
...120 ❣...
"Ka... Kamu..." Seru Raehan dengan terbata- bata. Saat ini bibir nya terasa kelu. Apa yang ia harus jawab untuk pertanyaan yang di lontar kan Dion.
Ia tidak mungkin mengata kan dan mengakui semua nya kan.?
Pikir Raehan yang sedang memutar otak nya untuk menghindari pertanyaan Dion.
Dion tersenyum geli, melihat ekspresi takut di wajah Raehan.
Persis seperti seorang buronan yang tertangkap.
Kenapa gadis kecil ini harus takut?.
Ia bertanya asal, bukan untuk menghakimi. Pikir Dion dengan tangan bersedekap.
"Ayo katakan ?" Tukas Dion lagi, yang semakin membuat Raehan gelagapan.
"Ini bukan urusan mu..." Sanggah Raehan mengontrol rasa takut dalam diri nya.
Meski suasana pencahayaan yang cukup redup dan terkesan gelap, tetap saja Raehan tidak ingin terlihat gugup di hadapan Dion.
Bibir Dion semakin terangkat melihat sikap Raehan yang begitu menggemas kan bagi nya.
Bagaimana bisa tuhan menciptakan gadis imut yang begitu menggemas kan. Teriak Dion dalam hati.
Tentu saja senyum nya tidak di lihat oleh Raehan. Jika tidak, mungkin Raehan akan meleleh melihat senyum Dion yang terkesan begitu tampan.
"Tentu saja ini urusan ku.. Kamu sudah membuat seorang siswi menjadi seperti itu..." Ujar Dion dengan menunjuk ke arah Lessia yang sedang di kerumuni oleh murid- murid yang masih belum puas menyaksi kan sang model.
"Kamu jangan sok tahu, aku tidak melakukan apa pun pada nya..."
"Benar kah??"
"Tentu saja..!"
"Lalu kenapa dia menatap mu dengan penuh kebencian, apa kalian bermusuhan?"
"Aaaaahhhh sudah lah... Jangan ikut campur.. Aku ke sini untuk menemui mu.. Apa maksud kak Dion mencantum kan nama ku pada kandidat calon osis. Apa kak Dion pikir aku menyukai semua hal itu?. Kak Dion benar- benar bertindak secara semena- mena. Selalu memaksa kan kehendak padaku. Selalu memaksa ku untuk melakukan hal- hal yang tidak aku ingin kan. Kak Dion pikir kak Dion siapa?. Ayah ku? saudara ku? yang bisa memutus kan sesuatu dalam hidup ku tanpa mempertimbang kan keinginan ku. Apa kak Dion selalu bertindak seperti ini. Selalu mengatas nama kan kekuasaan mu sebagai ketua osis untuk membuat semua orang tunduk dan takluk. Tapi hal itu tidak akan berlaku pada ku? aku tidak akan menuruti keinginan mu kak.. Termasuk mengikuti organisasi itu. Dan kamu tidak akan bisa memaksa ku..." Celoteh Raehan tanpa henti dengan satu tarikan nafas yang membuat dada nya bergemuruh kesal dan menggebu- gebu.
Ia tentu saja tidak terima dengan semua pemaksaan yang Dion lakukan terhadap diri nya. Dan diri nya sengaja mengalih kan pembicaraan awal diri nya dan Dion tentang permusuhan nya dengan Lessia.
Dan ini lah satu- satu nya masalah yang bisa ia jadi kan kambing hitam untuk mengalih kan pembicaraan dengan Dion.
Dada Dion terasa di tusuk ribuan pedang , saat satu paragraf panjang yang di ucap kan Raehan tergiang- ngian di telinga nya.
Perkataan gadis mungil di depan nya sangat tajam dan beracun, padahal sebelum ini ia sudah menyiap kan mental untuk menghadapi kemarahan Raehan.
Namun lihat lah tameng yang diri nya buat di rusak dengan sebegitu mudah nya, hingga perkataan Raehan begitu menusuk hingga terasa menembus punggung nya.
Sangat menyakit kan.
__ADS_1
Khusus nya, satu kalimat yang mempertanyakan siapa diri nya dalam kehidupan gadis kecil nya.
Mempertanyakan hak nya, bahkan mempertanyakan penggunaan kekuasaan nya.
Kata apa lagi yang lebih sakit dari pada hal itu.
Diri nya yang tidak pernah ada bahkan sedikit pun menempati tempat di hidup gadis yang di cintai nya.
Tamparan keras sebuah kenyataan, jika diri nya tidak akan pernah bisa menggapai gadis kecil yang sudah membuat nya selalu merenung dan bersedih.
Tragis.
Menyedih kan.
Raehan menghembus kan nafas lega, saat unek- unek yang sudah bersarang sejak tadi kini berhasil diri nya suara kan.
Ia sungguh benci dengan sikap Dion yang satu ini. Sifat mendominasi yang membuat nya selalu terjebak dalam masalah.
Meski amarah ini tidak akan bertahan lama, karna Dion adalah salah satu katagori pria tampan di mana Raehan adalah penggemar pria tampan. Dan juga Dion sudah banyak membantu nya selama ini meski Raehan sangat kesal dengan sikap nya yang semena- mena.
"Kenapa kak Dion Diam? apa sekarang kak Dion sudah sadar.. Jika begitu cabut nama ku dari daftar calon kandidat osis..."Cicit Raehan dengan nada yang melemah.
Tanpa aba- aba tubuh Dion mendekat dengan cepat ke arah Raehan.
Membuat tubuh Raehan menempel di tembok dengan tubuh Dion yang begitu dekat. Hanya satu centimeter lagi maka tubuh mereka akan menempel sempurna.
Dion menatap tajam Raehan, memberikan aura mendominasi yang membuat atmosfer di antara mereka memberat.
Raehan mendongak, menatap wajah tampan Dion yang kini berubah sedikit menyeram kan.
Tatapan mata Dion yang begitu tajam seolah- olah siap menguliti diri nya.
Namun yang lebih parah, posisi mereka yang begitu dekat.
Bahkan sapuan nafas satu sama lain dapat mereka rasakan.
"Ti-- tidak...?" Cicit Raehan dengan terbata- bata di iringi rasa gugup karna posisi nya dengan Dion yang begitu dekat.
"Apa kamu pikir aku akan menuruti semua yang kamu katakan? hhhh" Dion tersenyum kecut.
"Tentu saja tidak, aku memang bukan siapa- siapa bagi mu. Bahkan aku tidak memiliki hak apa pun terhadap diri mu. Tapi satu hal yang perlu kamu ingat kesepakatan yang sudah kamu sepakati untuk memenuhi semua keinginan ku dalam jangka waktu satu bulan. Apa kamu melupakan hal itu ? atau kamu sengaja melupakan itu?. Jadi sekarang ikuti semua nya dengan damai dan lakukan apa yang aku ingin kan..."
Raehan mengepal tangan nya dengan erat. Bagaimana bisa ia melupakan perjanjian saat ia meminta nomer ponsel Agara pada Dion.
Bodoh.
Tapi ia tidak berdaya dengan janji yang ia ucap kan. Bagaimana bisa ia terjebak perjanjian yang berat sebelah seperti ini.
Terjebak dengan pria menyebalkan seperti Dion dan diri nya harus menurut.
Oh astaga pria di depan nya benar- benar tidak memiliki hati.
__ADS_1
Emosi Dion menghilang dengan cepat, saat melihat kebungkaman Raehan yang tak berdaya karna diri nya.
Maaf kan diri nya yang begitu egois, dan memaksakan kehendak.
Tapi ia tidak punya pilihan lain, karna di mata nya hanya gadis kecil ini tumpuan harapan nya.
"Jangan khawatir waktu perjanjian kita hanya tinggal satu minggu lagi. Dan kamu akan terbebas. Aku tidak akan memaksa mu dengan kehendak ku lagi, atau pun membuat mu terlibat masalah. Tapi kali ini jangan mengecewakan ku. Aku sangat berharap pada mu Rae. Jangan membalas dengan mengikuti seleksi dengan setengah hati. Hal itu akan sangat menyakiti ku. Aku ingin kamu mengikuti semua proses seleksi dengan sepenuh hati. Dan apa pun hasil nya nanti aku tidak akan menyalah kan mu. Karna itu hak suara para murid Milver High School." Dion menatap sendu pada ke dua manik coklat Raehan dengan penuh harapan, jika gadis ini tidak akan melakukan hal- hal di luar nalar untuk membuat diri nya kalah dalam persaingan osis ini.
Hati Raehan sedikit tergerak melihat tatapan harapan Dion pada diri nya.
Diri nya paling tidak bisa menghancur kan harapan orang lain.
Raehan mengangguk pelan, sebagai tanda setuju jika diri nya menyanggupi permintaan Dion, meski hal itu menentang keinginan nya.
Bibir Dion berkedut, tangan nya terangkat mengacak rambut Raehan.
"Gadis pintar...." Seru Dion dengan senyum bangga, lalu melangkah pergi meninggal kan Raehan yang menatap diri nya dengan pasrah.
...----------------...
...****************...
Si Dion dengan tatapan tajam mempesona, yang mampu memecah buah duren😂
Raehan yang banyak tingkah ni😁😁.. Aaa cantikan othor donk ya dari pada si Raehan 😂 Mimpi nih othor😅
...----------------...
Koment yuk... othor lagi butuh semangat😭
Jangan bosan terus ya dengan karya othor😍😍😍
Terus pantangin cerita nya ya...
Like
koment.
Vote
gift.
Rak favorit.
Yuk dukung terus karya ini....!!!
kalo ngak koment atau like atau kasi gift..
__ADS_1
Kalian benar- benar kejam ama thor😭😭😭???