Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Aku rela menunggu


__ADS_3

...364...


Motor Vespa berwarna Orange milik Raehan berhenti di basemant Mall diikuti oleh mobil Dion yang diparkir di tempat mobil yang lain. Keempat pemuda dalam mobil tersebut keluar dengan wajah senang.


Sedangkan Raehan, sibuk membukakan tali helm yang dikenakan Agara. Sungguh terbalik bukan? Seharusnya ia yang dibukakan tali helm oleh Agara tapi malah ia yang melakukan hal itu.


"Astaga, itu bukannya terbalik ya? Seharusnya Agara yang membukakan helm untuk Raehan. Sepertinya dunia kalian sudah terbalik," olok Fir dengan menepuk jidatnya konyol.


"Haduh, jomblo yang ngak tahu apa-apa diminta diam. Jaman sekarang yang terbalik itu romantis," sahut Niel dengan mengedipkan matanya pada Raehan, yang direspon dengan jari jempol oleh gadis itu.


"Udahlah, kalian selalu saja bertengkar. Ini kita kapan masuknya," sungut Kazuya dengan mencebikkan bibir kesal.


"Kazuya benar, kalau kalian mau bertengkar lebih baik adu jotos di atas ring. Dari pada terus berdebat seperti emak-emak," sambung Dion dengan berjalan lebih dulu masuk ke dalam Mall. Di ikuti oleh kelima remaja tersebut.


Agara meraih tangan Raehan dan menggengamnya dengan erat. Di mana ia menatap Raehan yang berada di sampingnya.


"Jangan jauh-jauh dariku!" seru Agara sedikit menekan kalimatnya.


"Memangnya kenapa? Aku ingin jalan-jalan dan melihat barang-barang yang lucu," balas Raehan dengan menaikkan kedua alisnya ke atas.


"Aku tidak mau kamu hilang."


"Tapi aku bukan anak kecil."


"Tapi tubuhmu kecil kan."


"Ck, dasar menyebalkan." Wajah Raehan cemberut dengan bibir yang dimonyongkan lima centimeter.


"Aku hanya bercanda. Aku akan menemanimu berbelanja. Kamu bisa membeli apapun yang kamu inginkan." Agara mengusap lembut kepala Raehan.


"Tapi aku tidak punya uang." Jujur Raehan. Rasanya. ia segan untuk membeli benda-benda mahal di tempat ini. Coba saja mereka ke pasar, uang yang ada di saku seragamnya pasti bisa membeli beberapa potong pakaian. Sedangkan di sini, ia hanya bisa membeli satu saja.


"Tenang, ada pacarmu di sini. Aku akan membayar barang yang kamu inginkan."


"Benarkah?"


"Tentu saja, tidak mungkin aku membiarkan gadisku membayar sendiri. Kamu tahu, aku sangat bangga dengan kejujuranmu. Kamu tidak malu mengatakan jika kamu tidak punya uang." Agara menatap lekat kedua bola mata coklat milik Raehan.


"Kenapa aku harus malu? Mengatakan hal yang sebenarnya lebih baik daripada harus bergaya sok kaya dan sok keren padahal kere."


"Benar sekali. Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta pada gadis polos seperti dirimu," puji Agara yang membuat Raehan tersipu malu dan membuang wajah. Sungguh, hatinya bergetar jika terus menatap wajah tampan Agara. Ia tidak pernah mengira jika seorang Agara Vanderzee kini menjadi kekasihnya. Kekasih yang sangat mencintai ia melebihi cintanya sendiri. Sungguh, ia adalah gadis yang sangat beruntung.

__ADS_1


"Dion, Kazuya!" panggil Agara pada dua pria yang tengah sibuk memilih baju.


"Iya, ada apa Aga?" tanya Dion spontan.


"Aku jalan-jalan sama Raehan dulu ya. Kayaknya dia mau beli sesuatu."


"Oke, kalian bisa pergi tapi ingat kita harus berkumpul di satu tempat nanti."


"Memangnya di mana?"


"Bioskop!" usul Niel dengan berteriak karena posisi mereka sedikit jauh.


"Yah, kali ini aku setuju dengan si kuda nil. Setelah selesai berbelanja kita bisa menonton sebelum pulang. Pasti akan sangat menyenangkan," setuju Fir mendukung usulan Niel.


"Baiklah, kita akan bertemu di bioskop. Kami pergi!" seru Agara, kemudian menarik tangan Raehan pergi. Di mana Dion hanya bisa memandangi hal tersebut dengan wajah datar.


Kedua sejoli yang tengah kasmaran itu terus saja saling menggandeng tangan masing-masing. Mereka terlihat seperti pasangan yang sangat lucu. Sang pria tinggi dan sang gadis pendek. Sang pria tampan dan sang gadis imut. Mereka terlihat sangat serasi. Bahkan, mereka sampai mengundang rasa iri di hati pasangan lain.


"Kamu mau beli apa?" tanya Agara dengan manis.


"Hmm, es krim," jawab Raehan dengan sangat antusias. Persis seperti anak kecil yang menemukan harta karun.


Agara dan Raehan masuk ke dalam outlet eskrim. Mereka memesan es krim dengan rasa coklat dan strawberry. Lalu, keduanya duduk dengan manis menungu pesanan datang.


"Kak Aga," panggil Raehan dengan suara lembut.


"Iya, Sayang," jawab Agara dengan mesra dan berhasil membuat Raehan kembali tersipu malu. Rasanya, ada jutaan kupu-kupu yang menggelitik perut Raehan sehingga ia merasa geli saat Agara memanggilnya dengan panggilan Sayang.


"Sebentar lagi Kak Aga bakal lulus." Raehan menghentikan kalimatnya.


"Iya, terus?"


"Aku pernah dengar jika Kak Aga akan pergi ke Inggris. Apa Kak Aga tetap akan pergi?" Raut wajah Raehan berubah serius. Di mana kalimatnya terdengar lemah dan sedih. Belakangan ini, ia kepikiran akan hal itu. Saat ia bertengkar dengan Agara pria itu mengatakan jika dia akan pergi ke Inggris. Akan tetapi, hubungan mereka sudah membaik. Apa Agara akan tetap pergi?


"Apa kamu takut aku pergi?" Agara tersenyum tipis. Ia bisa melihat ketakutan di mata Raehan.


"Jika aku mengatakan iya. Apa Kak Aga akan tetap di sini bersamaku?"


"Jika iya, aku akan membawamu pergi bersamaku."


"Maksudmu?" tanya Raehan bingung dengan kalimat Agara. Ia sama sekali tidak mengerti.

__ADS_1


"Kita bisa pergi bersama ke Inggris. Bagaimana, kamu mau kan?"


"Tapi, sekolahku belum selesai. Butuh dua tahun lagi. Lalu, bagaimana bisa kita pergi bersama?"


"Aku akan menunggu hingga kamu lulus."


"Tidak mungkin."


"Kenapa tidak, aku bisa menunggumu hingga puluhan atau ratusan tahun. Bahkan, jika kamu ingin aku menunggumu selamanya pun aku akan melakukannya," tutur Agara dengan serius. Yah, ia rela menunda cita-ciatanya demi Raehan. Jika Raehan tidak ingin ia pergi. Maka ia tidak akan pergi. Baginya sekarang, tidak ada yang lebih penting dari Raehan.


"Maksudku, itu adalah waktu yang cukup lama untuk menunggu. Bagaimana dengan impian dan cita-cita Kak Aga. Menungguku hanya akan membuang-buang waktumu."


Agara tersenyum lebar karena Raehan sangat mengkhawatirkan dirinya. Ia menyelipkan anak rambut Raehan yang jatuh ke wajah gadis itu kebelakang telinga.


"Impianku adalah dirimu. Cita-citaku tak kalah lebih penting dari dirimu. Bagaimana bisa aku meninggalkan masa depanku. Bagiku, waktu untuk menunggumu bukanlah waktu yang sia-sia tapi itu adalah cinta yang akan membuat aku bahagia."


Hati Raehan seketika meleleh mendengar deretan kalimat menyentuh dari bibir Agara. Demi dirinya, Agara rela menunda cita-citanya. Bukankah Ia sangat egois jika meminta Agara tetap bersama dengannya dan merelakan cita-cita pria yang sangat ia cintai?


"Aku tahu, Kak Aga sangat mencintaiku dan aku juga mencintai Kak Aga. Cita-cita Kak Aga adalah hal yang penting bagiku. Aku tidak ingin Kak Aga menunda hal itu. Kak Aga harus meraih cita-cita Kak Aga. Kita bisa berpisah tapi hati kita tidak akan jauh. Aku tidak papa, jika Kak Aga harus pergi ke Inggris tapi cepatlah pulang. Dan Kak Aga harus selalu memberiku kabar," ucap Raehan sedih.


"Apa kamu yakin?"


"Aku yakin tapi jangan coba-coba mencari gadis lain di sana." Peringat Raehan dengan memasang wajah galak.


"Jika aku sudah menemukan berlian kenapa aku harus capek-capek cari lagi."


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


komentar


gift


vote


tips

__ADS_1


__ADS_2