
...27...
"Kak Dion ngak bisa semena- mena seperti itu... Memutuskan untuk mengikutkan ku dalam rapat osis nanti sore... Aku bahkan belum menyetujui nya.." Marah Raehan dengan tingkah Dion yang selalu semena- mena pada diri nya.
Memperlakukan diri nya seolah- olah ia bukan manusia.
Menyebalkan sekali...!! Teriak Raehan dalam hati.
Jika bisa ia ingin mematahkan seluruh tulang- tulang laki- laki di depan nya hingga patah berkeping- keping.
"Aku tidak memerlukan izin mu.. itu tidak penting... Aku tidak mau tahu kamu harus hadir..." Tekan Dion, dengan mendekat pada tubuh Raehan.
Memojok kan tubuh mungil itu hingga terhimpit antara tembok dan tubuh Dion.
Raehan mendongak, menatap marah Dion. Ia sangat kesal dan marah dengan sikap pria di depan nya.
Siapa dia? hingga semena- mena menyuruh nya untuk hadir di rapat ini atau itu. Atau melakukan apa pun yang pria ini ingin kan.
"Baik lah aku akan hadir..." Gumam Raehan dengan raut wajah penuh arti.
Kening Dion mengkerut dalam, mendengar keputusan Raehan yang berubah tiba- tiba.
Ia ingin menekan gadis ini agar tetap di samping nya. Melihat wajah kesal yang selama beberapa hari ia rindukan.
Lalu apa yang terjadi sekarang? Pikir Dion bingung.
"Bagus jika kamu hadir... Membuang waktu ku saja untuk memaksa mu... Ck..." Decak Dion lalu menjauh dari Raehan.
Ia mengambil polpen dan menyematkan nya di saku seragam.
"Aku tidak akan hadir begitu saja... Sesuai keinginan mu..." Kini giliran Raehan yang memainkan permainan nya.
Ia duduk di sofa dengan menyilangkan kaki nya, persis seperti gaya Dion tadi.
Dion tersenyum samar saat melihat tingkah laku gadis berkaki pendek ini.
"Manis sekali dia menirukan gaya ku..." Batin Dion, dengan hati yang menggelitik senang.
Lagi- lagi Raehan berhasil membuat dada nya bertalu dengan cepat. Hanya dengan tingkah nya yang sangat lucu dan manis bagi Dion.
"Maksud mu..??" Dion berkacak pinggang, menatap lekat Raehan yang menatap dengan seringgai penuh arti.
"Aku akan datang dengan senang hati,,, hanya saja jika kak Dion memberi ku nomer Kak Aga..." Senyum Raehan mengembang sempurna, hampir memperlihatkan gigi putih nya.
Untung saja diri nya ingat, tentang nomer ponsel laki- laki idaman nya.
Ia bisa saja meminta pada Agara. Tapi ia sangat tahu pangeran nya tidak akan mudah memberi nya nomer ponsel nya dengan percuma.
Ingatan saat pertama kali diri nya bertemu dengan Agara terulang kembali. Saat Agara menolak mentah- mentah permintaan nya meminta nomer ponsel pria itu.
Berbeda dengan ekspresi Dion. Wajah nya berubah menjadi kaku, dengan rahang mengeras sempurna.
Jantung nya rasanya melompat keluar saat bibir mungil pich itu meminta sesuatu yang membuat hati nya terasa teriris.
__ADS_1
Dion mengepal kan tangan nya keras, sampai- sampai buku tangan nya memutih sempurna.
Ahhh Gadis ini, membuat dada nya merasa sakit. Teriak Dion dalam hati.
"Apa kamu mencoba membuat penawaran dengan ku??." Ujar Dion dengan wajah datar.
"Jika kak Dion menganggap nya seperti itu... Bisa di bilang seperti itu.." Balas Raehan santai, memainkan kuku- kuku jari nya.
Dion memejam kan mata nya sejenak. Memutar otak untuk membuat sebuah rencana. Hingga sebuah lampu kuning menyala di atas kepala nya bersamaan dengan seringgai yang terbit di bibir nya.
"Baiklah... Aku akan memberikan nya... Tapi,, hanya hadir di acara rapat nanti sore tidak sepadan dengan harga dari nomer ponsel Agara..
Kamu pasti tahu, jika Agara adalah idola di sekolah ini.. Dan hanya aku yang memiliki nomer nya... Untuk itu aku ingin penawaran besar..." Dion menurun- naikkan alis nya.
Raehan memanyunkan bibir nya ke depan.
"Apa- apaan ini, aku yang memberi penawaran...Malah sekarang dia yang berbalik memberi tawaran... Ahhh menyebalkan sekali cowok gambreng ini... Jika bisa sudah ke masukkan dia ke dalam karung,, lalu ku buang di got..." Teriak Raehan kesal.
Tapi, bagaimana??
Apa dia harus menuruti keinginan Dion sekali lagi, untuk mendapatkan nomer ponsel Agara?
Glek...
Raehan menelan saliva nya paksa, memikirkan penawaran Dion.
Di satu sisi terlalu menggiurkan , tapi di sisi lain sama saja ia masuk dalam dunia perbudakan tanpa henti.
"Jika kamu tidak mau... Ya tidak apa- apa.. Lagi pula kehadiran mu di acara rapat nanti sore tidak terlalu penting.. Kamu boleh tidak hadir..." Celetuk Dion, sambil menatap arloji yang ada di tangan nya.
Tapi entah rasa apa itu, ia tidak tahu. Tapi yang pasti, ia ingin membuat Raehan berada di samping nya. Menuruti setiap keinginan nya.
Ke dua bola mata Raehan terbelalak dengan sempurna. Hampir saja ke dua bola mata nya menjuntai keluar dari cangkang nya.
"Aduh bagaimana??? Sial sekarang aku yang terjebak... Eeggrhhhh" Pekik Raehan dalam hati, sambil menggigiti kuku- kuku jari nya.
Tidak, ia tidak bisa kehilangan kesempatan ini. Pikir nya.
"Penawaran apa?? Aku akan menyetujui nya... Jangan coba- coba untuk menipu ku..." Sosor Raehan cepat, berdiri dari duduk nya.
Dion tersenyum samar, apa yang ia pikir kan ternyata terjadi juga.
Gadis di depan nya benar- benar polos. Untuk mendapat kan apa yang ia ingin kan, ia rela melakukan apa pun. Sungguh sangat berambisi.
Tapi, apa alasana nya?? apa dia juga menyukai Agara?? Tanya Dion dalam hati.
"Baik... Penawaran nya mudah... Aku akan memberi mu nomer ponsel Agara.. Kamu hanya perlu menjadi asisten pribadi ku selama sebulan... Mengikuti semua keinginan ku.. Tanpa menolak atau membantah..." Jelas Dion dengan satu kali tarikan nafas nya.
Raehan menghela nafas ny panjang. Meremas jahitan rok nya.
Lagi- lagi ia harus terjebak menjadi asisten pria gambreng di hadapan nya.
Lagi- lagi ia harus melewati hari- hari yang berat dan melelah kan selayak nya seorang pelayan.
__ADS_1
Ya tuhan, bagaimana bisa ada pria seperti ini di sekolah ini?.
"Bagaimana kamu setuju.. Aku akan memberikan nya sekarang jika kamu setuju." Ujar Dion lagi dengan senyum manis nya, yang terlihat sangat menyebalkan bagi Raehan.
Raehan menatap Dion sejenak.
"Dasar licik... Lihat saja apa yang akan aku lakukan... Kamu sendiri yang akan membebaskan ku dari perjanjian licik mu ini..." Batin Raehan menatap Dion tajam
Dion yang di tatap dengan tajam hanya mencebikkan bibir nya dengan rasa senang penuh kemenangan.
"Baiklah... Aku setuju... Hanya satu bulan... Berikan... Berikan nomer nya sekarang...!!" Ujar Raehan menyetujui penawaran yang di tawarkan Dion.
Ia menengadahkan tangan nya di depan wajah Dion. Meminta hal yang membuat nya terjebak dalam kondisi ini.
Dion mengambil sebuah kertas, menyabet polpen yang tersemat di saku nya, menulis beberapa angka di kertas itu. Lalu meletakkan nya di atas telapak tangan Raehan.
Mata Raehan langsung berbinar cerah, melihat kertas berisi nomer ponsel pangeran nya berada di tangan nya.
Meski ia membayar dengan mahal, setidak nya ia puas dengan apa yang ia dapat kan.
Raehan langsung melenggos pergi melewati Dion begitu saja. Dan keluar dari ruangan Dion tanpa mengatakan apa pun.
"Aaaa.....!!!"
Brak...
Prak...
Bugh...
Teriak Dion setelah Raehan pergi, ia menggebrak meja keras, lalu menjatuhkan perabot yang ada di sekitar nya.
Hati nya sakit...
...----------------...
...****************...
Terus pantangin cerita nya ya...
Like
koment.
Vote
gift.
Rak favorit.
Yuk dukung terus karya ini....!!!
kalo ngak koment atau like atau kasi gift..
__ADS_1
Kalian benar- benar kejam ama thorðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜?