
...21...
Raehan mengoleskan benda putih lengket di wajah nya. Meratakan benda lengket yang bernama masker wajah tersebut sampai ke leher nya.
Hari yang panjang dan cukup meletih kan bagi nya. Kesehatan kulit dan perawatan wajah adalah salah satu hal yang penting bagi nya.
Ya, meski wajah nya tidak cantik bak model iklan. Tapi setidak nya wajah nya terlihat sehat dan cerah, tanpa ada butiran jerawat menyebalkan yang tumbuh di wajah nya.
Raehan merebahkan tubuh nya yang sudah terasa penat di atas kasur yang berukuran 3×1 meter.
"Huh... Nyaman sekali... Hidup di kota benar- benar menguras tenaga.." Gumam Raehan dengan menarik nafas nya dalam, lalu menghembuskan nya perlahan.
Ke dua mata indah tanpa beban Raehan, semakin terasa berat. Di iringi dengan sunyi nya malam yang menidurkan Raehan seperti alunan musik yang mengalun merdu.
Raehan memejamkan mata nya rapat, melewati lorong penghubung ke dua mimpi yang memanjakan diri nya.
...----------------...
Dion tengah asik memainkan benda persegi dengan teknologi super canggih , yang biasa di sebut laptop di atas meja belajar nya.
Pria itu terlihat fokus dengan apa yang di tunjukkan benda itu.
Sesekali ia mengusap- ngusap dagu nya dengan wajah serius nan tampan.
Namun, terkadang juga tersenyum sendiri, bahkan sampai tertawa terkekeh- kekeh.
Dubrak...
Suara pintu kamar Dion yang di buka oleh Niel, Pria tersebut langsung menghempaskan bokong nya di atas kasur empuk Dion, dengan secangkir kopi di tangan nya.
Ia dan Dion, adalah sahabat sejak kecil, bahkan rumah mereka berdekatan satu sama lain.
Jadi mereka memiliki dua hubungan, yaitu persahabatan dan tetanggaan.
Mungkin faktor tersebut membuat mereka begitu dekat dan selalu bersama.
Persis seperti dua sejoli yang tak terpisah kan.
Eits..
Mereka masih laki- laki sejati, tidak menyukai sesama gender.
Niel memperhatikan Dion yang tidak mengubris kehadiran nya.
Seperti ia seorang hantu yang tidak di lihat oleh mata telanjang.
Sejak tadi sang tuan kamar, masih fokus dengan layar laptop di depan nya. Membuat Niel mendekat ke arah Dion dengan perlahan.
Berusaha tidak menganggu aktivitas sahabat nya. Jika tidak ia akan di tendang keluar dari rumah oleh Dion.
Dion tidak menyadari akan kehadiran Niel. Fokus dan perhatian hanya tertuju pada layar laptop yang menampil kan beberapa slide foto. Yang terus di ulang- ulang sejak tadi. Entah ini sudah keberapa kali nya.
__ADS_1
"Hah...!!!" Jerit Niel dengan kencang di samping telinga Dion.
Rahang bawah nya terasa jatuh dari wajah nya. Sedang kan ke dua mata nya membola dengan sempurna melihat foto siapa yang tengah di lihat oleh Dion, yang membuat diri nya terabaikan seperti anak yatim piatu.
Dion langsung terlonjak kaget, hampir tubuh nya berdiri karna mendengar jeritan yang begitu dekat dengan telinga nya.
"Ngapain sih teriak- teriak..!!" Bentak Dion menoyor kepala Niel dengan Keras.
"Awwww.... Sumpah kamu... Ngapain pake acara noyor segala sih.. Sakit tahu.. Uuhhh..." Ringgis Niel sambil mengusap kepala nya yang terasa sakit.
"Kamu sih ngagetin aja...."
"Ya kan aku kaget... Ngapain kamu liatin foto si Raehan pendek itu sih??... Sampai - sampai ngak sadar pas aku dateng..."
Dion menjadi salah tingkah saat Niel bertanya , mengapa diri nya melihat foto Raehan.
Astaga apa yang akan dia jawab, otak nya yang super cerdas, seakan menjadi bodoh seketika.
Tingkah Dion sudah seperti kucing yang ketahuan mencuri kepala ikan.
Niel mencebik kan bibir nya, melihat tingkah Dion yang gelapan. Seperti nya ia sudah bisa menebak kenapa sahabat nya ini bisa bertingkah aneh seperti ini.
"Apaan sih... Aku cuma ngak sengaja tadi buka sosmed, terus akun nya Raehan lewat beranda jadi iseng- iseng aja bukak gitu..." Bela Dion kesal , dengan cara Niel yang menatap nya jahil.
"Alah... Terus ngapain di simpen foto nya??"
Glek...
Tubuh nya membatu di tempat. Apa yang akan ia jawab?.
Bahkan diri nya sendiri tidak tahu, kenapa ia bisa menyimpan foto gadis berkaki pendek itu?.
Apa mungkin karna Efek tidak pernah bertemu selama beberapa hari belakangan ini.
Atau karna tidak ada lagi pesuruh yang bisa di perbudak semau- mau nya?.
"Ohhh... Aku tahu, kamu suka kan sama Raehan...??" Sosor Niel lagi dengan menggerak turun naikkan ke dua alis nya. Seolah- olah tebakan nya yang tadi memang benar.
Apa wajar seorang pria terus memandangi foto gadis sampai tidak menyadari apa pun, selain jika dia memang sudah jatuh hati pada gadis itu, pikir Niel yang berniat membuka kedok Dion sekarang.
"Suka??"
"Suka??"
"Suka??"
"Suka pada rubah itu?? Tidak... Tidak... Tidak..." Batin Dion menggeleng kan kepala nya cepat. Yang berhasil membuat Niel heran dengan tingkah nya.
"Kamu kenapa sih Ion?? Sejak tadi aneh banget... Aku masuk ke kamar kamu ngak sadar... Sekarang geleng- geleng kepala, kayak mesin cuci lagi beroperasi... Aneh banget.." Cicit Niel, lalu menyesap kopi nya.
"Kamu apaan sih... Mana mungkin aku suka sama Raehan.. Ngak cantik, pendek, cerewet lagi... Bukan tipe seorang Dion.. Jangan halu deh kalau aku suka sama dia..." Timpal Dion yang langsung menutup laptop nya.
__ADS_1
"Terus tadi apa?? ngapain lihat- lihat foto nya sampai segitu nya.?"
"Niel jangan banyak omong deh.. Mumet aku lama- lama ngomong sama kamu... Udah ku bilang aku ngak suka ama gadis kayak Raehan...."
Dion beranjak naik ke atas ranjang. Menelentangkan tubuh nya membelakangi Niel yang masih menikmati kopi nya.
Niel mengangguk ringan mendengar jawaban Dion.
"Hmmm gitu,, ngak mau ngaku juga kalau kamu suka sama Raehan... Ya sudah mari kita buktikan..." Batin Niel dengan smirk licik nya.
"Tapi kalau di pikir- pikir Raehan itu manis tau,, Dia itu imut, lucu lagi.."
Dion memiringkan tubuh nya sedikit, saat mendengar topik pembicaraan yang menjurus pada Raehan, yang sudah membuat akal nya gagal fokus sejak tadi pagi.
"Dia juga pinter,, kuat dan bisa nyelesaian masalah dengan cepat... Bener kan Ion...???"
Dion hanya diam, mendengar penuturan Niel, semakin ke sini Dion merasa topik yang di bicarakan Niel semakin seru.
Rasa nya ia juga ingin nimbrung, tapi ia menahan diri.
"Jarang banget ada cewek kek dia.. Inget ngak pas dia bicara sama pak Lutof, guru killer itu.. Hhhh Pak Lutof langsung mati kutu ngak bisa jawab mulut pedas nya Raehan... Ck.. ck.. Hebat kan??"
Dion langsung bangun terduduk, mendekat ke arah Niel dengan antusias.
Ia tidak bisa menahan diri lagi. Untuk ikut membicarakan gadis yang terus membayangi diri nya.
"Aku juga kepikiran kayak gitu sih..." Timpal Dion cepat dengan sangat antusias. Membuat Niel tersenyum tipis, melihat reaksi sahabat nya.
Ternyata dugaan nya benar, pikir Niel dengan seringgai kemenangan menghiasi wajah nya.
...----------------...
...****************...
Terus pantangin cerita nya ya...
Like
koment.
Vote
gift.
Rak favorit.
Yuk dukung terus karya ini....!!!
kalo ngak koment atau like atau kasi gift..
Kalian benar- benar kejam ama thor😭😭😭?
__ADS_1