyetujui pertunangan itu, tapi tetap saja Agara sudah menghianatinya dan tetap memilih melanjutkan pertunangan itu meski dia melihat dirinya.


Sedangkan di kursi belakang, Nyonya Marissa mengerucutkan bibirnya ke depan. Suasana di dalam mobil benar-benar sangat hening, tidak ada suara atau obrolan apapun, yang ada hanya suara deru mesin mobil dan juga suara klakson dari pengendara lainnya.


Nyonya Marissa menatap Agara yang fokus dengan jalanan, sementara putrinya malah asik melihat jalanan. Nyonya Marissa pun mengalihkan pandangannya pada Lion putranya yang duduk di sampingnya. Ternyata Lion lebih parah karna putranya itu malah tidur dengan pulas. Lalu Tuan Levi jangan di tanya lagi, mimpinya mungkin sudah sampai di luar kota. Nyonya Marissa menggelengkan kepalanya, suaminya yang menolak tawaran Agara dan hampir meledak marah. Malah tidur di dalam mobil pria yang sudah di ancam.


"Ekkhmm!" dehem Nyonya Marissa menghancurkan keheningan yang terasa membosankan.


Agara melirik sekilas ke arah jok belakang, lalu kembali menatap lurus jalanan.


"Rae, ambilkan minum untuk momsymu!" pintar Agara tanpa memandang Raehan.


Raehan mengambil botol minuman di dalam dashboard, tentu saja ia tahu tata letak barang-barang yang ada di dalam mobil Agara. Karna ia pernah duduk di tempat yang sama namun kini dengan posisi yang berbeda.


Raehan mengeluarkan sebotol minuman untuk sang ibu, lalu kembali dalam mode nyamannya, memandangi jalanan yang semakin gelap.


Nyonya Marissa mendengus kesal, lalu meneguk air yang di berikan putrinya. Suasana kembali hening, tidak ada yang membuka suara sedikitpun.


"Nak Aga, kamu kakak tingkat Raehan ya?" tanya Nyonya Marissa yang kembali membuka obrolan.

__ADS_1


"Iya tante," jawab Agara singkat.


Raehan melirik sang ibu dengan ekor matanya, lalu kembali memandang jalanan, pura-pura tidak peduli dengan obrolan antara mereka.


"Artinya bentar lagi kamu lulus, kamu mau melanjutkan pendidikanmu dimana Aga?" Lanjut Nyonya Marissa yang ingin mengulik kehidupan Agara. Ia tidak tahu saja jika pria remaja di depannya adalah anak dari patner bisnis suaminya.


"Aku akan melanjutkan pendidikanku ke Inggris tante," jawab Agara sekenanya, namun berhasil membuat Raehan terganggu.


"Kak Aga akan pergi ke Inggris? Dia akan lulus tinggal tiga bulan lagi. Itu artinya dia akan pergi dari kota ini?" batin Raehan yang mulai gelisah, ia tidak mau Agara pergi sejauh itu. Meski ia sangat benci pada pria yang sedang mengemudi disampingnya. Tapi tetap saja rasa cintanya pada Agara masih sangar besar.


Agara melirik ke arah kaca spion depan, melihat raut wajah Raehan yang ternyata biasa-biasa saja. Ia sedikit kecewa, sepertinya Raehan tidak terganggu dengan perkataannya barusan.


"Apa Raehan tidak takut jika aku pergi?" batin Agara yang mulai bertanya-tanya dan sedikit tidak terima.


"Pilihan yang bagus Aga, kamu pasti akan menjadi orang sukses," ucap Nyonya Marissa melanjutkan obrolan dengan menantu masa depannya.


Raehan yang terus di pandangi, malah memilih diam dan menahan diri untuk tidak peduli dengan suara-suara yang berada di sekitarnya. Meski sejujurnya, ia ingin berteriak dan mengatakan 'Kak Aga tidak boleh pergi kemanapun'. Tapi tidak, ia berusaha menahan hatinya agar tidak jatuh ke dalam perangkap yang sama.


...----------------...


Setelah menghabiskan waktu beberapa menit, akhirnya mobil Agara memasuki pekarangan rumah yang sangat asing bagi Raehan.


Rumah yang ada di depannya, bukanlah kontrakan yang dirinya sewa selama tinggal di kota. Bangunan yang ia lihat sekarang, jauh lebih besar dan bagus.


Raehan menatap curiga pada Agara, apa Agara ingin menculik dirinya dan keluarganya. Namun, belum sempat Raehan mencecar Agara dengan pertanyaannya. Nyonya Marissa langsung angkat bicara.


"Rumah baru kita, popsy dan momsy sudah memutuskan akan tinggal di kota sampai pendidikanmu selesai," jelas Nyonya Marissa mengakhiri kebingungan dan kecurigaan Raehan.

__ADS_1


Agara langsung keluar dari mobil dan berjalan memutar untuk membuka pintu untuk Raehan, walau sejujurnya ia kecewa saat Raehan menatapnya curiga saat tadi di dalam mobil. Tidak ada lagi kepercayaan yang dirinya lihat pada bola mata coklat Raehan, yang ada hanya kemarahan dan sebercak kebencian untuknya.


"Apa Momsy sudah memikirkan hal itu? itu keputusan yang besar dengan hidup di kota. Momsy sangat tahu kehidupan di kota sangat mahal Mom, terus juga bagaimana dengan sekolah Lion? Jangan gara-gara aku, Momsy dan popsy sampai meninggalkan semua yang ada di desa." Raehan masih kurang setuju dengan keputusan keluarganya yang pindah ke kota. Bukan tidak senang, hanya saja ini terasa mendadak dan baginya bukanlah hal yang baik.


"Kamu jangan khawatir, Momsy dan popsy sudah mengurus itu semua. Untuk masalah bisnis, Popsymu bisa menghandlenya dari sini, apalagi investor terbesar bisnisnya dari kota ini. Jadi itu akan mempermudah kerja sama mereka. Lalu sekolah Lion, jangan khawatir satu minggu lagi dia akan masuk asrama," terang Nyonya Marissa. Baginya dan suaminya inilah keputusan yang terbaik. Ia tidak ingin lagi berjauhan dengan Raehan. Ia tidak ingin Raehan di lukai lagi, apalagi suaminya sudah melihat sosok yang sama yang sedang mengintai putrinya.


Meski ia sudah menghapus kecemasan suaminya, tapi rasa cemas itu tetap terus menghantuinya. Ia tidak ingin putrinya terlibat dengan masa lalu hidupnya.


Raehan menatap Agara, saat pintu mobil di buka.


"Apa perlu aku membantumu melepas sabuk pengaman?" tawar Agara.


"Tidak perlu, aku bisa dan aku tidak membutuhkanmu!" sinis Raehan dengan dingin. Lalu turun dari mobil. Begitu pula dengan Nyonya Marissa, Tuan Levi, dan juga Lion.


"Makasih ya Agara sudah mau mengantar kami, Apa kamu tidak ingin mampir dulu?" ucap Nyonya Marissa dengan tersenyum ramah.


"Ini sudah hampir malam, lebih baik kamu pulang saja!" seru Tuan Levi memberi isyarat jika ia tidak mengizinkan Agara untuk mampir ke rumahnya.


"Iya om saya mengerti," timpal Agara dengan sopan.


Nyonya Marissa merasa sedikit sebal dengan tingkah suaminya. Ia memilih menggiring Tuan Levi untuk segera masuk ke dalam rumah, sebelum suaminya itu berubah menjadi singa.


Tidak ingin ketinggalan, Raehan juga melangkahkan kakinya untuk segera masuk ke dalam rumah, tapi sayang tangannya langsung di tarik oleh Agara. Sehingga membuat langkahnya terhenti dan mundur ke belakang.


...----------------...


...****************...

__ADS_1


Nah kan Agara, kali ini kamu yang kejer2 Raehan... gansss tersayang yook tangannya jangan malas-malas. kasi like komen tips dan juga vote untuk karya othor ya❤️


__ADS_2