
...312...
Matahari menyembul keluar dari persembunyiannya. Kemilau sinar emasnya mulai terpancar ke seluruh kota.
Tidak tertinggal, warna biru langit disertai dengan bercak-bercak putih tak berbentuk yang di sebut awan. Hari yang begitu indah dan juga cerah.
Terlihat Raehan sedang terburu-buru memasukkan semua barang yang akan ia bawa ke acara yang diadakan di puncak. Sejak tadi, gadis dengan bandana putih itu berlari ke sana-ke mari mencari barang-barang yang menurutnya berguna.
"Lihat, sekarang kamu kerepotan menyiapkan barang-barang yang akan kamu bawa kan. Momsy sudah peringatkan sejak kemarin malam untuk menyiapkan semuanya. Kau ini benar-benar gadis pemalas yang kerjanya hanya tidur," oceh Nyonya Marissa karena ulah Raehan. Nyonya Marissa membantu persiapan sang putri karena Raehan membuat gaduh sejak pagi buta.
Ia benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana bisa Raehan tidak menyiapkan barang-barang yang akan dia bawa. Padahal, gadis itu tahu jika dia akan berangkat pagi ini.
Raehan mengerucutkan bibirnya malas. Lagi-lagi ia harus terkena omelan maut dari mulut sang ibu. Beginilah kalau ia tinggal bersama sang ibu, pasti setiap hari paginya di awali dengan sebuah omelan, entah ada ataupun tidak kesalahan yang ia buat sang ibu selalu menemukan bahan dasar untuk mengomel.
"Lihat hoddy putihku ngak, Mom?" tanya Raehan dengan mengeluarkan seluruh pakaian dari dalam lemari.
"Kan, kamu yang pakai kemarin Rae. Sudah cukup, jangan keluarkan semua bajumu Rae, Momsy tidak mau merapikan lemarimu lagi. Kamu ini seorang gadis atau laki-laki sih? kelakuanmu sudah mengalahkan anak laki-laki," jawab Nyonya Marissa dengan omelan.
"Ck, terus aku pakai apa? Di puncak udaranya pasti dingin," keluh Raehan dengan menekuk wajahnya dalam.
"Ya, kamu bawa jaket yang lain Rae."
"Hmm, aku lagi tidak suka memakai jaket Mom. Saat ini aku sedang suka memakai hoddy, selain longgar juga terasa nyaman dan hangat," kekeh Raehan.
Nyonya Marissa merotasi bola matanya malas. Putrinya memang sangat keras kepala, sama seperti dirinya yang selalu ingin mendapatkan keinginannya.
"Emang pake baju musiman ya Rae, tergantung mood suka atau ngak. Kamu tuh bawaannya ribet banget sayang, udah sini Momsy ambilin jaket hitam." Nyonya Marissa beranjak hendak mengambil jaket. Namun, tangannya langsung di cekal oleh Raehan.
"Momsy, aku kan sudah bilang kalau aku mau pakai hoddy. Itu artinya, aku tidak mau pakai jaket, apalagi warna hitam. Bisa-bisa semua orang akan terpana padaku karena kecantikan kulitku yang putih pasti akan terpancar. Aku tidak ingin menjadi rebutan mereka Mom," renggek Raehan.
Puk!
Satu toyoran dari tangan Nyonya Marissa melayang di pelipis Raehan, membuat Raehan meringgis kesakitan sembari mengelus pelipisnya.
__ADS_1
"Mom, sakit," protes Raehan tidak terima.
"Tuh, biar kamu sadar dari alam mimpi. Percaya diri sekali kamu jika jadi rebutan orang. Bilang saja kamu sedang menjaga hati Agara bukan?" sindir Nyonya Marissa memasukkan beberapa potong bandana ke dalam tas ransel Raehan.
"Ah, Momsy tahu aja," kekeh Raehan dengan cengiran ala kuda.
"Tapi, putrimu ini memang cantik lo Mom. Selain itu juga manis, imut, lucu, dan mungil. Makanya putrimu ini berhasil menaklukkan tiga pria tampan," ucap Raehan dengan bangga sambil mengedipkan sebelah matanya genit.
"Ya, itu juga berkat Momsy Rae karena kecantikanmu menurun dari Momsy, jadi jika dibandingkan, Momsy jauh lebih cantik, he ... he ...," balas Nyonya Marissa tidak ingin kalah sombong dengan putrinya.
Sepertinya kepercayaan diri Raehan memang di turunkan dari Nyonya Marissa. Sehingga ke dua ibu dan anak itu, sama-sama tidak ingin mengalah satu sama lainnya.
Setelah mencari cukup lama, akhirnya Raehan menemukan hoddy putih yang ia cari. Tentu saja, ia menggunakan pakaian hangat itu untuk perjalanan menuju puncak.
Entah mengapa dirinya tidak bisa mengendalikan hatinya yang ingin mengenakan hoddy tersebut. Namun, saat kenangan manis dirinya dan Agara kembali terbayang dalam memori ingatannya, kedua sudut bibirnya pun terangkat ke atas mengukir senyum indah.
Tuan Levi yang sudah menunggu Raehan di depan rumah, akhirnya mengembangkan senyum saat melihat putrinya keluar dengan satu tas ransel yang cukup besar menyampir di punggung.
"Kamu bawa apa Rae? Banyak banget, udah kayak mau pindah rumah," celetuk Tuan Levi sambil tertawa ringan.
"Banyak? Astaga bahkan ini terlalu sedikit Popsy. Ini semua gara-gara Momsy yang terus mengurangi barang-barang yang akan aku bawa," sindir Raehan sembari melirik kesal ke arah Nyonya Marissa.
"Ya sudah, sekalian saja kamu bawa kamarmu ke puncak," sinis Nyonya Marissa.
Tuan Levi tertawa melihat perdebatan putri dan istrinya, yang sudah menjadi tradisi setiap pagi.
"Baiklah Mom, aku pergi dulu ya," pamit Raehan dengan mengecup kedua pipi sang ibu.
"Hati-hati sayang, ingat jangan menyusahkan menantu Momsy di sana," bisik Nyonya Marissa memperingatkan.
"Ish, Momsy kok malah khawatirin Kak Aga sih, lagi pula aku akan membuat dia mati cemburu di sana. Biar dia tahu rasa sudah berani menyakitiku ... Auuuu, sakit Pop," pekik Raehan langsung saat tangan Tuan Levi menarik daun telinganya.
"Sudah Popsy ingatkan, jangan bermain laki-laki. Atau izinmu Popsy cabut,"
__ADS_1
"I-- iya, Pop." jawab Raehan dengan terbata-bata karena telinganya terasa tercabut dari kepalanya.
"Ya sudah, ayo masuk!" seru Tuan Levi, lalu masuk ke dalam mobil, diikuti oleh Raehan.
Mobil tersebut segera melaju keluar pekarangan rumah, meninggalkan Nyonya Marissa yang masih berdiri memandangi kepergian mobil sang suami yang kini menghilang dari pandangannya.
...----------------...
Tidak butuh waktu satu jam, mobil Tuan Levi akhirnya sampai di depan gerbang Milver High School. Terlihat empat bus besar dan mewah sudah terparkir di depan gerbang. Begitu pula dengan para murid yang pernah mengikuti seleksi Osis juga terlihat berlalu lalang. Namun, tidak seramai saat sekolah biasa. Mungkin karena peserta yang akan ikut haya seratus orang murid, anggota Osis, serta dewan guru.
"Rae, ingat pesan Popsy jangan membuat ulah!" seru Tuan Levi saat Raehan akan turun dari mobil.
"Popsy tenang saja, aku tidak akan membuat masalah jika tidak ada yang mengusikku," jawab Raehan menyakinkan sang ayah. Entah mengapa sang ayah berpikir seperti itu, rasanya sang ayah tahu jika ia akan memberi pelajaran pada Kiara saat sampai di puncak.
"Popsy akan pegang ucapanmu Rae," tekan Tuan Levi dengan menatap Raehan tajam.
Raehan merespon peringatan sang ayah dengan senyum lebar terkesan malas. Ia tidak ingin memperpanjang obrolan ini dengan sang ayah. Raehan segera turun dari mobil, dimana sebelumnya ia sempat mengecup pipi Tuan Levi penuh kasih sayang.
Maaf Popsy, aku tidak akan membuat ulah. Hanya saja aku akan memberikan pelajaran pada Kiara. Batin Raehan memandangi kepergian mobil Tuan Levi, sembari melambaikan tangan.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
koment
gift
vote
__ADS_1