
...13...
Matahari bersinar begitu cerah, namun awan menghalangi kemilau sinar nya, membuat bumi menjadi teduh.
Raehan berjalan di koridor sekolah, dengan ke dua tangan nya memegang tali ransel yang tergantung di punggung nya.
Sementara wajah nya, melebarkan senyum penuh keceriaan.
Bagaimana tidak? diri nya sangat bahagia. Karna sekarang ia terbebas dari masa penjajahan selama tiga hari. Sungguh sangat melegakan.
Ia juga sangat bahagia , karna hari ini ia akan masuk ke kelas nya, dan bertemu dengan teman- teman baru.
"Hmmmm pasti hari ini sangat menyenangkan..." Batin Raehan dengan memperlihatkan deretan gigi nya, yang sudah seperti pagar rumah.
Dengan satu langkah kaki yang terayun, Raehan sudah memasuki sebuah ruangan yang luas, dengan pelang XA yang tertulis di depan pintu.
Mata Raehan mengedar ke seluruh ruangan. Di beberapa sisi ada siswa baru yang lain nya, yang sibuk memilih tempat duduk masing- masing. Membuat diri nya begitu bersemangat melihat setiap wajah yang akan setiap hari ia temui. Ya, wajah teman- teman sekelas nya.
Raehan segera melangkah menuju bangku di barisan pertama. Meletak kan tas ransel nya, dan siap mendudukkan bokong nya di kursi.
"Heiiii,, jangan duduk di sana..!!!" Ujar seseorang yang membuat Raehan tidak jadi duduk.
Raehan mengalihkan pandangan nya, pada sosok perempuan yang menatap nya.
Penampilan siswi tersebut cukup menor untuk seorang remaja di usia nya. Dengan polesan make up yang kontras dengan warna kulit nya yang eksotis.
"Tempat duduk itu, sudah ada yang punya... Kamu boleh pilih tempat duduk yang lain..." Lanjut nya lagi lalu duduk di bangku barisan ke tiga.
Raehan kembali mengambil ransel nya, dan berjalan mendekati bangku di baris ke dua.
Saat hendak menduduki kursi, lagi- lagi suara yang sama menghentikan diri nya.
"Heii... Jangan duduk di situ... Bangku itu sudah ada yang punya.. Kami sudah memilih tempat duduk setelah acara puncak kemarin selesai..." Ujar siswi yang sama , dengan nametage Kiara. Yang tersemat pada seragam di bagian kiri sebelah dada.
"Ck... Terus aku duduk di mana??... Jika semua bangku sudah di pilih...?" Batin Raehan dengan menatap deretan bangku yang mulai penuh terisi oleh para siswa dan siswi.
"Kalo mau... Bangku paling belakang masih kosong..." Ujar Kiara lagi, sambil memunjuk bangku paling belakang.
Raehan menghela nafas nya panjang. Biasanya ia selalu duduk di barisan terdepan. Karna tinggi badan nya yang pendek, membuat diri nya harus duduk di depan.
Tapi sayang nya, semua bangku sudah terisi penuh.
Dengan berat hati, ia melangkah menyeret kaki nya menuju bangku belakang. Sebenar nya ia sangat tidak suka duduk di posisi belakang, tapi mau bagaimana lagi.
__ADS_1
Waktu begitu berjalan dengan cepat.
Seorang guru wanita paruh baya, datang dengan senyum ramah nya.
Mengisi pelajaran di hari pertama.
Kring....
Kring...
Kring...
Bel sekolah berbunyi , pertanda jam istirahat di mulai.
Raehan mengemas buku pelajaran dan alat tulis nya. Memasuk kan nya ke dalam ransel.
"Woiiii...." Sapa seseorang pria dari arah depan. Sambik menggebrak meja Raehan pelan.
Raehan mengangkat wajah nya, menatap wajah siswa laki- laki yang ternyata adalah teman sekelas nya.
"Boleh duduk di sini ngak...??" Tanya nya, dengan menunjuk bangku di samping Raehan yang kosong.
"Bukan nya dia yang duduk di kursi depan?? kenapa pindah ke belakang???" Batin Raehan heran, dengan dahi berkerut.
Tanpa menunggu persetujuan Raehan, yang diam saja. Siswa laki- laki itu langsung duduk dan meletakkan ransel nya.
"Hehe.... Iya,, senang mempunyai teman seperti mu Fir... Kenalin aku Raehan... Panggil aja Rae... Atau apa pun yang kamu suka..." Balas Raehan dengan kekehan ringan.
Setidak nya ia memiliki rekan bangku, jadi ia tidak lagi merasa kesepian. Dengan duduk sendiri apalagi di kursi paling belakang.
"Kalau aku panggil sayang???" Sosor Fir dengan menurun- naikkan alis nya. Menunggu sebuah jawaban.
"Aku rasa itu terlalu berlebihan... Panggil aja Rae..." Balas Raehan dengan tatapan melongo.
Semua laki- laki sama saja, suka merayu wanita walaupun wanita yang baru di kenal nya. Pikir Raehan.
"Haha... Aku bercanda.. Jangan di bawa perasaan ya..." Cicit Fir, yang langsung membuat Raehan semakin tidak mengerti, dengan kepercayaan diri Firman yang sangat tinggi, teman yang baru saja ia kenal.
"Hah..."
"Kamu dari mana Rae...??"
"Aku dari desa... Jauh dari kota ini..."
__ADS_1
"Trus kamu tinggal di mana???" Mimik wajah Firman berubah menjadi penasaran.
"Aku nyewa rumah ngak jauh dari sekolah..."
"Itu artinya kamu tinggal sendiri??"
"Iya..."
"Wah... Keren banget... Kamu wanita mandiri.. Salut aku sama kamu Rae..." Ujar Fir dengan kagum, dengan sosok Raehan.
"Kamu bisa aja... Ha... Ha..." Tawa Raehan, melihat ekspresi kagum teman baru nya yang sangat lucu di depan nya.
"Ya udah aku ke kantin dulu.. By Fir..." Ucap Raehan lagi, lalu bangkit dari duduk nya. Dan melangkah pergi meninggalkan Firman.
...----------------...
Sementara Di ruang osis. Beberapa siswa yang menjabat sebagai osis, tengah sibuk mengurus berkas- berkas murid baru yang sudah resmi menjadi siswa dan siswi di sekolah ini.
Mengumpulkan berkas tersebut, dan menyerahkan nya pada pihak TU (Tata Usaha) Sekolah.
Namun berbeda dengan ketua mereka. Dion, yang hanya duduk termenung di meja ujung dengan tangan memangku dagu nya.
Pikiran nya saat ini benar- benar kacau. Masa kekuasaan nya atas Raehan sudah berakhir sekarang.
Gadis Pendek yang selalu berada di dekat nya selama tiga hari, yang selalu menurut dengan ucapan nya, dan mengerjakan setiap perintah yang ia perintah kan.
Tapi sekarang, gadis itu sudah bebas dari nya. Dan entah kenapa hal itu membuat mood nya jelek hari ini.
Ia lebih banyak diam, tidak seperti biasa nya.
"Ck... Kenapa sih aku kepikiran terus ama si pendek itu... Bukan nya bagus kalau dia jauh- jauh dari ku... Tapi suara nya yang cempreng, wajah nya yang kesal dan bandana yang selalu menghiasi kepala nya itu... Kenapa selalu mengusik pikiran ku sih..." Batin Dion dengan berdecak kesal.
"Dion...!!" Panggil Anet menepuk bahu Dion.
"Iya.. Rae..." Jawab Dion dengan cepat dan membalik badan nya ke arah Anet.
"Rae???" Tanya Anet dengan mengerutkan dahi nya tidak suka.
Dion menghela nafas nya panjang. Karna kaget dan sedang memikirkan gadis pendek itu. Ia sampai- sampai salah menyebut nama orang.
Gadis pendek itu benar- benar sudah mengusik pikiran nya. Pikir Dion dengan mengalihkan pandanga nya.
"Raehan ngak ada di sini... Aku Anet bukan Raehan..." Ketus Anet, lalu duduk di samping Dion.
__ADS_1
...----------------...
...****************...