
...313...
"Pagi, Rae!" seru Dion dengan senyum lebar di bibirnya. Raehan sedikit tersentak kaget dengan kedatangan Dion yang tiba-tiba.
Raehan mengusap dada kirinya, lalu membalas senyum Dion dengan sedikit terpaksa.
"Bisa ngak sih, Kak Dion ngak ngagetin aku. Udah kayak jaelangkung tahu, datang tak di undang pulang tak diantar," sindir Raehan dengan memicingkan matanya, yang langsung membuat Dion terkekeh lucu melihat ekspresi wajah Raehan yang sangat menggemaskan.
"Kamu jangan ngomong terlalu jujur Rae, kalau kedatanganku sama sekali tidak diharapkan." Dion mencubit gemas pipi kanan Raehan yang terlihat menggoda seperti kue mocchy.
Plak!
"Sakit," keluh Raehan dengan menepuk keras tangan Dion. Sehingga tangan pria itu berhenti mencubit gemas pipinya.
"Galak banget rubah betinaku," ledek Dion dengan mengedipkan sebelah matanya genit, yang semakin membuat Raehan kesal.
"Oke, maaf ya Rae. Ya, udah kita masuk yuk! Sebelum berangkat kita baris dan berdoa dulu," ajak Dion yang langsung diangguki oleh Raehan.
"Mau, aku bawakan ranselmu?" tawar Dion menunjukkan perhatiannya pada Raehan. Meskipun, ia tahu hasilnya, jika Raehan tidak akan pernah bisa membalas perasaannya.
"Terimakasih, Kak. Tapi, tidak usah aku bisa bawa sendiri," tolak Raehan lalu berjalan masuk ke dalam sekolah, yang di ikuti oleh Dion.
Di sudut lapangan, tepatnya di bawah tiang basket. Terlihat Agara sedang tersenyum bahagia melihat sosok gadis yang memang sudah ia tunggu kedatangannya.
Namun, yang membuat hatinya berbunga-bunga adalah Raehan ternyata mengenakan hoddy putih sama seperti dirinya. Ia tidak menyangka jika gadis keras kepala itu memakai pakaian yang senada dengannya. Padahal, ia dan Raehan tidak mengikat janji untuk memakai hoddy yang sama.
Bahkan takdirpun mendukung kita Rae. Kau memakai hoddy yang sama saat kita mengukir kenangan indah yang tidak bisa ku lupakan. Hal ini membuktikan jika hatimu dan hatiku terhubung. Meski tanpa berkata, hati kita memiliki ikatan yang sangat erat. Batin Agara menatap intens pada Raehan yang sedang berjalan beriringan dengan Dion.
Yah, sebenarnya melihat Raehan berjalan di samping Dion menyulut api cemburu di hati Agara. Namun, api itu padam seketika saat melihat Raehan mengenakan hoddy yang sama.
Tatapan Raehan tanpa sengaja jatuh pada Agara yang berdiri jauh di sudut lapangan. Kedua mata Raehan melebar dengan sempurna saat melihat ternyata Agara mengenakan hoddy yang sama dengannya.
Ia sama sekali tidak menduga jika Agara akan mengenakan hoddy dengan warna yang senada dengan dirinya. Apa Agara mengintip atau menguntit dirinya?
Jika saja Raehan tahu Agara juga mengenakan hoddy berwarna putih. Ia pasti tidak akan mengenakan hoddy ini. Lagi pula, kenapa dirinya begitu bodoh dan konyol dengan terbawa perasaan.
__ADS_1
Wajah Raehan seketika memerah tersipu malu. Ia segera memalingkan wajahnya, saat Agara tersenyum genit ke arahnya.
Hhhh, astaga seharusnya aku tidak pakai hoddy ini. Aku yakin pasti kepala Kak Aga bertambah besar. Batin Raehan dengan rasa gengsi sebesar gunung everest.
Setelah seluruh peserta, anggota Osis, serta dewan guru datang. Dion segera memerintahkan bawahannya untuk mengatur barisan seluruh peserta.
"Silahkan, semuanya atur barisan kalian dengan rapi!" seru Niel menggunakan speker, sehingga suaranya bisa didengar oleh semua orang.
Para murid yang berjumlah seratus segera memposisikan dirinya. Begitu pula dengan Raehan yang harus berada di posisi paling belakang. Tentu saja karena faktor tinggi badan.
Anggota Osis berdiri di setiap sisi peserta, menjaga agar para peserta tidak merusak barisan mereka. Sementara delapan dewan guru yang ikut sudah berderet dengan rapi di depan peserta, dimana Dion berapa di tengah-tengah para dewan guru.
Raehan merasa dejavu akan momen ini. Ia kembali mengingat saat pertama dirinya masuk sekolah, dimana seluruh murid baru diperintah untuk berbaris. Semuanya posisi terasa sama, bahkan tatapan memuja dari peserta perempuan untuk Dion pun juga terulang.
Hanya satu yang tida akan terulang, saat ia melihat Agara untuk pertama kalinya, dan langsung jatuh cinta detik itu juga. Tanpa sadar bibir Raehan tersenyum saat mengingat kekonyolan dirinya.
Namun, sedetik kemudian senyum Raehan luntur, bersamaan dengan tatapannya yang mencari sosok Agara yang tidak terlihat sama sekali.
Pantas saja terasa kurang, Kak Aga dimana? Apa dia tidak ikut berbaris juga?. Hhh, aku lupa dia itu hanya model dalam anggota Osis. Dia tida mungkin mau ikut berbaris di lapangan. Batin Raehan menyimpulkan pendapatnya sendiri. Ia merasa sangat kesal saat melihat foto mesra Agara dan Lessia yang di pasang sebagai Banner acara ini.
Raehan langsung menoleh ke belakang. Terlihat Agara tengah tersenyum dengan alis turun naik, seolah sedang menggoda Raehan.
Raehan segera memutar kepalanya menghadap ke depan. Ia benar-benar konyol, dirinya benar-benar malu karena ketahuan mencari-cari Agara yang ternyata berdiri tepat di belakangnya.
Pantas saja sengatan matahari tidak menyentuh tubuhnya karena terhalang oleh tubuh tinggi Agara. Raehan menepuk jidatnya bodoh, ego dan gengsi dalam dirinya langsung hancur berkeping-keping.
Agara melipat bibinya menahan tawa yang ingin meledak melihat reaksi Raehan. Gadis itu mungkin menyangkal perasaannya, tapi lihatlah bahasa tubuhnya tidak bisa berbohong.
"Ekhmm, jangan khawatir aku akan selalu di sisimu," celetuk Agara lagi sementara tatapannya tertuju pada dewan guru yang sedang menyampaikan pembukaan Acara.
"Jangan ke ge-eran, aku tidak sedang mencarimu, dan aku juga tidak membutuhkanmu," timpal Raehan dengan sinis.
Agara tersenyum tipis, mendengar ucapan Raehan.
"Oh, ya, lalu kenapa kamu berhenti celingak-celinguk mencari seseorang setelah kamu tahu aku ada di belakangmu?"
__ADS_1
Bam!
Bibir Raehan langsung bungkam. Agara berhasil mengskakmat dirinya. Untuk pertama kali ia tidak bisa mengelak atau mematahkan kesimpulan seseorang.
Ahhh, sial. Raehan dasar konyol. Seharusnya kamu tidak perlu mencari keberadaan Kak Aga. Lihat, sekarang kepalanya akan bertambah semakin besar. Rutuk Raehan membatin dengan menekuk wajahnya jelek. Andaikan bisa, ingin sekali rasanya ia melipat wajahnya dan memasukkan ke dalam ransel di punggungnya.
"Dengarkan semua, kalian akan di bagi ke dalam tiga Bis. Sementara Bis yang satunya akan digunakan oleh dewan guru dan anggota Osis yang tidak menjadi pengawal peserta. Baiklah anak-anak, sebelum kita berangkat, mari sama-sama kita menundukkan kepala sejenak untuk berdoa kepada tuhan agar kita diberikan keselamatan hingga sampai di tujuan. Berdoa Mulai!" seru dewan guru yang bertugas sebagai kepala acara.
Seluruh peserta menundukkan kepala mereka, berdoa dalam hati untuk keselamatan mereka sampai ke tujuan bahkan hingga pulang kembali.
"Doa selesai!" seru dewan guru itu lagi, membuat para peserta kembali menegakkan kepalanya.
Setelah barisan peserta di bubarkan. Para peserta diminta untuk mengambil nomer kursi serta nomer Bis yang akan di tumpangi.
Raehan mendapat tempat duduk pada Bis terakhir. Ia pun segera bergegas untuk masuk ke dalam Bis. Raehan meletakkan ranselnya, lalu duduk. Membuka gorden kaca untuk melihat pemandangan jalan yang akan ia lalui.
Ia bersikap acuh, dengan suara-sura ribut dari beberapa peserta yang bercanda maupun yang sedang mencari kursi duduk mereka.
Raehan juga acuh dengan kursi di sampingnya yang masih kosong. Entah siapa yang akan duduk di sampingnya, tapi ia tidak memperdulikan hal itu.
"Raehan datang puncak," lirih Raehan dengan wajah bahagia.
...----------------...
...**************...
Jangan lupa
like
komentar
gift
vote
__ADS_1