
...304💛...
Raehan menggosok rambutnya yang basah dengan handuk, ia baru saja selesai mandi.
Drrrtt!
Drrrttt!
Raehan menyambar ponselnya yang sejak tadi terus bergetar. Bibir indah gadis itu langsung mencebik saat melihat nama kontak yang ada di layar ponsel, yang tidak lain adalah Agara.
"Ck, apa dia tidak ada kesibukan dengan terus menelponku," umpat Raehan dengan mematikan panggilan tersebut dan melempar ponselnya ke arah ranjang begitu saja.
"Rae, cepat turun! Makan malam sudah siap," teriak Nyonya Marissa dengan suara melengking yang membuat gendang telinga Raeha langsung bergetar.
"Ck, udah kayak manggil orang tuli di tengah hutan saja," desah Raehan sembari mengusap telinganya yang sedikit terasa kebas. Ia segera melangkah keluar dari kamar, meninggalkan ponselnya yang terus saja bergetar tanpa henti.
Raehan menarik kursi di meja makan tepat di samping Lion. Wajah Raehan terlihat begitu senang saat melihat makanan yang tersaji di depannya, sungguh sangat lezat.
"Hihhh, ekspresimu kayak ngak pernah lihat makanan enak," seloroh Lion dengan asal sambil menjulurkan lidahnya pada Raehan.
Puk!
Satu pukulan mendarat di belakang kepala Lion, siapa lagi pelakunya jika bukan Raehan.
"Jangan berani mengataiku Lion. Kamu juga sama saja," balas Raehan dengan wajah mengejek.
"Dasar gadis kasar. Sepertinya Agara dan Dion sudah buta karna menyukai gadis kasar sepertimu."
"Tutup mulutmu, aku ini cantik makanya mereka klepek-klepek sama aku." Bangga Raehan.
"Ye, bentar lagi mereka sadar kalau cewek yang mereka suka itu ngak ada lembut-lembutnya."
"Lion, Raehan, jika ada di meja makan jangan bertengkar seperti itu," tegur Tuan Levi dengan wajah letih, lalu duduk di hadapan ke dua anaknya yang selalu saja bertengkar setiap bertemu.
Lion dan Raehan mendengus kesal, lalu membuang wajahnya mereka bersamaan.
"Rae, kamu itu harusnya akur donk sama Lion. Besok dia udah mau minggat dari rumah," celetuk Nyonya Marissa menyajikan makanan terakhir, lalu segera duduk di samping Tuan Levi.
"Iya, dasar saudari ngak punya hati. Seharusnya kakak mengasihaniku malam ini, setidaknya dengan memberiku uang karna besok adikmu yang imut serta lucu ini akan pergi," sindir Lion dengan menyuapkan makanan masuk ke dalam mulutnya.
"Pop, apa tidak salah kalian memasukkan Lion ke asrama yang sangat jauh. Bahkan itu di area pegunungan," ujar Raehan berbicara pada sang ayah, mengabaikan perkataan Lion yang tidak penting sama sekali.
Lah, tumben peduli. Batin Lion mencebikkan bibirnya.
Tuan Levi meletakkan sendok di atas piringnya. Lalu menatap Raehan datar.
__ADS_1
"Ini keputusan terbaik untuk Lion," balas Tuan Levi dengan tegas.
"Tapi Pop, Lion bisa masuk asrama di kota ini. Mengapa harus asrama yang jauh seperti itu?" Protes Raehan yang sedikit tidak terima dengan keputusan sang ayah. Meski ia dan Lion sering sekali bertengkar, tapi ia tetap menyayangi Lion.
"Asrama di sana jauh lebih baik dari asrama di sini Rae. Kamu tidak usah protes dengan keputusan Popsy. Fokus saja dengan pendidikanmu."
Raehan menghela nafasnya panjang. Keputusan sudah di tentukan, ia tidak bisa membujuk sang ayah untuk mengubah keputusannya.
"Kak aku baik-baik saja. Aku bisa hidup di asrama sejauh itu. Aku juga suka tantangan jadi jangan khawatir," sela Lion, menyakinkan Raehan yang terlihat tidak setuju.
"Terserah," sinis Raehan seraya memakan makanannya. Lion menggelengkan kepalanya. Padahal ia sudah berbaik hati untuk mengatakan hal itu, tapi lihatlah balasan yang ia dapatkan.
Satu keluarga tersebut makan dalam hening. Hanya dentangan suara piring yang beradu dengan garpu yang terdengar. Tidak ada yang membuka pembicaraan lagi.
...----------------...
Di sisi lain bumi, tepatnya di sebuah apartemen mewah. Terlihat Agara yang tengah gusar sambil menatap layar ponselnya.
Ini sudah ke-200 kalinya ia mencoba menelpon Raehan. Namun, gadis itu sama sekali tidak menjawab panggilan darinya.
Hal itu membuat dirinya sangat kesal. Ia sangat rindu dan ingin mendengar suara cempreng yang terkesan lucu di telinganya. Akan tetapi sepertinya, Raehan memang sengaja tidak menjawab panggilan darinya.
"Huh, dia benar-benar membuat kesabaranku habis," desah Agara dengan menghembuskan nafasnya kasar. Agara meraih hoddy berwarna putih yang menggantung di samping lemari, lalu segera berlari keluar dari apartemen.
Raehan benar-benar menguji kesabarannya. Kali ini ia akan memberi pelajaran pada gadis mungil itu. Agara segera melajukan motor Sportnya membelah jalanan. Menyalip setiap kendaraan yang berlalu lalang.
.
Raehan masuk ke dalam kamarnya, lalu menutup dan mengunci pintu. Hari ini cukup melelahkan, bahkan tubuhnya pun terasa sangat letih dengan apa yang terjadi hari ini.
"Ekkkkhhhmmm." Raehan merentangkan tangannya, menegangkan otot-ototnya lalu segera melompat ke atas kasur yang empuk.
"Aduhh, kok ini kasur jadi keras ya," ringgis Raehan saat tubuhnya jatuh di atas kasur kesayangannya. Raehan segera bangkit kembali, lalu menarik selimut yang ada di atas kasur.
Ke dua mata Raehan langsung terbelalak bukan main, bahkan ke dua bola matanya hampir menyembul keluar dari cangkangnya.
"Aaa---"
Hap!
Teriaka Raehan langsung lenyap, dengan bekapan tangan besar di mulutnya.
"Sssttt diamlah!!" bisik suara tersebut tepat di telinga Raehan.
Raehan menggeliat geli saat hembusan nafas itu menggelitik bagian lehernya. Raehan berusaha melepaskan diri, tapi sayang tubuhnya di kunci dengan sempurna.
__ADS_1
"Iya, iya aku akan melepaskan mu, tapi kamu jangan teriak."
Bekapan di mulut Raehan terlepas. Raehan langsung berbalik dan menatap sosok di depannya dengan garang.
"Kak Aga ngapain berada di dalam kamarku?" tanya Raehan dengan kesal. Ia benar-benar tidak menduga jika Agara sampai berani masuk ke dalam kamarnya seperti ini.
"Jangan marah dulu, itu salahmu." Agara melempar tubuhnya naik ke atas kasur.
Asap kekesalan mulai keluar dari kepala Raehan. Bagaimana jika ke dua orang tuanya tahu jika ada pria di kamarnya? Pikir Raehan cemas.
Dengan tenaga penuh, Raehan menarik tubuh Agara untuk turun dari ranjang.
"Salahku? Kak Aga yang masuk ke dalam kamarku tanpa izin. Sekarang pergi dari sini!" bentak Raehan terus menarik tubuh Agara yang ternyata sangat berat.
Dengan gerakan cepat, Agara menangkap pinggang Raehan dan menariknya. Sehingga posisi Raehan berada di atas tubuh Agara.
"Lepaskan aku! Kak Aga jangan lancang!" pekik Raehan memberontak.
"Ini hukuman karna kamu tidak mau mengangkat telponku. Kamu tahu jika aku tidak suka seseorang tidak mengangkat telponku. Jadi aku pikir malam ini aku akan menginap di sini." Agara tersenyum licik dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Apa?" Mulut Raehan terbuka membentuk huruf O.
"Iya, dan kamu tidak bisa mengusirku dari sini."
"Rae, kamu sudah tidur sayang!" seru Nyonya Marissa yang tiba-tiba mengetuk pintu kamar Raehan.
Tok
Tok
Tok.
...----------------...
...****************...
Waduh Raehan kedatangan tamu tak di undang nih...
Jangan lupa
like
koment
gift
__ADS_1
vote
love you all