Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Aku selalu rindu


__ADS_3

...363...


Semua rombongan berangkat sesuai dengan tujuan awal, yaitu Mall. Fir, Dion, Niel, dan juga Kazuya menggunakan mobil. Sedangkan, Agara dan Raehan mengenakan motor vespa sesuai keinginan Raehan.


Awalnya sempat terjadi percekcokan ringan antara Agara dan Dion. Hal itu disebabkan karena Dion memaksa Agara dan juga Raehan untuk menggunakan mobil supaya mereka bisa pergi ke Mall dengan satu kendaraan saja. Namun, Raehan menolak hal tersebut dan kekeh ingin menggunakan vespa. Seperti biasa, tidak ada yang bisa mengalahkan kekeras kepalaan Raehan, sehingga semuanya berjalan seperti yang diinginkan gadis itu.


Mobil Dion melaju dengan kecepatan sedang. Di mana di belakang mobil tersebut terlihat Raehan yang memeluk perut Agara dengan mesra. Inilah, momen yang selalu candu bagi dirinya. Naik motor berdua dengan memeluk Agara dari belakang. Menghirup udara polusi dengan terpaaan angin yang menampar pipi secara halus, serta menerbangkan anak rambutnya. Hal yang selalu membuat ia menikmati momen ini.


"Sayang, jangan peluk terlalu keras aku sesak nafas!" seru Agara dengan mengusap lembut punggung tangan Raehan.


"Apa Kak Aga tidak suka dipeluk cewek imut dan mungil tiada tara seperti aku," balas Raehan dengan narsis.


"Bukan begitu, aku sangat senang tapi ini terlalu erat. Apa kamu ingin isi perutku keluar karena kamu peluk dengan erat?"


"Tapi aku rindu padamu. Makanya aku peluk dengan erat." Raehan menekan kata rindu pada kalimatnya.


"Oh, itu artinya kamu tidak merindukanku selama ini?"


"Kok tahu."


"Rae!" Agara meninggikan intonasi suaranya pura-pura marah.


"Iya," timpal Raehan dengan senyum tipis.


"Kamu ingin aku beri pelajaran? Ayo cepat tarik kata-katamu barusan dan katakan kamu selalu merindukan aku," ancam Agara dengan menarik tangan Raehan dan menciumnya dalam.


"Pelajaran apa? Matematika atau Fisika?" balas Raehan tak kalah jahil.


"Aku serius loh ini. Awas nanti kamu bisa menyesal."


"Aku juga serius. Sejak tadi aku serius." Raehan semakin meledek dengan tawa yang hampir pecah.

__ADS_1


"Baiklah, sesuai permintaanmu." Agara menambah kecepatan vespa tersebut hingga melesat dan menyalip mendahului mobil Dion.


Raehan mengeratkan peganngannya pada perut Agara saat motornya dibawa mengebut oleh Agara. Rasanya, ia terbang begitu ringan. Akan tetapi, sangat menyeramkan karena Agara menyalip dengan begitu cepat. Bahkan, suara klakson mobil lainnya mulai berbunyi memperingati mereka yang membawa motor dengan kecepatan tinggi.


"Kak Aga hentikan,jangan mengebut aku takut!" seru Raehan berteriak di mana mulutnya melebar karena terkena terpaan angin yang cukup kencang.


"Aku tidak akan berhenti sebelum kamu mengatakan jika kamu merindukanku setiap hari," balas Agara dengan smirk liciknya.


"Iya, aku merindukanmu setiap hari," ucap Raehan mengalah, daripada nyawanya yang melayang.


"Ulangi lagi!" teriak Agara.


"Aku selalu merindukanmu Kak Aga!" teriak Raehan dengan sangat keras hingga terdengar oleh Dion, Niel, Fir, dan juga Kazuya.


Setelah mendapatkan apa yang diinginkan. Agara memelankan kecepatan motor. Ia tersenyum lebar dengan mencubit gemas pipi Raehan. Ia sangat bahagia karena sekarang tidak ada lagi yang akan menghalangi hubungannya dengan sang pujaan hati. Agara mengeratkan peganngan tangannya pada tangan Raehan. Seolah-olah tangan Raehan akan menghilang jika tidak dipegang dengan erat. Sementara Raehan, tersenyum dengan wajah cemberut karena lagi-lagi ia kalah untuk menjahili Agara. Ingin hati ingin membalas Agara karena pria tampan itu membuat ia cemburu, malah ia yang mendapatkan pelajaran balik.


Di sisi lain. Dion berusaha menekan perasaa sakit dan cemburu serta tidak terima di dalam hatinya. Mengontrol mimik wajahnya yang memerah karena memendam amarah, agar terlihat biasa-biasa saja. Membunuh perasaan cinta bukanlah hal yang mudah. Mungkin, ia mengatakan hal itu dengan begitu lancar. Namun, hatinya sudah terasa dicabik-cabik hingga tak tersisa.


"Ekhhhmmm," dehem Niel yang duduk di samping Dion. Ia tersenyum kecut. Ia tahu pasti bagaimana perasaan Dion saat ini.


"Aku baik-baik saja," timpal Dion dengan suara yang dingin dan bergetar.


"Pada bahas apa sih? Kok ngak jelas banget," selosor Fir dengan wajah bingung.


Niel dan Kazuya menghela nafas panjang. Sungguh, pria satu ini sangat tidak peka dan bodoh. Pantas saja masih menjomblo hingga sekarang.


"Ehh, Fir kamu punya otak ngak sih?" sarkas Niel melempar pertanyaan.


"Ihh, kamu buta ya. Otak aku segede gini ngak dilihat," balas Fir dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Iya, itu kepalamu yang gede tapi otakmu ngak bisa mikir. Pantes kamu jomblo, orang pria yang ngak peka kayak kamu, siapa yang bakal naksir. He ... he ...," olok Niel tanpa saringan dengan kekehan mengejek di akhir kalimat.

__ADS_1


"Sok banget kamu. Kalau sama-sam jomblo ngak usah ngeledekin."


"Aku jomblo tapi aku pernah pacaran. Ngak kayak kamu udah jomblo ngak pernah pacaran lagi. Apa ya namanya? Oh, ngak laku. Ha ... Ha...," Tawa Niel pecah seketika.


Huhhh, ni anak kuda nil tahu aja gue ngak pernah pacaran. Haduh, habis harga diri gue. Batin Fir dengan wajah masam lebih asam dari buah asam.


"Jangan asal ngomong deh kamu, kamu tahu apa tentang aku. Banyak kok cewek yang ngedeketin aku tapi aku nolak," sanggah Fir yang tak ingin kalah dan menerima olokan Niel.


"Iya nolak cewek lain. Eh, kamu sendiri malah ditolak sama Jessi. Gimana rasanya tuh? Sakit banget."


"Ekhhmmm," dehem Dion dan Kazuya bersamaan karena merasa tersindir dengan perkataan Niel yang cukup sensitif.


Niel lansung membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Ia lupa jika di sini, yang ditolak mentah-mentah oleh seorang gadis tidak hanya Fir, melainkan Dion dan Kazuya juga.


"Kamu belum ngerasain sakitnya. Jadi kamu bilang gitu," cibir Kazuya mulai buka suara. Jika membahas masalah seorang gadis. Ia pasti mengingat Jiya. Gadis yang sudah ia selamatkan dan juga menjadi gadis yang ia cintai dalam waktu yang lama. Malah mengkhianati dirinya dan pergi bersama dengan kekayaan yang menyilaukan mata. Ingin sekali rasanya, ia menghapus nama perempuan itu dari hati serta kehidupannya. Namun, bukankah seperti itu masa lalu. Tidak bisa dihapus begitu saja dari memori, tetapi bisa diletakkan pada posisi dan tempat yang seharusnya. Bagaimana pun, ia pernah hidup di masa itu. Jadi, untuk melupakan adalah sesuatu yang tida mungkin.


"Mencintai itu mudah. Bahkan, dalam satu kali pandangan kamu bisa jatuh cinta. Namun, merelakan dan menghilangkan rasa luka tidak lah mudah. Hal itu sama seperti mencabut anak panah yang menusuk tubuhmu. Rasanya sangat sakit dan lukanya akan meninggallkan bekas," ujar Dion dengan pandangan lurus ke depan.


"Mampus!" umpat Fir tersenyum senang. Ia tidak perlu bersuara karna si kuda nil sudah dibungkam oleh dua pria yang bernasib sama seperti dirinya.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


komentar


gift

__ADS_1


vote


tips


__ADS_2