Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Benih kebencian Anet


__ADS_3

...360...


Anet berjalan mendekat ke arah Miya yang masih menangis dengan sesenggukan. Ia tersenyum miring sebelum merubah mimik wajahnya menjadi sedih. Seolah-olah mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Miya.


"Kamu kenapa nangis sendirian di sini, Mi?" tanya Anet, yang membuat Miya tersentak kaget. Dengan cepat, Miya menghapus air matanya dan mengontrol isakan tangisnya agar berhenti. Anet merebahkan bokongnya di samping Miya dan menatap gadis itu dengan prihatin.


"Aku tidak papa, Kak Anet," timpal Miya dengan memaksakan senyum.


"Jangan bohong. Aku tahu kamu kenapa." Anet mulai melancarkan niat jahatnya, untuk membuat Miya menentang Raehan.


"Maksud, Kakak?"


"Kamu sakit hati karena melihat Kazuya memeluk Raehan, Kan?" Anet menjeda kalimatnya. Menarik nafas dalam dan menatap Miya dengan sendu dan prihatin.


"Seharusnya kamu yang mendapatkan pelukan itu, Mi. Kamu yang sudah memberikan perhatian dan menunggu Kazuya tanpa lelah. Akan tetapi, malah Raehan yang mendapatkan pelukan itu. Aku sangat mengerti perasaanmu karena aku juga mengalami hal yang sama. Di mana pria yang sangat kita sukai malah menyukai gadis lain."


"Tapi Kazuya tidak suka pada Raehan. Mereka hanya berteman saja." Miya sedikit terganggu dengan ucapan Anet.


"Kau berpikir seperti itu?" Wajah Anet memandang Miya dengan tatapan tak percaya.


"Iya," jawab Miya ragu.


"Astaga, Mi. Kamu terlalu polos dan lugu. Apa kamu tidak sadar bagaimana cara Kazuya perhatian pada Raehan. Lihat, bahkan Kazuya tidak ingin memberitahumu hasil tesnya sebelum Raehan. Lalu, dia memeluk Raehan dengan bahagia. Dia selalu perhatian pada Raehan. Aku rasa, itu sudah cukup untuk menyimpulkan perasaan Kazuya jika dia menyukai Raehan." Anet melancarkan aksinya dengan sangat mulus. Menanamkan benih keraguan dan kebencian pada hati Miya untuk Raehan. Jika ia tidak bisa memisahkan Dion dari Raehan, maka ia akan merusak persahabatan gadis itu. Ia ingin Raehan terluka dan merasakan sakit hati.


Miya terdiam dan memikirkan perkataan Anet barusan. Mencerna semua yang dikatakan Anet dalam otak kecilnya. Memang benar apa yang dikatakan oleh Anet, jika Kazuya sangat perhatian pada Raehan. Akan tetapi. perhatian pada teman itu wajar bukan? Sama seperti dirinya dan Fir. Namun, kenapa Kazuya tidak memperlakukan ia sama dengan Raehan jika perhatian yang ditunjukkan hanya sebatas teman?


Ia bisa merasakan dengan sangat jelas, bagaimana Kazuya memperlakukan dirinya dan Raehan dengan sangat berbeda. Contohnya adalah hari ini, seharusnya Kazuya memberitahu dirinya tentang hasil tes itu karena ia yang sudah menunggu pria itu sangat lama. Namun, Kazuya kekeh ingin pergi mencari Raehan dan memberitahukan hasil tesnya pertama kali pada Raehan.

__ADS_1


Anet yang melihat diamnya Miya tersenyum tipis. Sepertinya, racun kecurigaan berhasil ia tanamkan pada Miya. Ia tahu jika Miya sedang memikirkan semua perkataannya barusan. Itu terlihat dari kening Miya yang sedikit bekerut. Ia hanya perlu menyiram bensin pada hati Miya yang sedang cemburu maka api pertengkaran akan menyala dengan sendiri. Ia yakin, Raehan pasti akan sangat terluka karena sahabat yang selalu berada di sisinya berubah menjadi membenci dirinya.


"Katakan, apa yang aku katakan barusan memang benar bukan? Kamu tentu bisa merasakan perbedaan cara Kazuya memperlakukan kalian." Anet mulai gencar menghasut Miya.


"Iya, Kazuya memang berbeda tapi Raehan tidak suka pada Kazuya. Mereka hanya berteman." Miya masih menolak kenyataan yang diperlihatkan Anet. Ia yakin, Raehan tidak mungkin akan menyakiti dirinya.


"Iya aku tahu, jika Raehan tidak suka pada Kazuya. Akan tetapi, Kazuya menyukai Raehan bukan? Seharusnya Raehan itu menjauhi Kazuya karena dia tahu kamu menyukainya. Namun, bukannya malah menjauhi tapi dia sangat dekat dengan Kazuya. Tidakkah kamu berpikir jika Raehan adalah halangan antara hubunganmu dengan Kazuya. Jika Raehan tidak berada di dekat Kazuya, pasti Kazuya akan melihat cintamu."


Miya kembali memikirkan perkataan Anet yang semakin memengaruhi dirinya. Apa yang dikatakan Anet memang tidak salah.


"Apa sekarang kamu akan menyangkal semua itu?" tanya Anet lagi, yang semakin genjar menyiram bensin pada luka Miya.


"A--aku tida tahu," jawab Miya dengan terbata-bata. Lalu, segera bangkit dari duduknya dan berlari meninggalkan Anet, yang tertawa puas.


Anet memandang punggung Miya yang semakin kecil dan menghilang dari pandangannya. Ia yakin, benih yang barusan ia tanam akan segera tumbuh dan menjadi badai yang besar.


"Larilah, Miya tapi kamu akan kembali kepadaku. Aku yakin, apa yang barusan aku katakan akan mengganggu dirimu. Aku hanya tinggal menunggu buah dari benih yang aku tanam. Kamu menghancurkan hatiku dengan keserakahanmu, Rae. Maka, akan ku hancurkan persahabatanmu," gumam Anet dengan smirk jahat di wajahnya.


...----------------...


"Ion, nanti kalau aku udah punya uang. Aku bakal ganti semua uang kamu," ujar Kazuya dengan nada suara tidak enak. Dion sudah sangat banyak membantunya. Dan kali ini, Dion akan menanggung semua kebutuhan sekolah yang akan ia kenakan. Hal itu membuat Kazuya merasa tidak enak.


"Santai saja Kazuya, kamu bisa membayarnya dengan tinggal di rumahku dan membersihkannya," balas Dion tanpa dosa.


"Apa itu artinya Kazuya tinggal di rumah Kak Dion sebagai pembantu?" sarkas Raehan dengan tatapan tajam yang dilayangkan pada Dion.


"Dion memang seperti itu, Rae. Aku saja tetangganya dibuat sabagai tukang kebun. Apalagi Kazuya, pasti dia membuat Kazuya yang malang ini menjadi pelayan," sosor Niel menambahkan bumbu.

__ADS_1


"Hei, Niel. Jaga mulutmu itu, apa kamu ingin aku dicakar oleh rubah betina," sindir Dion menahan tawanya yang hampir meledak karena ekspresi kesal Raehan.


"Kak Dion, aku ini gadis yang imut dan lucu. Bukan seekor rubah. Ingat ya, Kazuya itu bukan pembantu di rumah Kak Dion," ketus Raehan sebal.


"Ya, kan dia bilang mau ganti uang aku. Jadi, aku kan kasi dia penawaran yang ringan." Dion mempertahankan pendapatnya, yang memang sengaja ia lakukan untuk membuat Raehan semakin kesal.


"Kak Dion!" pekik Raehan dengan melempar garpu yang ada ditangannya pada Dion.


"Kak Aga, bela aku. Lihat, Kak Dion membuat pacarmu yang imut ini kesal," renggek Raehan mengadu pada Agara yang tengah tertawa di sampingnya. Sungguh, pacarnya ini memang pacar laknat. Dia malah terus tertawa menertawakan dirinya yang kesal.


"Hihhh, dasar tukang adu," ejek Fir dengan memasang wajah jelek.


"Kak Aga," renggek Raehan lagi dengan mencubit kecil lengan Agara.


"Iya, Sayang. Kalian berhentilah menggoda gadisku. Jika tidak aku akan menggantung kalian di pohon pisang," pungkas Agara membela Raehan dengan lelucon di akhir kalimatnya. Ia merangkul Raehan dengan mesra sembari mengelus puncak kepala gadisnya dengan lembut.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


komentar


gift

__ADS_1


vote


tips


__ADS_2