
...335...
Semua telah selesai dibereskan. Seluruh peserta mulai masuk ke dalam Bis masing-masing sesuai dengan urutan yang sama saat mereka pergi. Tidak ada yang berubah, mulai dari Bis hingga tempat duduk. Hal itu dilakukan supaya para Dewan guru dan juga Anggota Osis tidak kewalahan untuk mengatur para peserta yang berjumlah seratus orang.
Semua peserta ada yang merasa senang karena mereka pulang lebih cepat. Namun, ada pula yang mengumpat karena belum puas untuk berlibur, tetapi sudah disuruh pulang. Semua umpatan yang keluar dari mulut mereka hanya tertuju pada Kiara. Sebab gadis itulah yang membuat masalah sehingga membuat jadwal acara berantakan.
Di lain sisi, kondisi berbeda sedang terjadi pada Raehan. Ia menatap kesal pada Agara dan Dion yang malah asik berdebat dan bukan malah membantunya untuk naik ke Bis. Sejak tadi, dua pria tersebut terus saja menatap dengan tatapan bermusuhan. Meskipun, keduanya tidak berani untuk bertengkar di depan Raehan, tetapi kedua pria itu bertengkar di belakang Raehan.
"Ini gimana nih? Aku jadi di gendong sama siapa?" renggek Raehan dengan bibir mengerucut. Yah, kali ini ia ingin bermalas-malasan menjadi ratu dari dua pria tampan. Kapan lagi, ia bisa menyuruh ini dan itu seperti ratu yang mempunyai harem pria.
Dion dan Agara saling menyenggol siku dan hendak menggendong Raehan. Namun, Raehan segera menghentikan gerakan keduanya.
"Tubuhku ngak berat-berat amat, salah satu aja yang gendong," desah Raehan yang sudah merasa lemas sendiri dengan kelakukan dua pria di depannya itu. Ia merasa sedang menghadapi dua orang gila sekaligus. Sungguh sangat merepotkan. Untung saja, keduanya tampan dan memukau sehingga membuat kekesalan Raehan mereda saat melihat wajah tampan mereka.
"Ya udah biar aku aja," ujar Dion berbicara lebih cepat dari Agara.
"Tidak, biar aku saja yang gendong Raehan!" seru Agara dengan menekan nada bicaranya. Ia tentu saja tidak ingin kalah dari Dion. Ia tidak akan membiarkan pria itu menyentuh kekasihnya.
"Tapi aku yang duluan mengatakan hal itu," sarkas Dion dengan tersenyum paksa, mengontrol emosinya yang sangat ingin menebas kepala Agara hingga menggelinding ke tanah.
"Tapi aku lebih kuat darimu."
"Kamu pikir aku lemah hanya untuk mengendong gadis dengan tubuh kecil."
"Tubuh Raehan memang kecil tapi asal kamu tahu berat badannya berat."
"Cukup, cukup!" jerit Raehan dengan hidung yang mengembang dan mengempis. Lihat betapa teganya Agara dan Dion mengatai dirinya berat. Secara tidak lansung kedunyanya mengatai dirinya gemuk.
"Aku tidak berat, mengerti! Aku tahu, begini saja biar adil. Untuk naik ke dalam Bis biar Kak Aga yang menggendongku. Saat, turun dari Bis Kak Dion yang akan menggendongku. Kalau kalian terus berdebat dan bertengkar seperti ini, bisa-bisa Bis meninggalkan kita. Kak Aga, ayo gendong aku!" pinta Raehan setelah memutuskan keputusannya.
Agara tersenyum penuh kemenangan, ia melempar senyum mengejek pada Dion. Lalu, segera berjongkok dan meletakkan satu tangannya di bawah lutut Raehan, dan satu tangan yang lainnya di bawah punggung Raehan. Dalam satu kali tarikan, tubuh Raehan masuk ke dalam gendongan Agara.
"Tolong bawa ransel Raehan, Dion," ejek Agara, kemudian berjalan pergi meninggalkan Dion dengan wajah merah padam.
Puk!
Raehan memukul ringan dada Agara, hal itu membuat Agara menoleh ke arah Raehan dengan kening berkerut.
"Kenapa kamu memukulku?" tanya Agara, perasaan ia tidak membuat kesalahan apapun.
__ADS_1
"Kenapa berkata seperti itu pada Kak Dion?" jawab Raehan dengan melemparkan pertanyaan, yang lansung membuat wajah Agara menjadi masam dan kecut.
"Kamu lebih membela dia dari pada kekasihmu?" Kedua mata Agara melotot tidak terima.
"Bukan seperti itu."
"Lalu?"
"Bersikaplah sedikit baik padanya. Kalau bisa ajaklah dia berteman. Kalian berdua ditugaskan untuk mengurusku bukannya malah terus saling menjatuhkan da membuat diriku menjadi bahan rebutan."
"Yang harus kamu tahu, pertama kamu itu kekasihku. Tentu saja, aku tidak akan terima jika Dion terus mendekati dirimu. Kedua seharusnya aku yang lebih berhak mengurusmu karena aku adalah kekasihmu. Akan tetapi, kamu malah dengan senang hati menerima perhatian Dion. Katakan, apa sekarang kamu menyukai Dion?"
"Ck, tentu saja tidak, tapi aku hanya ingin menghargai perasaan Kak Dion. Dia sudah banyak membantuku. kamu tidak lupa kan, jika dia yang membantuku saat aku diculik oleh Mr. Vinsion. Dia rela mempertaruhkan hidupnya untukku." Raehan memainkan kerah baju Agara.
"Lalu, bagaimana dengan perasaanku, Rae? Mengertilah, aku tidak suka melihatmu dengan Dion. Aku tahu, aku tidak becus menjaga dirimu. Seharusnya aku yang berada di sana bukan Dion." Wajah Agara menyendu penuh penyesalan. Ia memang kekasih yang tidak berguna, perkataan Raehan barusan berhasil mencubit sakit ulu hatinya. Jika saja, waktu bisa diputar ia akan menjauhkan Raehan dari pria jahat seperti Mr. Vinsio.
Raehan yang melihat wajah Agara berubah sedih, merasa bersalah. Seharusnya ia tidak mengungkit masalah itu. Akan tetapi, Agara harus mengerti jika Dion adalah pria yang baik yang tidak bisa ia hindari. Ia sudah berjanji tidak akan mengusir Dion dari sekitarnya hanya sampai pelulusan kelas XII. Seorang Raehan tidak bisa mengingkari janji yang sudah ia buat.
Raehan menangkup lembut wajah Agara, menarik dagu lancip itu sehingga tatapannya bertaut dengan mata merah darah indah milik Agara.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk mengungkit kejadian itu. Akan tetapi, aku suda berjanji pada Kak Dion untuk tidak mengusirnya jauh dari sisiku. Aku mohon jangan marah, cintaku dan hatiku hanya untukmu. Aku tidak tahu, kalau kau?" Raehan mengendikkan kedua bahuhya dengan pipi mengembung.
"Apa itu artinya hubungan kita tidak membaik seperti awal?" hembus Agara sembari menaiki tangga Bis.
"Tentu saja kita sudah baikan. Akan tetapi, aku ingin kita jalani dengan sembunyi-sembunyi---"
"Tidak, aku tidak setuju," sosor Agara dengan cepat. Lalu, menurunkan tubuh Raehan pada kursi panjang Bis. Agara sengaja memilih kursi panjang yang ada di bagian paling belakang Bis agar Raehan bisa tiduran atau selonjoran.
Wajah Raehan lansung cemberut, seperti buat jeruk yang airnya dihisap habis hingga kulitnya keriput. Agara menarik nafas panjang. Ia berjongkok di depan Raehan. Tangannya terangkat merapikan anak rambut Raehan dengan menyelipkan di belakang telinga.
"Hmmm, baiklah aku setuju. Kita akan menjalani hubungan ini sesuai dengan apa yang kamu inginkan," ujar Agara dengan nada lembut, yang lansung membuat Raehan tersenyum senang.
"Terimakasih, kamu memang kekasih yang paling baik dan pengertian," puji Raehan dengan menyugar rambut Agara. Kedua sudut bibir Agara terangkat ke atas, menciptakan lengkungan indah yang selalu membuat Raehan terpesona dan terpana.
Agara segera duduk di samping Raehan, menggenggam tangan gadis itu dengan sangat erat, seolah-olah Raehan akan pergi darinya jika genggamannya mengendur. Lagi-lagi ia kalah dan harus menuruti keinginan Raehan untuk menyembunyikan hubungan mereka. Sejujurnya, ia tidak setuju dengan hal itu. Namun, saat wajah Raehan berubah menjadi sedih dan cemberut, hatinya lebih tidak bisa menerima akan hal itu. Ia tidak bisa melihat Raehan sedih apalagi menangis, rasanya sangat menyesakkan dada.
Ia hanya takut, jika sampai Raehan jatuh cinta dengan Dion. Namun, ia berharap semua itu tidak akan terjadi. Ia tidak ingin kehilangan Raehan.
Raehan yang menangkap keraguan pada wajah Agara tentu bisa menebak apa yang pria itu pikirkan. Dengan perlahan Raehan mendekatkan wajahnya tepat di samping telinga Agara.
__ADS_1
"Jangan khawatir, hatiku hanya milikmu. Tidak akan ada yang bisa menggantikan tempat itu sampai kapanpun," bisik Raehan.
Agara memejamkan kedua matanya seketika, saat merasakan hembusan nafas Raehan yang mengenai daun telinganya. Rasanya sangat geli dengan perasaan hangat yang mengalir akibat perkataan Raehan.
Agara menoleh ke arah Raehan sehingga hidung mereka saling bergesekan dengan tatapan dalam yang saling bertaut. Keduanya menatap jauh ke dalam bola mata masing-masing, mencari cinta dan keseriusan. Tatapan yang selalu berhasil menarik mereka untuk sama-sama menyelami perasaan satu sama lainnya. Tatapan yang selalu membuat mereka begitu terhipnotis dengan perbedaan warna kedua bola mata. Mereka seakan merasakan alunan mantra dan melodi yang berbunyi bersamaan, mengunci dan membekukan pandangan mereka hingga tak bisa lepas satu sama lain.
Byur!
Agara terlonjak kaget saat bagian perutnya terasa sangat dingin. Hal itu berhasil memutus kontak mata antara dirinya dan Raehan. Agara menatap ke arah perutnya yang sudah basah dengan air es. Kulit perutnya terasa kebas. Sedangkan Raehan melirik ke arah Dion yang baru saja datang dengan seteko air es yang masih tersisa di tangannya.
Awalnya Dion masuk ke dalam Bis dengan membawa seteko air es pesanan salah satu teman Anggota Osis. Namun, saat ia masuk dan melirik ke arah kursi belakang di mana Agara dan Raehan sedang bertatapan denga hidung bersentuhan, niatnya untuk memberikan air es kepada temannya di urungkan dan kini malah mendarat di perut Agara.
Agara menatap marah dan kesal dengan kepala yang sudah mengeluarkan kepulan asap. Ia tahu, jika Dion pasti sengaja melakukan ini padanya. Mulut Agara hendak mengeluarkan cacian dan makian. Namun, didahului dengan cepat oleh Dion.
"Maaf, Aga aku tidak sengaja. Kakiku tadi tersandung sesuatu. Jadi tidak sengaja menumpahkan air es ini di badanmu. Pasti sangat dingin kan?" ujar Dion dengan nada sedikit mengejek dan merendahkan. Ia tersenyum puas melihat amarah Agara yang harus ditahan karena ada Raehan di sampingnya.
"Tersandung? Alasan yang tidak masuk akal, di sini tidak ada batu yang bisa membuat kakimu tersandung," ketus Agara dengan kedua tangan mengepal.
"Aku juga tidak tahu, tapi aku benar-benar minta maaf."
"Kau---"
"Kak Aga." Raehan lansung menarik lengan tangan Agara yang hendak berdiri, tentu saja untuk menghajar Dion.
Agara menoleh ke arah Raehan dengan tatapan kesal, tetapi Raehan menggelengkan kepalanya kecil agar dia tidak tersulut emosi.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
koment
gift
vote
__ADS_1
tips