Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Mengelak...


__ADS_3

...60...


Raehan membalikkan tubuh nya, menatap Agara yang masih berpura- pura fokus dengan ponsel di tangan nya.


"Apa sudah puas mengolok- ngolok diri ku..?" Cicit Agara, yang berhasil membuat isi perut Raehan ingin keluar, mendengar pertanyaan Agara.


"Ohhh Tidak kak Aga mendengar semua nya. Mulut Fir benar- benar lemes banget kayak emak- emak..." Sesal Raehan dengan nyali sedikit menciut.


"Jika sudah selesai... Kemari habis kan sarapan mu.." Titah Agara yang tidak bisa terbantah kan.


Raehan beringsut kembali ke posisi semula, duduk di samping Agara yang hanya berjarak dua puluh centimeter dari nya.


Suasana sedikit mencekam dengan aura dingin yang menguar dari tubuh Agara.


Seperti nya Raehan merasa kedinginan dengan Aura mencekam yang di keluar kan Agara.


Tangan Agara kembali terulur, menyuap kan sarapan yang masih tersisa ke mulut Raehan.


Raehan menarik nafas nya panjang, memantap kan niat nya untuk bertanya pada Agara, dan segera mencairkan suasana. Jika tidak bisa- bisa ia mati sesak nafas dengan suasana mencekam dan dingin ini.


"Kak Aga ngapain ke sini?" Satu pertanyaan lolos dari mulut Raehan, bersamaan dengan jatuh nya bulir keringat di pelipis nya.


Agara meletak kan kembali sendok yang akan mendarat di mulut mungil gadis di samping nya.


Pikiran nya berputar keras mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Raehan.


Tujuan awal nya datang kemari tadi nya untuk memarahi dan memaki gadis sial ini. Untuk berhenti menganggu diri nya dengan terus mengirimi sarapan.


Tapi apa daya, saat sampai di kontrakan kecil ini. Ia di suguh kan dengan pembicaraan ke dua orang tua Raehan yang sedang mengalami masalah dan harus segera pulang. Tapi sayang nya mereka menunda hal itu karna kondisi Raehan yang sakit.


Tanpa berpikir panjang diri nya menawar kan diri untuk menjaga Raehan.


Memperkenal kan diri dengan sopan, bernjanji menjaga Raehan sampai gadis itu sembuh.


Sentuhan lembut, dan kata bangga yang terucap dari bibir ibu Raehan, semakin menyakin kan diri nya jika ia tidak mengambil pilihan yang salah.


Klep...


"Kak Aga..." Rungut Raehan dengan menjentikkan jari nya saat melihat Agara hanya diam saja.


"Aku kemari untuk marah pada mu..." Ujar Agara dengan nada jutek, lalu melangkah keluar dari kamar.


"Apa marah? Untuk apa?.. Lihat dia bahkan berjalan di rumah ku seperti ini adalah rumah nya.. Apa Popsy dan Momsy tidak marah..." Gumam Raehan menyusul Agara yang berjalan menuju dapur.


"Popsy... Momsy...!!" Teriak Raehan, kala menyadari kontrakan kecil nya yang sepi.


"Mereka sudah pulang ke desa.. " Timpal Agara santai, meletak kan piring di atas wastafel.


Raehan membelalak kan mata nya, lagi- lagi ia kaget mendengar jawaban Agara.

__ADS_1


Itu arti nya hanya ada diri nya dan Agara di dalam kontrakan nya.


Tapi bagaimana bisa orang tua nya membiar kan hal ini?.


Dan mengapa pria tampan itu bisa sampai ke rumah nya.?


Apa benar hanya untuk memarahi diri nya, memang apa kesalahan nya?.


Ribuan pertanyaan berputar bergatian di kepala Raehan. Ia tidak bisa membiarkan hal ini.


Kepala nya bisa sakit jika terus bergelut dengan pertanyaan yang ia ingin tahu jawaban nya.


"Kok Aga bisa tahu, Momsy tidak mungkin tidak memberi tahu ku jika dia akan kembali ke desa... Atau kakak kemari dengan menyelinap secara diam- diam kan..." Selidik Raehan dengan tangan terlipat di depan dada.


"Aku bukan maling atau makhluk sejenis nya. Menyelinap ke rumah mini mu ini? mana mungkin aku menghabis kan waktu ku dengan pekerjaan tidak berguna seperti itu."


"Lalu?"


"Aku ke sini ingin memperingat kan mu gadis sial.. Jika usaha mu tidak akan membuah kan hasil.. Bagaimana pun kamu berusaha mendekati ku dengan terus menganggu ku atau mengirim kan sarapan setiap pagi nya. Kamu tidak akan mampu membuat ku jatuh cinta..." Agara terdiam sejenak, mendekat ke arah Raehan. Menatap dua buah bola coklat itu dengan tajam.


"Jadi Stop untuk jadi penguntit dalam hidup ku.." Tekan Agara dengan nada dingin, yang langsung mampu membuat Raehan membeku.


Tapi bukan Raehan nama nya jika tidak membantah atau menimpali Agara.


"Ha... Ha... Masih menolak perasaan sendiri..." Raehan menurun naik kan alis nya, dengan tawa nyaring yang menghiasi ucapan nya.


"Maksud mu?"


"Untuk mengingat kan mu jika sebuah bintang tak akan pernah bisa kau gapai..."


Lidah Raehan terasa kelu, seakan kenyataan menampar nya lagi jika ia hanya gadis dengan ribuan kekurangan yang tidak akan bisa menggapai Agara, seorang pria bak bintang yang sangat sulit ia gapai.


Dret...


Dret...


Dret..


Ponsel Raehan lagi- lagi bergetar. Raehan menatap layar ponsel nya dengan kata Momsy yang tertera.


"Hallo Mom kenapa Momsy dan Popsy tidak bilang- bilang jika ingin pulang...?" Raehan mendengus kesal saat panggilan tersambung.


"Maaf sayang Momsy terburu- buru. Tapi tenang mama sudah menitip kan mu pada Agara... Dia adalah pria yang baik. Dia sendiri yang menawar kan diri untuk menjaga mu... Membuat Momsy dan Popsy percaya untuk menitip kan mu pada nya... Dan kau tahu untuk antisipasi Momsy menyita KTP nya sebagai jaminan jika dia macam- macam pada mu..." Jelas Ny. Marissa panjang lebar dengan suara cempreng nya.


Raehan langsung melirik Agara, yang langsung mencuci piring yang ia letak kan di atas wastafel tadi.


"Jatuh sudah harga diri ku..." Rutuk Agara dengan wajah yang merah merona lebih merah dari buah cerry.


Diri nya semakin gelapan saat Raehan menatap nya dengan tatapan meminta penjelasan.

__ADS_1


Sekarang pasti gadis sial itu, semakin percaya diri jika ia memiliki perasaan yang sama dengan nya.


Ia tidak sanggup saat melihat smirk jahil Raehan nanti nya.


Raehan langsung memutus panggilan sang Momsy.


Senyum jahil terbit di wajah nya. Kepuasan menyeruak saat mengetahui yang sebenar nya.


Raehan langsung melompat duduk di pinggir wastafel, memperhatikan Agara yang kini mencuci piring dengan salah tingkah.


Semudah itu Raehan bisa menebak sikap Agara.


"Bintang memang sulit di gapai, tapi bukan tidak mungkin.. Jika bintang itu sendiri jatuh ke bumi dengan keinginan nya sendiri..."


Raehan melebar kan senyum nya. Saat berhasil lagi- lagi membuat Agara merona.


"Mau mengelak apa lagi... Demi menjaga ku Kak Aga sampai rela menjadi kan KTP kakak sebagai penjamin untuk bisa menjaga ku... Seperti orang susah yang sedang memohon di beri pinjaman oleh lintah darat."


Jletak...


"Auuuuu..."


Satu sentilan mendarat dengan sempurna di dahi Raehan.


"Jangan mikir ketinggian... Ini hanya sekedar rasa peduli sebatas kemanusian.. Siapa yang tega membuat orang tua menangis dan bersedih... Aku hanya ingin membantu orang tua mu dengan menjaga mu.. Supaya mereka bisa pulang ke desa tanpa mengkahawatir kan putri sial nya..." Bantah Agara dengan merebahkan bokong nya di kursi tepat di depan meja makan.


"Aku tidak menyangka kak Aga adalah anak yang benar- benar sayang orang tua... Mama dan papa kak Aga pasti sangat merasa beruntung memiliki anak seperti kak Aga..."


Prang....


...----------------...


...****************...


Jangan bosan terus ya dengan karya othor๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Terus pantangin cerita nya ya...


Like


koment.


Vote


gift.


Rak favorit.


Yuk dukung terus karya ini....!!!

__ADS_1


kalo ngak koment atau like atau kasi gift..


Kalian benar- benar kejam ama thor๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ???


__ADS_2