
...302...
Kazuya yang sedang berada di dapur dan bergelut dengan kompor serta wajan, tidak menyadari jika Raehan dan Dion sudah pulang. Hidup sendiri tanpa sandaran membuat Kazuya menjadi pria mandiri. Ia tidak terlalu bisa memasak makanan, tapi bukan berarti ia tidak bisa. Hidupnya yang sulit menuntut dirinya untuk bisa melakukan apapun, termasuk memasak.
"Hmmmm, wangi banget!" seru Raehan kegirangan dan langsung berlari ke arah Kazuya.
Kazuya yang mendengar suara cempreng melengking yang sangat familiar baginya, langsung menoleh ke belakang dan mendapati gadis yang sangat berjasa dalam hidupnya.
"Rae, kamu di sini?" Kazuya sedikit tidak percaya, lalu melirik ke arah Dion yang merebahkan tubuhnya di sofa.
"Kejutan!" seru Raehan yang langsung melempar ranselnya asal. Dion yang melihat tingkah Raehan hanya tersenyum tipis.
"Lagi masak apa Kazuya?" tanya Raehan sambil meneliti beberapa makanan yang sudah siap di atas meja makan.
"Tumis udang, sama tahu krispi," sahut Kazuya meletakkan jus apel di atas meja.
"Ternyata kamu jago masak ya," puji Raehan sambil menghirup aroma masakan Kazuya yang ternyata mampu membuat air liurnya menetes.
"Ahh tidak kok, aku tidak sejago yang kamu pikirkan," balas Kazuya merendahkan diri.
Dion mendekat ke arah Kazuya dan Raehan sambil membuka tiga kancing seragamnya. Ia merasa gerah meski di dalam rumah sudah ada AC. Mungkin karna cuaca yang cukup terik.
"Setidaknya kamu berguna juga Kazuya. Selain membersihkan rumah kamu juga pandai memasak. Setidaknya aku bisa mengirit biaya pelayan di rumahku," ujar Dion tanpa dosa. Sedang Kazuya hanya menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Dion tanpa saringan itu.
Berbeda dengan Raehan yang tidak suka mendengar hal itu, dengan wajah kesal Raehan mencubit perut atletis Dion, sehingga pria itu meringgis kesakitan.
"Aaauuu Rae, kamu ngapain pake cubit segala sih."
"Tu mulut di jaga Kak, punya mulut kok ngak ada rem," sungut Raehan mengerucutkan bibirnya ke depan, lalu duduk di kursi tepat di samping Kazuya.
"Ha ... Ha ... Aku hanya jujur saja Rae," timpal Dion dengan tertawa lucu. Ia begitu gemas melihat wajah Raehan yang kesal, terlihat sangat manis di matanya.
Raehan mencebikkan bibirnya, berbicara dengan pria seperti Dion sama saja berbicara dengan seekor tikus, tidak akan mendengarkan malah akan membalas dengan merusak.
"Niel, tidak ikut pulang?" tanya Kazuya pada Dion, yang di balas dengan gelengan kepala.
"Ini kita mulai makannya kapan? Aku udah laper banget," protes Raehan yang sudah tidak sabar mencicipi makanan yang dibuat oleh Kazuya.
__ADS_1
"Besok setelah Menara Pissa menjadi tegak," sahut Dion yang langsung membuat bibir Raeha semakin mencebik.
"Dasar menyebalkan," umpat Raehan yang langsung mengambil piring untuknya.
"Ini Rae, kamu harus coba makanan buatanku." Kazuya menyendokkan tumis goreng dan meletakkan satu buah tahu krispi di piring Raehan.
"Terimakasih Kazuya." Tanpa menunggu lagi Raehan langsung memasukkan tumis udang buatan Kazuya dalam mulutnya. Sedetik kemudian, matanya melebar sempurna saat rasa makanan tersebut menggoyang indra pengecapnya.
"Emmmm, enak banget Kazuya. Sumpah ya ganteng-ganteng kamu juga jago masak ternyata. Pasti yang jadi pacar kamu bakal beruntung banget," puji Raehan sambil terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Kazuya tersenyum senang melihat Raehan menyukai masakan yang ia masak. Gadis di sampingnya terlihat begitu polos dan apa adanya. Tidak seperti Jiya yang penuh dengan kepalsuan serta kemunafikan.
"Kamu memujiku dengan berlebihan Rae," timpal Kazuya mulai menyiapkan makanannya.
Sementara Dion menatap dua orang di depannya yang tengah asik mengobrol dan melupakan kehadirannya. Apa lagi melihat Raehan yang terus saja memuji Kazuya, rasanya saat ini ia ingin mengusir Kazuya pergi.
"Ekhhmm," dehem Dion.
Raehan dan Kazuya langsung melirik ke arah Dion yang menatap mereka dengan dingin. Ke duanya mengerjitkan keningnya heran.
"Ada apa?" tanya Raehan.
"Astaga, maaf kami lupa," balas Kazuya tanpa dosa, lalu mengambil satu piring dan meletakkannya di depan Dion. Kazuya menyendokkan tumis udang yang ia buat dan hendak meletakkannya di piring Dion.
"Stop!" pekik Dion membuat tangan Kazuya serta sesendok tumis memgambang di udara. Raehan masih masih asik dengan makanannya, ia tidak memperdulikan dua pria yang ada di sekitarnya. Sikap acuh Raehan dan lebih fokus pada makanan tentu saja menyulut emosi Dion. Ia belum makan tapi dengan teganya Raehan makan duluan. Padahal ia sengaja menunggu Raehan untuk menyiapkan makanan untuk dirinya. Namun, bukannya Raehan yang peka malah Kazuya.
"Aku tidak ingin kau yang menyiapkan makananku, aku ingin Raehan yang melakukannya," ucap Dion dengan suara tegas.
"Uhuukkk." Raehan langsung batuk seketika, tersedak dengan tahu krispi yang sudah masuk ke kerongkonganya. Namun malah memyembul keluar lagi.
Dengan sigap Kazuya memberikan segelas air untuk Raehan. Raehan meneguk habis air tersebut. Untung ia tidak mati tersedak karna kaget, pikir Raehan memandang Dion yang menatapnya dengan tajam.
"Kak Dion kan punya tangan sendiri, jangan manja donk," sarkas Raehan.
"Ya sudah kalau begitu aku tidak jadi makan." Dion segera beranjak dari duduknya, dan akan pergi. Namun, Raehan segera mencekal tangan Dion. Senyum puas tersungging di bibir seksi Dion. Ia tahu jika Raehan peduli padanya.
"Ya sudah aku yang bakal ngelayanin kak Dion. Duduk!" Raehan menarik pergalangan tangan Dion, sehingga Dion duduk kembali di kursinya.
__ADS_1
Kazuya yang melihat drama di depannya, mencebikkan bibirnya mengejek karna melihat betapa pemaksanya seorang Dion Pratama untuk mendapatkan apa yang di inginkan
Raehan mendekat ke arah Dion. Tangannya dengan telaten menyiapkan makanan untuk Dion. Sedangkan Dion malah senyum-senyum sendiri sambil memandangi wajah Raehan.
Apa aku bisa melupakanmu Rae? Batin Dion.
"Sudah, selamat makan." Raehan tersenyum lebar lalu kembali duduk.
Dion mulai memakan makanan miliknya sambil terus menatap ke arah Raehan. Ia tidak ingin kehilangan momen untuk terus menatap wajah Raehan yang tidak pernah puas untuk ia pandangi. Dion mencetak dalam-dalam wajah mungil Raehan di dalam otaknya. Menjadikan ingatan terindah di dalam memorinya.
Setelah selesai makan. Raehan, Dion, dan Kazuya memilih duduk santai di Roof top dengan duduk beralaskan karpet.
Raehan merogoh ranselnya, mengeluarkan berkas formulir yang tadi di berikan oleh Dion. Lalu menyodorkannya pada Kazuya yang terlihat bingung.
"Apa ini?" tanya Kazuya spontan.
"Formulir beasiswa Milver High School."
Kazuya semakin mengerutkan dahinya tidak mengerti.
"Kamu pernah mengatakan jika kamu putus sekolah bukan. Jadi aku dan Kak Dion meminta formulir beasiswa ini untukmu Kazuya. Sangat di sayangkan jika kamu tidak mendapat pendidikan yang seharusnya kamu dapatkan. Jadi ini peluangmu untuk bisa mengecam pendidikan lagi," jelas Raehan dengan menyakinkan.
Namun, sepertinya prediksi Raehan salah. Bukannya Kazuya bersorak bahagia tapi wajah pemuda itu terlihat sedih. Melihat wajah Raehan yang kecewa, Dion segera angkat bicara.
"Eh Kazuya, kamu ini gimana sih. Kamu seharusnya melompat-lompat karna senang!" sentak Dion sambil mendorong bahu Kazuya.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
Like
Komet
Gift
__ADS_1
Vote