Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Ke kontrakan aja!


__ADS_3

...340...


Kedua pria itu menatap tajam ke arah Raehan, mereka tidak terima dengan sikap Raehan.


"Dengar! Aku ngak akan pulang sama Kak Aga, ataupun Kak Dion. Aku bisa pulang sendiri, aku punya kaki dan aku bisa naik angkot atau taksi. Jadi, lebih baik kalian pergi aja karena aku puyeng dengar kalian berantem terus," tambah Raehan dengan nada frustasi sembari kedua tangannya menunjukkan gaya ingin mencakar.


"Rae, please jangan keras kepala. Ini udah malam, ngak mungkin aku biarin kamu pulang sendiri," protes Agara.


"Popsy lebih percaya sama aku, Rae. Jadi kamu pulang sama aku aja." Dion.


"Hahhh, bicara sama kalian itu percuma yah. Mending kalian tawarin aja tuh cewek-cewek yang ngak ada tumpangan." Raehan menunjuk pada beberapa peserta perempuan yang tengah menunggu jemputan.


"Rae, kamu ikut apa aku paksa!" ancam Agara.


"Ngapain sih kamu, ngancam-ngancam Raehan," sarkas Dion yang tidak terima.


"Diam kamu!"


"Kalian ngak perlu anter Raehan pulang. Biar Raehan pulang sama aku aja!" seru Miya keluar dari mobil dan berjalan mendekat ke arah Raehan.


Akhirnya Miya datang juga, Raehan bisa menghela nafas lega. Yah, tadi ia meminta Miya datang menjemputnya. Untung sahabatnya itu sedang keluar dan tidak terlalu jauh dari sekolah sehingga Miya datang dengan cepat. Miya tersenyum dengan lebar, persis seperti senyum pepsodent dengan menunjukkan deretan gigi-giginya.


"Rae, kok badan kamu kayak abis di cakar macan sih?" tanya Miya dengan absurd sembari mengamati tubuh Raehan yang terdapat banyak luka gores. Bahkan sampai pipi gadis itu memiliki beberapa luka. Untung tidak dalam sehingga tidak membekas.


"Untung kamu dateng, Mi. Sumpah aku tuh dah capek banget. Pegel semua nih badan-badan aku," keluh Raehan dengan manja. Namun, tengah menyindir sembari menggerakkan-gerakkan kedua bahunya.


"Uhhh, kasihan banget sahabat aku tuh. Nanti aku obatin lukanya oke." Miya memeluk Raehan dengan erat dan hangat.


"Terus di dua cowok tampan, ngapain masih di sini? Tadi udah jelas kan denger kalau aku yang bakal nganterin Raehan pulang," ucap Miya lagi dengan mengurai pelukannya.


"Rae, kamu ngak bisa pulang sama Miya dia itu cewek. Ini udah malem," bujuk Dion dengan meraih tangan Raehan.


Agara yang melihat Dion menyentuh tangan Raehan segera menepis tangan Dion hingga melepaskan genggamannya di tangan Raehan.


"Ngak usah pake pegang-pegang," sinis Agara menatap Dion tajam.

__ADS_1


"Ayolah, Rae please," renggek Dion.


"Udahlah, kamu udah di tolak jangan maksa donk," sarkas Agara. Miya yang memperhatikan perdebatan keduanya hanya bisa geleng-geleng kepala. Sungguh sahabatnya sangat hebat bisa membuat dua pria tampan memperebutkan dirinya. Akan tetapi, sayangnya ia tidak membutuhkan pria seperti Agara dan Dion, yang ia butuhkan hanya pria seperti Kazuya. Miya yang mengingat Kazuya tersenyum-senyum sendiri dengan pikirannya.


"Ini kalian tuli apa gimana sih, ngeyel terus mau anterin aku. Aku bilang aku ngak mau, apa kurang jelas? Setidaknya kasihanilah aku, aku sangat lelah. Tubuhku rasanya mau remuk tapi kalian malah asik bertengkar dan berdebat terus. Gini aja, kalau kalian mau bertengkar lebih baik jangan di sini, jangan di depanku. Pokoknya aku pusing. Mi, ayo pulang!" seru Raehan dengan wajah frustasi, kemudian menarik pergelangan tangan Miya dan berjalan dengan cepat menuju mobil sahabatnya.


"Rae!" panggil Agara yang ingin belum menyerah.


"Tidak baik pulang sendiri, Rae!" seru Dion juga. Kedua pria tersebut hendak mengejar Raehan. Namun, leher keduanya langsung tercekik karena sebuah tangan membekuk mereka dari belakang.


"Udah sih, kalian jahat banget sama Raehan. Udah Raehan yang sakit di suruh ini dan itu, terus di jadiin bantal tidur. Sekarang kalian masih mau ngehalangin dia buat pulang. Oh, ayolah brother jangan seperti itu. Bisa-bisa Raehan pindah haluan loh ketikungan depan," seloroh Niel dengan gaya supelnya. Ia sengaja melakukan hal ini supaya Raehan bisa pulang dan istirahat.


"Lepasin tangan kamu, jangan sok akrab sama aku!" hardik Agara dengan menepis kasar tangan Niel.


"Woiii, Boy santai dikit donk."


"Cih, sial gara-gara keparat kayak kalian berdua Raehan udah pergi kan," kesal Agara yang memilih untuk pergi dari pada terus meladeni dua cecunguk yang sangat menyebalkan.


"Kita pulang!" seru Niel menatap ke arah Dion.


"Huhhh, astaga untung muka aku ngak bonyok," gumam Niel menangkup wajahnya sendiri. Sebenarnya, tadi ia sudah ketakutan setengah mati. Takut jika Agara dan Dion sampai meninju wajah tampannya. Akan tetapi, untung saja tuhan masih mengasihi wajahnya yang tampan meskipun malam ini ia harus tidur sendiri di rumah karena Dion tidak akan membiarkan ia menginap.


.


Mobil Miya terus melaju membelah jalanan yang terlihat cukup ramai. Hilir-mudik kendaraan dengan suara deru mesin dan juga klakson meramaikan jalanan yang terlihat begitu terang.


"Mi, kamu anterin aku ke rumah kontrakan aja yah," pinta Raehan, yang lansung mendapat tatapan heran dari Miya.


"Kenapa?"


"Ngak mungkinlah aku pulang dengan kondisi kayak gini. Bisa-bisa aku kena semprot Momsy. Kamu tahu kan, kalau ngak sampe kucing di rumah tetangga sampai lahiran. Momsy akan terus marah sama aku," keluh Raehan dengan menunduk lemas.


"Kan, di sana ada Fir, Rae."


"Ya ngak papa, nanti Fir bisa tidur di luar aja. Kamu juga temenin aku ya, nginep di kontrakan aku. Aku pengen banget cerita banyak sama kamu, Mi." Raehan memegang bahu sahabatnya yang masih fokus menyetir.

__ADS_1


"Iya, tapi tetangga ngak akan gerebek kan? Soalnya aku ngak mau nikah sama Fir."


"Udah, ntar Fir suruh tidur di teras aja."


"Oke, deh." Miya membelokkan arah kemudi mobilnya menuju kontrakan Raehan, seperti yang diinginkan sahabatnya.


"Terus, kenapa bisa sih kamu luka-luka kayak gitu?" tanya Miya kini dengan wajah yang panik dan khawatir. Raehan selalu saja terlibat dengan sesuatu yang berbahaya. Kemarin sahabatnya itu hampir mati karena kekurangan darah, dan sekarang lihat tubuh gadis itu dipenuhi oleh luka gores.


"Aku jatuh ke dalam jurang."


"Apa?"


Ciiittt!


Miya menginjak rem secara mendadak, membuat tubuhnya dan Raehan terdorong ke depan hingga hampir terbentur dashbord mobil. Ia benar-benar kaget mendengar jawaban Raehan barusan. Ia menatap Raehan dengan panik dan khawatir.


"Kamu ngak becanda kan, Rae?"


"Ya, ngaklah. Ngapain becanda, makanya aku luka-luka kayak gini." Raehan mencebikkan bibirnya kesal saat mengingat betapa jahatnya Kiara.


Miya memperhatikan setiap inci tubuh Raehan, ia memeriksa tubuh Raehan dengan sangat teliti. Bahkan, ia mendorong tubuh Raehan ke kanan dan ke samping untuk memastikan sahabatnya itu baik-baik saja.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


komentar


gift


vote

__ADS_1


tips


__ADS_2