Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Alergi darah


__ADS_3

...270πŸ’›...


Akhir nya mobil Dion sampai di rumah sakit, ia segera memarkir kan mobil nya.


Sementara Fir dan Miya langsung berinisiatif turun dan memanggil petugas.


Rasa sakit karna luka di sekujur tubuh Dion terasa meremas dan menyayat kulit nya.


Di mana kesadaran nya semakin menipis, ia benar- benar bingung sejak keluar dari bangunan kosong tempat mereka di culik. Diri nya benar- benar tidak merasa kan sakit di setiap luka nya.


Tapi kenapa saat ia sudah berada di rumah sakit, Luka- luka itu mulai bekerja dan membuat tubuh nya terasa remuk.


Fir dan Miya segera berlari ke arah meja resepsionis.


"Kami membutuh kan bantuan.. Tiga rekan kami sedang terluka sus...!!" Ucap Fir dengan panik di mana wajah nya terlihat begitu cemas.


"Iya sus, mereka terluka parah.. Tolong bantu kami..." Tambah Miya dengan tangis nya yang sudah pecah.


"Baik lah Nona..." Seru suster tersebut yang langsung berlari dan kembali bersama beberapa perawat pria yang sedang mendorong tiga brangkar.


"Cepat lah sus..." Seru Miya yang langsung berlari menunjuk kan jalan pada perawat tersebut.


.


Miya terlihat berjalan mondar- mandir di depan IGD di mana lampu ruangan itu menyala.


Miya benar- benar cemas, ia sangat takut terjadi apa- apa pada ketiga remaja yang sedang di tangani oleh dokter.


Sesekali Miya menggigiti kuku- kuku tangan nya. Di mana air mata nya belum juga mau berhenti untuk keluar.


Sementara Fir duduk di kursi tunggu dengan memangku wajah nya yang terlihat tak kalah cemas.


Ia masih tidak menyangka jika pelaku dari semua ini adalah ayah nya Agara.


Namun yang lebih membuat Fir marah adalah Agara yang tetap bertunangan meski melihat Raehan yang terluka.


Lihat saja, jika sampai sahabat kecil nya itu sampai kenapa- kenapa maka ia akan membunuh Agara.


Ia tidak peduli jika harus masuk penjara, asal hati nya merasa lega.


"Bagaimana bisa ada pria se brengsek itu..." Umpat Fir dengan menekan setiap kata- kata nya.


Miya yang mendengar umpatan Fir langsung menghenti kan langkah nya.


"Aku pun tidak menyangka kak Aga bisa melakukan hal itu pada Raehan.. Fir apa Raehan akan baik- baik saja..? Hiks.. Hiks aku takut..." Seru Miya di mana tangis semakin keras dan terdengar pilu.


Fir yang melihat Miya yang begitu hancur segera berdiri, dan menarik tubuh Miya ke dalam pelukan nya.


Mendekap tubuh sahabat nya yang saat ini sedang rapuh.

__ADS_1


Fir pun menangis, ia sudah tidak bisa menahan rasa sesak di dada nya yang terus mencengkram dada nya.


Ia benar- benar takut Raehan sampai kenapa- kenapa.


"Kali ini kamu jangan halangi aku untuk memberi pelajaran pada si brengsek itu..." Ucap Fir dengan menekan setiap perkataan nya.


Kali ini apa yang sudah terjadi sudah sangat kelewatan.


"Hiks.. Hiks... Jangan ampuni dia Fir.. Raehan harus menghadapi maut karna dia..." Timpal Miya yang bahkan kini mendukung niat Fir.


Karna bagi nya Agara memang pantas untuk mendapat kan pelajaran.


Rasa respect yang di miliki untuk Agara kini menghilang seutuh nya.


"Kita harus berdoa Mi.. Agar Raehan baik- baik saja.. Kamu kan tahu jika Raehan sangat kuat..." Fir menelan saliva nya dengan paksa.


Jujur ia pun merasa kan apa yang di sedang di takut kan oleh Miya.


Karna mereka semua tahu, jika hanya Raehan yang terluka parah.


"Tapi Raehan tetap seorang manusia.. Apa lagi dia seorang gadis.. Bagaimana bisa ayah Agara melakukan hal kejam ini pada gadis sebaik Raehan Fir..."


Fir mengurai pelukan nya, menangkup wajah Miya dengan tangan nya. Menatap lekat jauh ke dalam ke dua mata Miya yang berair.


"Kamu tidak boleh berpikir seperti itu Mi.. Kamu harus berpikir jika Raehan akan baik- baik saja.. Dia akan segera sembuh dan kita bisa bercanda kembali.. Aku janji setelah dia sembuh kita akan pergi berlibur... Hmmm..." Hibur Fir menguat kan Miya, agar sahabat nya itu kembali tenang, dan membuang pikiran buruk nya.


Menampak kan sisi tegar nya, meski Fir juga sama hancur nya dengan Miya.


Ia sangat membutuh kan tempat untuk bersandar.


Klek..


Pintu IGD terbuka bersamaan dengan lampu ruangan tersebut yang padam.


Fir dan Miya melepas pelukan mereka di mana kini ke dua nya menatap ke arah pintu ruangan yang terbuka dan menampil kan seorang dokter yang keluar.


Deg..


Deg..


Glek...


Jantung Miya dan Fir seketika bergemuruh dengan sangat kencang, di mana mereka menelan saliva nya dengan paksa.


Mereka harap apa yang akan di kata kan oleh dokter adalah kabar baik.


"Kami sudah mengobati luka ke dua teman pria kalian.. Dan kondisi nya stabil tidak ada luka parah, mereka akan segera di pindah kan ke ruang inap. Mereka harus tetap menginap di rumah sakit beberapa hari ke depan... Kami akan terus mengontrol ke adaan mereka...--"


"Lalu teman kami yang perempuan bagaimana dok?" Sosor Miya dengan cepat, memotong penjelasan dokter yang bagi nya sangat berbelit- belit.

__ADS_1


Ia ingin segera tahu keadaan Raehan.


"Kami juga sudah merawat teman gadis kalian.. Tapi keadaan nya sedikit lebih parah. Luka tusuk yang ada di area pinggang nya mengeluar kan darah yang cukup banyak, jadi teman kalian membutuh kan dua kantong darah... Untuk itu kalian harus segera menghubungi anggota keluarga nya untuk mendonor kan darah pada teman kalian...--"


"Ambil darah saya saja dok...!" Sosor Fir dengan cepat sambil menegadah kan ke dua tangan nya. Di mana lagi- lagi ia memutus perkataan dokter.


Dokter menghela nafas nya panjang, ke dua remaja di depan nya selalu menyela penjelasan nya.


Namun ia memaklumi hal itu, Karna mereka pasti sangat panik saat ini.


"Kami tidak bisa mengambil darah sembarang orang untuk melakukan tranfusi darah. Karna Raehan memiliki alergi pada darah orang lain selain keluarga nya.. Jadi hanya anggota keluarga yang bisa melakukan tranfusi darah untuk Raehan..." Jelas Dokter panjang kali lebar.


Miya menekan pelipis nya, saat mendengar kabar kondisi Raehan yang ternyata sangat parah.


"Hiks.. Hikss.. Ekhmmn Hiks..." Tangis Miya semakin pecah.


"Bagaimana ini Fir?. Keluarga Raehan tidak ada di kota ini.. Bagaimana Fir ?" Tanya Miya yang kepala nya sudah mentok dan blank.


Begitu pula dengan Fir yang tak kalah syok. Raehan hanya tinggal sendiri di kota ini.


Dia jauh dari keluarga nya.


Tapi tidak, ia tidak boleh seperti ini. Ia harus melakukan sesuatu.


"Kita akan menghubungi keluarga Raehan.. Jangan khawatir..." Ucap Fir menenang kan Miya yang bahkan sudah bersimpuh di lantai.


...----------------...


...****************...


Jangan bosan terus ya dengan karya othor😍😍😍


Terus pantangin cerita nya ya...


Like


koment.


Vote


gift.


Rak favorit.


Yuk dukung terus karya ini....!!!


kalo ngak koment atau like atau kasi gift..


Kalian benar- benar kejam ama thor😭😭😭???

__ADS_1


.


__ADS_2