Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Amarahnya dipending dulu!


__ADS_3

...316...


Raehan meniup kedua mata Agara dengan hati-hati, berharap jika kedua mata Agara akan terasa lebih baik. Sedangkan Agara, mengunci tatapannya pada wajah Raehan yang terlihat cantik dengan posisi sedekat ini.


Bibir pich gadis itu maju kedepan, meniupkan nafas dengan aroma bumbu keripik. Lalu, pipi chuby Raehan terlihat mengembung dan mengempis. Sungguh pemandangan yang begitu indah dan eksotis. Ia sama sekali tidak mampu untuk sekedar berkedip, takut jika wajah Raehan akan menghilang dari jangkauannya.


Setelah merasa cukup, Raehan melepas tengkuk Agara. Ia manatap lekat wajah tampan yang masih menatapnya dengan penuh damba.


"Bagaimana, apa sudah terasa lebih baik?" tanya Raehan dengan menautkan alisnya.


Agara hanya bisa diam memandang wajah Raehan. Telinganya terasa tuli dengan waktu yang sedang berhenti bergerak.


"Kak Aga," panggil Raehan dengan menggoyangkan bahu Agara.


Seketika, Agara tersentak dan langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kenapa?" tanya Agara dengan gagu.


"Apa matamu sudah tidak perih lagi?" tanya Raehan dengan menghembuskan nafasnya kasar.


"Bagaimana tidak menjadi lebih baik jika yang meniupnya adalah kau," jawab Agara dengan gombalan, yang langsung mendapat pukulan ringan dari Raehan di lengannya.


"Aku ini sedang serius, tidak sedang menerima gombalan receh seperti itu," sinis Raehan dengan wajah jutek.


"Oh ya, aku juga sedang serius, Rae, sumpah." Agara membentuk jarinya menjadi huruf V. Jika yang ia katakan barusan bukanlah gombalan.


"Terserah." Raehan memilih melihat keluar jendela. Menikmati pemandangan pinggir jalan yang sudah mulai memasuki kawasan sepi.


Bibir Raehan tersenyum tipis, bahkan sangat tipis. Jujur, ia sangat senang mendengar gombalan Agara barusan. Rasanya saat ini hatinya di gelitik oleh ribuan kupu-kupu, terasa sangat geli tapi sangat romantis.


Sedangkan Agara memilih untuk memandangi Raehan, meski gadis itu menoleh ke luar jendela Bis. Namun, Agara tidak ingin melewatkan hal ini. Meski ia hanya menatap bagian belakang kepala Raehan. Akan tetapi, ia sudah merasa sangat senang.


Bis terus berjalan menerobos jalanan yang semakin memasuki area pedesaan. Ladang hijau, serta kebun buah-buahan terlihat di tata dengan begitu rapi. Matahari juga ikut turun menuju arah barat. Di mana sinarnya sudah berubah keemasan. Udara juga menjadi sedikit dingin mungkin karena Bis sudah memasuki kawasan puncak.


Seluruh peserta juga terlihat letih. Ada beberapa orang yang memilih untuk tidur karena merasa lelah dengan perjalanan yang panjang. Ada pula yang memilih untuk memainkan ponsel mereka, serta ada juga yang memakan perbekalan yang mereka bawa. Perjalanan jauh membuat perut mereka mulai meringgis kelaparan.


Begitu pula dengan Raehan. Ia juga merasa lelah dan bokongnya terasa panas. Sudah berjam-jam ia terus duduk tanpa berdiri. Rasanya bokongnya yang tidak berlemak semakin menjadi gepeng, pupus sudah harapan untuk memiliki pantat yang bohai dan semok.

__ADS_1


Belum lagi kedua kelopak matanya yang terasa semakin lengket dan berat. Biasanya setiap hari ia tidak pernah melewatkan tidur siang, mungkin efek kebiasaan tersebut membuat mata Raehan ingin segera terpejam.


Agara yang memperhatikan gelagat Raehan yang mulai uring-uringan tentu saja sadar, jika sang gadis sudah merasa sangat letih. Bahkan, ia juga melihat Raehan beberapa kali menguap dengan kedua mata yang terlihat sayu.


"Apa kau lelah, Rae?" celetuk Agara melempar pertanyaan pada Raehan. Gadis itu menoleh ke arah Agara sembari mengusap matanya yang terasa sangat berat.


"Iya, Kak. Aku capek, apa perjalanannya masih jauh?" keluh Raehan dengan suara malas.


"Tinggal empat jam lagi." Agara mengusap puncak kepala Raehan dengan lembut, membuat rasa kantuk semakin menyerang Raehan. Usapan tangan Agara di kepalanya terasa sangat nyaman. Kali ini, Raehan tidak menolak sentuhan dari Agara. Dia juga tidak bersikap jutek dan galak karena memang kondisinya saat ini sedang tidak ingin untuk berdebat ataupun bertengkar.


"Ternyata masih lama, bisa-bisa pantatku bener-bener gepeng lagi karena terlalu lama duduk," ucap Raehan yang sudah mulai merenggek seperti anak kecil.


"Kemarilah, tidurlah dalam pelukanku. Miringkan tubuhmu ke samping!" titah Agara merentangkan tanganya di balik kepala Raehan. Sementara bibirnya terkekeh geli mendengar renggekan polos Raehan.


Tanpa menolak, Raehan menyenderkan kepalanya di bahu Agara, lalu memiringkan tubuhnya ke samping. Sehingga tubuhnya sedikit merasa rileks dan nyaman. Tidak ingin membuang kesempatan, Agara memeluk Raehan dengan sebelah tangannya yang digunakan Raehan sebagai bantalan.


Raehan menggesek-gesekkan kepalanya mencari posisi yang pas di bahu Agara. Aroma tubuh Agara yang maskulin membuat tubuhnya semakin rileks dan nyaman.


Ternyata di peluk Kak Aga sambil tidur enak banget. Mana dia wangi banget. Haduh, ngak papa deh marahannya dipending bentar. Batin Raehan dengan tersenyum geli dengan pikirannya sendiri.


"Kau merasa nyaman?" tanya Agara memastikan jika gadis di dalam pelukannya merasa nyaman tidur di bahunya.


"Kalau begitu tidurlah!" seru Agara sembari tangannya yang bebas mengelus lembut rambut Raehan.


Raehan lagi-lagi di bawa melayang oleh Agara. Di perlakukan seperti ini, membuat sedikit amarahnya pada Agara mulai pudar.


"Boleh peluk?" tanya Raehan dengan menggigit bibir bawahnya. Dasar dirinya selalu memanfaatkan situasi, meski saat ini pikirannya sedang memperingatkan dirinya untuk menjauh dari Agara. Namun, ia sudah terlalu nyaman dalam pelukan Agara.


Lagi-lagi Agara tersenyum mendengar permintaan Raehan. Rasanya ini seperti mimpi, apa Raehan sudah memaafkan dirinya?


"Tentu saja boleh, aku dengan senang hati menjadi bantal guling untukmu," jawab Agara. Mendapat lampu hijau dari sang puan, Raehan tanpa sungkan melingkarkan tangannya di perut Agara. Sehingga tubuhnya semakin merapat.


"Kak Aga wangi sekali," puji Raehan dengan kedua mata yang mulai terpejam. Namun, kembali terbuka.


"Kau suka?"


"Iya."

__ADS_1


"Apa dengan kedekatan kita ini menjadi kode kamu sudah memaafkan aku?"


"Belum."


"Terus, apa maksudmu bersikap manis seperti ini padaku?" Bibir Agara mengerucut tidak terima, dengan kening berkerut bingung.


"Amarahku dipending dulu sebentar karena aku mengantuk. Jadi, itu artinya aku belum memaafkan Kak Aga," jawab Raehan tanpa dosa, sembari menghirup dalam aroma tubuh Agara.


"Aku baru mendengar amarah bisa dipending. Hah, kau ada-ada saja. Itu artinya kamu hanya memanfaatkanku untuk menjadi bantalmu."


Raehan mendongak menatap wajah Agara dengan mata menyipit.


"Oh, jadi kamu tidak ikhlas menjadi bantal untukku. Terus, kenapa tadi nyuruh-nyuruh pake tidur di bahu segala?" Nada bicara Raehan mulai meninggi.


"Ssssttt, mana mungkin aku tidak ikhlas. Baiklah, aku tidak papa jika dimanfaatkan. Asal yang memanfaatkan diriku itu kamu, aku menerimanya dengan senang hati. Tidurlah lagi, gitu aja udah tensi," ucap Agara membujuk Raehan, sembari menarik kepala Raehan untuk kembali menyender di bahunya. Di mana Agara juga menyenderkan kepalanya di atas kepala Raehan. Sehingga mereka semakin dekat.


"Tidurlah, aku akan membangunkanmu di saat kita sudah sampai," ucap Agara lagi, kini dengan ikut memejamkan kedua matanya.


"Hmm." Dehem Raehan sebagai jawaban.


...----------------...


...****************...


Ulu romantis banget.. jadi pengen🥲🥲🥲 tapi sayang othor ngak punya doi😌😌😌


Jangan lupa


like


koment


gift


vote


tips

__ADS_1


Otot maksa nih ya😡


__ADS_2