
...309...
Setelah selesai dengan urusan perut. Raehan, Fir, dan Miya segera kembali ke kelas. Wajah mereka terlihat bahagia, dengan bibir yang terus tertawa.
Meski ada sedikit drama yang dibuat oleh Kiara. Namun, tidak membuat ketiganya kehilangan momen untuk saling bercanda.
Dari arah depan terlihat Anet berjalan mendekat ke arah tiga sahabat yang masih asik dengan candaan mereka.
"Hai Rae!" seru Anet, yang langsung mengalihkan ketiga fokus remaja itu pasa Anet.
"Kak Anet," lirih Raehan sambil tersenyum.
"Lama tidak berjumpa."
"Iya, ada beberapa kejadian belakangan ini."
"Aku dengar kamu sempat diculik?"
"Iya, tapi itu sudah berlalu. Sekarang aku disini kan." Raehan terkekeh.
"Aku menemuimu karna ingin memberikan undangan ini." Anet menyerahkan kertas persegi berwarna hijau pada Raehan, yang tentu saja langsung di terima oleh gadis itu.
"Undangan apa ini kak?" tanya Raehan dengan dahi berkerut.
__ADS_1
"Acara pelantikan Anggota Osis yang akan di selenggarakan di puncak."
"Tapi, aku sudah didiskualifikasi."
"Undangan ini untuk seluruh peserta yang ikut tes. Jadi kamu juga diundang."
"Baiklah kak, terimakasih."
"Sama-sama, baiklah aku pergi dulu. Jangan sampai kamu tidak ikut, mengerti!" Setelah mengatakan hal itu, Anet melenggang pergi meninggalkan Raehan dan ke dua sahabatnya.
"Rae, kamu mau ikut?" tanya Miya dengan merampas undangan tersebut dari tangan Raehan. Ia penasaran dengan apa yang ditulis di kertas itu.
"Aku sarankan kamu jangan ikut Rae," ujar Fir dengan nada khawatir.
"Kegiatannya tidak buruk. Aku juga perlu penyegaran untuk semua yang terjadi belakangan ini. Lagi pula ini acara gratis, he ... he ...," ujar Raehan dengan kekehan di akhir kalimatnya.
"Aku!!" seru suara bass bersamaan yang begitu familiar. Raehan, Miya, dan Fir segera menoleh dimana kini di hadapan mereka terlihat Agara dan Dion yang sedang menatap penuh permusuhan.
Bahkan dapat ketiganya rasakan, ada sebuah percikan listrik yang mengalir dari kedua mata pria tampan itu, yang tengah saling beradu dan mengalahkan satu sama lain.
Raehan menghembuskan nafasnya. Lagi-lagi ia harus menghadapi dua pria yang selalu bertengkar memperebutkan dirinya. Ia tahu jika dirinya cantik, tapi ia juga tidak ingin menjadi alasan ke dua pria itu bertengkar.
Sementara Fir langsung memasang ancang-ancang. Ia melangkah dua langkah di depan Raehan. Jika ke dua pria itu mencoba melukai Raehan, maka ke dua pria itu harus melewati dirinya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Raehan tidak membutuhkan laki-laki pengecut sepertimu," sinis Dion dengan rahang yang mengetat.
"Raehan juga tidak membutuhkan dirimu disampingnya. Dia adalah kekasihku, jadi jauhilah Raehan," balas Agara dengan tatapan nyalang siap menghunus tubuh Dion.
"Aku tidak salah dengar? Kekasih? Ayolah Agara, kamu ini tuli atau tidak mengerti bahasa manusia, hah? Raehan sudah mengatakan jika dia tidak mau lagi bersamamu. Hubungan kalian sudah putus dan berakhir."
"Hubungan yang dijalani oleh dua orang, tidak akan bisa putus hanya karena salah satunya memutuskannya. Aku dan Raehan memulainya bersama, dan juga akan memutuskannya bersama. Jika hanya Raehan yang memutuskannya, itu semua tidak berarti apa-apa."
Raehan menepuk jidatnya pelan. Lihat, apa yang ia duga memang terjadi. Agara dan Dion lagi-lagi bertengkar dan itu semua karna dirinya.
...----------------...
...****************...
Maaf ya UP dikit... besok janji kok upaya banyak.
By
jangan lupa
like
komen
__ADS_1
gift
vote