
...341...
"Terus, kenapa bisa sih kamu luka-luka kayak gitu?" tanya Miya kini dengan wajah yang panik dan khawatir. Raehan selalu saja terlibat dengan sesuatu yang berbahaya. Kemarin sahabatnya itu hampir mati karena kekurangan darah, dan sekarang lihat tubuh gadis itu dipenuhi oleh luka gores.
"Aku jatuh ke dalam jurang."
"Apa?"
Ciiittt!
Miya menginjak rem secara mendadak, membuat tubuhnya dan Raehan terdorong ke depan hingga hampir terbentur dashbord mobil. Ia benar-benar kaget mendengar jawaban Raehan barusan. Ia menatap Raehan dengan panik dan khawatir.
"Kamu ngak becanda kan, Rae?"
"Ya, ngaklah. Ngapain becanda, makanya aku luka-luka kayak gini." Raehan mencebikkan bibirnya kesal saat mengingat betapa jahatnya Kiara.
Miya memperhatikan setiap inci tubuh Raehan, ia memeriksa tubuh Raehan dengan sangat teliti. Bahkan, ia mendorong tubuh Raehan ke kanan dan ke samping untuk memastikan sahabatnya itu baik-baik saja.
Tangis Miya langsung pecah tanpa aba-aba. Ia menghambur memeluk Raehan dengan erat. Ia sangat bersyukur karena masih bisa melihat Raehan. Entah, apa yang terjadi pada Raehan di puncak tapi ia yakin hal itu tidaklah baik.
Raehan membalas pelukan Miya tak kalah erat. Bahkan, kini ia juga ikut menangis. Merasakan pelukan hangat dari Miya membuat sisi lemah dalam dirinya bangkit. Jujur, ia juga sangat takut saat jatuh ke dalam jurang, tempat itu sangat gelap. Ia tidak bisa melihat apapun. Namun, beruntung ada sosok hitam itu yang menyelamatkan dirinya meskipun ia tidak tahu siapa sosok itu. Raehan mengusap lembut punggung Miya, menenangkan sahabatnya itu agar berhenti untuk menangis. Kalau Miya saja sangat syok mendengar ceritanya. Lalu, bagaimana reaksi ibu dan ayahnya. Sungguh, membayangkan hal itu membuat Raehan bergidik ngeri.
"Udah, aku sekarang kan udah selamat dan ngak papa," ucap Raehan mengusap air matanya.
"Kok bisa kamu jatuh ke jurang? Kamu ngak mungkin kan latihan renang di sana?" cecar Miya dengan pertanyaan absurd yang tidak masuk akal. Raehan mengurai pelukannya pada Miya. Bibirnya terkekeh mendengar pertanyaan konyol Miya. Ya kali, ia latihan renang dalam jurang.
"Please deh, Mi. Ya kali aku latihan renang dalam jurang. Kamu doain aku mati ya."
"Sssttt, bukan gitu. Cuma bercanda aja tapi kamu beneran ngak papa kan, Rae? Kasi tahu sama aku, kenapa kamu bisa jatuh ke jurang? Apa ada yang jahatin kamu?" cecar Miya dengan serius. Ia menatap lekat pada Raehan yang tersenyum dengan kecut.
"Kiara yang mendorongku."
__ADS_1
"Hah?"
"Iya, ternyata dia benar-benar jahat. Dia yang dorong aku sampai aku jatuh ke dalam jurang. Padahal awalnya aku sempat pegangan di bibir jurang tapi dia malah injak tanganku. Nih, liat jari-jariku jadi memar dan lecet gini." Raehan memperlihatkan jari-jari tangannya yang terlihat mengelupas dan dibalut dengan perban.
"Dasar ya, Si Kiara pengen aku jambak terus aku gundulin. Berani sekali dia berbuat jahat sama kamu Rae, seharusnya kamu yang mendorong dia jatuh ke dalam jurang. Seharusnya kamu berikan dia pelajaran." sungut Miya dengan kemarahan yang menggebu-gebu. Hal itu terlihat dari rahang Miya yang mengetat dan juga tangannya yang mengepal. Ingin rasanya saat ini ia mencari Kiara dan menghajarnya sampai babak belur.
"Kamu tahu, aku benar-benar tidak percaya dia bisa melakukan hal itu. Akan tetapi, aku salah Mi dia memang perempuan yang jahat. Dia gadis yang sangat nekat, gadis seperti dia bisa melakukan apapun bahkan sampai merenggut nyawa seseorang."
"Terus siapa yang nolongin kamu?"
"Huhhhh, entahlah aku juga tidak tahu. Ada sosok hitam yang menarik aku keluar dari jurang. Padahal, aku udah putus asa dan hanya melihat kematian. Aku sangat berhutang budi padanya. Kamu tahu, Mi. Rasanya ada seseorang yang selalu menjagaku, tetapi aku tidak tahu siapa dia."
"Sudahlah, Rae. Kamu jangan banyak pikiran dulu, yang penting kamu selamat dari jurang. Sumpah aku bakal buat perhitungan sama Kiara, dia udah keterlaluan." Miya mengusap lembut lengan Raehan, menenangkan sahabatnya itu agar tidak cemas lagi.
"Kayaknya ngak perlu deh Mi."
"Kenapa?"
"Waw, Rae. Kamu memang yang terbaik memberi pelajaran pada orang. Sepertinya aku harus banyak belajar lagi darimu," puji Miya yang kini bisa lega.
"Jalan yuk, Aku udah pengen cepet-cepet rebahan. Capek soalnya."
Miya mengangguk dan kembali menyalakan mesin mobil, kemudian menggiring mobilnya kembali ke jalanan.
Sepanjang perlajanan, Miya dan Raehan saling melempar candaan. Tidak ada raut kesedihan dan ketakutan yang terlihat di wajah Raehan. Itulah dirinya, takut bukanlah kelemahan untuknya. Bagi Raehan rasa takut hanya rasa yang akan membuat dia menjadi lemah, dan dia tidak ingin menjadi lemah dan menjadi bahan bullian orang-orang di sekitarnya.
Setelah menghabiskan beberapa menit. Akhirnya, mobil Miya terparkir dengan sempurna di depan kontrakan Raehan. Terlihat Fir tengah berdiri di depan pintu menantikan kedatangan dua gadis yang berarti dalam hidupnya.
Sebelumnya Raehan dan Miya sudah memberi kabar jika kedua gadis itu akan menginap di kontrakan ini. Jadi, ia segera membereskan dan merapikan semuanya.
Terlihat jelas di wajah Fir, raut wajah cemas dan khawatir karena ia juga mendengar kabar Raehan yang jatuh ke jurang.
__ADS_1
Fir segera berlari ke arah mobil. Tanpa menunggu lama ia membuka pintu samping mobil. Di mana senyum Raehan lansung menyambutnya. Fir mendengus dengan menggigit bibir bawahnya saat melihat kondisi Raehan dengan banyak luka di tubuh gadis itu.
"Hai," sapa Raehan dengan melambaikan tangan.
"Jangan bersikap sok manis seperti itu," ketus Fir lalu menyingkir dari pintu mobil.
Raehan melempar pandangannya pada Miya, yang hanya di respon dengan wajah tertekuk, seperti isyarat jika pasti ia akan kena semprotan amarah dari Fir. Raehan menghembuskan nafasnya, kemudian turun dari mobil. Begitupula dengan Miya.
Raehan memandang tubuh Fir yang sedang membelakangi dirinya. Ia tahu, Fir sangat khawatir dan cemas saat mendengar kabar tentang dirinya.
"Fi---"
"Aku suda bilang, kamu tidak perlu ikut ke acara itu karena aku dan Miya tidak ikut. Sekarang lihat, kamu hampir mati karena didorong ke dalam jurang," sosor Fir dengan cepat, memotong ucapan Raehan. Ia segera berbalik menatap gadis mungil yang ada di depannya. Untuk sesaat, tadi ia merasa jantungnya keluar dari rongga dadanya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Raehan bisa jatuh ke dalam jurang.
"Baiklah, maafkan aku. Aku juga tidak tahu jika ini akan terjadi. Seandainya aku tahu, aku tidak akan pergi ke puncak," terang Raehan membela diri.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
komentar
gift
vote
tips
__ADS_1