
...179โฃ...
"Papa memaksa ku untuk bertunangan dengan Lessia. Dan akan di laksana kan dua hari lagi."
Blar....
Duar...
Jleb...
Sebuah petir dengan kekuatan ribuan volt rasa nya langsung menyambar tubuh Raehan.
Mendengar penuturan Agara membuat hati nya sakit, terasa di tusuk oleh ribuan jarum berulang kali.
Lagi- Lagi Lessia.
Lagi- lagi pertunangan.
Kenapa harus lagi- lagi hal yang sama. Apa lagi sekarang Agara di paksa untuk bertunangan denga nenek sihir bermuka tebal itu.
Dalam dua hari pertunangan itu akan terlaksa kan.
Cobaan apa lagi ini, ia baru saja berbahagia karna mendapat kan Agara. Belum genap dua puluh empat jam, lagi- lagi masalah pertunangan membuat diri nya merasa kesal dan tidak nyaman.
Ia yakin pasti semua ini karna ulah licik Lessia.
Ia tahu jika Lessia akan selalu terus berusaha untuk mendapat kan Agara.
Tapi apa boleh diri nya berbangga diri, jika Agara memilih diri nya bukan si model bermuka tebal itu.
"Apa kak Aga akan melakukan nya?" Tanya Raehan sedih, kali ini ia tidak bisa menutupi kesedihan dan kekhawatiran nya, akan Lessia yang begitu banyak memiliki cara untuk memiliki Agara, bahkan Lessia sampai melibat kan ayah Agara.
Ia sangat minder, kepercayaan diri nya merosot jatuh. Karna seperti nya Lessia melangkah satu langkah lebih cepat dari nya, yaitu dengan mendekati ayah Agara.
Melihat raut wajah Raehan yang berubah sayu, dengan segelintir rasa cemas yang dapat Agara lihat dengan begitu jelas.
Agara menangkup wajah mungil Raehan, menarik wajah imut itu untuk menatap nya.
"Kamu pikir aku akan melakukan nya? Sampai kapan pun aku tidak akan bertunangan dengan Lessia.. Tidak akan pernah.. Aku tidak akan menuruti ucapan papa ku.. Meski pun hal itu yang kini membuat ku tertekan..." Ujar Agara menyakin kan Raehan, jika diri nya tidak akan menerima pertunangan itu.
"Tapi itu adalah perkataan papa mu... Jika kak Aga tidak menuruti nya itu arti nya kak Aga menjadi anak durhaka..."
Agara terkekeh mendengar ucapan polos Raehan.
Ia tidak peduli jika harus menjadi anak durhaka, karna bagi nya ayah nya sudah mati. Dan pria tua yang kini menyandang status sebagai ayah nya, diri nya anggap sebagai musuh yang suatu saat akan ia balas dengan setimpal.
"He... He... Anak durhaka? kata- kata itu tidak pantas untuk ku Rae.. Dia yang lebih dulu menjadi ayah durhaka. Ayah brengsek mana lagi yang lebih menjijik kan dari dia yang sudah menjual ku... Kamu tahu mengapa pria tua bangka itu ingin aku bertunangan dengan Lessia? karna dia ingin menjalin hubungan dengan mentri kota ini..." Agara membalik kan tubuh nya, memunggungi Raehan yang mencoba mencerna apa yang di kata kan Agara.
"Kamu harus tahu, aku tidak punya keluarga.. Aku tidak punya orang tua, bagi ku ke dua nya sudah mati. Bahkan aku tidak punya saudara atau pun saudari... Aku hanya hidup sendiri di dunia asing ini. Tapi kini aku memiliki mu..." Agara kembali memutar tubuh nya menghadap Raehan.
Mengusap pipi gembul yang sangat mirip dengan kue moccy.
__ADS_1
"Rasa nya hidup ku sudah lengkap karna kehadiran mu.. Terimakasih sudah hadir..."
Raehan mengerjap beberapa kali , menatap ke dua bola mata merah yang kini beradu pandang dengan nya.
Mencoba mencari kebenaran jika Agara mencintai diri nya, sejak tadi pria di depan nya hanya mengata kan diri nya adalah milik nya.
Tapi apa itu arti nya Agara mencintai nya, tapi pria itu mengungkap kan nya dengan cara yang berbeda?
Sungguh ia tidak mengerti , mengapa untuk mendapat kan jawaban sesimple itu otak nya tidak mampu untuk berpikir.
Apa ia harus menanyakan hal itu pada Agara?
"Kenapa diam?" Tanya Agara yang sedikit merasa aneh dengan sikap Raehan yang sangat berbeda dengan biasa nya.
Raehan langsung tersentak. Dengan cepat bibir Raehan menipis, menampil kan senyuman manis di depan Agara.
Tidak.
Tidak.
Ini bukan waktu yang tepat untuk membahas semua itu, saat ini Agara merasa tertekan. Dan ia tidak mungkin mencecar Agara dengan pertanyaan seperti itu.
Ia tidak boleh egois, lebih baik jika sekarang ia menghibur Agara dan membuat pria di hadapan nya melupakan masalah pertunangan terkutuk itu.
Apa pun yang akan terjadi, ia tidak akan membiar kan pertunangan itu terjadi.
Ia akan bicara dengan ayah Agara atau calon mertua masa depan nya.
"Ahhhh jangan pikir kan hal yang belum terjadi kak... Kakak lebih baik duduk dulu..." Ujar Raehan mengalih kan topik, dan mendorong tubuh Agara untuk duduk di sofa mini yang hanya muat untuk dua orang.
"Aku akan mengambil minuman untuk mu..." Celoteh Raehan riang, mencoba menampak kan jika semua nya akan baik- baik saja. Meski di kepala nya, pertanyaan laknat itu terus terngiang - ngiang dan menghantui nya.
Agara tersenyum manis, melihat kecerian Raehan yang ternyata juga berpengaruh pada diri nya.
Melihat gadis mungil di hadapan nya tertawa, membuat hati nya menghangat.
Raehan segera melangkah hendak menuju dapur, namun tiba- tiba langkah nya terhenti saat tangan nya mengambang di udara karna di tahan oleh Agara.
Raehan memutar tubuh nya dengan perlahan, menatap Agara yang menatap nya penuh arti, membuat Raehan mengerjit kan alis nya, meminta penjelasan pada Agara yang kini beranjak dari duduk nya lalu mendekat ke arah Raehan.
Lagi- lagi jantung Raehan tidak bisa di kondisikan, Raehan tidak mengerti kenapa jantung nakal nya ini membuat diri nya sangat kesusahan dengan detakan yang membuat pembuluh darah nya berdesir dengan sangat keras.
Agara menunduk kan wajah nya, menatap penuh arti ke dua bola mata coklat, yang kini juga menatap diri nya.
Agara menyelipkan anak rambut yang mencuat ke balik telinga Raehan.
Blush....
Wajah mungil Raehan langsung merona dengan sikap Agara yang semakin ke sini semakin romantis dan sangat lembut.
Rasa nya saat ini Raehan di buat melayang dengan pemandangan indah ini.
__ADS_1
Ia tidak pernah bermimpi untuk bisa sedekat ini dengan pria tampan.
"Gadis kecil...!" Lirih Agara membuka suara nya, yang serak namun terdengar sangat merdu.
"Hmmm..." Jawab Raehan dengan sebuah deheman.
"Aku ingin mengata kan sesuatu..." Agara semakin menunduk kan wajah nya mendekat pada wajah Raehan yang mendongak ke arah nya.
"Astaga apa kak Aga akan mengata kan jika dia mencintai ku.. Ohhhh astaga aku gugup sekali... Perkataan Felix hanya omong kosong.. Lihat lah sekarang adegan kami seperti adegan film di mana tokoh utama mengutara kan perasaan nya..." Batin Raehan yang sudah mulai berharap dengan sudut bibit berkedut.
"Kata kan...!" Ujar Raehan dengan harapan jika Agara akan mengatakan tiga kata legendaris itu. Yang pasti nya akan membuat kebingungan dan dilema nya hilang.
Agara menelan ludah nya paksa, sebelum bibir nya bergerak.
"Aku... Aku..."
Raehan menunggu pernyataan cinta Agara.
"Iya.."
"Aku.. sebenar nya.."
"Iya sebenar nya apa.?"
"Aku sebenar nya sangat lapar.. He..."
Krak...
...----------------...
...****************...
Raehan dah berharap.. eh ternyata babang Agara laper... Dasar ya pengen nabok๐
Jangan bosan terus ya dengan karya othor๐๐๐
Terus pantangin cerita nya ya...
Like
koment.
Vote
gift.
Rak favorit.
Yuk dukung terus karya ini....!!!
kalo ngak koment atau like atau kasi gift..
__ADS_1
Kalian benar- benar kejam ama thor๐ญ๐ญ๐ญ???