
...311...
Pintu rumah dibuka dengan perlahan. Dari balik daun pintu terlihat Tuan Levi dengan wajah lesu. Ia berjalan masuk dengan lemas lalu merebahkan tubuhnya di sofa.
Rasa empuk dari sofa tidak membuat pikirannya yang stres menjadi rileks. Tuan Levi memijat lembut pangkal hidungnya. Sementara tangannya memegang berkas kerjasama dengan Mr. Vinsion.
Dari arah kamar, terlihat Nyonya Marissa mendekati sang suami.
"Popsy sudah pulang," ujar Nyonya Marissa dengan memasang senyum manis.
Tuan Levi mengalihkan tatapannya ke arah sumber suara. Ke dua sudut bibirnya terangkat ke atas melihat senyum indah sang istri. Setidaknya disambut dengan senyum manis itu membuat beban pikirannya sedikit berkurang.
Nyonya Marissa duduk di samping Tuan Levi. Ke dua tangannya langsung terangkat memijat pundak sang suami. Ia tahu jika suaminya sedang banyak pikiran, soal kerjasama yang bagi Tuan Levi sangat merugikan pihaknya.
"Bagaimana hasil diskusi kalian? Apa pendapat Kepala Desa serta Bendahara untuk masalah ini?" tanya Nyonya Marissa dengan suara lembut menyejukkan.
Tuan Levi menghela nafasnya panjang. Lalu tertunduk dalam menatap berkas yang ada di tangannya.
"Mereka setuju untuk syarat yang di ajukan Mr. Vinsion. Akan tetapi, bagiku ini semua tidak benar. Aku sudah menjelaskan konsekuensi yang sangat besar jika sampai ada kesalahan dari pihak kita, tapi mereka lebih memikirkan untung dari pada rugi," jawab Tuan Levi frustasi. Ia hanya tidak ingin mempertaruhkan ratusan kehidupan keluarga untuk kesepakatan ini. Namun, mengembalikan modal Mr. Vinsion juga tidak mungkin.
"Aku tidak mengerti soal bisnis ini, tapi jika ini keputusan semua orang. Mungkin itulah keputusan yang terbaik."
"Bagaimana bisa keputusan terbaik? Jika aku mempertaruhkan banyak kehidupan. Jika ini hanya menyangkut hidupku, mungkin aku tidak akan berpikir sejauh ini, tapi bisnis ini adalah mata pencaharian penduduk desa."
Nyonya Marissa terdiam, apa yang dikatakan oleh sang suami memang benar. Semuanya terasa begitu sulit dan rumit.
"Tapi, kerugian itu hanya akan terjadi jika pihak kita melakukan kesalahan kan. Jika tidak, maka semuanya akan baik-baik saja. Semua pihak sudah menyetujui kesepakatan ini. Mufakat sudah didapatkan, jadi aku rasa kau memang harus menyetujui kerja sama ini," saran Nyonya Marissa, menyuarakan pendapatnya.
Tuan Levi menatap lekat wajah sang istri yang selalu cantik di matanya. Meski berat, tapi apa yang dikatakan oleh Nyonya Marissa memang benar. Semua pihak sudah setuju, ia sama sekali tidak memiliki suara untuk menolak kerja sama ini. Walaupun, jauh di lubuk hatinya ia tidak menerima keputusan ini.
"Aku pulang!" seru Raehan yang langsung mendobrak pintu dan masuk begitu saja. Hal itu membuat Tuan Levi dan Nyonya Marissa tersentak kaget. Untung jantung mereka cukup kuat, sehingga tidak langsung putus dari gantungannya.
"Astaga anak ini, kalau masuk ketuk pintu dulu," sinis Nyonya Marissa sambil mengelus dadanya, sementara ke dua matanya melotot pada Raehan.
Raehan hanya menyengir melihat ekspresi ke dua orang tuanya.
__ADS_1
"Maaf Mom, Pop," ucap Raehan yang langsung melempar tubuhnya ke atas sofa.
"Lion mana?" tanya Raehan lagi sembari mengedarkan pandanganya.
"Lion sudah pergi ke asrama, semoga anak itu betah di sana," jawab Nyonya Marissa dengan raut wajah sedikit sedih. Namun, sedetik kemudian ia kembali memasang wajah ceria, menyembunyikan kesedihannya.
"Aku berharap juga seperti itu, kapan-kapan kita akan mengunjungi anak nakal itu," tutur Raehan menghibur Nyonya Marissa yang meski terlihat baik-baik saja, tapi ia tahu ibunya itu sedih.
"Tidak, kita tidak akan mengunjungi Lion. Kita tidak diizinkan untuk menemuinya karena itu adalah peraturan di sana," ujar Tuan Levi, memasang wajah sebiasa mungkin. Ia tidak ingin Raehan melihat wajah cemasnya.
"Asrama macam apa seperti itu?" Raehan memasang wajah tidak percaya.
"Sudahlah, Lion pasti akan baik-baik saja di sana."
"Oh ya, Mom, Popsy. Aku ingin minta izin untuk mengikuti acara di puncak." Raehan meletakkan kertas undangan berwarna hijau di atas meja.
Tuan Levi langsung mengambil kertas itu dan mulai membacanya, begitu pula dengan Nyonya Marissa.
"Kamu boleh mengikuti kegiatan ini, tapi Popsy punya syarat untukmu." Suara Tuan Levi terdengar menegas.
"Syarat?" Raehan mengerutkan keningnya.
Raehan melebarkan bibirnya, bahkan gigi-giginya terlihat seluruhnya.
"Tentu saja Popsy, aku akan memastikan jika putrimu ini akan pulang dengan selamat," ucap Raehan dengan mantap.
...----------------...
Sementara Agara sedang sibuk mengemas barang-barang yang akan ia bawa ke puncak. Bibirnya sejak pulang sekolah tidak pernah berhenti untuk tersenyum.
Kali ini, ia akan memanfaatkan situasi ini sebaik mungkin untuk meluluhkan hati Raehan. Hati gadis mungil itu memang sangat keras, tapi ia yakin jika cinta akan mencairkan perasaan gadis itu.
Agara meraih hoddy putih di dalam lemari. Untuk sejenak ke dua matanya berkaca-kaca saat mengingat kenangan indah antara dirinya dan Raehan saat ia mengenakan hoddy ini.
Semuanya terlihat begitu nyata di pelupuk mata Agara. Senyum indah Raehan, lalu tawa nyaring gadis itu. Semuanya tertanam begitu kuat di kepalanya.
__ADS_1
Agara segera memasukkan hoddy tersebut ke dalam tas.
"Selesai, tinggal menyusun rencana untuk membuat Raehan berada dalam tim ku. Aku tidak akan membiarkan Dion dekat-dekat dengan Raehan. Virus itu tidak boleh terus menempel dengan kekasihku," gumam Agara dengan seringgai misterius. Ia segera meraih kunci motornya dan keluar dengan cepat dari apartemen.
Berbanding terbalik dengan Dion yang tengah sibuk dengan laptop di depannya. Sedangkan Niel memasang wajah masam sambil menatap tajam ke arah Dion.
"Aku akan membuat Raehan berada di dalam tim ku, aku tidak akan membiarkan Agara mengambil kesempatan di acara ini," ujar Dion bermonolog pada dirinyanya sendiri. Namun, mampu didengar oleh Niel.
"Hei, Dion. Ini curang, Raehan akan berada di tim yang sesuai dengan urutan namanya. Kau juga tidak perlu khawatir karena urutan nama Agara berada di atas sama sepertimu," celetuk Niel malas, yang langsung mendapat tatapan membunuh dari Dion.
"Aku tidak mau tahu, aku ingin Raehan berada di tim ku. Umumkan saja jika tim dipilih acak, mudahkan?"
"Terserah padamu saja. Bagaimana dengan Kazuya? Apa kau yakin dia bisa melewati tes itu?"
"Aku yakin, Raehan juga menyakini hal itu. Jadi tidak ada alasan bagiku untuk ragu."
"Sepertinya cinta membuat kepalamu bergeser," cibir Niel dengan nada mengejek.
"Aku mengutukmu, semoga kamu bernasib sama sepertiku," ujar Dion mengutuk Niel, yang berhasil membuat Niel menelan ludahnya dengan paksa.
Dion bangkit dari duduknya, lalu meraih ranselnya dan berjalan keluar ruangan osis. Niel langsung melebarkan matanya.
"Ion, kamu mau kemana?" ujar Niel setengah berteriak.
"Pulang!" sahut Dion tanpa menoleh kebelakang.
"Ah, sial dia meninggalkanku," umpat Niel yang langsung meraih ranselnya dan berlari mengejar Dion. Dimana sebelumnya ia mengunci ruangan osis terlebih dahulu.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa like
koment
__ADS_1
vote
gift