
...349...
Pertengkaran antara Fir, Dion, dan Agara akhirnya usai. Ketiga pria tersebut kini duduk menyender pada badan sofa. Nafas mereka berhembus dengan tidak beraturan dengan tarikan yang berat. Hal itu terlihat dari dada mereka yang naik-turun secara cepat. Buliran keringat juga mengucur dengan deras di tubuh mereka. Bahkan, baju yang mereka kenakan sedikit basah.
Fir memejamkan kedua matanya, Ia benar-benar sangat lelah. Tenaganya terkuras habis untuk memukuli Agara dan Dion secara bergantian. Akan tetapi, ia merasa sangat puas karena telah memberikan kedua pria yang banyak omong dan janji, seperti caleg petinggi itu pelajaran.
Ia juga bangga karena bisa memukul dua pria es kutub itu. Kapan lagi, dirinya bisa memukul dua most wanted sekolah sekaligus. Sungguh, sejarah yang harus ditulis dengan tinta emas. Bahkan, jika perlu ia harus mendapatkan sebuah penghargaan.
"Kenapa berhenti bertengkar? Kenapa tidak dilanjutkan saja sampai salah satu dari kalian mati," ujar Raehan dengan sinis, di mana tangannya membawa kotak obat dan duduk di depan tiga pria yang malah tersenyum mendengar omelannya.
"Rae, mereka memang pantas mendapatkannya," balas Fir dengan nafas tersenggal-senggal.
Dari arah dapur, Miya membawa tiga gelas air dingin dan membagikannya pada tiga pria yang sudah tepar tak berdaya.
"Ck, aku sudah mengatakan padamu Fir jika Kak Aga dan Kak Dion tidak bersalah dalam hal ini," sanggah Raehan tidak setuju. Ia memberikan beberapa tissu pada Fir untuk menyeka keringat.
__ADS_1
"Sudahlah, Rae. Aku rasa kali ini Fir memang benar. Aku sudah teledor dalam menjagamu. Seandainya tidak ada Agara, entah apa yang akan terjadi." Dion membuka suara dan membela Fir.
"Aku juga tidak berbuat apa-apa. Ini semua berkat sosok hitam itu, jadi kita sama bersalahnya di sini, Ion," lanjut Agara.
"Entahlah, aku tidak habis pikir dan sangat heran dengan kalian yang menjadi kompak seperti ini. Bahkan kalian sekarang saling melindungi. Katakan, apa semua baik-baik saja? Kepala kalian tidak terbentur sesuatu bukan?" Raehan mendekat ke arah Agara. Lalu, mulai mengobati lebam di bagian wajah Agara akibat ulah Fir.
Dion yang melihat Raehan yang begitu perhatian pada Agara hanya bisa menahan perih dalam hati. Ia meremas tangannya sendiri dengan wajah yang tersenyum.
"Tidak terjadi apa-apa. Aku dan Dion tidak sakit. Bukankah selama ini kamu yang selalu meminta kami untuk berhenti bermusuhan?" timpal Agara dengan menggengam tangan Raehan yang lainnya dan memainkan tangan mungil dan putih itu dengan gemas.
Agara tertawa lucu mendengar pernyataan Raehan. Gadis mungil di depannya selalu bisa membuat ia tertawa tanpa beban. Agara memandang ke arah Dion yang hanya tersenyum menutupi perasaanya.
"Ion, sini biar aku obati lukamu!" seru Kazuya dan duduk di depan Dion. Lalu, mulai mengobati ujung bibir Dion yang sobek dan sedikit mengeluarkan darah.
Kali ini, Dion tidak menolak apa yang dilakukan oleh Kazuya. Ia hanya pasrah dan menerima kenyataan yang seharusnya ia terima sejak dulu.
__ADS_1
"Ya ampun, Kazuya memang tipe pria idaman aku. Selain tampan dia juga perhatian," pekik Miya dengan menangkup kedua pipinya. Mendengar hal itu wajah Kazuya seketika memerah.
"Eh, Mi. Dari pada muji si Kazuya mending kamu pijitin nih lenganku," selosor Fir.
"Cih, di sini yang jadi korban bukan kamu. Di sini penjahatnya itu kamu Fir. Jadi makan aja tuh pegel. Siapa suruh mukulin orang segala," dengus Miya, dengan Fir yang terlihat kesal karena penolakan sahabat laknatnya itu.
...----------------...
...****************...
Maaf ya, othor upnya dikit.... lagi ngantuk nih.. maklumi ya..
jangan lupa like koment
gift vote
__ADS_1
tips