
...283💛...
Raehan berdecak kesal saat Agara memasukkannya ke dalam mobil. Raehan langsung mendorong tubuh Agara saat tubuhnya di letakkan di jok mobil. Ia tidak mau satu mobil dengan pria yang mengkhianati cintanya.
Namun, dengan sigap. Agara mencekal bahu Raehan dan mendorong tubuh Raehan sehingga menempel pada jok mobil.
"Lepaskan aku!!!" pekik Raehan berusaha melawan Agara, tapi sayang tenaganya tidak lebih besar dari Agara.
Agara menatap tajam Raehan, sekarang Raehan benar-benar selalu membantah keinginannya. Tidak seperti dulu, saat hubungan mereka baik-baik saja. Gadis mungil ini bahkan tidak ingin jauh dari dirinya. Tapi sekarang, ia terus menerima bantahan dan penolakan dari gadis yang sangat dicintainya.
"Aku bilang lepaskan!!" sentak Raehan berusaha memberontak dan melepaskan cekalan tangan Agara di bahunya.
"Diam! aku bilang diam!" tekan Agara mutlak.
"Tidak akan!" bantah Raehan membalas tajam tatapan Agara. Ke dua mata Raehan memerah menahan rasa panas dimatanya. Lagi-lagi air matanya tidak berpihak padanya, tapi ia mencoba menahannya sekuat tenaga. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan Agara.
"Kamu semakin nakal sayang, diam dan duduk dengan tenang." Wajah Agara mendekati wajah Raehan. Jarak mereka semakin dekat, bahkan ke duanya bisa merasakan nafas masing-masing.
Detak jantung Raehan mulai tidak bisa di kondisikan, saat hembusan nafas Agara menyapu pipi putihnya. Raehan memejamkan kedua matanya saat wajah Agara semakin dekat.
"Sial, ayo Rae. Kamu jangan diam saja, kamu tidak boleh membiarkan Agara merenggut ciumanmu lagi," batin Raehan mensugesti dirinya sendiri untuk melawan Agara. Namun, pikiran dan respon tubuhnya benar-benar berbeda. Tubuhnya menjadi patung dan tidak bisa bergerak sedikitpun.
Ceklekk....
"Sudah selesai," ujar Agara merasa puas karna berhasil memasangkan sabuk pengaman untuk Raehan.
Ke dua mata Raehan terbuka lebar, saat mendengar suara Agara. Ia benar-benar sangat konyol dan merasa bodoh. Bagaimana bisa ia berpikir jika Agara akan menciumnya. Padahal Agara cuma ingin memasangkan sabuk pengaman.
__ADS_1
Astaga, pikirannya benar-benar kacau. Pikir Raehan yang merasa kesal dan malu sendiri.
Sedangkan Agara tersenyum lucu, melihat wajah Raehan yang langsung memerah seperti tomat matang.
Brakk ....
Agara menutup pintu mobilnya, lalu berjalan memutar untuk masuk ke dalam kursi kemudi. Tapi langkahnya terhenti saat melihat tatapan tidak suka dari Tuan Levi yang datang menghampirinya bersama yang lainnya.
"Berani sekali kamu menculik anak gadis di depan ayahnya sendiri?" sentak Tuan Levi tidak suka dengan perbuatan Agara yang baginya sangat semena-mena.
"Popsy sudahlah, Agara hanya ingin mengantar Raehan pulang saja," ucap Nyonya Marissa membela Agara. Meski ia tahu karna pria remaja di depannya, putrinya hampir saja mati. Tapi tetap saja ia menyukai Agara, entah mengapa tapi yang ia tahu dan yakini jika Agara sangat mencintai putrinya.
Sedangkan Dion merasa kesal melihat Agara yang di bela oleh Nyonya Marissa.
"Momsy, popsy mohon jangan ikut campur. Aku tidak terima jika Raehan pulang bersamanya." Tuan Levi menatap tajam pada Nyonya Marissa, agar tidak menghalangi dirinya.
Agara melirik sekilas pada pintu mobilnya, dimana Raehan tengah duduk sambil memandangnya dingin. Agara menghembuskan nafasnya pasrah. Sepertinya kali ini ia memang harus mengalah karna ia sedang berhadapan dengan calon mertua masa depannya. Ia tidak mau Tuan Levi menjadi tidak menyukainya karna sikapnya yang terlalu semena-mena. Tapi sungguh tadi ia hanya terbawa perasaan cemburu, karna melihat Dion memapah Raehan.
"Maaf om, saya tidak bermaksud untuk membawa Raehan. Tapi, saya juga ingin mengantarkan om dan juga tante serta Lion pulang." Agara langsung membuka pintu belakang mobilnya, yang kebetulan tepat di samping Tuan Levi berdiri.
Dion mengepalkan tangannya erat. Ternyata Agara benar-benar sangat licik, ia mengubah situasi dengan begitu mudah, bahkan mulai mencetak nilai yang bagus di hadapan ayah Raehan. Rasanya saat ini ia ingin menendang Agara hingga keluar dari bumi, agar tidak ada lagi pengganggu untuk mendapatkan hati Raehan.
"Dia benar-benar licik, dia ingin terlihat baik di hadapan Tuan Levi. Cih, aku malah kalah cepat dibandingkan Agara." rutuk Dion mengumpat kebodohan dirinya dalam hati.
Lion yang melihat tingkah kesal Dion, tersenyum miring dan mengabaikan hal itu.
"Lihat, popsy jangan marah dan salah paham seperti itu. Agara ingin mengantar kita, itung-itung pengiritan biaya transportasi. Jadi kita tidak perlu membayar taksi, dan uangnya bisa masuk ke saku pembelian skincare Momsy, biar Momsy tambah cantik dan Popsy akan selalu melihat Momsy." ujar Nyonya Marissa dengan tersenyum lebar, lalu masuk ke dalam mobil Agara.
__ADS_1
Agara merasa lega, karna bisa mengatasi keadaan ini tanpa harus membiarkan Raehan berdekatan dengan Dion. Ia tidak masalah jika keluarga Raehan ikut mobilnya. Justru ia merasa senang, karna hal itu akan menambah nilai positif di mata ke dua calon mertua masa depannya.
Lion segera berjalan mendekat ke arah mobil dan melewati Dion yang masih memasang wajah kesal.
"Sepertinya kamu perlu bimbingan pujangga cinta sepertiku Dion, hmm kasihan sekali selalu kalah dari Agara," ucap Lion dengan nada rendah saat lewat di depan Dion.
Yah, dirinya tidak mau memanggil Dion dengan sebutan kakak. Meski sudah di tegur oleh Raehan tapi dirinya tidak mau melakukan hal itu. Ia akan tetap mengawasi tingkah Dion, karna ia tahu Dion memiliki perasaan pada kakaknya. Dan ia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kakaknya. Tapi bukan berarti ia menyetujui jika Agara bersama dengan kakaknya. Ia pasti akan membalas Agara karna sudah menjadi penyebab Raehan terluka.
Lion masuk ke dalam mobil Agara, duduk dengan santai di samping Nyonya Marissa. Tuan Levi yang melihat istri dan putranya masuk ke dalam mobil, akhirnya ikut masuk. Ia sama sekali tidak memiliki alasan untuk menolak.
Agara menutup pintu mobil, lalu tersenyum penuh kemenangan pada Dion yang menatapnya penuh amarah.
Agara memberikan jempolnya pada Dion, lalu memutarnya hingga terbalik. Agara segera masuk ke dalam mobil dan membawa mobil tersebut bergabung bersama mobil lainnya.
"Aarrgggghhhh ...." geram Dion sambil meninju udara kosong. Ia benar-benar sangat kesal. Lihat saja lain kali ia tidak akan kalah dari Agara.
"Ck ... ck ... Ada bau gosong nih," cicit Fir dengan menutup hidungnya sembari bibirnya tertawa.
"Baunya nyenget banget Fir, tapi kayak bau gosong kekalahan ngak sih?" tambah Miya dengan mengibas tangannya di depan wajahnya.
Dion semakin mendelik kesal, karna dua sahabat laknat itu malah mengejeknya.
...----------------...
...****************...
Yok gans.. Jangan malas2 buat like koment anda gift serta vote sekalian tipsnya ya...
__ADS_1
love you all❤️