
...40...
Seperti biasa Agara masuk ke dalam kelas, dengan para gadis yang sudah menunggu nya di setiap pinggir lorong.
Wajah tampan nya terlihat begitu bersinar, dengan gaya cool nya.
Seorang gadis dengan rambut kemerah- merahan tengah duduk sambil ujung jari nya mengetuk- ngetuk meja.
Agara memutar bola mata nya malas, melihat Sofia yang duduk di meja nya.
"Pergi dari meja ku...!" Ketus Agara memberikan perintah mutlat.
Sofia menyengir, melihat pria yang di tunggu- tunggu akhir nya datang.
"Selamat pagi Ga..." Sofia melambai kan tangan nya riang.
Agara membuang wajah nya, ia sangat muak dengan sikap Sofia yang bagi nya hanya bermuka dua, alias munafik.
"Minggir...!" Agara mendorong tubuh Sofia untuk menyingkir.
"O ya Ga.. Aku mau bilang sama kamu--"
"Jika kamu ingin membujuk ku untuk bertemu dengan ibu durhaka itu maka lebih baik kamu menutup mulut mu..." Potong Agara datar, Sebelum Sofia menyelesaikan kalimat nya.
Sofia merotasi mata nya malas, lalu menarik nafas dalam sebelum kembali bersuara.
"Bukan hal itu Ga... Aku ingin mengajak mu makan malam.. Aku harap kamu mengatakan Iya..." Tekan Sofia di akhir kalimat nya.
Diri nya sangat berharap, jika Agara mau menerima tawaran nya.
Jika hal itu terjadi maka ia akan merasa menjadi gadis paling beruntung sejagat raya.
Agara menatap Sofia dengan kilatan di ujung mata nya.
Sebelum meletak kan ransel nya lalu duduk tanpa menggubris ajakan Sofia.
Ia lebih baik tidur dari pada harus makan bersama gadis ini, pikir nya.
Sofia menekuk dalam wajah nya, yang sejak tadi sumringah.
Bagaiman lagi cara nya ia bisa mendekati Agara?.
Lewat ibu nya, terus merecoki nya, selalu mengikuti nya dan mengajak nya makan makan itu sama sekali tidak ada guna nya.
Agara mengkerut kan kening nya, saat tangan nya menyentuh sesuatu.
Netra nya menangkap sebuah kotak makan yang sama, seperti yang di temukan nya kemarin.
Tangan nya langsung meraih kotak makan tersebut, dan membuka kertas kecil yang tersemat.
Terimakasih untuk hal kemarin...
Aku tahu di balik sifat yang begitu dingin ada serpihan kehangatan yang masih terselip.
Raehan...
__ADS_1
Kotak makan yang sama dari orang yang sama.
Ada rasa hangat menjalar di hati nya, namun segera ia tepis saat mengenang kembali memori ibu nya.
"Tidak... Kasih sayang hanya memberi luka dan derita... Aku tidak boleh terjebak..." Batin Agara dengan mengeratkan cengkraman nya pada kotak makan tersebut.
"Aga... Ku mohon untuk malam ini saja...!!" Renggek Sofia memohon, sambil mengatup kan tangan nya di depan dada.
"Berhenti lah mengusik ku... Sampai dunia berakhir pun aku tidak akan makan malam bersama mu..!!" Bentak Agara mendengus marah.
Meladeni gadis - gadis yang mengejar nya sungguh melelah kan.
"Apa perlu aku menyeret mu untuk pergi dari hadapan ku..?!" Ketus Agara memasang wajah sangar siap menelan tubuh Sofia.
Nyali Sofia menciut seperti kerupuk yang terkena air. Sungguh sangat menyeram kan pria tampan di depan nya jika sudah marah.
Tapi bagaimana dengan hati nya yang ingin memiliki Agara.
Dengan sedikit gemetar, Sofia menarik tubuh nya menyingkir dari hadapan Agara.
Agara melirik sekilas kotak makan mungil itu, sebelum mengeluarkan aerpon dan ponsel nya dari dalam tas .
Memasang benda itu di ke dua telinga nya, menikmati alunan musik yang tersalurkan dari ponsel nya.
Setidak nya musik bisa membuat amarah nya mereda.
...----------------...
Raehan tersenyum penuh ceria, sambil menatap sepatu putih mewah yang membalut kaki mungil nya.
Desain yang sederhana dan simple tapi berkesan mahal. Dan yang tidak terduga, sepatu ini ternyata sangat pas di kaki nya.
Raehan langsung menyenggol bahu Fir, saat ini mereka tengah duduk di meja Raehan. Karna Miya tidak masuk hari ini.
"Iya donk... Hitung- hitung ngurangin biaya bulanan... " Balas Raehan memukul ringan bahu Fir.
"Tapi kamu jangan sering- sering nerima barang dari ketos itu Rae..." Wajah Fir berubah menjadi serius.
"Memang nya kenapa ?"
"Dari yang aku lihat, dia memiliki niat yang tersembunyi sama kamu..."
"Masak sih??"
Raehan menautkan alis nya, sebelum seringgai jahil muncul di wajah nya.
"Hmmm Jangan - jangan kamu bilang gitu karna kamu cemburu ya sama kak Dion.. Astaga kamu suka pada ku Fir..."
Raehan langsung menutup mulut nya.
Fir merotasi mata nya jengah, ia hanya ingin mengingatkan sahabat nya, malah di tuduh menyukai sahabat nya ini.
Ya ampun narsis sekali gadis ini.. Batin Fir.
"Cemburu- cemburu... Aku cuma khawatir.. Kita kan sahabatan ya wajar donk aku melindungi kamu dari pria- pria hidung belang..."
__ADS_1
"Ha... Ha... Uuu sosweet..." Raehan mencubit pipi Fir gemas.
"Bagaimana kalau pulang sekolah kita ke rumah Miya..??" Ujar Raehan lagi.
Sungguh, ia juga sangat mengkhawatirkan keadaan sahabat nya yang satu itu.
Ia ingin memberikan suport untuk Miya supaya cepat membaik dari rasa sok nya.
"Baiklah... Tapi pakai vespa kamu ya..." Sosor Fir.
"Kenapa ngak pakai motor kamu sih..." Sarkas Raehan yang kurang setuju.
"Kayak nya aku mulai suka pake vespa deh dari pada pake motor sport... He.. he..."
"Bilang aja motor kamu ngak ada bensin..." Raehan menoyor kepala Fir.
"Hello anak sultan mana ada kekurangan bensin... Aku beli in pertamina kamu baru tahu rasa..." Timpal Fir menyombongkan kekayaan nya.
"Cih sombong..." Decih Raehan di iringi gelak tawa.
"Selamat pagi semua....!!" Sapa seorang Wanita cantik masuk ke dalam kelas yang biasa di kenal dengan Ibu Mona.
Guru sejarah yang memiliki jam pelajaran pertama di kelas XA.
...----------------...
Mata pelajaran berlangsung dengan lancar. Di selingi dengan canda tawa antara guru dan murid.
Setelah 30 menit berselang, jam pertama akhir nya di tutup.
Membuat seluruh murid- murid menghela nafas senang.
Mata Raehan memicing, saat melihat gadis tingkat nya mendekat ke arah nya.
"Seperti nya sudah saat nya aku menghadap..." Batin Raehan meremas jahitan Rok nya.
"Rae... Ayo kamu di panggil sama pak Tora..." Tutur Anet mengenggam tangan Raehan.
Raehan menatap Fir yang mengangguk, seolah mengatalan semua nya akan baik- baik saja.
Tapi tidak dengan perasaan Raehan. Ia merasa ada sesuatu yang akan terjadi pada nya.
Tapi ia berusaha menyakin kan diri jika semua nya akan baik- baik saja.
Raehan beranjak dari duduk nya. Mengikuti langkah Anet di depan nya. Sementara jantung nya semakin berdegup kencang, saat diri nya semakin dekat dengan ruangan pak Tora. Guru yang paling di kenal dengan kekejaman nya. Yang di juluki sebagai guru Killer.
"Jangan khawatir... Aku hanya perlu menceritakan semua nya... Untuk apa takut aku tidak melakukan hal yang salah..." Batin Raehan menyemangati diri nya dengan semangat 45.
...----------------...
...****************...
Berikan apresiasi kalian dengan koment atau vote yaa 😇
Biar karya othor makin terkenal giti😄 yah meskipun karangan recehan.. Tapi moga bisa menghibur😙
__ADS_1
Oh ya thor lagi bimbang nih... Menurut kalian Raehan cocok nya ama siapa ya?
Agara atau Dion?