Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Tiga rival dalam satu tim


__ADS_3

...322...


Malam semakin larut. Kegelapan semakin membalut malam. Malam ini, sang bulan tak muncul, hanya beberapa bintang yang menghiasi pekatnya langit malam.


Suara gemerisik dedauanan yang saling bergesekan ditimpa angin, disertai dengan suara serangga malam yang terdengar seperti sebuah nyanyian pengantar tidur.


Semua aktivitas sudah terhenti. Masing-masing tenda yang dihuni oleh para peserta telah ditutup rapat. Suara dengkuran halus dan gerakan kecil mewarnai malam hening dan juga sepi ini.


Terlihat di bawah pohon, empat Anggota Osis tengah berjaga. Guliran waktu pertama adalah tugas mereka hingga beberapa jam kedepan. Mereka adalah, Dion, Agara, Niel, dan juga Felix.


Keempat orang itu hanya diam tanpa mengeluarkan suara. Mereka memasang wajah dingin dan datar. Dari sekian banyaknya Anggota Osis, Dewan Guru malah mengatur mereka dalam satu tim.


Bagaimana bisa mereka berjaga dengan tenang, jika patner berjaga adalah rival satu sama lain. Hanya aura permusuhan yang bisa dirasakan, khususnya antara Dion dan Agara.


Niel menguap untuk yang kesekian kalinya. Ia benar-benar sial karena di tugaskan bersama tiga pria yang tidak memiliki humor yang bagus. Sejak tadi, ketiganya hanya diam sembari menepuk nyamuk yang hinggap. Sungguh sangat membosankan dan membuat mengantuk.


"Ini kita lagi ngeronda, apa nongkrong di kuburan sih? Sepi banget, anyep tau ngak," celetuk Niel sambil nyengir ala kuda sakit gigi.


Agara, Dion, dan Felix langsung menatap tajam Niel, yang langsung menutup mulutnya.


Ya ampun, kenapa aku harus terjebak dengan tiga pangeran dari dunia gaib sih, batin Niel mencebikkan bibirnya lalu menyenderkan tubuhnya pada pohon yang ada di belakang.


Sunyi, sepi, dan hening kembali menyerang, membuat suasana menjadi mengantuk. Niel mengucek kedua matanya yang sungguh sangat berat. Berjaga tanpa mengobrol sungguh membuat ia mengantuk, apalagi tugas mereka akan berakhir empat jam lagi.


"Huh, lucu ya, tiga rival bergabung dalam tim yang sama," kekeh Niel tanpa melihat ke arah tiga pria horor di sampingnya.


"Maksudmu apa? Niel, bisa tidak kamu tidak bicara, telingaku terasa kebas mendengar ocehanmu itu!" seru Felix dengan wajah kesal, lalu mengeratkan kain yang digunakan untuk melilit tubuhnya.


"Haduh, kalian itu ya. Setidaknya lupakan dulu masalah Raehan. Ayolah, kita menjadi teman yang akrab. Sumpah, aku benar-benar akan tidur jika tidak ada obrolan di antara kita. Berjaga dengan kalian benar-benar sangat membosankan," oceh Niel dengan nada bosan.

__ADS_1


"Aku lebih bosan lagi melihat wajahmu," sela Dion tanpa berdosa.


"Bisakah, mulutmu itu di saring sedikit Ion?" cibir Niel memutar kedua matanya kesal. Mulut Dion benar-benar sangat pedas. Sekali kalimat yang keluar dari mulutnya selalu menusuk.


"Hhh karena mulutnya memang tidak punya etika, hanya bisa mengatakan hal kotor," sindir Agara yang membuat seluruh mulut seketika menjadi bungkam.


Niel langsung membekap mulutnya sendiri, sementara Felix melongo tidak percaya. Untuk pertama kalinya ia mendengar Agara berbicara secara langsung, dan kata yang diucapkan sangat menusuk dan tajam, seperti sebilah pedang samurai yang berhasil mengoyak emosi lawan.


Dion mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Kalimat singkat yang keluar dari mulut Agara benar-benar menjadi amunisi kemarahannya. Pria itu pikir dia lebih baik dari dirinya? Hh, sungguh sangat sombong.


"Mulutku memang tidak memiliki etika, tapi setidaknya aku bukan pria yang sudah mempermainkan hati perempuan," balas Dion tak kalah pedas.


Agara menatap Dion dengan tatapan permusuhan. Keduanya saling menatap dan mengintimidasi satu sama lain. Lagi-lagi, Dion mengungkit masalah yang sama. Masalah yang membuat darah Agara mendidih panas.


"Hhh, apa kamu tidak memiliki senjata lain? Selain mengungkit masalah itu? Apa kamu pikir dengan mengingatkan aku kembali Raehan akan menjadi milikmu? Itu, tidak akan terjadi." Agara menekankan setiap kalimatnya dengan tegas dan penuh amarah.


"Lalu, kau? Kamu pikir Raehan akan memaafkanmu setelah kau menyakitinya? Itu, juga tidak akan terjadi."


"Inilah yang membedakan antara kita Dion. Kamu mencintai Raehan dengan egomu bukan karena ketulusan. Cinta yang tulus tidak perlu permintaan maaf karena dia akan datang sendiri. Sampai kapan Raehan akan terus marah padaku? Lihat saja, sebentar lagi dia akan berlari ke arahku dan akan memelukku karena dia tahu cinta yang kutawarkan lebih besar dari cinta yang dia berikan." Agara segera bangkit, lalu melenggang pergi meninggalkan ketiga pria yang masih menatap kepergiannya.


Buk!


Dion meninju batang pohon dengan keras. Punggung tangannya seketika memerah. Berani sekali Agara mengatakan jika cintanya tidak tulus. Ia yakin, jika Raehan tidak akan memaafkan pria seperti Agara.


"Aku rasa apa yang dikatakan Agara memang benar. Lebih baik, kamu jauhi Raehan. Aku saja yang lebih tampan darimu tidak dilihat. Apalagi dirimu," ujar Felix absurd yang langsung mendapat tatapan menghunus dari Dion.


"Tutup mulutmu itu, aku mungkin menyerah untuk mendapatkan Raehan, tapi aku tidak akan membiarkan Raehan jatuh dalam pelukan pria seperti Agara." Dion bangkit dari duduknya. Lalu melenggang pergi ke arah yang berlawanan arah dari Agara.


Kini tinggal Niel dan Felix yang saling menatap dengan tatapan kosong. Niel mengendikkan bahunya, niat hati ingin mencairkan suasana. Ia malah membuat suasana terasa sedang perang dunia ketiga.

__ADS_1


"Kau yang sok mengajari Dion untuk menjauhi Raehan, apa kamu juga berhasil move-on dari adik manisku itu?" tanya Niel dengan wajah melindungi. Yah, seperti yang ia katakan barusan. Ia menganggap Raehan seperti adiknya karena gadis itu memang sangat manis dan lucu.


"Kamu pikir melupakan cinta pertama itu mudah? Apalagi aku dipatahkan oleh cinta pertamaku. Tapi, setidaknya aku tahu diri, jika Raehan tidak mencintaiku dan dia hanya mencintai Agara. Lalu, untuk apa aku berjuang? Berjuang untuk seseorang yang bukan untuk kita adalah perjuangan yang sia-sia."


"Waww, Lix, kata-katamu sangat bijak."


"Tentu saja, kamu akan merasakan apa yang aku rasakan saat kamu jatuh cinta dan dipatahkan oleh gadis yang sama."


"Hei, tarik kembali ucapanmu itu! aku tidak mau patah hati seperti kalian. Gadis yang kucintai pasti juga menyukaiku." Niel meninggikan suaranya, ia tidak setuju dengan perkataan Felix yang terdengar seperti kutukan.


"Ha ... Ha ..., kamu pikir dunia percintaan itu jalannya hanya lurus saja? Tidak, Niel. Jalan yang akan kamu tempuh sangat terjal."


"Hah, sudahlah aku tidak butuh pelajaran dari playboy sepertimu." Niel membuang muka.


"Cih, menjadi player itu menyenangkan, tetapi hanya satu gadis yang berhasil membuat duniaku berbalik 180° dan dia adalah Raehan. Dia gadis yang unik dan menarik. Seharusnya saat pertama kali bertemu dengannya aku menarik perhatiannya bukan malah menjadi musuhnya. Dia berhasil membuatku sakit hati, dia membalas dendam berkali-kali lipat."


...----------------...


...****************...


jangan lupa


like


koment


gift


vote

__ADS_1


tips


__ADS_2