
...235π...
Raehan mengerem, membuat laju motor nya berhenti.
Terlihat beberapa orang tengah berkerumunan di dekat lampu merah.
Hingga membuat laju lalu lintas macet.
"Ada apa sih di sana?" Tanya Raehan terus menelisik kerumunan yang tak jauh dari nya.
Raehan memutus kan untuk menunggu hingga nanti motor nya bisa melaju.
"Kasihan banget di gebukin tuh pengamen...!"
"Iya kata nya dia copet yang sering ngintilin dompet orang- orang..!"
"Anak jaman sekarang bukan nya sekolah malah jadi copet...."
Gosip para ibu- ibu yang lewat dari dekat Raehan.
Raehan yang mendengar hal itu kini tahu jika kerumunan orang- orag itu sedang menghakimi seorang pencopet.
Tapi jika ia tetap tidak bisa lewat, bisa- bisa ia terlambat sampai di sekolah.
"Mbak... Itu di depan ngak ada jalan buat lewat?" Tanya Raehan pada salah seorang wanita yang jauh lebih tua dari nya. Yang sedang melajukan motor nya melawan arah.
"Ngak ada dek.. Orang- orang lagi gebukin pencopet di depan.. Kasihan banget darah nya keluar banyak..." Jelas sang wanita sambil memasang wajah ngeri.
Raehan segera turun dari motor nya. Jika tidak di henti kan maka jalanan akan semakin macet.
Raehan sedikit kesal dengan orang- orang yang memilih menghakimi seseorang sendiri dari pada menyerah kan nya ke pihak yang berwajib.
Ia juga penasaran seperti apa wajah pencopet yang sudah meresah kan masyrakat itu.
Meski menurut nya tindakan orang- orang memang benar. Namun tetap saja ia memiliki nurani sebagai manusia yang akan kasihan melihat orang lain di hajar hingga babak belur.
"Permisi..." Beo Raehan menyingkir kan beberapa orang untuk memberi kan jalan.
Tubuh Raehan terhimpit oleh kerumunan, bahkan ia sampai merasa sesak dan hampir terjatuh karna di dorong oleh orang- orang yang sedang menyaksi kan aksi pembantaian seorang pencopet.
Hingga akhir nya Raehan bisa masuk dan menyelusup mendekat.
Ternyata bertubuh kecil membuat diri nya dengan mudah menerobos kerumunan.
Namun ke dua bola Raehan langsung membola dengan mulut yang terbuka lebar.
Melihat seorang pria dengan wajah familiar bagi Raehan yang tengah terkapar tak berdaya dengan wajah yang hancur karna terus menerima bogeman dari seorang pria berotot.
Sesekali pria berotot itu menendang perut pria yang sudah hampir pingsan itu tanpa ampun.
Sementara Raehan menatap nanar di mana ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Kazuya...!" Lirih Raehan memanggil nama pria yang sudah terkapar tak berdaya itu.
__ADS_1
Ia sangat mengenal wajah khas blasteran jepang pria itu yang sudah membantu nya saat ia hampir terjatuh di mall.
"Ini lah balasan bagi diri mu sampah masyarakat..!" Pekik pria berotot itu melayang kan kaki nya yang hendak menginjak kepala Kazuya.
Kazuya memejam kan mata nya nya dalam, mungkin ini lah akhir dari hidup nya. Batin nya pasrah.
Satu detik...
Dua detik...
Tiga detik.. Berlalu.
Namun Kazuya tidak merasa kan kepala nya pecah terinjak kaki besar pria berotot itu.
Perlahan dengan takut Kazuya membuka kelopak mata nya.
Di mana ia melihat sepasang tangan putih tengah menghalangi kaki pria berotot yang akan menyentuh kepala nya.
Bahkan tangan itu memerah menahan tekanan yang di beri kan oleh kaki tersebut.
Kazuya menggerak kan kepala nya untuk melihat siapa pemilik tangan yang sudah menyelamat kan diri nya.
Di mana tatapan nya terkunci pada wajah gadis imut yang pernah ia temui beberapa minggu yang lalu di mall.
Gadis yang sempat ia tangkap saat terpeleset dan hampir jatuh.
"Raehan...!" Lirih Kazuya dengan gerakan bibir nya.
Raehan menghempas kan kaki pria berotot tersebut yang menatap nya kaget.
"Hei gadis kecil apa yang kamu lakukan..? Kenapa kamu menyelamat kan pencopet ini?" Bentak pria berotot itu tak terima.
Raehan menatap tajam pria itu, di mana tatapan nya siap membelah tubuh pria di hadapan nya.
"Dia sudah hampir mati dan paman ingin membunuh nya... Apa tidak ada sedikit pun rasa kasihan di hati paman untuk pria remaja ini..?" Sentak Raehan tak kalah marah.
Kazuya langsung bangkit dengan perlahan.
Tubuh nya terasa sakit karna terus mendapat pukulan tanpa ampun dari pria berotot itu.
"Kamu berani membela pencopet itu...! Kamu tahu dia sudah mencopet dompet ku..."
"Tidak.. Aku tidak mencopet dompet nya.. Tadi dompet nya jatuh di depan ku.. Aku hanya ingin mengembali kan dompet nya tapi dia langsung memukul ku dan mengata kan jika aku yang mencopet dompet nya..." Kazuya mengeluar kan suara nya. Menjelas kan apa yang sebenar nya terjadi.
Ia memang pencopet dulu, tapi sungguh sekarang diri nya sudah bertobat.
Bahkan diri nya memilih untuk menjadi pengamen dengan hasil yang tidak seberapa. Jauh lebih kecil dari uang yang bisa ia dapat kan dari mencopet.
"Bohong kamu copet.. Mana ada copet akan mengaku... Kamu memang pantas untuk mati...!" Pria berotot itu menyangkal ucapan Kazuya bahkan tangan nya hendak memukul wajah Kazuya.
Bugh..
Dugh...
__ADS_1
Namun belum sempat tangan pria itu menyentuh wajah Kazuya.
Raehan dengan keras menendang tangan pria itu dan memberi kan tendangan lain nya pada dada pria tersebut, hingga tubuh pria berotot itu beringsut mundur beberapa langkah ke belakang.
"Dia sudah mengata kan jika dia tidak mencopet.. Jadi arti nya dia tidak mencopet...!" Bentak Raehan dengan marah. Di mana kini tubuh nya berdiri dengan berkacak pinggang di hadapan Kazuya.
Ia tidak akan membiar kan pria berotot itu menyentuh Kazuya lagi.
"Cih.. Minggir lah gadis kecil.. Dia itu pencopet...!" Teriak pria lain nya.
"Jika memang dia pencopet.. Coba paman periksa dompet paman...! Jika uang atau pun kartu penting di dalam dompet paman berkurang maka aku akan membiar kan kalian menghakimi dia.. Tapi jika tidak ada yang hilang maka apa yang di kata kan pria itu salah dan dia benar..." Seru Raehan lantang membuat jalan solusi yang tepat.
Diri nya percaya dengan apa yang di kata kan Kazuya.
Jadi Raehan pikir jalan yang diri nya buat akan menyelesai kan masalah ini.
Semua orang terdiam. Apa yang di kata kan gadis di hadapan mereka memang benar.
"Ayo periksa dompet mu paman...!" Titah Raehan lagi ketika melihat pria berotot itu hanya diam.
"Iya. periksa saja dompet mu..." Teriak beberapa orang yang mendesak pria berotot itu.
Dengan wajah marah dan tidak terima. Pria berotot itu mengeluar kan dompet nya dan mulai mengecek isi dompet nya.
Wajah pria berotot itu berubah pias dan gelapan saat melihat jika isi dompet nya sama sekali tidak berkurang. Bahkan kartu- kartu penting nya sama sekali tidak hilang satu pun.
Melihat wajah terkejut pria berotot itu sudah bisa tertebak oleh Raehan.
"Apa ada yang kurang paman?" Tanya Raehan menekan suara nya.
...----------------...
...****************...
Jangan bosan terus ya dengan karya othorπππ
Terus pantangin cerita nya ya...
Like
koment.
Vote
gift.
Rak favorit.
Yuk dukung terus karya ini....!!!
kalo ngak koment atau like atau kasi gift..
Kalian benar- benar kejam ama thorπππ???
__ADS_1