Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Tetap saja terasa sakit


__ADS_3

...290💛...


Srakk !!!


Suara ranting patah, membuat Raehan dan Dion mengurai pelukannya. Raehan langsung menoleh ke arah sumber suara. Dirinya terdiam seribu bahasa, saat melihat punggung pria yang sangat familiar berjalan menjauh meninggalkan taman.


"Kak Aga!" batin Raehan.


"Kamu boleh mengejarnya, dan meninggalkanku," ucap Dion, menghancurkan lamunan Raehan.


Raehan menoleh ke arah Dion, dimana wajah tampan di hadapannya terlihat sisa-sisa buliran bening yang membekas di pipi.


Spontan, Raehan mengusap pipi Dion dengan lembut. Menghapus sisa air mata dari wajah pria yang sudah banyak membantunya.


Dion memejamkan kedua matanya, meresapi setiap sentuhan lembut Raehan yang entah kapan lagi bisa ia rasakan.


"Malam ini milikmu, bagaimana bisa aku meninggalkan dirimu sendiri. Aku sudah berjanji kan, aku tidak mungkin mengingkari janjiku. Lagi pula, aku dan kak Aga sudah tidak ada hubungan apapun lagi. Jadi aku tidak merasa harus mengejarnya," jawab Raehan dengan tersenyum kecut. Meski jujur, jauh di lubuk hatinya ia ingin mengejar dan menjelaskan apa yang terjadi pada Agara.


Tapi tidak, ia harus menahan diri untuk bisa menghapus semua perasaan yang dirinya miliki untuk Agara.


Raehan menarik tubuh Dion untuk kembali duduk di kursi. Lalu memaksakan senyum di wajahnya. Mungkin raganya ada di depan Dion, tapi hatinya tidak ada di tempat. Agara berhasil membawa seluruh hatinya pergi.


"Stiknya sangat enak kak, makanlah!" seru Raehan.


"Bolehkah aku bertanya?" Dion mulai memakan stik di depannya, begitu pula dengan Raehan.


"Tentu,"


"Apa sedikit pun di hatimu, kamu tidak pernah menyukaiku Rae?"


"Uhukk !!!" Raehan langsung tersedak saat mendengar pertanyaan Dion.

__ADS_1


Dion langsung memberikan segelas air pada Raehan, yang langsung di teguk habis.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Dion dengan khawatir. Apa pertanyaan terlalu berlebihan? ia memang tahu jawabannya. Hanya saja ia ingin mendengar hal itu langsung dari mulut mungil Raehan.


Raehan tidak enak hati, jika ia mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki perasaan sedikitpun pada Dion. Raehan mengatur nafasnya, sebelum bibirnya mulai bergerak dan mengeluarkan suara.


"Aku baik-baik saja, karna terlalu lahap makan aku jadi tersedak. Untuk pertanyaan kak Dion, aku tidak ingin menyembunyikan apapun. Kak Dion tahu sendiri jika aku mencintai pria lain. Aku sangat tersentuh dengan semua ini kak, tapi aku tidak ingin membohongi siapapun. Hatiku sedang sangat terluka, pria yang ku cintai mengkhianatiku di depan mataku. Tentu, aku menyukaimu, meski kamu sangat menyebalkan aku tetap menyukaimu. Namun, rasa sukaku padamu hanya sebatas rasa suka sebagai teman," jelas Raehan dengan lembut, berharap kejujuran yang ia katakan tidak menyakiti hati Dion terlalu dalam.


Dion tersenyum pahit, lagi-lagi hatinya di patahkan. Bahkan kali ini lebih sakit dari sebelumnya. Ia tidak memiliki satu kesempatanpun untuk memiliki Raehan. Meski hanya sedikit, ternyata dirinya hanya di anggap sebatas teman. Memang sakit, tapi inilah sebuah kenyataan yang sekarang harus ia terima dengan lapang dada.


"Aku sudah tahu jawabanmu Rae, tapi kenapa tetap saja hatiku terasa sakit. Rasanya tubuhku di hancurkan oleh pedang yang begitu tajam," batin Dion menahan rasa perih yang mulai menggerayani tubuhnya.


Dion mengeluarkan tiket ke paris dan meletakkannya di samping tangan Raehan. Sorot mata Raehan tertuju pada dua carik kertas yang di sodorkan Dion.


"Aku pernah berjanji padamu, jika kamu melewati seleksi dengan baik. Aku akan memberimu hadiah kan, lihat ini hadiah dariku."


Raehan menggigit bibir bawahnya, Dion benar-benar sangat baik padanya, meski ia sudah menyakiti hati pria itu. Tapi tetap saja Dion memperlakukannya dengan baik, bahkan kini memberikannya tiket untuk pergi ke paris. Negri yang tentu saja menjadi idaman dan impiannya selama ini.


"Kamu tidak bisa menolak karna ini adalah hakmu Rae, kamu tahu aku tidak pernah mengingkari janjiku."


"Tapi aku tidak menyelesaikan seleksinya. Bahkan aku di diskualifikasi," kekeh Raehan yang tidak ingin menerima tiket tersebut.


"Kamu sudah melakukan yang terbaik. Aku sangat bangga padamu. Jadi menurutku ini bukanlah sesuatu yang berlebihan. Karna seorang Dion Pratama selalu memberikan hal besar."


Raehan tertawa kecil, melihat kepercayaan diri dan kesombongan Dion. Hal yang paling ia benci saat melihatnya, kini malah menjadi hal yang ia sukai.


"Tapi, aku akan pergi dengan siapa? Bahkan aku tidak bisa bahasa Inggris."


"Jangan khawatir, tiketnya ada tiga. Satunya lagi aku berikan pada Niel. Jadi apa bisa kita bertiga pergi berlibur di akhir semester? Anggap saja sebagai liburan terakhir sekaligus perpisahan kita karna aku akan lulus. Oh dan ya, kamu tidak punya hak untuk mengatakan tidak. Hanya ada kata iya."


Raehan memutar ke dua bola matanya malas, mendengar Dion sudah kembali menjadi seorang pemaksa. Yang selalu memaksa dirinya dan menjebaknya dalam sebuah perjanjian.

__ADS_1


"Dasar pemaksa, aku tidak bisa mengatakan iya. Karna mungkin Popsy dan Momsy tidak akan menyetujui hal itu." Raehan mengendikkan bahunya.


"Mereka sudah setuju, dan memberikanku izin untuk membawamu."


"Hah?" Raehan tidak percaya.


"Mana mungkin mereka menolak, karna aku sudah menjanjikan mereka paket honeymoon di Singapura. Jadi di saat kita pergi ke Paris mereka juga akan pergi ke Singapura. "


Raehan menggelengkan kepalanya tidak percaya, mendengar penuturan Dion. Ternyata Dion sudah sangat dekat dengan kedua orang tuanya. Andai saja hatinya bisa mencintai Dion, tapi hati tidak bisa di paksa kemana ia ingin berlabuh.


Usai makan malam, Dion dan Raehan akhirnya pulang. Dion memikirkan mobilnya di depan gerbang rumah Raehan.


"Terimakasih untuk malam ini kak!" seru Raehan dengan tersenyum lalu membuka selfbelt dan segera turun.


Namun, belum sempat tanganya meraih handle pintu mobil, tangannya sudah di tarik oleh Dion. Tatapan Raehan dan Dion saling menubruk satu sama lain.


"Aku belum mengatakan, suatu hari jika hatimu bisa menerim cinta yang lain. Aku harap hatimu bisa menerima cintaku. Aku akan menunggu hari itu, satu lagi malam ini kamu terlihat sangat cantik, Rae." Ke dua sudut bibir Dion terangkat ke atas, melengkung dengan begitu indah. Menambah ketampanan alami dirinya, bahkan untuk sedetik Raehan terpana dengan senyuman Dion.


Dion melepaskan tangan Raehan, yang membuat Raehan tersadar dan menghembuskan nafasnya panjang.


"Kak Dion hati-hati di jalan." Raehan langsung turun dari mobil, melambaikan tangan sejenak. Lalu masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang tidak karuan.


Setelah Dion melihat Raehan sudah masuk, ia segera melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Raehan dengan wajah sedih dan hati yang hancur.


...----------------...


...****************...


Aaaa,, Dion. Udah napa sih, sama othor aja kalau si Rae ngak mau. Mumpung otor lagi jomblo nih.


Yok jangan lupa like, koment, gift, anda vote ya❤️

__ADS_1


__ADS_2