Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Malam romantis


__ADS_3

...352...


Setelah selesai dengan acara barbeque. Kini semuanya berkumpul di depan gerbang rumah Dion untuk pamit pulang ke rumah masing-masing.


"Ion, makasih untuk hari ini, Bro," ucap Agara dengan memeluk singkat Dion.


"Sama-sama, lain kali main ke sini ya. Gue tunggu," balas Dion dengan mengerlingkan sebelah matanya genit pada Agara, yang di sambut dengan kekehan renyah dari semua orang.


"Kak Dion, aku pamit pulang ya," pamit Raehan dengan memasang senyum termanis.


"Iya, rubah betina." Dion mengacak gemas puncak kepala Raehan. Kali ini, ia leluasa melakukan hal tersebut karena tidak ada lagi yang akan marah. Agara tidak akan merasa cemburu lagi seperti sebelumnya.


"Hmmm, Kazuya kamu aku bungkus aja ya," seloroh Miya asal dengan bergelayut manja di lengan Kazuya yang hanya di respon dengan senyum keterpaksaan. Belum juga Miya pulang tapi dia sudah sangat merindukan Kazuya. Sepertinya pria berwajah Jepang itu sudah berhasil menguasai seluruh hatinya.


"Kamu pikir, Kazuya itu gorengan yang bisa di bungkus-bungkus," cerca Fir dengan ledekan, yang membuat wajah Miya berubah masam.


"Udah ya Fir, kamu itu kenapa sih dari tadi terus aja sewot sama aku. Apa jangan-jangan kamu suka ya sama aku? Makanya kamu itu cemburu banget lihat aku sama Kazuya," tuduh Miya dengan gaya sok cantik.


"Cih, amit-amit bayi kecebong. Sampai yang tersisa cuma kamu satu-satunya gadis di dunia ini. Aku tidak akan pernah suka atau memilihmu. Kazuya, jangan mau dengan gadis jadi-jadian seperti dia. Dia itu sangat menyebalkan dan menyusahkan."


Benar sekali, batin Kazuya yang hanya bisa mengatakan hal itu di dalam hati.


"Aku juga tidak sudi di sukai sama cowok bermulut lemes kayak kamu. Kazuya, jangan dengarkan dia. Dia itu suka sekali menjelek-jelekkan aku." Miya membela diri. Tentu saja, ia tidak ingin Kazuya menganggap apa yang dikatakan oleh Fir benar. Cewek jadi-jadian? Dirinya ini gadis tulen dan masih tersegel rapi.


Agara, Dion, dan Raehan hanya ikut tertawa dari pada ikut mengomentari perdebatan antara Fir dan Miya. Mereka hanya ingin main aman karena pasti ada saja ejekan dan olokan dari mulut lemes Fir jika mereka menyahut. Pria itu sepertinya tidak pernah kehabisan kata-kata untuk membuat keributan.


"Okeh, semua aku dan Raehan duluan," ujar Agara dengan menarik tangan Raehan menuju motor sport miliknya.


"Dah, semua." Raehan melambaikan tangannya pada semua orang, di mana semua orang membalas dengan melambaikan tangan kembali.


"Aga, jaga sahabatku baik-baik. Awas kalau dia sampai lecet!" teriak Miya berpesan pada Agara sebelum motor pria itu melaju membonceng Raehan.

__ADS_1


"Jangan khawatir, Mi. Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padanya. Bahkan, aku tidak akan membiarkan seekor nyamuk pun menggigit Raehan," balas Agara dengan berteriak. Lalu, melajukan motornya meninggalkan rumah Dion.


Hembusan angin malam yang cukup menusuk kulit menerpa wajar Raehan. Rasanya sangat geli dan dingin, saat helaian anak rambutnya berterbangan di tiup angin.


Agara mengarahkan kaca spion motornya agar memantulkan wajah imut Raehan yang tak pernah bosan ia pandang. Setiap detik, ia selalu ingin melihat dan memandang wajah mungil itu yang menjadi ratu dalam hatinya.


Agara tersenyum tipis saat melihat wajah sayu Raehan. Bisa ia lihat, gadisnya tengah mengantuk tapi Raehan memaksa matanya untuk tetap terjaga. Ia mengelus punggung tangan Raehan yang melingkar di perutnya. Merasakan usapan lembut dan hangat, Raehan menoleh ke arah Agara dan meletakkan dagunya di atas bahu Agara.


Keduanya terlihat sangat mesra, masalah yang selama ini mengganggu hubungan mereka akhirnya bisa disingkirkan. Rasa cinta yang semakin tumbuh di hati keduanya membuat rasa ingin memiliki semakin kuat dengan hubungan yang semakin erat.


"Apa aku boleh memanggilmu Sayang sekarang?" tanya Agara dengan pertanyaan tak berdasar, yang membuat Raehan tertawa ringan.


"Jadi, sekarang kamu harus meminta izin untuk memanggilku Sayang?" balas Raehan dengan pertanyaan yang juga membuat Agara semakin tersenyum lebar.


"Tentu saja, aku tidak ingin membuat kesalahan dan membuat gadisku marah. Kan, hubungan kita masih di sembunyikan. Mana berani aku memanggilmu Sayang."


"Uuuu, pacar yang penurut aku suka."


"He ... He ..., Gadis mana yang tidak akan tahan dan jatuh dalam pesona seorang Agara."


"Apa aku tidak salah dengar? Kamu baru memujiku, Sayang."


"Tidak, kamu memang sangat tampan dan aku sangat beruntung memilikimu. Berjanjilah padaku, kamu tidak akan meninggalkan aku."


"Aku berjanji. Sudahlah, sekarang kamu tidurlah. Setelah sampai aku akan membangunkanmu."


"Hmmm, sangat pengertian dan peka. Tapi, aku takut jatuh."


"Aku akan memegangmu. Aku tidak akan membiarkanmu sampai jatuh kecuali jatuh di hatiku."


Raehan tersenyum lebar mendengar gombalan Agara. Terasa geli, seperti ada ratusan ulat bulu yang sedang mengerayani hatinya. Namun, terdengar sangat manis. Raehan menuruti perkataan Agara. Ia menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher sang kekasih, mencari posisi ternyaman. Lalu, memejamkan kedua matanya. Tidak butuh waktu lama, kedua mata Raehan terpejam dengan rapat. Dia tidak bisa berbohong jika dia tidak mengantuk.

__ADS_1


Agara memelankan kecepatan laju motornya. Bukannya untuk sengaja dan membuat mereka sampai lebih lama. Namun, Agara hanya tidak ingin mengambil resiko karena Raehan sedang tidur. Ia tidak ingin Raehan sampai jatuh. Ia juga mengeratkan pegangannya pada tangan Raehan yang melingkar di perutnya.


Dengan seteliti mungkin Agara menghindari lubang dan batu yang ada pada jalanan. Ia tidak ingin goncangan pada motornya membuat sang pujaan hati sampai terbangun. Ia akan berusaha memberikan yang terbaik untuk Raehan.


Sudah cukup luka yang ditorehkan di hati Raehan. Ia tidak ingin lagi berjauhan dan bertengkar terlalu lama dengan gadis itu. Hidupnya sudah sangat ketergantungan pada gadis mungil ini, persis seperti pecandu narkoba yang tidak akan pernah tenang sebelum meminum narkoba. Begitu pula dengan dirinya yang tak akan bisa tenang tanpa Raehan berada di sisinya.


Raehan adalah miliknya, dan selalu akan begitu. Cinta yang ia miliki untuk Raehan sudah terlalu besar hingga untuk menyingkirkannya pun akan terasa mustahil. Ia tidak pernah menduga jika gadis pendek imut ini akan meratui seluruh hatinya. Raehan berhasil mengambil separuh hatinya hingga ia tidak akan merasa lengkap tanpa Raehan.


Motor Agara terus melaju membelah jalanan, melewati satu persatu para pengendara lain. Bulan bulat di atas langit menjadi saksi kisah cinta mereka yang begitu manis. Hembusan angin dan suara deru mesin kendaraan menjadi pelengkap moment romantis keduanya.


...----------------...


...****************...


Nih, otor kasih bonus pic Agara yang ganteng dan si imut-mut Raehan




Jangan lupa


like


koment


gift


vote


tips

__ADS_1


__ADS_2