
...282💛...
Kondisi Raehan semakin hari semakin membaik. Namun, tidak dengan hubungannya dengan Agara. Ia masih begitu marah dengan pria yang pernah memiliki hatinya. Setiap melihat Agara, dirinya selalu mengingat akan hari menyakitkan itu.
Akan tetapi, selama itu pula Agara tidak pernah berhenti untuk membuat Raehan memaafkan dirinya. Memperjuangkan cintanya yang semakin hari semakin besar pada gadis mungil itu. Meskipun, Raehan selalu menolak dan mengusirnya untuk pergi.
Dion memapah Raehan keluar dari ruangannya. Hari ini Raehan sudah boleh keluar dari rumah sakit.
Raehan tersenyum lebar, saat melihat semua orang terdekatnya tengah berdiri menunggunya di luar ruangan.
"Akhirnya, kamu bakal balik lagi masuk sekolah Rae. Sumpah rasanya sekolah benar-benar sepi karna kamu tidak masuk!" seru Fir dengan bahagia, bahkan suara berisiknya sedikit menyita perhatian orang-orang yang serang berlalu lalang.
"Sayang!" Nyonya Marissa langsung memeluk putri semata wayangnya dengan penuh kasih sayang. Mengelus lembut kepala Raehan, lalu mengecup kening putrinya.
Raehan tersenyum manis menerima perlakuan lembut Nyonya Marissa. Setidaknya luka hatinya sedikit terobati karna kehadiran keluarganya di kota ini.
"Rae kita pulang sekarang nak? Kamu masih perlu istirahat," ucap Tuan Levi memandang putri kesayangannya.
"Iya Popsy."
"Om biar saya saja yang membantu Raehan," Izin Dion saat melihat Tuan Levi hendak merangkul Raehan.
Tuan Levi dan semua orang memandang lekat ke arah Dion, beberapa hari ini Dion begitu posesif pada Raehan. Dion lebih banyak mengurus Raehan dari pada Nyonya Marissa. Mulai dari memberi makan Raehan, lalu membantu membersihkan wajah Raehan, hingga menemani Raehan setiap malamnya. Itu semua Dion lakukan tanpa pernah terlewatkan.
Raehan pun mulai menyadari, jika Dion benar-benar memiliki perasaan padanya. Ia bukan gadis yang terlalu polos, sehingga tidak tahu arti setiap perhatian yang diberikan oleh Dion.
Tetapi menolak Dion sama sekali tidak berguna, karna pasti dirinya akan menerima omelan maut dari Dion kalau ia menolak perhatian Dion.
Lagi pula, dirinya memang membutuhkan Dion, untuk menjauhkan Agara dari sekitarnya. Bukankah hal itu terdengar begitu egois ? memanfaatkan orang yang begitu tulus padamu untuk kepentingan pribadi.
__ADS_1
"Kak Dion aku bisa berjalan sendiri, perutku yang terluka bukan kakiku yang lumpuh," tolak Raehan menjauhkan tangan Dion dari bahunya.
"Sssstttt, tapi tetap saja kamu sakit. Orang sakit harus di papah, bagaimana jika kepalamu pusing dan kamu tiba-tiba jatuh? Jadi jangan sok merasa kuat. Dengarkan dan turuti apa yang aku katakan," balas Dion dengan nada sedikit ketus, lalu mengeratkan tangannya di bahu Raehan.
Plak...
"Lepaskan! Jangan pernah menyentuhnya," sarkas suara bass menggelegar, menyela perdebatan antara Raehan dan Dion, bersamaan dengan Dion yang menerima pukulan keras di punggung tangannya. Sehingga ia melepas bahu Raehan.
Rahang Dion mengeras dengan kedua tangannya yang mengepal penuh kemarahan. Saat melihat siapa yang berani memukulnya, dan ternyata dia adalah rival terberatnya, Agara.
Begitu pula dengan tatapan semua orang yang terarah pada kehadiran Agara. Namun, tidak dengan Nyonya Marissa yang malah tersenyum melihat remaja pria tampan itu.
"Tante, kok malah senyum sih?" tanya Miya yang bingung dengan ekspresi ibu dari sahabatnya itu. Di saat semua orang tegang, malah ibu sahabatnya itu tersenyum penuh arti.
"Tentu saja, karna calon menantu tante udah datang." Nyonya Marissa mengedipkan sebelah matanya.
Miya menghela nafas mendengar penuturan Nyonya Marissa. Dirinya yakin pasti sikap aneh Raehan turun dari Nyonya Marissa. Bagaimana bisa seorang ibu masih menganggap pria yang menyebabkan nyawa putrinya hampir melayang sebagai menantu. Hanya orang aneh yang melakukan hal itu.
Agara terdiam dan hanya menatap Dion tajam, aura dingin benar-benar menguar dari dalam tubuh Agara. Bahkan semua orang yang berada di sana, bisa merasakan hal itu.
"Aku punya hak itu, dan aku akan selalu memilikinya!" tegas Agara menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
"Dasar tidak tahu malu, selain seorang pecundang kamu benar-benar tidak tahu malu Aga. Setelah yang kamu lakukan pada Raehan, kamu pikir aku akan membiarkan mu tetap berada di samping nya? Tidak akan pernah," sulut Dion yang semakin terbakar emosi.
"Dia adalah kekasihku, dan kami belum putus. Jadi kamu harus sadar diri. Untuk tidak masuk ke dalam hubungan orang lain sebagai orang ketiga. Karna orang ketiga selalu bernasib buruk. Jadi, sebelum nasibmu menjadi buruk, jauhilah kekasihku."
"Aku sudah mengatakannya berulang kali kan kak Aga ... Jika kita sudah tidak memiliki hubungan lagi," hardik Raeha menatap benci pada Agara.
Glek...
__ADS_1
Agara menelan salivanya dengan paksa, lagi-lagi ia harus mendengar kalimat menyakitkan dari bibir mungil itu.
"Dan aku juga mengatakan Rae, kalau hubungan kita tidak akan pernah berakhir. Sekali kamu menjadi milikku, maka kamu akan selalu menjadi milik ku." Tanpa aba- aba Agara langsung menarik tubuh Raehan dan menggendongnya ala bridstyle, yang membuat Raehan sangat terkejut. Bahkan semua orang yang melihat aksi Agara melongo dengan mata terbuka lebar.
"Turunkan aku!!" Pekik Raehan sambil memukul dada Agara. Menggeliatkan tubuhnya supaya Agara menurunkan tubuhnya.
Namun, Agara tidak bergeming sedikitpun, bibirnya malah tersenyum miring melihat Raehan yang terus memberontak, terlihat sangat menggemaskan.
"Berhenti bergerak!! atau aku akan menciummu di sini," bisik Agara dengan seringgainya, yang langsung mampu membuat Raehan terdiam dan bungkam.
Tentu saja ia masih ingat, saat Agara mencium bibirnya dengan paksa. Benar-benar sangat memalukan tapi dirinya malah ingin merasakannya lagi.
Raehan segera menggelengkan kepalanya cepat, saat pikiran laknatnya mulai berkelana dan memikirkan sesuatu yang tidak-tidak.
Agara yang menangkap tingkah Raehan dalam pelukannya, tersenyum lebar.
"Kenapa kepalamu menggeleng seperti itu? Jangan bilang kamu mengharapkan aku menciummu?" bisik Agara tepat di telinga Raehan, yang tentu saja membuat ke dua mata Raehan melebar dengan sempurna.
"Jangan terlalu percaya diri, bahkan rasanya aku ingin mengelupas bibirku, supaya bekas ciumanmu menghilang. Berani sekali kau merampas ciuman pertamaku, kamu pikir dengan menciumku aku akan menjadi milikmu? Tidak," balas Raehan kesal. Rasanya ingin sekali ia mencekik leher jenjang di samping wajahnya itu. Tapi ia tidak mungkin melakukan hal itu, bisa-bisa Agara benar-benar nekat menciumnya di depan semua orang. Apa lagi di sini ada Momsy dan Popsynya.
Sedangkan Dion terlihat begitu marah dan kesal, lagi-lagi ia kalah cepat dari Agara, dan lagi-lagi Raehan di bawa pergi oleh Agara.
"Kasihan sekali ... Dia itu sainganmu yang sangat berat. Sepertinya kamu tidak akan bisa mendapatkan kakakku Dion," celetuk Lion dengan wajah mengejek melihat wajah memerah Dion yang sudah hangus terbakar api kemarahan.
"*Dasar bocah ingusan .... " umpat Dion dalam hati.
...----------------...
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa like koment kasi koin kalau bisa dan vote ya gengs. love you alll❤️❤️❤️*