
...19...
Kring...
Bel sekolah berbunyi dengan nyaring, menandakan jam sekolah usai.
Seluruh siswa maupun siswi berhamburan keluar. Seperti seorang penjahat yang telah lama di kurung dalam sel penjara.
Tidak tertinggal pula, Raehan, Miya dan Fir ikut berhamburan keluar kelas.
Sementara jam sudah menunjuk kan pukul tiga sore.
Tiga sekawan yang baru resmi menjadi teman itu berjalan beriringan menuju parkiran.
"Kapan- kapan kita boleh donk mampir ke kontrakan kamu Rae..." Pinta Fir dengan wajah yang di buat lucu.
"Iya Rae,, aku sangat kesepian di rumah..." Ucap Miya memelas.
"Memang nya orang tua mu kemana??" Tanya Raehan dengan fokus ke depan menatap jalanan.
"KERJA..!!" Timpal serempak Miya dan Fir yang langsung tertawa lepas. Saat mendengar jawaban mereka yang serempak.
Anak orang kaya, selalu saja kesepian. Seperti kisah dalam ftv. Pikir Raehan mendengar jawaban dua teman nya yang selalu berbicara tanpa permisi.
"Boleh kok... Kalian kapan- kapan bisa main ke tempat ku.. Tapi tidak hari ini..." Timpal Raehan, saat mereka bertiga sudah sampai di depan vespa orange kesayangan Raehan.
"Iya kami mengerti kok... Minggu aja kali ya Mi...??" Tanya Fir meminta persetujuan pada Miya.
"Ide bagus..." Miya mengangguk cepat.
Raehan memasang helm dan menaiki vespa nya. Memberi salam perpisahan kepada ke dua teman nya lalu menarik gas motor nya.
Meluncur berdampingan bersama pengendara lain nya di jalanan.
Senyum tak pernah putus dari wajah nya. Meski tadi siang ada sedikit perdebatan dengan Kiara.
Tapi ya sudah lah, ia sudah mendapat kan waktu berdua bersama pangeran nya, Agara.
...----------------...
Agara tampak masuk ke dalam mobil dengan tergesa- gesa.
Melempar tas nya keras ke dalam mobil sport berwarna silver.
Tampak di belakang nya Sofia berlari dengan cepat. Menarik pintu mobil yang hendak di tutup.
"Aga... Kamu tidak bisa bersikap seperti ini terus... Kamu harus menemui tante Sabrina...!!" Teriak Sofia pada Agara yang terlihat tidak memperdulikan diri nya.
Agara menarik pintu mobil nya cepat. Tidak peduli tangan Sofia masih ada di sana atau tidak.
Bagi nya wanita yang bernama Sabrina sudah mati. Bersama dengan hati nya yang membatu.
Mobil Agara melesat pergi. Meninggalkan Sofia tanpa mengatakan sepatah kata pun.
__ADS_1
Apa pun yang di katakan sepupu nya itu, hanya angin lalu bagi nya. Tidak penting sama sekali.
"Agara...!!!" Panggil Sofia saat mobil sport merah itu melaju dengan kencang.
Dengan kesal, ia menendang udara begitu saja. Betapa pun ia berusaha Agara tidak pernah mau mendengarkan nya.
Harus dengan apa lagi ia meminta Agara untuk menemui Sabrina ibu nya yang saat ini kondisi nya tidak baik- baik saja.
Entah terbuat dari apa hati laki- laki ini. Yang ada hanya benci dan dendam yang terlihat di mata nya untuk sang ibu.
...----------------...
Raehan menatap lurus ke jalanan, di samping kanan dan kiri, di depan lalu di belakang nya. Banyak sekali kendaraan yang berlalu lalang.
Tentu saja, karna ia sedang berada di jalan raya bukan di kuburan sehingga tidak ada orang.
Hati nya memekik senang, saat moment tadi pagi melayang di kepala nya.
Jalur kuning sudah terbuka, butuh usaha sedikit lagi untuk melelehkan hati es Agara.
Namun, wajah berseri Raehan berubah serius saat di sisi jalan ada mobil yang berhenti.
Sedang kan di depan nya ada tiga orang yang seperti nya sedang beradu mulut.
Dua di antara nya memakai pakaian khas berandal persis seperti preman.
Yang satu nya lagi memakai seragam sekolah yang sama dengan diri nya.
Hah!!
Ke dua mata bulat Raehan langsung membesar, saat ke dua preman tersebut menodongkan pisau ke leher pria dengan rambut coklat terang nya, serta wajah yang tampan bak pahatan patung yunani.
Raehan segera memberhentikan vespa nya di belakang mobil sport silver mewah.
"Kak Aga... Astaga dia lagi di begal... Gawat nih..." Gumam Raehan yang langsung turun dari sepeda motor nya, tanpa membuka helm yang di kenakan.
Ia buru- buru mendekat ke arah ketiga pria yang sedang adu mulut.
Antara Agara yang tidak ingin menyerahkan barang- barang berharga nya pada ke dua begal yang sedang menodongkan senjata di leher nya.
"Misi... Misi... Pak..." Ujar Raehan sambil mendorong tubuh begal yang sedang menodongkan senjata pada Agara.
Menangahi di antara ke dua nya , agar tidak terjadi sesuatu yang sedang berada di otak kecil nya.
Ke dua begal tersebut langsung melotot ke arah Raehan dengan wajah seram nya.
Berani sekali gadis kecil ini, menghalangi aksi nya pikir ke dua preman tersebut yang menatap Raehan heran.
Entah dari mana datang nya gadis di depan nya ini. Tapi ia sudah berhasil mengacaukan aksi kriminal nya.
Berbeda sekali dengan Agara, ia tampak bingung kenapa di saat menegang kan seperti ini. Gadis sial ini malah datang menengahi mereka.
Apa gadis sial ini tidak takut dengan ke dua preman berwajah seram?.
__ADS_1
"Aaahhh... Minggir kamu jangan berani- berani menghalangi ku...!!" Protes teman sang preman yang satu nya dengan kesal.
"Oke... Dengan senang hati om.. Saya tidak akan mengganggu Om selagi om tidak membahayakan orang lain.." Balas Raehan santai, meski saat ini ke dua pria dengan tubuh kekar menatap nya dengan marah.
"Dengar Om.. Om butuh berapa memang??.. Sebut aku akan memberikan nya..." Lanjut Raehan dengan mengendik kan bahu nya.
"Kamu menghina kami... Kami begal bukan pengemis..!!" Teriak preman yang menodongkan senjata pada Agara.
Raehan memejam kan matanya sejenak, saat gendang telinga terasa ngilu mendengar teriakan preman di depan nya.
"Aahhh jangan salah paham dulu Om.. Aku bilang begitu bukan untuk menghina om.. Aku hanya ingin membantu saja.
Aku tahu, Om melakukan ini semua untuk mendapatkan uang kan??.. Untuk memenuhi kebutuhan Om.. Tapi apa kalian mencari uang dengan tidak halal seperti ini...
Aku dengan yakin mengatakan jika selama ini kalian pasti tidak pernah hidup dengan tenang kan?"
Ke dua preman tersebut saling memandang. Memandang dengan tatapan seolah- olah setuju dengan perkataan gadis di depan nya.
Hidup mereka selalu luntang lantung di buru polisi, di benci masyarakat.
"Nahkan.. Aku benar.. Anggap saja aku sedang membantu om.. Aku tahu om tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah.. Tapi tidak selama nya tangan di bawah itu hina.
Bukan kah membegal jauh lebih rendah dari pada tangan di bawah om..
Pikir kan hidup om berdua.. Apa akan selalu seperti ini, atau berubah menjadi lebih baik lagi.." Lanjut Raehan dengan lembut.
Menatap ke dua wajah seram pria di depan nya, yang tidak lagi garang seperti awal tadi.
Raehan berbalik menghadap Agara, yang memilih untuk diam memperhatikan apa yang akan di lakukan gadis sial ini.
"Dompet..!!" Pinta Raehan dengan menengadahkan tangan nya pada Agara.
...----------------...
...****************...
Terus pantangin cerita nya ya...
Like
koment.
Vote
gift.
Rak favorit.
Yuk dukung terus karya ini....!!!
kalo ngak koment atau like atau kasi gift..
Kalian benar- benar kejam ama thorðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜?
__ADS_1