Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Tangki Air..


__ADS_3

...8...


"Kok Kak Dion tiba- tiba berubah jadi perhatian banget sih sama aku...?" Tanya Raehan mulus.


Deg...


"Kok Kak Dion tiba- tiba berubah jadi perhatian banget sih sama aku...?"


"Perhatian..."


"Aku memperhatikan gadis pendek ini..."


"Perhatian..??"


Batin Dion yang larut dengan pikiran nya. Perkataan Raehan terus saja berputar terulang- ulang di dalam pikiran nya.


Diri nya tidak tahu apa yang terjadi pada diri nya. Tapi ia tidak pernah berniat untuk memperhatikan gadis pendek yang sedang di papah nya.


Tapi..


Tunggu..


Apa yang di katakan gadis pendek ini memang benar.


Raehan menautkan alis nya satu sama lain. Melihat Dion terdiam membisu, persis seperti sebuah patung.


Klep...


Raehan menyentikkan jari nya di depan wajah Dion yang membisu.


Membuat Dion tersentak dan melepas tangan nya dari bahu Raehan.


Raehan segera memperbaiki posisi kaki nya, agar tidak jatuh.


"Perhatian..?? Apa maksud mu..?? Aku hanya refleks saja melihat seseorang terluka..." Papar Dion dengan menatap Raehan sinis dengan ekor mata nya.


"Masak sih.. Terus kenapa wajah kakak memerah begitu??? Apa jangan- jangan kakak suka ya sama aku..." Cicit Raehan cengiran menebak.


Duar...


Kali ini, jantung Dion merasa meledak. Saat gendang telinga nya mendengar perkataan tanpa sensor dari mulut kecil Raehan.


Gadis kecil di samping nya, benar- benar mempunyai mulut tanpa Rem. Dengan gamblang nya tanpa merasa berdosa dia mengatakan itu semua. Pikir Dion dengan suhu tubuh nya yang terasa semakin panas.


Suka dengan gadis berkaki pendek...


Pikiran Dion semakin bergulat dengan perkataan- perkataan Raehan.


Perkataan Gadis mungil yang berhasil mengobrak abrik pikiran nya.


Dion menggeleng cepat, ia harus menepis pikiran- pikiran seperti ini dari dalam otak nya.


"Dengar Dion, ini hanya rasa simpati.. Jangan dengar kan mulut panas gadis ini..." Batin Dion dengan memegang pipi nya yang memerah dan sedikit terasa panas , Seperti nya suhu tubuh nya naik beberapa derajat.


Dion segera berlalu, meninggalkan Raehan. Ia tidak bisa dekat- dekat dengan gadis pendek ini. Jika tidak pikiran nya yang bersih ini akan terkontaminasi dengan bualan- bualan kosong Raehan. Jadi diri nya memutuskan untuk pergi. Ia tidak peduli jika Kaki gadis bermulut panas ini sakit atau pincang. Toh ini bukan urusan nya. Pikir Dion, dengan berjalan terus menuju tempat acara.


Raehan melebarkan ke dua matanya, melihat Dion melangkah pergi meninggal kan dirinya.

__ADS_1


"Lah... Ada apa dengan nya, beberapa detik yang lalu dia begitu khawatir.. Dan sekarang dia meninggal kan ku begitu saja..." Batin Raehan yang merasa bingung. Dengan perubahan sikap Dion.


"Kak Dion... !!!..."


"Kenapa ninggalin aku gitu aja...!!"


"Kak Dion....!!!"


Panggil Raehan dengan berteriak kencang. Memanggil- manggil Dion yang terus saja berjalan. Seolah tidak mendengar panggilan nya.


"Jangan dengarkan dia Dion... Jangan peduli kan dia... Dia bukan siapa- siapa... Dia hanya asisten alias pesuruh.. Jangan pedulikan dia...." Batin Dion, memantapkan niat nya untuk tidak menoleh ke belakang. Dan berpura- pura tidak mendengar panggilan Raehan yang terdengar sangat cempreng.


"Dasar Aneh... Kadang perhatian kadang menyebalkan... Tega sekali dia meninggalkan gadis dengan kaki yang sakit seperti ini..." Lirih Raehan dengan menggerak- gerakkan kaki nya yang sempat tertimpa barang- barang tadi.


"Setidak nya akting ku berhasil... Untung kaki ku tidak benar- benar terluka... Atau Si tukang suruh itu benar- benar akan meninggalkan ku.." Lanjut Raehan dengan memasang senyum jahil nya.


Rencana nya berjalan dengan mulus untuk mengelabui pria Bossy seperti Dion. Rasanya ia berhasil mengalah kan penjajah saat ini.


...----------------...


"Aga....!!!" Panggil Seorang gadis berambut merah dengan bola mata nya yang hijau berkilau.


Dua kaki nya, terus berusaha menyamai langkah kaki Agara. Yang terus melangkah meski sang gadis memanggil nya berkali- kali.


"Agara....!!!" Panggil sang gadis berambut merah lagi.


Agara memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celana. Sementara tangan kanan nya, memegang tali ransel yang di sampirkan di bahu kanan nya. Sungguh style tipe pria cool dan elegant.


"Stop... Hu... Ha.... Hu... Hmmmm..." Gadis berambut merah tersebut, merentangkan ke dua tangan nya lebar di depan Agara.


Dengan nafas yang terenggah- enggah akhir nya ia bisa mendahului langkah lebar pria di depan nya. Sehingga ia bisa menghalangi pria tersebut untuk terus melangkah.


"Temuilah mama mu sekali saja... Tente Savina sangat ingin bertemu dengan mu... Dia sangat merindukan mu Ga..." Tutur nya dengan memasang wajah memelas.


Agara menatap nanar gadis dengan rambut merah di depan nya. Darah nya seakan mendidih mendengar nama Savina dari mulut gadis ini.


"Aku sudah mengatakan nya berulang kali pada mu Sofia... Aku tidak akan pernah sudi bertemu dengan wanita yang bernama Savina itu....!" Timpal Agara hampir berteriak.


Ia mendorong tubuh Sofia ke samping, membuka jalan di depan nya. Dan segera melangkah kembali.


Rasa nya mood nya pagi ini, hancur hanya karna mendengar nama Savina. Yah,, Savina adalah ibu kandung Agara. Ibu yang tidak pernah memberikan nya kasih sayang dan hanya mementingkan karir nya. Bagi nya karir nya adalah yang pertama. Sedang kan anak seperti diri nya bukan lah apa- apa.


"Agara.....!!"


"Aga...!!"


"Kamu harus menemui nya... Aku akan membuat mu bertemu dengan nya...!!"


Teriak Sofia dengan kesal. Memanggil Agara yang terus berlalu meninggalkan diri nya.


Membujuk sepupu nya ini benar- benar sangat menguras tenaga. Ia harus berlari mengejar Agara dari mulai gerbang sekolah. Dan apa yang ia dapat kan, hanya kemarahan pria tersebut.


"Kamu harus melihat ku Aga... Apa yang aku rasakan tulus untuk mu... Dan aku akan membuat mu dan Tante Savina bersama lagi..." Batin Sofia, memandangi punggung Agara yang semakin kecil di mata nya.


...----------------...


Acara puncak kegiatan MPLS berjalan dengan begitu lancar.

__ADS_1


Dengan telaten dan cerdas, Dion bisa melaksanakan acara ini tepat waktu dan meriah.


Murid baru, benar- benar merasa gembira dengan acara ini.


Begitu pula dengan semua dewan guru, mereka begitu puas dengan kinerja semua osis, terutama sang pemimpin Dion si ketua osis.


Dion sedang bersender di salah satu pilar dengan ke dua tangan bersedekap di depan dada. Sementara bibir nya melengkung , menciptakan sebuah senyuman, ia sedang memandangi keberlangsungan acara yang di buat nya, berjalan begitu lancar dan meriah.


Ia merasa puas dengan semua kerja keras yang selama ini ia lakukan. Dan hasil nya sungguh sangat memuaskan.


"Dion...!" Panggil seseorang dengan memegang bahu nya.


"Lix... Ada apa??" Tanya Dion yang langsung memutar tubuh nya, untuk menghadap ke arah Felix.


"Tangki air di sebelah selatan kosong... Aliran listrik ke tangki itu putus.... Sedangkan kita harus mengisi tangki itu.. Kamu tahu kan tangki itu adalah tangki terdekat dari tempat acara..." Lapor Felix dengan serius.


Dion mengedarkan pandangan nya pada tangki air yang berukuran 15 liter yang di maksud Felix.


Dion terdiam sejenak, memikirkan apa yang harus di lakukan.


Ke dua netra Dion menangkap siluet gadis mungil yang sedang duduk sambil tersenyum. Menikmati acara yang sedang berlangsung.


Dion menarik ujung bibir nya, membentuk sebuah seringgai penuh kelicikan.


"Raehan.....!!" Teriak Dion memanggil gadis mungil tersebut yang tak lain adalah Raehan.


Raehan menoleh ke arah sumber suara. Tampak di saja Dion sedang melambaikan tangan ke arah nya.


Dengan berat hati, Raehan menyeret kaki nya menuju si ketua osis.


Ia benar- benar tidak bisa menikmati acara puncak sebentar saja karna ulah si ketua osis yang sangat menyebalkan. Pikir Raehan dengan memanyunkan bibir nya ke depan.


"Ada apa kak...???" Tanya Raehan saat sudah sampai di depan Dion.


Felix langsung menunjukkan wajah tidak suka pada Raehan. Yang di respon biasa- biasa aja oleh Raehan.


"Aku punya tugas untuk mu.... Sekarang kamu harus mengisi Tangki Air itu sampai penuh..." Ujar Dion dengan seringgai licik nya. Dengan telunjuk nya menunjuk ke arah tangki air.


"Hah..."


Mulut mungil Raehan langsung terbuka lebar, membentuk huruf O. Saat ke dua netra nya menangkap tangki air dengan ukuran 15 liter.


...----------------...


...****************...


Terus pantangin cerita nya ya...


Like


koment.


Vote


gift.


Rak favorit.

__ADS_1


Yuk dukung terus karya ini....!!!


__ADS_2