
...71...
Dion menatap gelisah seorang anggota osis yang tengah melakukan presentasi mengenai iklan cover brosur osis anggota selanjut nya.
Bokong nya benar- benar sangat gatal untuk segera pergi dari tempat itu.
Raga nya mungkin di sini, tapi hati dan pikiran nya bersama gadis pendek itu, siapa lagi jika bukan Raehan.
Semakin lama ia memendam rasa ini, semakin bertambah pula rasa cinta untuk Raehan. Belum lagi rasa rindu yang membumbung tinggi bersamaan dengan rasa bersalah.
Niel yang berada di dekat Dion, benar- benar merasa tidak nyaman dengan gerakan Dion.
Yang sesekali menyenggol diri nya tanpa sengaja, atau terus berganti gaya untuk duduk.
"Jangan kayak cacing lagi kelaparan napa Ion..." Cicit Niel yang mulai gerah dengan sikap Dion.
"Apaan si orang biasa aja dari tadi..." Mode jutek Dion kini On.
"Biasa apa nya ? Orang udah kayak beruang kesurupan gitu.. Mending kalau kamu ngak fokus mending keluar aja..."
"Kalau aku bisa keluar, udah sejak tadi Niel.. Tapi tanggung jawab ku sebagai ketua osis harus tetap Aku laksanain..."
"Apa gara- gara Raehan lagi?"
Dion tersenyum tipis, sebagai jawaban jika apa yang di pikir kan Niel benar.
"Aku belum minta maaf kepada rubah betina itu, karna meninggal kan nya di pinggir jalan... Karna urusan osis aku tidak pernah bisa menemui nya..." Lanjut Dion menghela nafas kecewa.
"Mending cepet- cepet kamu persunting dia deh..."
"Hah...!!" Dion langsung melipat bibit nya, saat semua mata kini tertuju ke arah nya. Karna kaget dengan ucapan Niel nada suara nya meninggi, hingga bisa di dengar jelas oleh yang lain.
"Lanjut kan...!!" Titah Dion menyuruh presentasi di lanjut kan.
Jantung nya benar- benar terangkat karna ucapan sahabat nya yang gila ini.
"Niel kamu udah gila apa, Aku dan Raehan masih sekolah mana bisa aku mempersunting nya.. Bisa- bisa dia langsung menolak ku mentah- mentah..." Bisik Dion menolak saran Niel.
"Haduuhhhh emang ya kalau masalah cinta aku lebih jago dari kamu... Kata nya otak nya encer tapi malah keras kayak batu..." Niel menatap serius ke arah Dion.
Menghela nafas panjang sebelum kembali berbicara .
"Maksud ku itu kamu tembak aja Raehan..."
Puk...
"Awwwwww.... Apaan si pake di toyor..." Ringgis Niel memegangi kepala nya yang terasa sakit karna pukulan dari Dion.
"Kamu ini memang gila ya Niel.. Mana mungkin aku nembak Raehan, bisa- bisa dia mati..."
Puk...
"Awwwww.... berani banget kamu..." Pekik Dion yang kini memegang kepala nya karna terkena pukulan dari Niel.
__ADS_1
"Tu otak di pake donk Ion... Maksud ku kamu nyatain perasaan kamu sama Raehan.. Jadi kan dia kekasih maka semua nya akan beres..." Ujar Niel yang sudah habis kesabaran menghadapi kebodohan sahabat nya yang satu ini.
Giliran masalah cinta atau perasaan, Dion selalu berubah menjadi orang yang paling bodoh yang ia temui.
Jika saja Dion juga bodoh dalam pelajaran, maka dengan tegas ia mengatakan jika diri nya lah orang yang paling pintar setelah Agara.
Tapi ya sudah, setidak nya diri nya bisa membalas pukulan kepala pada Dion. Itu sudah cukup membuat nya puas. Kapan lagi ia akan bisa mendapat kan kesempatan emas seperti tadi, pikir Niel dengan seringgai nya.
Dion kembali di hantui bayang- bayang Raehan, serta saran Niel yang baru ia dapat kan.
"Apa yang di kata kan Niel memang benar, aku harus segera mengikat Raehan menjadi kekasih ku.. Tapi itu mustahil, bagaimana bisa aku menyatakan perasaan ku pada gadis yang tidak memiliki perasaan yang sama dengan ku...
Dunia percintaan memang begitu rumit, kenapa sekarang aku terjebak di dalam nya..." Pekik Dion dalam hati, lalu menyugar rambut nya kasar.
"Selamat siang semua.. Hhhhhh..." Kedatangan Felix ke ruang rapat dengan nafas tersenggal- senggal kini menjadi pusat perhatian.
"Dion,,, Agara ngak mau photoshoot pagi ini..." Lapor Felix menyampai kan hasil tugas yang di berikan oleh ketua osis.
Seulas senyum terbit di bibir Dion, melebar seindah bulan sabit.
"Baiklah, kita akan menunda nya sampai sore nanti... Jika begitu rapat kita selesai.. Dan untuk mu aku setuju dengan ide yang kamu presentasi kan.. Tapi jika boleh di tambah kan kali ini tambah kan model wanita yang cocok berpasangan dengan Agara..." Ujar Dion menutup sesi rapat pagi ini, Dan langsung meraih paper bag yang berada di samping ransel nya.
"Ion mau kemana???!!!" Teriak Niel.
Bukan nya menjawab, Dion malah membalas pertanyaan Niel dengan mengedip kan sebelah mata nya nakal.
...----------------...
Waktu tinggal dua menit lagi, Miya dan Fir selesai menyelesai kan tugas mereka, meski hasil contekan dari jawaban Raehan.
"Iya tunggu dulu, tinggal satu soal lagi..."
"Kamu cewek apa cowok sih?.. Lelet banget mana mulut lemes banget kayak emak- emak komplek.. Kayak nya kamu tadi nya perempuan deh tapi pas lahir meleset jadi laki- laki..." Oceh Miya asal yang membuat Raehan hanya bisa menggeleng- geleng kan kepala nya.
"Itu mata memang harus segera di periksa ke dokter deh Mi... Siapa tahu kamu rabun.. Cowok setampan ini kamu bilang cewek... Emang kamu udah ngak ada otak kayak nya..." Balas Fir dengan perkataan pahit nya.
"Fir kan beda dari yang lain, cowok limited edition.. He.. He.. " Celetuk Raehan kini yang mulai menyingkir kan perasaan nya, dan mulai berbaur bersama canda tawa ke dua sahabat nya.
Percuma diri nya di sini patah hati. Toh tidak ada yang berubah. Hanya kenyataan yang berubah dan Raehan harus segera memutuskan akan memilih solusi yang mana.
"Cieeee... Dah ceria aja ni si cantik..." Goda Fir dengan menurun naikkan alis nya. Yang berhasil membuat Raehan tersipu malu.
"Giliran Raehan aja di bilang cantik.. Giliran aku tadi di katain jelek,, Emang ya kamu PKS.." Miya.
"PKS apa tuh?" Fir.
"Pilih Kasih...." Dengus Miya melempar pandangan nya.
"Kamu sama Raehan kan beda... Kalau kamu minta nya di puji.. Kalau Raehan ngak minta di puji..." Sanggah Fir tanpa merasa bersalah.
"Ssssttt.. Jangan membedakan antara aku dan Miya Fir.. Di antara kita hanya kamu yang berbeda..." Sela Raehan.
"Mode marah ala bapak- bapak udah mulai nih..." Fir.
__ADS_1
"Ha... Ha..." Ketiga sahabat itu tertawa lepas bersamaan.
Melupakan sejenak kesedihan yang tengah merundung masing- masing kehidupan.
Itu lah mereka, meski baru berteman. Mereka mampu beradaptasi dengan baik.
Saling berbagi, saling mendukung dan saling menyayangi satu sama lain.
Guyonan kecil yang tersemat di antara ketiga nya. Menjadi pengerat persahabatan mereka.
Pertengkaran kecil pasti ada. Tapi mereka percaya pertengkaran itu adalah bumbu penyedap dalam persahabatan mereka.
"Udah ah.. Mi makan yuk ..." Ujar Fir yang kini membuka kotak makan yang di bawa Raehan.
Tampak terlihat nasi goreng dengan bau yang benar- benar menggugah selera.
Air liur Fir dan Miya terasa ingin menetes melihat nasi dengan campuran rempah- rempah di depan nya.
"Raehan emang jago masak.. Wahhh nasi goreng nya pasti enak banget..." Ucap Miya menelan saliva nya paksa.
"Langsung Gass aja Mi..." Ujar Fir sebagai pertanda untuk mulai makan.
Seperkian detik kemudian. Sebuah tangan melayang dengan cepat, mengambil kotak makan tersebut.
"Kyaaa....!!!!" Teriak Fir dan Miya bersamaan. Bersamaan dengan hilang nya nasi goreng yang hendak mereka santap.
"Kok nasi goreng nya hilang....!!!" Teriak Miya kecewa.
Raehan, Fir, dan Miya memaling kan wajah nya ke arah pemilik tangan yang sudah merampas nasi goreng Fir dan Miya dengan cepat.
Tampak di hadapan mereka seorang pria yang menatap Raehan tajam, tatapan yang siap melahap tubuh mungil Raehan detik itu juga.
...----------------...
...****************...
Jangan bosan terus ya dengan karya othor๐๐๐
Terus pantangin cerita nya ya...
Like
koment.
Vote
gift.
Rak favorit.
Yuk dukung terus karya ini....!!!
kalo ngak koment atau like atau kasi gift..
__ADS_1
Kalian benar- benar kejam ama thor๐ญ๐ญ๐ญ???