
...325...
Agara sampai di tempat Kiara dan juga Raehan. Namun, ia sama sekali tidak melihat kehadiran dua gadis itu. Padahal, tadi ia melihat Raehan berlari ke arah sini. Rasa khawatir dan cemas seketika menyeruak ke dalam dada Agara. Ia yakin, pasti sedang terjadi sesuatu pada gadis mungilnya.
Agara mengedarkan pandanganya ke seluruh arah. Wajahnya terlihat sangat panik dan ketakutan. Kiara bisa melakukan apa pun pada Raehan karena gadis itu sangat membenci Raehan. Bagaimana, jika Kiara menyakiti gadisnya. Hanya dengan membayangkan itu saja membuat darah Agara mendidih.
"Sial, di mana mereka?" umpat Agara frustasi karena kedua gadis itu tidak terlihat sama sekali. Agara mengusap wajahnya, ia sangat khawatir dengan Raehan sekarang.
Agara menundukkan wajahnya, seketika wajahnya berubah semakin tegang saat melihat banyaknya jejak sepatu di tanah. Ia yakin jika ini adalah jejak Kiara dan juga Raehan. Wajah Agara semakin panik saat melihat bekas seretan di tanah. Ia yakin, jika ini adalah jejak Raehan yang di seret ke arah hutan.
Deg!
Jantung Agara seketika berhenti memompa saat tatapannya tertuju pada hutan lebat di depannya. Tidak salah lagi, Kiara menyeret Raehan masuk ke dalam hutan. Darah Agara mendidih seketika, beraninya Kiara melukai Raehan. Ia janji ia tidak akan mengampuni Kiara.
Agara segera berlari masuk ke dalam hutan dengan mengikuti jejak seretan yang terus masuk ke dalam hutan yang semakin gelap.
Di sisi lain, Kiara dan juga temannya terus menyeret tubuh Raehan tanpa henti. Meski, beberapa kali Raehan memukul tangan Kiara. Namun, cengkraman gadis itu benar-benar kuat. Bahkan, bisa ia rasakan kulit tangannya memanas karena bergesekan dengan cengkraman Kiara yang menempel dengan sempurna di pergelangan tangannya.
"Kiara, lepasin!" teriak Raehan sambil terus memberontak.
"Aku ngak akan lepasin kamu. Aku sangat membenci kamu gadis murahan, gadis pendek. Lihat, tampang kamu yang ngak seberapa, tapi kenapa tiga cowok most wanted di sekolah ini malah naksir sama cewek ngak berguna kaya kamu. Kamu pasti pakai pelet kan? Ngaku kamu?" bentak Kiara dengan menyeret tubuh Raehan semakin keras.
Srak!
"Aaauuu!" pekik Raehan kesakitan, saat kaki kirinya di gores oleh tanaman berduri yang mereka lewati.
"Rasain tuh, bagus deh kakimu kena duri!" seru Kiara senang. Ia sangat senang melihat gadis yang sangat dibencinya itu menderita. Sebentar lagi, ia akan membuat Raehan semakin menderita.
"Kiara, jangan mencari masalah denganku. Apa kamu lupa, apa yang sudah aku lakukan padamu?" ancam Raehan menakut-nakuti Kiara.
"Untuk itu aku akan membalas hal itu berkali-kali lipat. Kali ini, tidak akan ada yang menolongmu. Aku pastikan hal itu." Kiara tersenyum miring.
"Aku juga akan pastikan, jika sampai aku lepas aku akan membuat kalian berdua merasakan sesuatu yang tidak akan pernah kalian bayangkan."Amarah Raehan mulai tersulut.
"Itu hanya akan terjadi jika kamu lepas, tapi kami tidak akan melepaskanmu. Kamu pikir, kami akan diam saja ketika kamu melempar ular karet itu? Hahhh," sentak teman Kiara dengan tatapan nyalang.
Raehan mengontrol pergerakannya. Ia tidak lagi memberontak dan mengikuti ke arah mana dua gadis perusuh ini membawanya. Raehan mengedarkan pandangannya, mereka semakin masuk ke dalam hutan sehingga sinar matahari mulai minim karena terhalang oleh lebatnya dedaunan pohon.
__ADS_1
Tatapan Raehan berhenti pada dua pohon dengan ukuran yang sama besarnya yang ada di depan. Senyum terbit di wajah Raehan. Ia menatap Kiara dan Temannya itu dengan senyum yang tidak bisa di artikan. Hal itu tentu saja membuat Kiara bingung dengan Raehan yang tiba-tiba tersenyum.
"Kenapa kamu terse---"
Belum sempat Kiara menyelesaikan perkataannya. Raehan dengan sekuat tenaga menarik ke dua tubuh gadis tersebut hingga terhuyung ke depan dan menbentur dua buah pohon di depan mereka. Sementara Raehan memposisikan dirinya pada celah antara dua pohon itu.
Bruk!
Tubuh Kiara dan temannya itu menabrak keras pohon di depan mereka sehingga tanpa sadar cengkraman tangan mereka pada tangan Raehan terlepas.
"Aauuuu!" pekik keduanya kesakitan. Di mana tubuh mereka langsung ambruk ke tanah yang lembab dan kotor.
Raehan tersenyum senang. Akhirnya ia bisa terlepas dari dua gadis perusuh di depannya. Raehan menggerakkan kedua tangannya yang terasa sakit karena di cengkram dengan kuat.
"Lihat, aku berhasil lepas bukan?" kekeh Raehan dengan tersenyum licik.
Kiara dan temannya semakin marah dan kalang kabut. Raehan berani menyakiti mereka. Gadis pendek itu benar-benar sangat licik. Lihat saja, mereka tidak akan melepaskan gadis pendek itu.
"Berani sekali kau!" teriak teman Kiara yang sudah di selubungi kabut amarah. Apa lagi melihat wajah mengejek Raehan.
"Tangkap dia!" titah Kiara yang langsung bangkit.
Kiara dan temannya terus berlari mengejar Raehan yang semakin masuk ke dalam hutan. Mereka tidak ingin melepaskan gadis kurang ajar seperti Raehan.
Raehan menoleh ke belakang, ternyata kedua gadis itu masih belum menyerah untuk mengejarnya.
"Ah, sial. Mereka benar-benar tidak menyerah. Apa memar di bahu mereka tidak cukup untuk membuat mereka berhenti mengejarku," umpat Raehan dengan kesal. Raehan terus berlari ke sembarang arah dimana tubuhnya sudah terkena sabetan ranting pohon yang cukup tajam. Namun, ia tidak bisa berhenti dan membiarkan kedua gadis itu menangkap dirinya.
"Raehan, berhenti kamu!"
"Gadis pendek, berhenti kau!"
Teriak kedua gadis itu yang semakin kesal karena Raehan terus berlari di depan mereka.
Srassshhh!
Raehan menghentikan langkah kakinya yang hampir masuk ke dalam jurang. Batu-batu kerikil yang terdorong oleh kakinya jatuh menggelinding masuk ke dalam jurang curam di depannya.
__ADS_1
Glek!
Raehan menelan salivanya paksa, untung ia ngerem mendadak. Jika tidak, mungkin tubuhnya yang sudah terlempar ke dalam jurang. Raehan sungguh sangat terkejut. Bahkan ke dua tangannya bergetar.
"Huhhhhh ... Hhahh." Raehan mengatur nafasnya yang tidak stabil karena terus berlari. Hal itu terlihat dari dadanya yang naik turun.
"Akhirnya kamu berhenti juga!" seru Kiara yang sudah berada di belakang Raehan.
Raehan segera membalikkan tubuhnya, di mana kedua gadis itu kini menatapnya seperti harimau yang sedang mengintai mangsanya.
"Stop, aku tidak ingin berkelahi di sini. Ini tidak aman untuk kita. Kita juga sudah terlalu jauh meninggalkan tempat camping. Jadi, ayo kita kembali saja, kita bisa bertengkar lagi di camp tapi tidak di sini," ujar Raehan dengan menangakat tangannya ke depan.
"Kenapa? Apa kamu takut dengan jurang itu?" Kiara mendekat ke arah Raehan.
Raehan mengerutkan dahinya, ia bisa menebak apa yang akan dilakukan Kiara dari ekspresi wajah gadis itu yang tersenyum menyeringgai.
"Jangan berani melakukan ini, Kiara!"
Bugh
Kiara menendang dada Raehan dengan dorongan ringan yang langsung membuat tubuh Raehan terdorong ke belakang dan melayang jatuh di bibir jurang.
"Tidak!" teriak Raehan, saat tubuhnya terdorong ke belakang.
Hap!
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
koment
gift
__ADS_1
vote
tips