
...16...
"Astaga, perut kak Aga merah... Pasti sakit banget..." Ujar Raehan kini dengan nada panik. Ia langsung menghempaskan diri di samping Agara.
"Sok tahu..." Jutek Agara.
"Ya aku memang tahu , kalau aku ngak tahu mana mungkin bisa bilang begitu.."
Raehan mengeluarkan sebuah salep luka, dari dalam saku seragam nya.
Ia selalu membawa salep luka, untuk berjaga- jaga jika ia terluka.
Bisa di bilang ia gadis yang siaga.
"Sini biar aku obati...." Tukas Raehan lagi.
"Ngak usah... Ngak perlu..." Sosor Agara cepat, berada terlalu lama di dekat gadis ini membuat Agara menjadi salah tingkah dan canggung.
"Kenapa...?" Raehan mengerjit kan dahi nya. Menatap wajah Agara yang berpaling.
"Ini cuma luka bakar,,, bukan luka yang parah... Jadi ngak perlu di obati... Ntar juga sembuh sendiri..." Cicit Agara.
"Iya bisa sembuh sendiri... Tapi kalau di obatin bisa cepet sembuh... Sayang lo kalau perut seindah itu di biarkan terluka..."
Agara mendengus jengkel dengan Raehan. Mulut kecil itu tidak bisa berhenti untuk menjawab setiap penolakan nya.
"Bisa kah kamu tidak usah peduli pada ku??... Aku tidak membutuh kan mu..!!" Lugas Agara dengan nada bicara yang sedikit di naik kan.
"Tidak...!!! Jawaban nya tidak... Aku tidak bisa untuk tidak peduli sama kak Aga... Yah meski kakak sering menolak... Tapi bukan masalah bagi ku..." Raehan menjeda pembicaraan nya, sebelum melanjutkan bujukan pada Agara.
"Ahhhh... Kak Aga cerewet banget,, coba dari tadi biarin aku obatin luka nya... Kan dah selesai... " Lanjut Raehan memanyunkan bibir nya ke depan.
"Hhhhh....." Agara menghembuskan nafas nya kasar. Percuma berdebat dengan Raehan.
Gadis berkaki pendek ini, selalu tahu cara untuk menjawab penolakan nya.
Agara menggeser tubuh nya, mendekat pada Raehan. Membiarkan gadis ini mengobati luka nya.
"Aarrggghhhh... Sss... Sakit.. Pelan- pelan dong..." Celetuk Agara dengan ringgisan, saat tangan Raehan menyentuh luka di perut nya.
"Dasar lemah..." Lirih Raehan, yang masih bisa di dengar Agara.
"Apa kamu bilang...!!!" Teriak Agara.
Raehan mendongak, menatap wajah jutek di depannya.
"Dasar Lemah...." Jelas Raehan lagi.
"Berani sekali kamu mengatai ku lemah.. Kamu pikir siapa diri mu...!!" Ujar Agara dengan marah.
Siapa yang terima, pria paling sempurna dan di idolakan oleh seluruh gadis di sekolah ini, di katai lemah.
__ADS_1
"Ya... Ampun pemarah sekali ternyata..." Batin Raehan melihat kemarahan Agara. Hanya karna hal sepele.
"Siapa diri ku??... Ya aku manusia... Apa lagi cobak... Aku mengatakan apa ada nya. Sesuai dengan realita... Kak Aga hanya luka bakar sedikit, bukan sedang di tikam samurai... Tapi kakak. meringgis kesakitan..." Cecar Raehan dengan nada cukup tinggi.
"Ya... Ampun gadis sial ini, kenapa selalu tahu bagaimana mengembalikan omongan orang... Hhhhh..." Kesal Agara membatin.
"Sudah selesai...!!" Celetuk Raehan lagi, saat luka Agara selesai ia obati.
Agara segera beranjak dari duduk nya. Mengambil seragam nya dan memakai nya kembali.
Karna cuaca yang cukup panas, membuat seragam nya yang basah cepat kering.
Agara menarik tangan Raehan dan meletak kan bandana tali milik Raehan di atas telapak tangan pemilik nya.
"Ya... Meski kamu sudah membuat ku sial hari ini, Tapi aku bukan orang yang kejam, yang tidak mengucapkan teri---"
Kriuk... Kriuk.. Kok...
Ucapan Agara langsung terputus , saat mendengar suara aneh yang berasal dari perut gadis di depan nya.
Suara persis seperti ayam jantan yang berkokok, begitu terdengar jelas dan nyaring.
Raehan langsung nyengir, saat melihat tatapan kesal bercampur kecewa di mata Agara.
"Aahhhh perut rata ku ini... Apa tidak bisa menahan sebentar lagi... Pangeran ku ingin mengatakan sesuatu..." Pekik Raehan merutuki perut nya yang bersuara dengan sembrono.
"Hhhuhhh... Seperti nya aku salah ingin berterimakasih pada gadis sial ini..." Batin Agara dengan melipat bibir nya.
Tangan kekar nya terayun meraih pergelangan tangan Raehan.
Selama bersekolah di sekolah favorite dan elit ini, diri nya belum pernah naik ke atas atap. Ia hanya menghabiskan waktu menyendiri di dekat danau.
Jujur, diri nya merasa bebas berada di tempat ini. Di terpa angin kencang dengan langit biru yang menjadi atap di atas kepala.
Bukan Raehan nama nya, jika ia memberontak dan menepis tangan indah yang sedang menggengam pergelangan tangan nya.
Bahkan saat ini mata nya berubah menjadi sayu. Ucapan- ucapan syukur terus terucap di dalam hati nya.
Karna ia di berikan kesempatan untuk merasakan tangan halus dari pangeran idaman nya.
Jika pangeran di depan nya ini meminta untuk memeluk nya. Dengan suka rela ia akan merelakan tubuh nya tenggelam dalam nikmat dan nyaman nya pelukan Agara.
Tanpa ia sadari, mereka sudah ada di tempat TKP terjadi nya insident tumpah nya bakso meledak.
Agara melepas tarikan tangan nya pada Raehan, lalu berjalan menuju pengurus kantin.
Raehan masih terhanyut dengan pikiran nya. Dalam waktu singkat dia bisa bercengkrama dengan leluasa bersama pangeran impian nya.
Sungguh pencapaian yang luar biasa bukan.
Ia tidak menampik jika kesabaran nya, menghadapi sifat dingin dan jutek Agara membuahkan hasil yang manis.
__ADS_1
"Apa kamu akan berdiri seperti patung batu di sana...." Celetuk suara ketus, yang langsung membuat kenangan- kenangan indah yang sedang berputar menguap di udara.
Raehan menatap Agara yang sudah lebih dulu duduk di depan nya, dengan dua mangkok bakso di atas meja.
Raehan mengedarkan pandangan nya. Saat ini pasti ia terlihat seperti anak ayam yang tersesat, karna terpisah dari induk nya.
"Sejak kapan aku berada di kantin... Apa Kak Aga membawa ku dengan teleportasi..??" Batin Raehan celingukan.
Agara terpaksa bangun dari duduk nya. Mendorong tubuh mungil itu untuk duduk di kursi.
Aroma bakso yang enak dan menggugah selera, menembus lubang hidung Raehan.
Membuat casing- cacing ganas di dalam perut nya meraung- raung ingin makan.
Tanpa Agara sadari, sudut bibir nya terangkat samar, melihat ekspresi kelaparan gadis di depan nya. Yang terlihat begitu alami dan naif.
Dengan cepat tanpa aba- aba, Raehan menarik satu mangkok bakso yang berada di depan nya.
Ia sungguh sangat lapar. Karna insident tadi siang , membuat nya harus kehilangan selera makan.
"Setidak nya,,, uang saku ku jadi tidak terpakai untuk membeli makanan... Huhhh rizki anak soleh..." Batin Raehan dengan tatapan lapar, persis seperti serigala dengan air liur yang merembet dari sudut bibir nya.
Agara menyendok bakso di depan nya perlahan, tanpa memalingkan tatapan nya dari Raehan.
Raehan menyendok dengan cepat, makanan yang berbentuk bulat, sebesar kelereng jumbo.
Namun, ketika hendak memasukkan bakso tersebut ke dalam mulut nya.
Tangan Raehan mengambang di udara, dengan raut kecewa dan sedih.
Agara menautkan alis nya, saat melihat raut wajah yang tadi nya begitu ceria berubah menjadi kecewa.
"Ada apa..???" Tanya Agara cepat.
...----------------...
...****************...
Terus pantangin cerita nya ya...
Like
koment.
Vote
gift.
Rak favorit.
Yuk dukung terus karya ini....!!!
__ADS_1
kalo ngak koment atau like atau kasi gift..
Kalian benar- benar kejam ama thorðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜