Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Persiapan pulang


__ADS_3

...333...


Semua peserta mulai merapikan semua tenda dan juga alat-alat Camping. Setelah kejadian yang sangat mengejutkan dan cukup mengerikan yang terjadi pada Raehan, Dewan Guru mempercepat kepulangan ke kota dari jadwal yang sudah disusun.


Raehan terlihat duduk di kursi lipat dengan kaki yang diselonjorkan ke depan. Di mana, Dion tengah mengompres kaki Raehan yang lebam dengan kantong es.


"Setelah sampai di kota, kamu harus ke rumah sakit," ujar Dion dengan penuh kekhawatiran.


"Tidak perlu, Kak. Ini hanya luka gores, tidak ada yang terlalu serius. Ngomong-ngomong aku berterimaksih karena Kakak sudah percaya padaku dan membelaku di depan semua orang." Raehan tersenyum dengan tulus. Apa yang dilakukan oleh Dion benar-benar membantu dirinya untuk memberi pelajaran pada Kiara.


"Yah, hanya luka gores tapi ini terlalu banyak. Lihat, di bagian pipimu juga ada." Tangan Dion terulur hendak menyentuh luka gores yang ada di pipi Raehan. Namun, sebuah tangan menepis tangan Dion dengan kasar, dan pelakunya tidak lain adalah Agara.


Agara melempar tatapan bermusuhan pada Dion, seakan tatapannya siap untuk melempar tubuh Dion keluar dari planet bumi detik ini juga.


"Jangan menyentuh lukanya, lukanya bisa infeksi," sindir Agara. Lalu, mendekat dan berjongkok tepat di samping Raehan. Tadi, ia hanya pergi sebentar untuk mengambil kotak obat tapi sepertinya dalam waktu yang sangat singkat itu, Dion mengambil banyak kesempatan. Meski, ia pergi untuk mengambil kotak obat yang berada 10 meter dari tempat Raehan, ia tetap mengawasi gerak-gerik Dion yang terus saja menunjukkan perhatian pada gadis mungilnya. Tentu saja, ia sangat cemburu dan marah, tetapi lagi-lagi Raehan menahan dirinya untuk tidak melakukan hal yang lebih. Entahlah, apa yang sedang dipikirkan oleh Raehan? Namun, ia sudah tidak tahan lagi melihat Dion yang terus menempeli Raehan.


Begitu pula dengan Dion yang juga menatap Agara dengan tatapan yang tak kalah tajam dan dingin. Ia juga sama kesalnya dengan Agara. Baginya, Agara benar-benar pria yang tidak tahu malu karena terus berada di sekitar Raehan meskipun sudah diusir. Pria itu seperti tumbuhan parasit.

__ADS_1


Agara mulai mengolesi salep pada luka di pipi Raehan, sedangkan Dion memilih pergi mengambil minuman untuk Raehan. Ia tidak akan kalah untuk menunjukkan perhatiannya pada Raehan. Ia akan membuktikan jika perhatian yang ia punya untuk Raehan jauh lebih tulus dari pada Agara. Dion tidak tahu saja, jika Agara dan Raehan sudah berbaikan.


Agara semakin mendekatkan wajahnya pada pipi Raehan. Ia melirik ke kiri dan ke kanan, dan dalam satu kali gerakan Agara mengecup singkat dan cepat pipi chuby Raehan.


Cup!


Raehan membulatkan kedua matanya dan menoleh dengan cepat menatap Agara yang malah dengan jahilnya mengedipkan sebelah matanya jahit.


"Kak Aga, apa---"


"Ssssttt." Agara meletakkan satu jari telunjuknya di depan bibir Raehan sehingga membuat perkataan gadis itu terhenti.


"Bukan begitu, tapi gimana kalau yang lain lihat, kan malu," protes Raehan dengan wajah memberengut.


"Tapi tidak ada yang lihat bukan."


"Ahhh, bilang aja modus."

__ADS_1


"Ha ... Ha ..., dikit kan ngak papa. Tapi kamu beruntung lo bisa dimodusin sama cowok paling tampan di sekolah."


"Cih, sombong." Raehan menjulurkan lidahnya dengan kekehan lucu karena kepd-an Agara yang setinggi langit. Ya, tetapi memang benar jika kekasihnya itu memang sangat tampan.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa like


komeng


gift


vote


tips

__ADS_1


maaf yang singkat upnya soalnya othor ngantuk ngak ada yang kasi kopi


__ADS_2