Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Terasa sangat sakit


__ADS_3

...291💛...


Suara kicaun burung yang begitu nyaring terdengar begitu merdu di tengah kota yang hampir penuh. Suara deru mesin mulai terdengar, memecah kesunyian kota yang di akibatkan karna malam.


Cahata matahari menyingsing, menyinari setiap sudut kota. Bahkan hingga masuk ke setiap celah yang bisa di gapai.


Seorang wanita paruh baya, tengah asik dengan wajan dan penggorengan yang sedang dimainkan dengan begitu lihai di atas kompor.


Di meja makan terlihat pria lebih tua sedang duduk santai sambil sesekali menyeruput kopi yang ada di hadapannya.


"Popsy, Raehan sudah bangun? Ini sudah mau jam tujuh, tapi dia masih belum keluar dari kamar!" seru Nyonya Marissa tanpa berpaling menatap ke arah Tuan Levi.


Pak Levi menatap ke arah istrinya, senyumnya tersungging saat melihat istrinya yang bertanya tapi tidak sedikitpun menatap ke arahnya. Sepertinya wajan dan penggorengan itu lebih menarik dari pada dirinya.


"Sepertinya Raehan sudah bangun sejak subuh tadi. Aku rasa dia sedang bersiap-siap."


"Huh, anak itu selalu saja terus memoles dirinya. Dia sangat lama berdandan. Tapi lihat tidak ada yang berubah dari wajahnya yang pas-pasan," kesal Nyonya Marissa dengan kebiasaan Raehan yang sangat lama berdandan.


"Ck, aku harus tampil cantik Mom, meski wajahku pas-pasan," sambung Raehan dengan cepat lalu duduk sambil mencebikkan bibirnya.


Ini lah yang akan selalu terjadi saat pagi hari. Ia harus mendengar ocehan burung beo dari mulut sang ibu karna terus mengatainya lamban dan semacamnya. Padahal waktu menunjukkan masih pagi.


"Kamu tidak pernah berubah Rae, tapi kamu harus merubah kebiasaanmu itu. Kamu selalu saja mengulur waktu untuk berangkat sekolah. Disiplin itu penting Rae. Momsy pasti tahu, selama kamu tinggal sendiri pasti kamu selalu datang terlambat, sangat memalukan." Omel Nyonya Marissa lalu meletakkan sarapan di depan putri dan suaminya.


"Tidak, aku selalu datang tepat waktu. Momsy selalu berpikiran negatif padaku," sangkal Raehan dengan memyuapkan sarapan ke dalam mulutnya.


"Mom sudahlah, Raehan kan sudah besar. Dia juga bisa membaca waktu, jadi dia bisa mengatur waktunya sendiri." Pak Levi menengahi perdebatan di antara putri dan istrinya, yang wajib terjadi setiap pagi.


"Popsy benar," ujar Raehan setuju, sambil tersenyum senang pada sang ayah yang sudah membelanya.


"Bela saja terus putri kesayanganmu itu. Aku tidak ingin dia jadi gadis pemalas."


"Popsy tidak membela Raehan, hanya saja Popsy hanya mengingatkan Momsy untuk memberikan ruang pada putri kita. Justru sikap Momsy yang seperti ini yang membuat Raehan menjadi manja."

__ADS_1


"Terserah pada Popsy, Momsy mau membangunkan Lion." Nyonya Marissa segera pergi meninggalkan putri dan suaminya yang langsung tertawa ringan setelah kepergiannya.


"Momsy selalu saja mengomeliku, untung ada Popsy yang menjadi pelindung dari suara cempreng Momsy," keluh Raehan, meneguk air putih yang sudah di siapkan.


"Lain kali, patuhilah Momsymu Rae. Apa yang dikatakan Momsy itu juga benar." Nasihat pak Levi lembut.


"Popsy gimana sih? tadi di depan Momsy, Popsy membelaku. Lah, sekarang kok bela Momsy."


"Bukan begitu Rae. Telinga Popsy sudah sangat bosan mendengar perdebatan kalian yang selalu membahas hal yang sama. Satu hari saja kalian tidak berdebat, maka Popsy akan merasa tenang."


"Popsy!"


Pak Levi tertawa lucu, melihat wajah putri semata wayangnya yang kesal. Dirinya dan Raehan memang sangat dekat. Bahkan ia bisa merasakan luka dan penderitaan putrinya.


"Rae Popsy boleh minta sesuatu padamu?" Wajah Pak Levi berubah menjadi serius. Membuat suasana menjadi tegang.


"Popsy mau minta apa? jangan aneh-aneh ya Pop. Organ tubuh Rae limited ngak bisa di bagi-bagi," timpal Raehan dengan guyonan jenaka.


"Popsy mau kamu fokus dengan belajarmu Rae!" lanjut Pak Levi menatap Raehan dengan sorot mata tak terbantahkan.


"Popsy tenang saja, aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Aku juga memutuskan untuk fokus belajar dan menyelesaikan pendidikanku. Kejadian kemarin tidak akan pernah terjadi lagi." Raehan menyakinkan Pak Levi, jika dirinya tidak akan lagi tersangkut dalam masalah percintaan. Lagi pula dirinya sudah memutuskan hal itu. Cukup satu kali dirinya terluka karna cinta, dan cukup satu kali ia menerima pengkhianatan.


Pak Levi tersenyum lebar, ia bangga dengan keputusan Raehan yang selalu membuat dirinya puas.


"Baiklah Pop, aku berangkat dulu," pamit Raehan, lalu menarik tangan sang ayah dan menciumnya sekilas. Raehan meraih tas ranselnya dan menyampirkan di bahunya.


Hari ini adalah awal baru baginya, biarlah hari-hari kemarin menjadi sebuah pelajaran yang tidak akan pernah ia lupakan.


Klek!


Raehan membuka pintu. Namun langkah kakinya langsung terhenti di ambang pintu, saat melihat dua laki-laki dengan seragam yang sama dengannya tengah saling menatap penuh permusuhan.


Raehan bisa merasakan aura dingin dan membunuh, keluar dari masing-masing dua laki-laki yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Aliran petir yang sedang beradu dari tatapan tajam ke duanya, seakan sedang bertempur mengalahkan satu sama lainnya. Bahkan kehadiran Raehan pun sama sekali tidak mereka sadari.


"Ekhmm!!" dehem Raehan yang langsung membuat tatapan Dion dan Agara menghunus tajam ke arahnya. Ia cukup terhenyak dan bergidik ngeri menerima tatapan menghujam dari kedua mata elang itu.


Agara tersenyum lembut pada Raehan, menimalisir rasa kesal karna kehadiran Dion. Tadi ia ingin mengusir Dion dari rumah Raehan, tapi sayang belum sempat ia melakukannya sang pujaan hati sudah keluar lebih dulu.


Begitupun dengan Dion, meski dirinya tahu jika Agara adalah pria yang di cintai Raehan. Tapi tetap saja ia tidak terima melihat Agara yang berada di sekitar Raehan. Mungkin ia pasrah dengan perasaannya yang tidak akan diterima oleh Raehan. Tapi ia sudah berjanji pada Raehan jika ia akan menjaga Raehan, termasuk dari pengkhianat seperti Agara.


"Rae, kamu berangkat denganku ya," selosor Dion cepat, sebelum Agara mendahuluinya. Dion memiringkan bibirnya mengejek saat Agara menatapnya.


"Tidak, Raehan adalah kekasihku. Jadi dia akan berangkat denganku," bantah Agara dengan dingin, lalu meraih pergelangan tangan Raehan begitu saja.


Raehan menahan tangannya, ketika Agara menariknya untuk melangkah. Sehingga langkah Agara berhenti dan beralik. Menatap Raehan dengan bingung.


Raehan melepas pegangan tangan Agara pada pergelangan tangannya, menatap Agara dengan dingin lalu mengalihkan pandangannya pada Dion dengan bibir yang tersenyum.


"Aku akan berangkat dengan kak Dion!" seru Raehan lalu berjalan menggandeng lengan Dion, meninggalkan Agara yang diam mematung tak percaya.


Dion menoleh sejenak ke arah Agara, tersenyum penuh kemenangan, seolah mengatakan 'kamu sudah kalah'.


Agara menelan bulat-bulat kekecewaan yang menghantam hatinya hingga hancur berkeping-keping. Rasanya begitu sakit melihat gadis yang sangat kamu cintai, lebih memilih orang lain dari pada dirimu.


Kemarin malam, ia melihat sesuatu yang lebih menyakitkan. Melihat Raehan berpelukan dengan Dion. Tapi ia bertekad tidak akan menyerah begitu saja. Ia akan terus mengejar Raehan hingga Raehan kembali padanya. Sama seperti dulu, saat Raehan mengejarnya tanpa kenal kata menyerah.


...----------------...


...****************...


Nah kan sekarang ngejer20


Kasihan si Agara. Raehan lebih memilih Dion.


yuk like koment gift anda vote ya😄

__ADS_1


__ADS_2