Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Aku akan menginap


__ADS_3

...305...


"Ini hukuman karna kamu tidak mau mengangkat telponku. Kamu tahu jika aku tidak suka seseorang tidak mengangkat telponku. Jadi aku pikir malam ini aku akan menginap di sini." Agara tersenyum licik dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Apa?" Mulut Raehan terbuka membentuk huruf O.


"Iya, dan kamu tidak bisa mengusirku dari sini."


"Rae, kamu sudah tidur sayang!" seru Nyonya Marissa yang tiba-tiba mengetuk pintu Raehan.


Tok


Tok


Tok.


"Rae!" panggil Nyonya Marissa sembari mengetuk kamar Raehan lebih kencang lagi.


Raehan dan Agara menoleh ke arah pintu kamar. Ke duanya terlihat gelapan terutama Raehan yang wajahnya langsung memucat. Sang ibu ada di depan pintu kamarnya. Bagaimana jika Nyonya Marissa melihat Agara di sini? Bisa-bisa ia di jadikan udang rebon detik ini juga.


Berbeda dengan Agara yang tersenyum licik saat melihat wajah Raehan yang memucat karna takut ketahuan. Agara mengeratkan tangannya di pinggang Raehan, sehingga pergerakan Raehan menjadi semakin terbatas.


"Lepaskan aku kak Aga, kau ini gila. Bagaimana jika Momsy melihat kita. Lepaskan!" pekik Raehan dengan memukul dada Agara.


"Aku tidak akan melepaskanmu, sampai kamu memberiku izin untuk menginap di sini."


"Tidak akan pernah, sampai langit terbelah menjadi dua aku tidak akan pernah mengizinkanmu."


"Baiklah, biarkan saja Momsy tahu jika aku ada di sini. Mungkin kita akan langsung di nikahkan."


"Ck---"


"Rae, kamu mendengar Momsy bukan? Momsy tahu kamu belum tidur!" seru Nyonya Marissa dengan oktav suara yang lebih meninggi.


"Iya Mom, tunggu sebentar!" jawab Raehan yang masih berusaha melepaskan diri dari Agara. Namun sayang, tenaganya tidak bisa membuat ia lepas dari cengkraman Agara. Ternyata Agara benar-benar nekat, pikir Raehan frutasi.


"Ayo setujui saja, aku akan melepaskanmu," ucap Agara dengan smirknya.


"Oke, oke. Sekarang lepaskan aku!"


Agara melepaskan pinggang Raehan. Wajahnya tersenyum penuh kemenangan. Malam panjang ini akan ia habiskan dengan berdua bersama Raehan. Ia benar-benar pintar untuk membuat Raehan bertekuk lutut.


Raehan segera bangkit dari tubuh Agara. Sebenarnya sekarang detak jantungnya sedang tidak baik-baik saja. Berdekatan dengan jarak sedekat itu dengan pria setampan Agara sedikit mengendurkan pertahanan yang sudah ia bangun.

__ADS_1


"Sekarang Kak Aga cepat sembunyi!" titah Raehan yang di balas dengan kedipan mata genit dari Agara. Ia begitu gemas melihat Raehan gelagapan seperti itu. Agara langsung bangkit dari kasur, dan bersembunyi di bawah kolong tempat tidur.


Raehan mengusap wajahnya kasar, menekan- nekat dadanya yang terasa siap meledak. Menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan. Ia tidak boleh terlihat gugup di depan sang ibu, bisa-bisa sang ibu akan tahu jika ada yang ia sembunyikan. Agara benar-benar menyulitkan dirinya kali ini.


Klek.


Raehan membuka pintu kamarnya. Mengontrol mimik wajah sebiasa mungkin di hadapan Nyonya Marissa.


"Kenapa membuka pintu lama sekali," omel Nyonya Marissa.


"Maaf Mom, tadi aku di kamar mandi." Bohong Raehan dengan tersenyum kaku.


Nyonya Marissa melenggos masuk ke dalam kamar putrinya. Sontak saja hal itu berhasil membuat Raehan merasa serangan jantung.


"Mom, Momsy mau ngapain masuk ke kamar Rae?" cegah Raehan dengan memegang tangan Nyonya Marissa.


"Memangnya kenapa?" tanya Nyonya Marissa dengan satu alis terangkat ke atas. Ia menatap Raehan dengan tatapan curiga.


"Maksudku bukan begitu Mom. M--Momsy kenapa ke kamar Rae. Ada apa?" ujar Raehan meralat kata-katanya sendiri di iringi dengan cengiran kuda yang sangat jelek.


"Momsy ingin bicara denganmu." Nyonya Marissa berjalan ke arah ranjang Raehan dan duduk di pinggir ranjang.


Raehan segera mengekor, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar. Mencari di mana Agara bersembunyi. Jangan sampai pria itu sampai ketahuan maka riwayatnya akan tamat.


Dimana Kak Aga? Dia bersembunyi di mana?


"Tidak mom, tadi ada kecoa yang masuk ke kamarku." Bohong Raehan lagi, memberikan alasan yang sungguh tidak masuk akal.


Sedangkan di bawah kolong tempat tidur. Agara memutar bola matanya malas mendengar Raehan yang menyebutkan dirrinya kecoa, hewan yang sangat menjijikkan.


Berani sekali kamu menyebutku kecoa. Lihat saja kecoa ini akan memberimu hukuman.


Nyonya Marissa menarik tangan Raehan untuk duduk di sampingnya. Tanpa di sengaja, Raehan menginjak tangan Agara yang sedikit menyembul keluar dari kolong tempat tidur.


Agara mengerang kesakitan dengan suara tertahan. Ketika tangannya di injak tanpa dosa.


Sial, Raehan juga menginjak tanganku. Batin Agara menahan rasa sakit di tangannya.


"Momsy mau bicara apa?" tanya Raehan to the point. Ia harus segera membuat sang ibu keluar dari kamarnya.


"Apa yang kamu sembunyikan dari Momsy?"


Deg!

__ADS_1


Wajah Raehan seketika panik, mendengar pertanyaan sang ibu.


"Momsy melihat di wajahmu, kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari Momsy."


"Tidak Mom, percayalah aku tidak menyembunyikan apapun," sanggah Raehan dengan memasang wajah yakin. Meski jauh di lubuk hatinya memang ada sesuatu yang ia pikirkan. Tanpa sengaja, ia mendengar percakapan ke dua orang tuanya saat mereka mengobrol di dalam kamar.


"Mom, aku sudah sangat mengantuk bisakah aku tidur?" Raehan berakting menguap, dengan mata setengah terpejam.


"Baiklah, tidurlah dengan nyenyak. Jangan memikirkan apapun yang membuatmu merasa terganggu." Pesan Nyonya Marissa dengan mengelus rambut Raehan dan mencium kening sang putri. Nyonya Marissa segera keluar dari kamar Raehan.


Raehan memghembuskan nafasnya lega. Akhirnya sang ibu keluar dari kamarnya. Dengan cepat Raehan menutup dan mengunci pintu. Mengantisipasi jika ada orang lagi yang akan datang ke kamarnya.


Agara segera berguling keluar dari kolong tempat tidur setelah melihat calon mertua masa depannya keluar dari kamar.


Agara bangkit sambil mengibaskan tangannya di depan wajah. Tangannya terasa menjadi gepeng tak bersulang.


"Sebenarnya untuk apa kak Aga ke sini?" tanya Raehan menghampiri Agara yang malah duduk santai di ranjangnya.


"Aku merindukanmu," jawab Agara jujur.


"Aku tidak peduli dan aku tidak mau peduli. Lebih baik kak Aga pulang dari sini."


"Eitsss." Agara turun dari ranjang dan mendekati Raehan.


"Kamu tidak bisa mengusirku, ingat kamu sudah berjanji akan mengizinkanku untuk menginap di sini." Agara menyelipkan anak rambut Raehan kebelakang telinga.


Plak!


Raehan menepis kasar tangan Agara, lalu berjalan hendak menuju kasurnya. Namun, Agara langsung mencekal dan menarik tangan Raehan, sehingga Raehan masuk ke dalam pelukan Agara.


"Lepaskan aku!" pekik Raehan mendorong tubuh Agara. Sejujurnya saat ini ia ingin membalas pelukan hangat ini, tapi tidak ia tidak boleh melakukannya. Agara tidak bisa di maafkan begitu mudah setelah apa yang di lakukan pria ini kepadanya.


"Jangan memberontak, atau aku akan menciummu," ancam Agara dengan nada tegas, membuat Raehan berhenti memukul dan mencubit punggung Agara.


...----------------...


...****************...


Jangan Lupa


Like


Koment

__ADS_1


Gift


Vote


__ADS_2