
...75...
Dion berjalan dengan cepat, sesekali tangan nya mengusap ujung mata nya yang berair.
Mengapa harus sesakit ini?
Kenapa bukan diri nya yang berada di posisi Agara?.
Kenapa posisi nya harus menjadi orang dengan cinta bertepuk sebelah tangan.?
Ribuan pertanyaan, serta umpatan terus terucap di benak Dion.
Pikiran nya begitu kalut, hingga tidak memperhatikan sekeliling nya.
Di mana kini beberapa sorot mata, menatap nya bingung.
"Dion..!!!" Panggil Anet, namun tidak di gubris sama sekali oleh Dion.
Dion terus melangkah hampir setengah berlari.
"Setelah kamu melihat nya, aku harap kamu sadar jika Raehan bukan untuk mu... Rasa nya memang sakit Dion, tapi itu lebih baik dari pada terus bermimpi jika Raehan milik mu..." Gumam Anet menatap sendu punggung Dion yang terus menjauh dari pandangan nya.
Diri nya tahu apa yang di lihat oleh Dion. Diri nya juga tahu, bagaimana sakit hati nya pria yang dia sukai ketika melihat gadis yang di sukai nya bersama pria lain.
Karna diri nya lah yang memberi tahu, ke mana Agara membawa Raehan pergi.
Flasback On...
Bugh....
"Aduhhhh...!!" Pekik Anet sembari mengusap bahu kanan nya yang di tabrak seseorang.
"Sorry Net..." Jawab orang tersebut, yang langsung membuat Anet berbinar.
"Ahhh tidak apa- apa Ion.." Cicit Anet menampil kan deretan gigi nya yang putih.
"Aku tadi ngak sengaja, bahu kamu ngak papa kan ?" Tanya Dion memastikan, lalu mengusap bahu Anet.
Deg...
Deg..
Deg...
Detak jantung Anet langsung berdetak tidak sempurna. Ke dua bola mata nya membola.
Sentuhan Dion di bahu nya, terasa menyengat diri nya. Bagai jutaan Volt aliran listrik tengah menyetrum diri nya.
Sementara Dion memicing kan mata nya, melihat rona wajah Anet yang kini memerah.
Klep...
Satu jentikan jari Dion di depan wajah Anet, langsung membuat kesadaran Anet kembali.
"Ha.. A- ku Ngak papa kok..." Papar Anet terbata- bata.
Anet segera menetralisir perasaan nya yang berbunga- bunga.
Mengontrol rasa cinta yang merasa meledak- ledak di dada nya.
"Itu apaan?" Cicit Anet dengan menunjuk paperbag yang di tenteng Dion.
__ADS_1
Dion mengalihkan perhatian nya, ke arah telunjuk Anet.
"Ohhh Ini..." Seulas senyum langsung mengembang dengan cepat di wajah Dion. Yang lagi- lagi berhasil membuat Anet semakin gugup dengan wajah semakin memerah.
Dion mengeluarkan boneka Couple dari dalam paperbag, lalu menunjukkan nya pada Anet.
"Lucu ngak?" Tanya Dion dengan alis terangkat.
"Lucu..."
"Kamu suka?"
Deg...
Kali ini jantung Anet benar- benar berhenti, saat pria yang di sukai nya bertanya seperti itu.
"Apa Dion ingin memberikan boneka lucu ini pada ku? Astaga dia begitu manis..." Batin Anet yang semakin meleleh dengan pesona Dion.
Anet mengangguk cepat.
"Jika aku menggunakan benda ini untuk minta maaf bagaimana?"
Kepercayaan diri Anet semakin melambung tinggi, mendengar penuturan Dion yang membawa nya terbang tinggi.
Diri nya sangat yakin, Dion akan memberikan boneka lucu itu sebagai permintaan maaf.
Astaga manis sekali?. Pekik Anet dengan perasaan berbunga- bunga.
"Aku pasti tidak akan menolak nya..." Jawab Anet dengan senyum lebar.
Untuk pertama kali nya, diri nya akan mendapat hadiah dari Dion.
Dia berjanji akan menjaga boneka itu dengan baik.
Duar.....
Lengkungan indah di wajah Anet seketika sirna, bersamaan dengan hati nya yang terasa di remas kuat.
Dia merasa di hempas kan kembali ke dasar bumi, setelah di bawa terbang dengan harapan tinggi di angkasa.
Bodoh nya diri nya, kenapa ia sampai lupa jika Dion menyukai Raehan dan bukan diri nya.
Kenapa ia berharap dengan sepenuh hati jika Dion ingin meminta maaf pada nya dengan boneka lucu itu.
Glek...
Anet menelan saliva nya paksa, berusaha memaksa senyum di bibir nya untuk kembali, meski wajah nya terliha pias dan kecewa.
"Dia pasti menyukai nya..." Jawab Anet dengan mata yang mulai berkaca - kaca.
"Apa kamu tahu di mana Dia?"
"Dia pergi ke arah atap sekolah.."
"Terimakasih info nya, lain kali aku akan mentraktir mu makan..." Dion langsung berlari meninggal kan Anet yang masih diam di tempat.
Flasback Off.
...----------------...
Atap Sekolah.
__ADS_1
Raehan mengurai pelukan nya, ke dua pipi putih jya seketika memerah.
Malu?
Bagaimana bisa ia asal sosor memeluk Agara.?
Dan lihat lah sekarang ekspresi Agara yang sudah mirip seperti patung liberti.
"Maaf tadi cuma refleks..." Cicit Raehan menunduk, menyembunyikan wajah nya.
Agara tersentak seketika, saat mendengar celotehan Raehan yang langsung menarik kesadaran nya.
"Bilang aja ambil kesempatan dalam kesempitan..." Ujar Agara, menyembunyi kan wajah nya yang terasa sedikit panas.
Diri nya yakin, pasti saat ini wajah nya sedang memerah.
"Yeee... Mana ada kayak gitu, Bukan nya aku yang nyuri kesempatan tapi kak Aga.. Bukti nya kak Aga diam aja pas aku meluk..." Sahut Raehan membela diri.
"Kamu kan yang nyosor - nyosor..!!."
"Refleks kak..."
"Alasan..."
"Hhhh..." Raehan mendengus kasar.
"Aku sudah menjawab pertanyaan mu, sekarang katakan pada ku kenapa kamu mempermainkan ku?" Ujar Agara dengan jutek dan sinis.
"Mempermainkan bagaimana?" Tanya Raehan menatap Agara bingung.
"Jangan sok bodoh, kamu tadi mengajak ku sarapan lalu sarapan ku kamu berikan pada dua bocah tengil itu.. Bahkan lebih parah nya lagi kamu bilang aku menolak ajakan mu..." Omel Agara dengan wajah yang di buat garang.
"Tapi memang begitu kan? kak Aga menolak lalu apa salah nya jika aku memberikan nya pada Fir dan juga Miya?" Bantah Raehan tak ingin di salah kan.
"Kamu kan bisa merayu ku untuk menyetujui ajakan mu..."
"Ha... Ha....." Raehan tertawa mendengar jawaban Agara.
Ternyata pria di samping nya ingin di rayu tapi malah mendapat kan sebalik nya.
Hal ini benar- benar menggelitik perut Raehan.
"Apa itu arti nya kak Aga sudah jatuh cinta pada ku?"
Jeduarrr....
...----------------...
...****************...
Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
__ADS_1
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙