
...348...
Kening Raehan berkerut dalam saat melihat Fir yang tengah kebakaran jenggot dengan wajah merah masam. Terlihat, pria itu sangat marah dan kesal. Kali ini yang menjadi pelampiasannya adalah minuman Orange Jus yang ada di atas meja, yang terus di teguk hingga tandas.
Miya yang berada di samping Fir, tengah mengelus-ngelus lengan pria itu dengan lembut, berusaha untuk menenangkan anak kucing yang sedang marah. Sedangkan Kazuya hanya duduk dengan santai dengan kaki yang di silangkan pada kaki yang lainnya.
"Fir, kenapa?" tanya Raehan dengan wajah penasaran. Tidak mungkin jika Fir marah besar hanya karena ia yang pergi meninggalkan pria itu untuk menemui Dion barusan bukan? Tapi apa yang terjadi saat ia pergi barusan? Raehan duduk di samping Kazuya dengan menaikkan-turunkan kedua alisnya. Bertanya apa yang sedang terjadi.
"Fir tadi memukul Agara, Rae!" seru Miya cepat sebelum bibir Kazuya bergerak untuk menjawab pertanyaan Raehan.
"Hah?" Mulut Raehan lansung terbuka dengan lebar. Bahkan sebuah gelas bisa masuk ke dalam mulut Raehan.
"Apa kamu tidak bertemu dengan Agara?" Kini Kazuya yang bertanya. Pasalnya, ia menyuruh Agara untuk pergi ke balkon untuk menemui Raehan. Akan tetapi, lihatlah wajah kaget Raehan yang seolah-olah tidak tahu jika Agara datang ke sini.
"Bertemu? Aku bahkan tidak tahu jika Kak Aga datang ke sini. Lagi pula ia tidak mungkin datang kemari," jawab Raehan yang merasa semua yang dikatakan Kazuya dan Miya adalah hal yang mustahil. Sangat tidak mungkin Agara datang ke rumah musuh bebuyutannya.
"Oh, Astaga Rae. Tidak mungkin Agara yang kita lihat barusan adalah hantu. Lihatlah, sahabatmu ini. Dia lansung meninju wajah Agara. Untung, Agara bisa berkelit tadi," Miya menyakinkan Raehan.
"Tapi, sungguh aku tidak bertemu dengan---"
"Tentu saja kamu tidak bertemu dengan Agara karena dia bersembunyi di bawah meja," sosor suara Dion dari belakang Raehan.
Seluruh mata kini tertuju pada dua pria tampan yang sedang berjalan beriringan mendekat ke arah Raehan. Bahkan, kedua mata Raehan melotot dengan sempurna dan hampir keluar dari cangkangnya, melihat Agara dan Dion yang saling melemparkan senyum.
Ia tidak sedang bermimpi bukan? Dua pria yang menjadi musuh bebuyutan kini berjalan beriringan dengan senyum pada bibir mereka. Siapa pun tolong dorong dirinya hingga jatuh.
"Cubit aku sekarang," ucap Raehan dengan merentangkan tangannya pada Miya.
"Auuuuu!" jerit Raehan lagi, saat merasakan rasa sakit di kulitnya karena cubitan keras dari Miya.
__ADS_1
Melihat Raehan yang kesakitan. Agara segera meraih tangan Raehan yang di cubit tadi dan menciumnya dengan lembut. Seolah-olah apa yang ia lakukan itu bisa mengurangi rasa sakit pada kulit Raehan.
Miya yang melihat adegan romantis itu terasa meleleh menjadi air. Di mana otak kecilnya mulai berkhayal jika Kazuya melakukan hal yang sama padanya.
Namun, berbeda dengan Fir yang semakin marah melihat Agara mencium tangan Raehan. Kedua lubang hidung Fir mengembang dan mengempis dengan cepat, seperti banteng yang siap menubruk kain merah.
"Hei, kamu manusia kutub. Jangan berani modusin Raehan. Urusan kita belum selesai. Aku belum selesai membuat wajah sok tampanmu itu jadi babak belur kayak martabak telor," sungut Fir dengan meraih kerah baju bagian bekalang Agara, persis seperti orang yang sedang memungut kucing.
Kazuya dan Dion tergelak lucu melihat tingkah Fir. Namun, mulut Dion segera bungkam saat melihat tatapan tajam dari sahabat pria Raehan itu.
"Dion, aku juga punya urusan denganmu. Lihat saja, aku akan membuat tubuhmu itu menjadi berkeping-keping. Kalian sok banyak omong menjaga Raehan tapi lihat sahabatku hampir mati. Percuma punya badan besar dan berotot jika kalian hanya udang yang hanya bisa bersembunyi di balik batu," celoteh Fir panjang kali lebar memarahi Agara dan Dion dengan gaya ala emak-emak rempong yang sedang memarahi anaknya yang bermain di kubangan lumpur.
"Dengar Fir, aku juga tidak ingin ini terjadi---"
"Kalau tidak ingin kenapa kamu membiarkan Kiara sampai mendekati Raehan. Kamu tahu Agara, kamu sudah dua kali membuat hidup Raehan dalam bahaya, dan aku tidak akan memberi pelajaran pada pria tidak bertanggung jawab seperti mu," sosor Fir dengan cepat, memotong ucapan pembelaan dari Agara.
Bugh!
Dion yang hendak melerai, kini malah di tendang dengan keras oleh Fir hingga tubuh Dion beringsut ke belakang.
"Sekarang giliranmu, Dion. Kamu tahu, Raehan adalah sahabatku. Berani kamu sakiti dia aku tidak akan pernah tinggal diam. Kamu berjanji dan berkoar-koar untuk menjaga sahabatku. Tapi mana? Kiara hampir merenggut nyawa Raehan. Jika saja tidak ada sosok hitam yang menyelamatkannya. Mungkin dia sudah tinggal raga tanpa jiwa," berang Fir mengeluarkan unek-unek amarah yang sudah menumpuk di dalam dirinya.
Bugh!
Ia melayangkan satu pukulan keras pada wajah Dion hingga wajah Dion berpaling ke samping. Raehan yang melihat tingkah Fir yang di luar kontrol segera bangkit untuk menghentikan kebrutalan sahabatnya itu. Namun, Agara segera mencekal tangan Raehan dan menggelengkan kepalanya.
"Biarkan Fir mengeluarkan kekesalannya, Rae. Kami memang pantas untuk dipukuli karena telah lalai dalam menjagamu. Kali ini, Fir memang benar. Biarkan masalah ini menjadi urusan kami sesama pria," ujar Agara menyakinkan Raehan jika semuanya akan baik-baik saja.
Raehan ingin menolak, tetapi Agara menatap ia dengan tatapan tajam. Raehan menghembuskan nafasnya pasrah dan kembali duduk di sofa, melihat ketiga pria itu berkelahi dengan Fir yang terus memukuli Dion dan Agara. Sedangkan kedua pria yang dipukuli habis-habisan hanya bisa menerima tanpa ingin membalas atau pun menghindar.
__ADS_1
Miya dan Kazuya juga hanya bisa menonton dengan santai. Bahkan, keduanya malah menonton sambil memakan makanan ringan. Seolah-olah mereka sedang disajikan tayangan live.
"Dua kali pukulan lagi, Fir akan menyerah," ucap Miya dengan nada suara rendah sambil memasukkan cemilan ke dalam mulutnya.
"Oh ya, kenapa kamu seyakin itu?" timpal Kazuya dengan tatapan masih fokus pada perkelahian ketiga pemuda itu.
"Aku sangat tahu kemampuan Fir, sebenarnya dalam satu kali pukulan Fir bisa KO. Dion dan Agara bukan tandingannya. Setelah ini Fir pasti akan sangat bangga karena bisa memukul dua most wanted sekolah."
"Kamu tahu, aku pikir kamu adalah kekasih Fir karena kamu begitu tahu tentang pria itu."
"Itu tidak mungkin, Aku dan Fir adalah sahabat begitu pula dengan Raehan. Kamu tenang saja, aku hanya menyukai dirimu, tidak untuk yang lain."
Mulut Kazuya seketika bungkam dengan kedua pipi yang terasa memanas. Miya mengungkapkan perasaanya tanpa rasa malu sedikitpun. Seolah hal itu adalah sesuatu yang sangat biasa bagi gadis itu. Akan tetapi, tidak untuk dirinya.
Astaga, gadis ini mulutnya tidak ada rem atau saringan sedikit pun. Batin Kazuya dengan menelan ludahnya dengan paksa.
Miya melipat bibirnya ke dalam melihat ekspresi malu-malu Kazuya setelah ia mengatakan perasaannya secara gamblang. Baginya, mengatakan hal itu adalah sesuatu yang sangat mudah. Ia berharap Kazuya terbawa perasaan dengan kalimatnya barusan.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
komentar
gift
__ADS_1
vote
tips